
Aji terlihat termenung di bangkunya. Setelah kejadian kemarin, dimana dia diselingkuhin Nayla di depan matanya sendiri, Aji tidak ada lagi menghubungi Nayla setelah kejadian itu.
"Ngapa lo Ji, gue lihat lo bengong mulu dari tadi, lo lagi kepikiran Nayla ya!.." ejek Dika menghampiri bangku Aji.
"Weee... enak aja, orang bengong doang kok, dibilangin macem-macem!" kilah Aji.
"Yah, mungkin aja lo kayak Jamal..."
"Hah, emangnya Jamal kenapa!?"
"Ya kan, dia balikan lagi sama Via..." jelas Dika.
Mendengar penjelasan Dika itu, Aji langsung mengalihkan pandangannya ke Jamal.
"Eh, apa lo tengok-tengok!?" seru Jamal terkejut begitu Aji menoleh kepadanya.
"Emangnya bener lo, kata Dika, lo balikan lagi sama Via?" tanya Aji penasaran.
"I... iya Ji, habisnya gimana ya, gue serasa gak bisa hidup Ji tanpa Via," jelas Jamal.
*-_-) ekspresi wajah Aji dan Dika begitu mendengar perkataan Jamal.
"Lo... tidak dapat bernapas ya kalo gak ada Via?" ledek Aji.
"Atau jangan-jangan Via itu ibu lo, sehingga lo gak bisa hidup tanpanya?" ledek Dika juga.
"Bukan gitu maksudnya, woy!" Jamal malah sewot.
"Lah kan, kata lo juga tadi, gak bisa hidup tanpanya. Tapi sekarang lo masih hidup aja tuh tanpa Via," ledekĀ Aji dan Dika kemudian tertawa bersama.
"Weee... maksud gue itu, kalo gak ada dia, gue merasa ada yang kurang gitu, gue jadi kangen dia, gue udah sayang banget sama dia, gue gak mau kehilangan dia..." jelas Jamal dengan penuh perasaan.
"Kalo lo Ji, ngerasa gitu juga gak Ji, atau mungkin lo juga ada rencana mau balikan sama Nayla?" tanya Dika.
"Yah, kalo perasaan itu sih, gue juga ada Dik. Tapi untuk sekarang..." Aji menoleh ke Ica yang sedang tidur di meja sebelah.
"... gue memutuskan untuk move on aja deh Dik!.." tutur Dika sambil tersenyum.
---------------BUCIN VS JOMBLO---------------
__ADS_1
"Selamat siang semuanya..." seseorang masuk ke dalam kelas, dan orang itu tidak lain ialah bapak Nurani.
"Selamat siang pak," sahut para siswa ke tempat duduk masing-masing, termasuk juga Dika yang langsung duduk ke bangkunya.
"Huft, baru aja tadi kita ke ruang beliau menemuinya, eh sekarang kita ketemu beliau lagi. Hadeh, hari-hari diajarin beliau mulu, emang gak ada guru yang lain apa di cerita ini!?" gerutu Jamal pelan.
"Woy, ngomong apa kamu tadi! Kamu kira bapak gak denger apa!?" sahut bapak Nurani sewot mendengarnya.
"Eh astaga bapanya denger ternyata, duh mati nih gue!" gumam Jamal panik.
"Kamu tadi bilang suka gaya rambut terbaru bapak ini kan, emang dasar kamu ini, tau aja bapak baru potong rambut..." bapak Nurani kesenengan sendiri.
"I... iya pak" sahut Jamal gugup.
'Ni guru kenapa sih!?' gerutu Jamal dalam hati.
--------------------------------
"O... Iya anak-anak, sebelumnya... bapak ingin memberitahukan kalian sebuah kabar tidak menyenangkan..." tutur bapak Nurani dengan nada sendu.
"Seperti yang kalian tau, kalian semua sudah kelas 3, dan sebentar lagi akan ujian, dan itu tandanya..."
Semua mata siswa di kelas itu tertuju kepada bapak Nurani,
"Horeee...." sorak sorai semua siswa di kelas, bergembira mendengar pengumuman bapak Nurani itu.
"Akan tetapi, jika kalian lulus..."
"Bapak akan di tinggal kalian semua huwaa!!!..." bapak Nurani tiba-tiba nangis sendiri.
"Kemarin, bapak baru aja ditinggalin istri bapak, dan nanti, bapak akan ditinggalkan kalian juga, huwaaa...." tangis bapak Nurani terus berderai air mata.
"Pak, sabar pak, sabar..." para siswa berusaha menenangkan.
"Tapi benar juga ya, kalau nanti kita lulus, berarti... cerita ini akan tamat dong!?" tukas Jamal bingung.
"Benar juga ya..." pungkas Dika mengiyakan.
Bapak Nurani bangkit dari tempat duduknya, dia mengambil sebuah spidol, dan perlahan mendekati bangku siswa,
__ADS_1
"Tapi tenang saja, karena sebentar lagi kita akan berpisah, bapak ingin memberikan kalian sebuah hadiah perpisahan..." tutur bapak Nurani sembari tersenyum.
Mendengar ucapan bapak Nurani tersebut, semua siswa di kelas itu pun mendadak heran dibuatnya, karena tidak biasanya bapak Nurani sebaik ini, apalagi sampai memberi hadiah perpisahan.
"Hah, hadiah perpisahan!?" para siswa bertanya-tanya.
"Ya, dalam rangka sebentar lagi kalian akan kelulusan dan sebulan lagi kalian akan menghadapi ujian, maka kalian semua akan bapak beri..."
Semua siswa menjadi penasaran dibuatnya.
"....ULANGAN DADAKAN!!!!"
"A... apaaa!!!?" para siswa syok mendengarnya.
"Ya iyalah, kan sebentar lagi kalian akan ujian, maka kalian semua bapak beri ulangan dadakan, biar kalian latihan!" jelas bapak Nurani ngomel-ngomel.
"Ti... tidaaakkk!!!" semua siswa histeris mendengarnya.
'Tuk, tuk, tuk' seorang siswi berada di depan pintu kelas.
"Selamat siang pak, saya di sini mau menemui seorang siswa bernama Aji pak, boleh saya berbicara di luar dengannya sebentar pak..." ucap siswi itu minta izin kepada bapak Nurani.
"Aji, itu ada yang mau menemui kamu tuh di luar, ada yang mau dibicara kan sama kamu tuh katanya..." seru bapak Nurani memanggil Aji.
"Eh, siapa ya!?" gumam Aji bingung, dan berjalan keluar kelas.
--------------------------------
"Nia!?" sapa Aji begitu menemui orang itu di luar kelas.
"Eh Ji!" jawab Nia, salah satu teman dekat Nayla.
"Ada apa Nia, katanya ada yang mau lo bicarakan sama gue?" tanya Aji.
"Iya Ji, ini soal Nayla!.."
"Kenapa Nayla!?" pungkas Aji bingung.
"Kasihan Nayla Ji, setelah kemarin kalian tinggalkan di cafe itu... dia dipukulin Kafka Ji!.." jelas Nia.
__ADS_1
"A... apa!?"
---------------------------------