Bucin VS Jomblo

Bucin VS Jomblo
Episode 1


__ADS_3

"Ji, main bola yok! Orang-orang udah pada rame tuh main di lapangan..." ajak Ica seraya mendekati bangku Aji.


"Ah ogah ah, males banget gue," jawab Aji mengangkat bahunya. Ya selain rumah mereka yang bersebelahan, Aji dan Ica juga kebetulan bersekolah di sekolah yang sama, mereka pun juga satu kelas.


Mungkin karena itulah, mereka berdua jadi sangat saling kenal dan berteman dekat. Bahkan kemana-mana aja mereka berdua selalu bersama, berangkat sekolah bersama, ngerjain pr bersama-lebih tepatnya Ica yang nyontek Aji, ya walaupun mereka selalu ribut.


Ica ini di kenal sebagai cewek yang cantik tapi tomboi. Bajunya yang selalu gombrong, rambutnya yang berantakan, gayanya yang bak 'preman sekolah' dan jauh dari kata feminim membuatnya sulit bergaul sesama cewek dan justru ia lebih mudah membaur dengan para cowok, sehingga teman-teman bermainnya kebanyakan adalah cowok bukannya cewek. Dan salah satu teman cowok terdekat Ica ialah Aji.


"Ya elah lo ji, sok-sok an males segala, biasanya lo yang paling semangat pengen main bola," gerutu Ica mengerutkan dahinya.


"Sekarang gue gak bisa main bola nih, gue lagi ada janji sama seseorang," ucap Aji sambil melihat jam dinding yang ada di kelas.


"Ya elah, palingan lo mau nemenin pacar lo makan di kantin kan?" sahut Ica dengan muka songongnya, "Ya elah ji... ji... sekali-sekali bawa happy dong ji, main bola kek, apa kek, ngebucin mulu sih kerjaan lo tiap hari, hadehhh...".


"Eh sotoy lo, kata siapa gue mau ngebucin!" balas Aji mukanya memerah, "Ayolah kita main bola ajalah!" tukas Aji langsung bangun dari tempat duduknya.


"Nah gitu dong ji, jangan ngebucin mulu," rayu Ica cengengesan.


"Eh diam lo jomblo..." balas Aji sewot.


-------------------------------


"Semangat! Semangat!" teriak para supporter menyemangati para pemain dari pinggir lapangan.


Di sma tempat Aji dan Ica bersekolah, seperti biasa ketika waktu istirahat, para siswa cowok akan berkumpul di lapangan untuk bermain bola, sedangkan para siswinya akan mendukung dari pinggir lapangan-para siswi kecuali Ica, karena Ica juga ikutan main bola.


"Sini, sini! Oper bolanya kesini!" seru Ica yang sedang berlari mendekati salah satu pemain yang sedang berlari menggiring bola.


"Nih Ca, ambil Ca!" ucap pemain itu sambil menendang bola ke arah Ica dengan cukup keras.


"Aduhh!!..." teriak Ica kesakitan, setelah bola yang di oper terlalu keras dan malah mengenai wajahnya.


'Brukkk'


Ica seketika langsung jatuh tersungkur kebawah.


Sontak seisi lapangan terkejut melihatnya.


Beberapa pemain cowok di sekitarnya melihat Ica terjatuh, langsung sigap ingin menolong Ica.


Namun tiba-tiba dari pinggir lapangan, muncul seseorang yang semua orang di sekolah itu tidak mungkin tidak mengenalnya, ya dialah Kafka. Cowok paling tampan di sekolah itu. Tampan, keren, tajir, semua hal dimiliki nya. Membuat semua cewek yang melihatnya berharap menjadi pacarnya.

__ADS_1


Melihat Ica terjatuh, Kafka pun langsung turun ke lapangan, dan menolong Ica.


"Ca, kamu nggak papa kan?" tanya pria tampan itu sambil membantu membangunkan Ica.


"Iya nggak papa kok, cuma sakit sedikit aja, abis kepentok bola tadi, ihhh... aduhh.." ucap Ica memegangi jidatnya yang tadi terkena bola.


"Di mana yang sakitnya, sini biar aku yang usapin," tanya Kafka sambil mengusap kening Ica yang memerah.


"Aaaaaaaa......." Sontak seisi lapangan histeris melihatnya. Terutama para cewek-cewek yang menjadi iri dibuatnya-bahkan ada juga yang jatuh pingsan tak sanggup melihatnya.


"Waduh, untung banget tuh Ica di tolongin Kafka. Gue sih kalo ditolongin dia begitu, pasti langsung bahagia banget tuh gue, bisa-bisa gue pura-pura pingsan aja tuh supaya terus bisa di tolong Kafka hahaha," gumam para cewek-cewek dari tepi lapangan.


Para cowok-cowok yang ingin menolong Ica tadi pun tidak jadi menolong Ica, karena segan melihat ada Kafka.


"Eh lo, bisa main bola gak sih! Kalo oper bola ke cewek itu pake perasaan dong! Jangan asal main tendang aja, kan kesian dia kena bola nya, kalo dia kenapa-kenapa nanti gimana!?" ucap Kafka memarahi cowok yang mengoper bola ke Ica tadi.


Setelah dimarahi Kafka, orang itu hanya terdiam, menunduk dan merasa amat bersalah. Sedangkan Kafka seraya menggenggam tangan Ica.


"Apaan sih lo, gue gak papa kok!" ucap Ica melepaskan tangannya dari genggaman Kafka.


"Whatt!!?..." Sontak seisi lapangan jadi syok melihatnya.


"Cuma kena bola dikit doang kok, gak kenapa-kenapa gue, udahlah sana lo, sok perhatian banget sih lo!" ucap Ica bangun berdiri dan menjauhi Kafka. "Yok, kita sambung main bola nya lagi!.." ajak Ica kepada teman-teman cowoknya.


Mendengar perkataan Ica, Kafka hanya terdiam dan perlahan menjauh ke tepi lapangan.


"Dasar tuh Ica, dasar tidak tau terima kasih dan sok terlalu cantik!!! Tapi itu lebih baik sih, kan Kafka nya gak jadi ngedeketin dia, dan bisa deketin gue hehehe..." gerutu beberapa cewek di pinggir lapangan.


Sedangkan di sisi lain, Ica hanya acuh dan terus bermain bola bersama teman-teman cowoknya.


"Eh Ca, wah gila lo Ca, itu Kafka loh! Cowok paling tampan dan paling tajir se sma ini, kok lo main usir begitu aja sih!?" ujar Aji langsung sewot ke Ica.


"Ya terserah gue lah, hidup-hidup gue, lagipula tuh cowok sok perhatian banget sih, mana main pegang tangan gue segala lagi, geli banget gue!" ucap Ica sedikit mengangkat bahunya.


"Hadeh Ca, cowok luar biasa tampan dan tajir begitu malah lo tolak Ca, hadehh... pantas aja lo jomblo seumur hidup Ca... Ca..." gumam Aji menepok jidat tak sanggup melihat kelakuan sahabatnya itu.


"Ehh... diam lo bucin!!!" sahut Ica sewot.


---------------------------------


Setelah itu mereka pun terus melanjutkan main bola nya, namun baru beberapa saat main bola, tiba-tiba...

__ADS_1


"Sayang!" teriak seseorang dari pinggir lapangan.


"Ya elah siapa lagi sih tuh, gangguin aja sih, nggak tau orang lagi main bola juga!" gerutu Aji seraya menoleh ke orang itu.


Setelah dilihat ternyata yang memanggil tadi adalah Nayla, yang tidak lain dan tidak bukan ialah pacar Aji sendiri.


"Eh sayang..." jawab Aji langsung senyum, "Ngapain kamu di sini?" tanya Aji seraya mendekati pacarnya itu.


"Sayang, kamu udah lupa? Kan kamu janji, kita mau makan bareng berdua di kantin..." ucap Nayla dengan muka imutnya.


"Eh iyaya, aku baru ingat, hehe..." ucap Aji cengengesan sambil menggaruk kepalanya, "Tapi sayang, kamu gak lihat, aku lagi asik main bola nih sayang..."


"Owh, jadi kamu lebih milih main bola daripada makan berdua sama aku!?" tukas Nayla ekspresi mukanya berubah jadi datar, "ya udah deh aku makan sama yang lain aja..."


"Eh bukan begitu sayang, iya deh iya... aku berhenti juga main bolanya, kita ke kantin sekarang yuk!" rayu Aji berusaha membujuk pacarnya.


Nayla hanya diam. Dia membuang muka dari Aji. Sambil melipat tangan di dada.


"Eh ji, ngapain lo, lama banget sih, cepetan kita main!" teriak Ica dari belakang. Ica baru sadar ternyata Aji sedang bersama pacarnya. "Oh ya udah ji, temenin aja sana pacar lo makan, kesian dia gak ada temen makan, nanti dia makan sama yang lain lagi..." ejek Ica sambil cengengesan.


"Eh diam lo jomblo, ngurusin hidup orang aja sih lo!" sahut Aji sewot menoleh ke Ica, lalu kemudian dia menoleh ke Nayla lagi, sedangkan Nayla nya mulai terlihat kesal.


"Ya udah lo mau lanjut main bola gak nih, kalo gak mau sana lo ngebucin aja!" teriak Ica dari belakang.


"Berisik amat sih lo jomblo!" sahut Aji sambil menoleh ke Ica.


"Lo tuh yang bucin!" balas Ica.


"Ahh... Jomblo!"


"Bucin!"


Tidak berapa lama kemudian, tanpa berkata apa-apa, Nayla langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


"Eh sayang, kamu kemana? Jangan tinggalin aku sayang!" ucap Aji langsung berlari mendatangi Nayla yang hanya acuh, "Iya deh sayang, aku minta maaf... maaf.."


Nayla terus berjalan tanpa mempedulikan Aji.


"Hadehh Ji... Ji... Emang dasar lo bucin kelas berat hahaha..." teriak Ica lalu tertawa puas.


"Eh diam lo jomblo!!!" sahut Aji mukanya memerah, sambil terus berusaha minta maaf kepada pacarnya.

__ADS_1


------------------------------


__ADS_2