Bucin VS Jomblo

Bucin VS Jomblo
Episode 6


__ADS_3

Di bab sebelumnya, setelah melihat pertemanan antara Aji dan Ica yang sangat dekat, di tambah aduan teman-teman nya tentang kedekatan Aji dan Ica, apalagi kemarin itu Aji tertangkap basah oleh teman-teman Nayla sedang berpelukan dengan Ica. Hal itu tentu membuat Nayla terpukul perasaannya, dan membuatnya begitu terbakar api cemburu.


Kemarahan Nayla pun akhirnya tak terbendung, di lorong sekolah hari itu, antara Nayla dan Ica pun terjadi adu mulut. Walau akhirnya kemarahan Nayla itu ditanggapi santai oleh Ica.


Setelah dengan berbagai macam cara dilakukan Aji untuk meminta maaf dan menjelaskan kepada Nayla, akhirnya Nayla mau menerima maaf Aji, dan Nayla pun ketika pulang sekolah diantar pulang oleh Aji, walaupun di perjalanan pulang tak ada satu kata pun yang terlontar dari Nayla.


"Sayang, kok kamu diam mulu sih dari tadi, kamu masih marah ya sama aku?" tanya Aji sambil mengendarai sepeda motornya.


Tanpa ada sepatah kata pun, Nayla masih terlihat acuh dan tidak menjawab pertanyaan Aji.


"Maafin kami lah sayang, kan kamu tau sendiri aku dengan Ica itu udah berteman dari kecil, dan kamu pun tau masa lalu Ica itu bagaimana," jelas Aji, "mohon di mengertilah sayang, maafin aku ya, lain kali aku gak akan mengulangi nya lagi," lanjutnya.


"Iya," sahut Nayla dengan datar.


Sesampainya di depan pagar rumah Nayla, Aji pun menghentikan sepeda motornya, dan Nayla pun turun dari sepeda motor.


"Ya udah aku mau pulang dulu ya sayang, ya jemput si jomblo itu dulu ke sekolah sebentar," seru Aji sembari ingin memutar arah sepeda motornya.


"Sayang, kamu sayang gak sama aku?" tanya Nayla langsung memegang setang sepeda motor menghentikan Aji yang ingin memutar balik.


"Ya iyalah sayang, kok kamu nanya gitu!?" tanya Aji sedikit bingung.


"Kalau kamu sayang sama aku, aku ingin kamu menjauhi Ica..." pinta Nayla sembari memegang tangan Aji.


"Hahh... maksudnya!?" sambut Aji tidak mengerti.


"Aku ingin kamu jangan pernah mendekati dia lagi..." pinta Nayla sembari menatap mata Aji, "kamu jangan menjemput Ica ya sayang, disini aja sama aku..." sambung Nayla.


------------------------------------


Di sisi lain, Ica yang sudah menunggu begitu lama, karena Aji yang tak kunjung datang menjemputnya.


"Dihh... mana sih tuh bucin, lama banget dia, apa jangan-jangan dia dimarahin tuan ratunya itu ya," gerutu Ica yang sudah sangat lama menunggu di depan pagar sekolah.


Apalagi waktu itu sudah sangat sore, hanya ada tinggal beberapa siswa yang masih ada di sekolah. Dan di depan pagar sekolah sudah sangat sepi, terlihat hanya tinggal Ica seorang yang begitu lama menunggu Aji yang tak kunjung datang.


"Mana sih tuh bucin!?" gumam Ica yang terlihat was-was karena hari sudah mulai sore.


Namun tiba-tiba dari belakang, tangan Ica tiba-tiba di tarik oleh seorang pria yang wajahnya tidak begitu asing.


"Ehh lo mau ngapain ehh!" seru Ica panik.


Namun pria itu tak kunjung melepaskan genggamannya, dan malah semakin kuat menarik tangan Ica.

__ADS_1


"Ehh lo cowok yang hari itu di kantin kan (baca di bab dua), lo mau ngapain narik-narik tangan gue woy!" seru Ica lagi sembari terus ingin melepaskan tangannya.


"Aku tu sebenarnya cuma ingin kenalan sama kamu Ca... cuma ingin kenalan sama kamu!.." jelas pria itu sambil menggenggam lebih kuat tangan Ica, "tapi kenapa kamu malah mempermalukan aku seperti itu Ca! karena kamu aku waktu itu jadi di tertawakan seisi kantin Ca, aku dicemooh semua orang di situ Ca!" lanjutnya.


'Brukkkk.....' suara sepatu Ica yang begitu keras menedang ************ pria itu, sontak pria itu melepaskan tangan Ica dan jatuh tersungkur kelantai.


"Aduhhh..." teriak pria itu kesakitan memegangi selangkangannya.


"Ehh mana gue tau, itu kan salah lo, lagian lo juga yang mau kenalan kayak mau ngemis gitu!" pungkas Ica sambil menyapukan tangannya yang di genggam pria tadi.


"Hah... maksud kamu apa hah!" ancam pria itu naik pitam dan langsung berdiri.


Takut melihati pria itu terlihat marah, Ica pun langsung berlari terbirit-birit ke arah dalam sekolah.


"Gak akan ku ampuni kamu Ca!" seru pria itu langsung berlari mengejar Ica.


Dengan sekuat tenaga Ica pun berteriak minta tolong dan berlari ke arah kelasnya untuk bersembunyi. Ica pun terus berlari sembari mengambil hp yang ada di saku nya untuk menelepon Aji minta tolong.


'Hufff... huffff...' nafas Ica terhela-hela berlari sambil mencari kontak Aji di hp nya.


'Tiiiittt.... tiiiiiit....' bunyi hp Ica menelepon Aji.


Di sisi lain...


"Ehh Ica ada apa nih!?" ucap Aji spontan langsung ingin mengangkat telepon Ica.


"Siapa?" tanya Nayla di sebelah Aji.


"Ica..." jawab Aji ingin mengangkat teleponnya.


Dan tanpa berkata apapun, Nayla menatap tajam mata Aji. Dan Aji pun hanya membiarkan hp itu berbunyi tanpa berani mengangkat telepon dari Ica.


'Tutt...' bunyi panggilan dari Ica ditolak.


"Duhh... ni Aji kenapa sih!?" seru Ica panik.


Ica pun terus berlari ketakutan, dan...


'Brukkk' suara kaki Ica malah tersandung dan terjatuh ke lantai.


"Duhhh..." ucap Ica kesakitan dan mengusap lututnya yang sakit.


"Hahaha... sekarang kamu gak bisa lari kemana-mana lagi Ca!" ancam pria itu begitu Ica tersungkur ke lantai.

__ADS_1


"Ehh lo mau ngapain hah!" seru Ica ketakutan sembari ngesot perlahan mundur.


"Akan aku buat kamu menyesal dengan perbuatanmu itu Ca!" ancam pria itu sambil tersenyum dan perlahan menghampiri Ica yang terjatuh.


"Ahh tolooong...." teriak Ica panik ketakutan namun kakinya sakit tidak dapat lagi berdiri.


Dan....


'Brukkk'


Dari belakang Ica muncul seorang cowok, yang langsung menghajar Ohang, sehingga membuat Ohang jatuh tersungkur ke lantai.


"Eh lo gak papa kan Ca!?" tanya cowok itu menyakan keadaan Ica.


"Ehh gak papa kok Dik, gak papa, santai aja..." sahut Ica sok tenang sambil mencoba berdiri.


Ya cowok yang menolong Ica itu tidak lain ialah Dika, salah satu teman sekelas Ica dan Aji. Di bab sebelumnya, Dika diceritakan juga ikut bermain bola bersama Aji dan Ica, namun sayang bolanya malah mengenai wajah Ica (baca di bab satu).


Melihat Dika sedang berbicara dengan Ica, Ohang tadi pun mengambil kesempatan kabur dan lari terbirit-birit.


"Ehh ada apa Ca, Dik?" tanya beberapa teman cowok Ica dan Dika datang dari belakang.


"Tuh kayaknya si Ohang, mau bikin ulah lagi tuh," jawab Dika menunjuk Ohang yang sudah jauh berlari.


"Eh ngomong-ngomong kok kalian jam segini masih di sekolah sih?" tanya Ica kepada beberapa teman cowoknya itu.


"Kami lagi latihan musik Ca, kan sebentar lagi kami akan mewakili lomba musik antar sekolah Ca," jawab Dika.


"Eh lo nya sendiri ngapain jam segini masih di sekolah, dan Aji nya mana, biasanya lo pulang bersama Aji kan," tanya Jamal, salah satu teman cowok Ica juga.


"Aji kayaknya lagi sibuk nih sama pacarnya, biasalah bucin, mungkin dia sekarang lagi gak bisa jemput gue,"  jelas Ica sambil tersenyum.


"Lah kok Aji gitu sih, wah bener-bener tuh Aji udah kelewatan bucinnya," seru Jamal sewot.


"O iya Ca, kalo gitu lo pulang gue anterin aja deh, kesihan lo pulang rumah lo kan jauh, mana ini udah sore banget juga lagi," ajak Dika.


"Duhh... gimana ya, sebenarnya gue gak mau sih nyusahin lo Dik," ucap Ica sedikit bimbang.


"Ya elah Ca, kan Dika pulang melewati rumah lo juga Ca, gimana sih lo," celetuk Jamal.


"Iya deh Dik, gue pulang ikut lo aja deh, lagian Aji nya gak bakalan jemput gue juga kayaknya," ucap Ica.


-------------------------------------

__ADS_1


__ADS_2