Bucin VS Jomblo

Bucin VS Jomblo
Season 2 : Episode 20 : Masa Lalu


__ADS_3

--------------------------------------Bucin VS Jomblo S2-----------------------------------------------


'Tok...


Tok...


Tok...' suara seseorang mengetuk pintu rumah.


Di ruang tamu, Ica kecil yang saat itu masih berusia lima tahun, sedang bermain bersama teman yang juga anak tetangganya yaitu Aji. Mendengar seseorang mengetuk pintu rumahnya, spontan Ica kecil menuju pintu rumah dan membukakannya.


"Iya, nyariin siapa ya?" ucap Ica kecil dengan suara sedikit cadel, membuka pintu rumahnya.


Terlihat orang yang di depan pintu tadi, adalah seorang perempuan cantik, putih dengan beberapa perhiasan.


"Ayah kamu ada dek?" tanya perempuan itu kepada Ica kecil.


"Sebentar ya, saya mau manggilin bapak dulu, silahkan masuk," jawab Ica suaranya cadel.


Perempuan tadi pun masuk ke ruang tamu rumah Ica, sedangkan Ica pergi ke dapur untuk memanggil ayahnya. Namun dari dalam kamar, ibu Ica yang saat itu sedang terbaring sakit bertanya kepada Ica tentang siapa yang ada di luar.


"Ca, orang yang di luar itu siapa Ca?" tanya Ibu Ica suaranya parau sembari bangkit dari tempat tidurnya.


"Ohh itu ada perempuan bu, mau nyari ayah katanya" jawab Ica kecil dengan suara cadelnya.


"Oh gitu, ayah kamu ada di dapur lagi benerin lampu, sini biar mama aja dulu yang menemuinya" ujar Ibu Ica sembari naik ke kursi roda dan perlahan keluar kamar.


Ica pun meneruskan jalannya ke dapur, sedangkan Ibu Ica perlahan ke ruang tamu dan menemui perempuan tadi.


"Mohon maaf, mbak kesini mau apa ya?" tanya Ibu Ica begitu melihat perempuan itu.


"Saya kesini mau nyariin bapak Herman, bapak Herman nya ada?" tanya perempuan itu kepada Ibu Ica.

__ADS_1


"Oh kenalin saya istrinya bapak Herman, mbak sendiri siapa ya nyariin suami saya?" tanya Ibu Ica lagi sembari memajukan sedikit kursi rodanya.


"Owh kenalin nama saya Dinda, pacarnya bapak Herman," ujar perempuan itu sembari tersenyum.


Mendengar perkataan perempuan itu, ibu Ica seketika syok, dan tidak berapa lama kemudian dari belakang dari arah dapur datang suaminya ibu Ica bersama Ica kecil.


"Sayang!.." sambut perempuan itu begitu melihat suami ibu Ica datang.


"Ka..kamu... kok kesini!?" sahut ayah Ica sedikit kikuk.


Tidak berapa lama kemudian pertengkaran antar ibu dan ayah Ica pun terjadi. Melihat pertengkaran orang tua di depan mata nya, Ica kecil hanya bisa menangis, dan berharap kebisingan itu segera berhenti.


"Ayah.. hentikan.. kasihan Ibu yah... hentikan..." ujar Ica kecil terus menangis sembari menarik tangan ayahnya.


Namun suara kecil Ica itu seperti tak terdengar oleh kedua orang tuanya. Pertengkaran mulut terus terjadi, bahkan sampai pertengkaran juga disertai kekerasan yang dilakukan ayah Ica kepada ibu Ica.


"Ibuuuu.... Ayaaahhh...." rintihan Ica terus menangis melihat kejadian itu.


‘Gubrakkk…’ suara kursi roda ibu Ica terhempas, tidak sengaja terdorong oleh ayah Ica yang begitu emosi.


“Ibuuuu….” tangis Ica kecil semakin menjadi, karena dia melihat ibunya terjatuh ke lantai dengan kursi rodanya. Ica melepaskan tangannya dari pelukan Aji dan spontan mendatangi ibunya.


“Eh astaga, sayang kamu gapapa kan!?” sontak ayah Ica panik, begitu melihat istrinya terjatuh dan tidak sadarkan diri lagi.


Namun lantaran panik, perempuan tadi pun langsung menarik ayah Ica, dan bergegas langsung keluar rumah Ica begitu saja.


"Ayaaahhh.... jangan tinggalin ibu yah, kasihan ibu yah, jangan tinggalin ibu..." pinta Ica kecil menangis memohon-mohon, tangan kecilnya berusaha menarik belakang baju sang Ayah.


'Set' tarik perempuan di samping ayah Ica, melepaskan genggaman tangan kecil Ica dari baju ayahnya.


"Eh nak, tante kasih tau ya, ayahmu itu udah gak sayang lagi sama ibumu juga sama kamu, ayahmu itu udah punya tante, dia sayangnya cuma sama tante. Jadi kamu sama ibumu itu, jangan pernah ganggu hubungan kami lagi!" ancam perempuan itu kemudian menarik tangan ayah Ica, meninggalkan Ica kecil yang sudah tak dapat lagi mengejar ayahnya.

__ADS_1


"Ayaaaahhhh....." tangis Ica yang masih kecil meraung-raung tak sanggup melihat kejadian yang ada di depan matanya.


Dengan perlahan berjalan kembali masuk ke dalam rumah, Ica kecil mendatangi ibunya yang terbaring lemah dan masih sedikit sadarkan diri.


Bersama Aji, Ica kecil di samping ibunya, dia menggenggam kuat tangan ibunya, ibunya tersadar dan mengusap lembut kepala kecil Ica.


“Yang kuat ya Ca, jangan nangis gitu dong, senyum Ica sayang, senyum Ica kan manis. Anak ibu pinter gak boleh nangis. Ibu yakin kamu pasti kuat kok hadapi semua ini…” tutur Ibu Ica suaranya parau, perlahan berhenti mengelus kepala Ica.


“Aji, temani terus Ica ya, jangan sampai dia sedih, kamu harus selalu dampingi Ica, bagaimanapun keadaaannya…” pesan Ibu Ica juga kepada Aji di sampingnya.


“Iya ibu Ica…” jawab Aji kecil dengan polosnya.


Dan perlahan, tangan Ibu Ica berhenti bergerak dan terjatuh ke lantai begitu saja. Tatapannya kosong dan tak lagi bernafas.


“Ibuuuuuuu…….” teriak Ica kecil menangis memohon ibunya tuk jangan pergi, namun ibunya tak bisa kembali lagi untuk selama-lamanya.


-----------------------------------------------------


Tiga belas tahun kemudian…


Daun-daun pohon yang kering melayang turun, perlahan mendarat ke atas tanah di area pemakaman.


Di samping makam ibunya, Ica duduk sembari menaburi bunga dan menceritakan apa saja yang dialaminya beberapa hari ini, bersama kekasihnya yaitu Dika, yang turut menabur bunga dan ikut mendengarkan cerita yang disampaikan Ica. Termasuk cerita hubungan Ica bersama Dika yang sudah berjalan kurang lebih setahun lamanya.


“Bu, sekarang Ica udah besar bu. Betul kata ibu, Ica gak boleh nangis. Ica harus kuat. Yah walaupun hidup Ica terasa kurang tanpa kehadiran ibu, tapi Ica akan tetap berusaha mengahadapi semua ini…” tutur Ica sembari menaburi bunga di atas makam ibunya.


“O iya bu, kenalin di samping Ica ini namanya Dika. Aku yakin Dika ini baik orangnya. Aku sama dia udah kurang lebih setahun bu menjalin hubungan. Semoga hubungan aku sama dia terus langgeng ya bu, soalnya aku sayang sama dia…” lanjut Ica, Dika di sampingnya tersenyum haru mendengarnya.


Ingin Ica meneteskan air mata, namun bersama Dika, dia selalu berusaha supaya tetap tegar menghadapi rintangan hidup yang dijalani.


Setelah dirasa cukup menabur bunga dan bercerita, Ica bersama kekasihnya, Dika, perlahan berdiri dan pergi meninggalkan makam ibu Ica.

__ADS_1


Sementara itu di sisi lain pemakaman, terlihat dari kejauhan, dua orang sedang memperhatikan gerak-gerik Ica dan Dika. Dan ketika Ica dan Dika sudah jauh pergi, mereka mendatangi makam Ibu Ica.


__ADS_2