
"Eh Ca, jangan Ca!.."
Terdengar ada teriak seseorang dari arah belakang.
Ketika Nayla, Via dan Nia menoleh ke belakang, terlihat seorang siswi tidak di kenal berlari dengan cepat, disusul seorang cowok di belakangnya.
"Eh itu kenapa tuh, ada yang berlari kesini!?" tanya Nayla heran.
"Eh itu bukannya Ica si tomboi, dari kelas ips itu kan, ngapain dia lari-lari gitu," gerutu Via.
"Iya, itu si Ica tuh kayaknya, dan di belakang yang menyusulnya itu sepertinya si Aji," sahut Nia.
Ica berhasil mendatangi murid baru itu, dan ia seperti ingin menyampaikan sesuatu. Namun, belum sempat ia ngomong apa-apa, dari belakang Aji langsung menutup mulutnya.
"Mohon maaf ya, temen aku emang sering kelepasan orangnya hehe..." ucap Aji kepada murid baru dan teman-temannya itu.
'Buk' Ica menyikut perut Aji.
"Aduh!" Aji melepaskan tangannya dari mulut Ica, dan langsung memegangi perutnya kesakitan.
"Eh murid baru, ini teman gue namanya Aji, dia katanya suka sama lo, lo mau gak jadi pacar dia," pungkas Ica dan langsung kabur begitu saja.
"Eh Ca, Ca!" Aji gak bisa lari, dan masih memegangi perutnya.
Dan ketika Aji kembali menoleh kepada murid baru itu. Dia menatap mata Aji, dan Aji juga menatap matanya.
Seketika suasana menjadi canggung...
----------------BUCIN VS JOMBLO--------------
"Eh kalian itu kenapa sih!?" gerutu Via heran, melihat kelakuan Ica dan Aji.
"Kamu emang beneran suka sama Nayla ya Ji?" tanya Nia.
Aji terdiam, sebenarnya dia ingin mengutarakan perasaannya kepada Nayla, namun dia bingung mau menjawabnya bagaimana,
"Ya elah ungkapkan aja kali, lagipula Nayla nya udah tau juga kok bagaimana perasaan lo kepadanya, kan udah disampaikan teman lo tadi!?" celetuk Via langsung.
"Eee..." Aji masih ragu tuk mengutarakannya.
"Kamu emang beneran suka ya sama aku!?" pungkas murid baru itu, seketika mengagetkan semua yang ada disitu.
__ADS_1
"I... iya, kamu mau gak jadi pacar aku!?" tanya Aji serius.
"Iya mau kok, asal kamu nya aja setia," ucap murid baru itu menerima Aji.
"Ya iyalah setia, aku janji, aku gak akan pernah ninggalin kamu sampai kapan pun!" pungkas Aji dengan penuh keyakinan.
"Horeee... wohooo... selamat Ji, selamat, selamaaattt!!!" ucap teman-teman Aji tiba-tiba datang dari belakang.
"Tuh Ji, tunggu apalagi, kan ini waktu pulang sekolah, anterin aja dia juga pulang ke rumah nya," saran Dika di belakang.
"Bener juga tuh Ji, anterin aja dia juga pulang," sahut Ica di samping.
"Lah, terus, lo pulangnya gimana Ca!?" tanya Aji.
"Ah tenang gapapa, lo anterin dulu dia pulang, terus jemput gue lagi, gue nungguin di sini," jelas Ica.
"Hah beneran Ca, gapapa!?" tanya Aji mempertegas.
"Iya gapapa, asal lo nya aja jangan lupa balik sini jemput gue!" sahut Ica.
"Oke siap Ca, emmm... kamu nya sendiri Nay, mau gak aku anterin pulang?" Aji sedikit malu-malu.
"Ya udah deh, aku mau, tapi maaf ya temen-temen aku pulang duluan," Nayla minta maaf ke Nia dan Via.
"Ya udah yuk Nay, kita pulang bareng," ajak Aji.
"Hayuk," jawab Nayla mengiyakan.
"Ciyeee... ciyeee.... " teriak teman-teman Aji berusaha menggoda Aji.
Aji berusaha pura-pura tidak mendengar teriakan teman-temannya itu.
"Ehem... ehem..." goda teman-teman Aji lagi.
Aji masih berupaya bersikap tenang mendengar godaan teman-temannya itu.
"Uhuuyy... uhuyyy..." teriak teman-teman Aji malah menyaringkan suaranya.
"Woy! Kalian bisa diam gak sih, gue jadi deg-degan tau!" sahut Aji malah sewot.
Itulah awal cerita cinta Aji dan Nayla, penuh kebahagiaan dan kasih sayang, betapa bahagia nya kisah cinta mereka.
__ADS_1
Kembali ke masa sekarang,
Satu tahun kemudian...
Aji terlihat termenung di bangkunya. Setelah kejadian kemarin, dimana dia diselingkuhin Nayla di depan matanya sendiri, Aji tidak ada lagi menghubungi Nayla setelah kejadian itu.
"Ngapa lo Ji, gue lihat lo bengong mulu dari tadi, lo lagi kepikiran Nayla ya!.." ejek Dika menghampiri bangku Aji.
"Weee... enak aja, orang bengong doang kok, dibilangin macem-macem!" sahut Aji malah sewot.
"Yah, mungkin aja lo kayak Jamal..."
"Hah, emangnya Jamal kenapa!?"
"Ya kan, dia balikan lagi sama Via..." jelas Dika.
Mendengar penjelasan Dika itu, Aji langsung mengalihkan pandangannya ke Jamal.
"Eh, apa lo tengok-tengok!?" seru Jamal terkejut begitu Aji menoleh kepadanya.
"Emangnya bener lo, kata Dika, lo balikan lagi sama Via?" tanya Aji penasaran.
"I... iya Ji, habisnya gimana ya, gue serasa gak bisa hidup Ji tanpa Via," jelas Jamal.
*-_-) ekspresi wajah Aji dan Dika begitu mendengar perkataan Jamal.
"Lo... tidak dapat bernapas ya kalo gak ada Via?" ledek Aji.
"Atau jangan-jangan Via itu ibu lo, sehingga lo gak bisa hidup tanpanya?" ledek Dika juga.
"Bukan gitu maksudnya, woy!" Jamal malah sewot.
"Lah kan, kata lo juga tadi, gak bisa hidup tanpanya. Tapi sekarang lo masih hidup aja tuh tanpa Via," ledekĀ Aji dan Dika kemudian tertawa bersama.
"Weee... maksud gue itu, kalo gak ada dia, gue merasa ada yang kurang gitu, gue jadi kangen dia, gue udah sayang banget sama dia, gue gak mau kehilangan dia..." jelas Jamal dengan penuh perasaan.
"Kalo lo Ji, ngerasa gitu juga gak Ji, atau mungkin lo juga ada rencana mau balikan sama Nayla?" tanya Dika.
"Yah, kalo perasaan itu sih, gue juga ada Dik. Tapi untuk sekarang..." Aji menoleh ke Ica yang sedang tidur di meja sebelah.
"... gue memutuskan untuk move on aja deh Dik!.." tutur Dika sambil tersenyum.
__ADS_1
------------------------------------