
Saat itu sudah memasuki jam istirahat, dan seperti biasa, kalau udah istirahat waktunya untuuuk... main bola di tengah lapangan.
"Ji, kita ke lapangan yok main bo..." ajak Ica menghampiri Aji yang sedang duduk. Namun, belum selesai Ica mengucapkan ajakannya, tanpa sepatah kata pun Aji langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar kelas meninggalkan Ica begitu saja.
"Ji..." tegur Ica bingung melihat Aji yang tidak seperti biasanya.
Namun, Aji terus berjalan menuju keluar kelas tanpa menghiraukan Ica sama sekali. Dan di depan pintu kelas, sudah menunggu Nayla, pacarnya Aji. Setelah itu, Aji dan pacarnya pun pergi meninggalkan kelas.
"Hmmm...." gumam Ica melihat perlakuan Aji yang begitu dingin padanya.
"Ca, Aji tadi kenapa, kok kayak cuek sama lo gitu, kalian lagi marahan ya?" celetuk Dika, teman sekelas Aji dan Ica, yang duduk di belakang bangku Ica dan dia melihat kejadian tadi.
"Nggak lah Dik, kami seperti biasa aja kok, gak ada marahan apa-apa," dalih Ica sambil tersenyum.
"Ah masa sih gak ada apa-apa, lagian Aji tadi kayak gak ngerespon lo gitu Ca," timpal Jamal, teman sekelas Aji dan Ica juga.
"Yah, mungkin Aji dilarang pacarnya kali dekat sama gue, biasalah bucin hahaha..." canda Ica sambil cengengesan.
"Duhh.. kok pacaran sampai segitunya ya..." gerutu Jamal, "demi menyenangkan hati pacar, sampai tega tidak menghiraukan sahabat sendiri,"
"Tapi gue heran juga sih sama Aji, masa pacaran sampai segitunya, disuruh-suruh pacar, dilarang-larang pacar, sampai apapun kata pacar harus mau, dihh itu sih terlalu bucin namanya! Gue sih kalau pacaran gak segitunya juga kali," protes Jamal begitu menggebu-gebu.
Tidak berapa lama kemudian, dari depan pintu kelas...
"Sayang..." panggil seorang cewek.
"Eh sayang... kamu ngapain disini," sambut Jamal sambil tersenyum sembari mendatangi cewek itu. Dan cewek itu adalah Via, salah satu teman dekat Nayla dan tidak lain tidak bukan ialah pacar Jamal.
'-_-' *ekspresi muka Ica dan Dika melihat perkataan Jamal yang tidak sesuai perbuatannya.
"Dasar bucin tidak sadar diri hahaha..." ledek Dika, yang kemudian disambung tawanya bersama Ica. Dan setelah tertawa bersama, mereka berdua saling bertatap mata.
"Ngapa lo!?" pungkas Ica menegur Dika.
"Eh gak papa Ca, gak papa..." jawab Dika sedikit kikuk.
"Eh kita ke lapangan yok main bola Dik!" ajak Ica semangat.
"Ah nggak ah, nanti muka lo kena bola lagi hahaha... (baca di bab satu)" ledek Dika cengengesan.
"Kampret lo Dik, jangan di ingetin lagi ah," jawab Ica sedikit malu mengingat kejadian itu, "Cepetan yok kita ke lapangan!" sambungnya.
Dika dan Ica pun juga pergi keluar kelas, menuju ke lapangan sekolah untuk bermain bola.
--------------------------------
Di lorong sekolah perjalanan menuju ke lapangan,
"O iya Dik, kok lo gak ikutan ngebucin kayak mereka sih Dik?" gurau Ica berjalan di samping Dika.
"Nggak ah Ca, males gue, apa-apa harus menuruti kata pacar hahaha..." sambut Dika sambil cengengesan, "mending jadi jomblo kayak gini, kan enak bisa bebas menikmati hidup hemm..." lanjut Dika sambil bergaya keenakan.
"Ya elah Dik, bilang aja gak ada cewek yang mau sama lo kan hahaha..." ledek Ica tertawa puas.
__ADS_1
"Eh enak aja, gini-gini gue ini banyak cewek yang memohon untuk jadi pacar gue tau! yeee..." pungkas Dika dengan muka belagu.
"Ah masa sih?" sahut Ica meragukan.
"Iya, mereka semua gue tolak..." ucap Dika sambil bergaya sok cool.
"Yeee... sok cakep lo Dik, mandi aja jarang lo itu, sok-sok an nolak cewek lo hahaha..." balas Ica sambil ketawa.
"Eh beneran tau, banyak cewek yang gue tolak. Ya abisnya gimana ya, gue tuh gak sayang gitu sama dia, ya mau gimana," jelas Dika, "lebik baik gue tolak langsung kan walaupun itu menyakitkan, daripada gue memberi harapan palsu tanpa kepastian, kan dia yang kesihan..." lanjutnya.
"Oh jadi lo gak suka ya sama mereka emm... eh atau jangan-jangan lo gak suka sama cewek lagi, sukanya sesama cowok!" seru Ica sambil menunjuk muka Dika.
"Eh Ca, naudzubillah Ca... gue juga suka sama cewek kali, tapi ceweknya itu yang spesial, yang bisa bikin gue nyaman," tutur Dika sambil membayangkan.
"Hemmm... siapa tuh," rayu Ica.
"Ada deh Ca, rahasia." jawab Dika sambil menatap mata Ica.
"Yeee... lo tuh Dik, gak asik banget pakai rahasia segala," gerutu Ica.
"Hahaha," tawa Dika.
-----------------------------------
Di sisi lain, Aji seperti biasa kalau istirahat gini dia pasti lagi makan bakso sama pacarnya di kantin.
"Nih sayang..." ucap Nayla sembari menyuapi Aji.
"Eemmm... enak banget," puji Aji dengan ekspresi keenakan, "entah kenapa ya, kalau disuapin kamu itu, rasa baksonya itu tambah enak dehh.."
Melihat pacarnya tertawa bahagia, Aji pun tersenyum ikut senang. Walaupun dibalik senyum nya itu dia menyimpan sesuatu. Teringat Aji kejadian kemarin itu, saat Ica tiba-tiba menelpon dia.
'Ting.. tiring... tiringting..' nada dering telepon Aji berbunyi, dilihatnya ada notif panggilan Ica.
"Ehh Ica ada apa nih!?" tanya Aji begitu melihat hp nya.
"Siapa?" tanya Nayla di samping Aji dengan muka sinis.
"Ica..." jawab Aji ingin mengambil hp nya.
Namun, ketika Aji ingin mengangkat telepon Ica, tiba-tiba saja Nayla langsung merebut hp nya dari tangan Aji.
"Eh sayang kenapa?" protes Aji bingung.
Dan tanpa berkata apapun, Nayla menatap tajam mata Aji, kemudian Nayla menolak panggilan dari Ica.
'Tutt...' bunyi panggilan Ica di tolak.
"Eh sayang, kenapa kamu tolak sayang, itu kan Ica nelpon, ini kan udah sore banget mana dia belum aku jemput lagi, siapa tau dia nelpon tadi dia lagi kenapa-kenapa kan, gimana!" marah Aji sambil ingin mengambil hp tadi dari saku Nayla.
Melihat Aji yang begitu naik pitam, sontak saja Nayla sangat ketakutan dan menangis. Aji sebenarnya tidak tega memarahi pacarnya sampai meluap-luap seperti itu, dan ketika pacarnya menangis, Aji pun langsung terdiam,
"Ehh sayang, maaf... maaf... aku tadi gak bermaksud memarahi kamu, maaf sayang," pinta Aji begitu melihat Nayla menangis.
__ADS_1
Dan tanpa sepatah kata, dengan bercucuran air mata, Nayla pun langsung memeluk Aji erat-erat...
"Aku tu gak mau kehilangan kamu sayang, aku tu gak mau sampai kamu nyaman dengan perempuan lain..." tutur Nayla sambil terus menangis di pelukan Aji.
Mengingat kejadian itu, Aji sebenarnya tidak mau membuat pacarnya sampai menangis lagi. Oleh karena itu, dia selalu berusaha menjauhi Ica, bahkan menghiraukan Ica pun tidak, walaupun sebenarnya dia gak tega memperlakukan Ica seperti itu.
------------------------------------
"Eh lo nya sendiri kenapa Ca, sampai sekarang gak mau pacaran?" tanya Dika melanjutkan pembicaraan tadi.
"Yah sepertinya sekarang gue masih nyaman dengan kesendirian gue Dik," jawab Ica dengan senyum optimis.
"Ngomong-ngomong, emang bener ya Ca, lo jadi gak mau pacaran itu, karena trauma dengan pertengkaran kedua orang tua lo saat itu?" tanya Dika dengan ekspresi penasaran.
"Emm... kalau trauma sih, gak juga Dik, tapi gue takut aja gitu menjalin suatu hubungan, lebih tepatnya gue takut akan yang namanya perpisahan, apalagi kan gue pernah melihat perpisahan itu dilakukan oleh orang tua gue sendiri," jelas Ica tersenyum sambil menarik nafas panjang.
"Gue mengerti sih bagaimana perasaan lo Ca," sambut Dika iba mendengar penjelasan sahabatnya itu, "kan orang tua gue juga berpisah Ca,"
"Hah emangnya kedua orang tua lo juga pisahan Dik!?" sahut Ica sedikit terkejut mendengar kata Dika.
"Iya Ca, walaupun begitu tapi gue tetap bersyukur, karena untungnya gue mempunyai orang tua tiri yang baik Ca," tutur Dika, dan setelah itu tidak berapa lama mereka pun tiba di lapangan sekolah.
"Oiiii... kami ikut oiii!.." seru Ica begitu tiba kepada cowok-cowok yang sedang bermain bola di tengah lapangan.
-----------------------------------
Seharian itu, Aji dan Ica tidak seperti biasanya, walaupun mereka di kelas yang sama, tapi jangankan bercanda, bertegur sapa pun mereka tidak ada.
Aji seolah-olah menjaga jarak dengan Ica, walaupun begitu, Ica terus berusaha untuk mengajak Aji bicara, ya walaupun itu sama sekali tidak dihiraukan nya.
'Tung... Tung... Tung...' bel sekolah pertanda waktunya pulang sudah berbunyi.
Aji memasang tas nya, bangkit dari tempat duduknya, dan langsung pergi menuju keluar kelas begitu saja.
Namun...
"Ji!" seru Ica langsung menarik tas Aji dari belakang.
Merasa tas nya ditarik, Aji tidak mengatakan apa-apa, dia hanya diam, bingung untuk mengatakan apa.
"Ji, sebenarnya ada apa sih, lo kayak menjauhi gue gitu Ji!?" seru Ica bertanya kepada Aji, dan sontak hal itu membuat seisi kelas hening beberapa saat.
Beberapa siswa yang belum pulang, seperti Dika dan Jamal, menjadi saksi peristiwa yang ada di depan kelas itu.
"Maaf Ca, sepertinya kita gak bisa berteman dekat kayak dulu lagi. Untuk sementara waktu, kayaknya kita jangan bertegur sapa dulu," jawab Aji dingin dengan wajah seolah tidak ingin melihat muka Ica.
"Iya Ji, gue mengerti kok, sepertinya lo memilih mementingkan hubungan percintaan lo, daripada persahabatan kita..." tutur Ica sembari melepaskan genggamannya dari tas Aji.
Suasana kelas berbeda hari itu, jam dinding seolah berbunyi lebih keras, kipas angin terasa melambat berputar, beberapa siswa yang melihat kejadian itu ikut sedih melihat kerenggangan antar dua sahabat itu, bahkan Jamal sampai menangis-nangis di pelukan Dika.
"Maaf Ca,"
"Iya Ji, semoga lo bisa lebih bahagia bersamanya."
__ADS_1
-------------------------------------