
"Dasar lo ya, cewek gak tau diri, harusnya lo jadi cewek bisa mengerti dong, bagaimana perjuangan Aji buat lo, ehh ini lo malah selingkuh lagi dengan playboy ini!" pungkas Ica begitu geram.
"Eh enak aja, yang ada tu lo tuh yang playgirl, kesana kesini rebut cowok orang lain, emang lo jadi cewek gak malu apa!?" balas Nayla juga gak mau kalah.
Di saat kedua cewek itu saling bertengkar, Jamal kewalahan menengahi keributan dua cewek itu,
"Eh sabar... sabar... duhh, jangan ribut disini dong, diliatin orang secafe tuh, maluu..." pinta Jamal.
Namun tiba-tiba...
"Sudah sayang, sabar sayang, sabar," ucap Kafka merangkul Nayla dari belakang.
'Tuk, tuk, tuk," Kafka maju mendekatkan dirinya ke Ica.
"Eh Ca, bilangin ke Aji ya, jangan pernah mendekati Nayla lagi. Nayla itu udah gak sayang lagi sama Aji, dia sayangnya udah sama gue. Jadi lo bilangin ke teman lo itu, jangan pernah ganggu hubungan kami lagi!" seru Kafka sambil memegang erat tangan Nayla.
"Eh, lo!?," pungkas Jamal yang sontak terkejut melihatnya.
Di sisi lain, gelagat Ica mulai aneh, dia hanya tertunduk, menarik nafas panjang, sementara tangannya mengepal keras.
'Huh'
'Huh'
'Huh'
(nafas Ica terengah-engah)
"Ca, lo kenapa Ca!?" tegur Jamal panik, ketakutan melihat Ica.
"Eh, Ca!?" tanya Jamal lagi.
"Ca!?"
"Aaaaaaa!!!......" teriak Ica keras, tangannya meninju ke arah Kafka.
"Icaaaaa!!!...." teriak Jamal histeris, karena dia mengira Ica akan meninju dia.
-- BUCIN VS JOMBLO --
"Eh Mal, sadar dong Mal, Jamal!?" seru Aji berusaha membangunkan Jamal yang terbaring di lantai.
"E..."
"E..."
"E..."
Jamal masih syok, karena begitu ketakutan tadi.
"Eh Ji, Jamal kenapa Ji!?" tanya Dika baru masuk cafe, begitu terkejut melihat keadaan Jamal.
"Tau nih Jamal, gue masuk cafe, tiba-tiba dia udah begini," jelas Aji yang juga tidak tau.
"Mal, bangun Mal!?" seru Ica panik sambil terus menggoyangkan tubuh Jamal.
"Ya udah kalo gitu kita bawa ke puskesmas terdekat aja!" seru Dika.
"Ya udah ayo!" jawab Aji. Aji, Dika dan Ica pun perlahan mengangkat tubuh Jamal, sedangkan Nayla dan Kafka di belakang hanya bisa melihat bingung mau berbuat apa.
"Eh kalian berdua, bengong doang, bantuin ngapa!" tegur Dika kepada Nayla dan Kafka.
"Eh!?" sahut Nayla dan Kafka yang juga ikut panik, dan ikut bantuin ngangkat Jamal.
Dan akhirnya mereka berlima pun bersama-sama memboyong Jamal keluar dari cafe.
"Maju... maju... maju..." arahan Dika yang mengangkat di depan, sedangkan yang lain di belakang mengikutinya.
"Perasaan, baru tadi deh mereka ribut?.." gerutu beberapa pelanggan di cafe itu yang heran melihat mereka berlima.
----------------------------------
"Terus... terus... terus..." arahan Dika, dan akhirnya mereka tiba di luar cafe.
"Terus sekarang bagaimana nih!?" tanya Aji kepada Dika.
"Tenang, Jamal biar boncengan sama gue, lo bawa motor lo, sedangkan Ica bawa motor Jamal," ucap Dika sigap.
"Lo yakin bonceng Jamal, kalo dia jatoh gimana!?" tanya Aji lagi.
"Tenang, gak bakalan kok, gue udah sering bonceng dia, kan biasanya dia juga ketiduran di belakang, dia gak pernah jatoh kok" jelas Dika yang sudah sering bonceng Jamal.
"Ya udah kalo gitu, cepat kita angkat Jamal nya ke motor!" seru Ica.
Dan Jamal pun di dudukkan di motor dan di bonceng Dika.
"Ya udah sebelumnya, makasih ya Kaf, Nay, udah bantu kami..." ucap Dika.
__ADS_1
"Iya Ji, sama-sama," jawab Kafka.
"Jaga dia baik-baik ya Kaf, buat dia bahagia..." pesan Aji pada Kafka sembari tersenyum kepada Nayla.
"Iya Ji, santai aja..." sahut Kafka sambil merangkul pundak Nayla.
"Ji..." tutur Nayla dalam hati, mendengar perkataan Aji tadi.
Aji, Ica dan Dika pun, bersama Jamal yang masih syok, menghidupkan motornya, meninggalkan Nayla dan Kafka di depan cafe tersebut.
"Ya udah sayang, sekarang kita pulang yuk..." ajak Kafka sambil tersenyum kepada Nayla.
Nayla masih terdiam, dia hanya menatap kosong jalanan, seolah dia sedang memikirkan hal yang lain.
"Sayang!?" tegur Kafka lagi.
Tiba-tiba Nayla melepaskan rangkulan Kafka dari pundaknya.
"Maksud kamu apa ngomong seperti itu di depan mereka!?" pungkas Nayla marah.
"Hah, ngomong apa sayang!?" sahut Kafka bingung.
"Aku kan cuma di anterin pulang sama kamu, kita itu gak ada hubungan apa-apa! Kenapa kamu malah bilang begitu sama mereka!?"
"Ya kan, aku hanya berusaha membantu..."
"Membantu!? tapi ya bukan begini caranya!" protes Nayla marah, berjalan pergi meninggalkan Kafka.
"Sayang.. " ucap Kafka berusaha membujuk Nayla, dan menarik tangan Nayla.
"Apaan sih!.." Nayla menarik tangannya dari genggaman Kafka.
"Aku tu bukan pacar kamu! Jadi kamu gak usah sok-sok an panggil sayang-sayang gitu!"
"Dan jangan pernah dekati aku lagi!" pungkas Nayla begitu kesal dengan Kafka.
Nayla pun langsung pergi meninggalkan Kafka. Sedangkan Kafka terlihat mulai emosi.
"Ya udah sana aja lo, pulang jalan kaki! Siapa juga yang mau jadi pacar lo! Dasar lo cewek murahan!" balas teriak Kafka keras, sedangkan Nayla mendengarnya hanya terus berjalan menjauh dengan berderai air mata.
------------------------------
Di ruang tunggu puskesmas...
"Makasih ya Ji, tadi lo udah tenangin gue..." celetuk Ica sembari tersenyum kepada Aji.
"Ya elah lo Ca, seharusnya lo makasih tu sama Jamal tuh, sampe syok gitu demi berusaha menenangkan lo.." balas Aji.
"Tapi ya gak papa lah, Jamal sih memang gitu orangnya, walau dia penakut dan jantungan, tapi bentar lagi dia pasti sadar kok, gue yakin dia sih kuat orangnya," ucap Aji.
Tidak berapa lama kemudian, Dika keluar dari ruang Jamal,
"Eh, Jamal udah sadarkan diri tuh"
Mendengar Jamal sadar, Aji dan Ica pun antusias langsung masuk ke ruang Jamal,
"Mal, Alhamdulillah lo bangun, gue kira lo tadi kenapa-kenapa mal," celetuk Dika khawatir.
"Nggak gue gak papa kok, cuma sedikit syok aja," jawab Jamal tenang.
"Mal, gimana mal, lo merasa udah baikan kan?" tanya Aji.
"Alhamdulillah Ji, sekarang gue udah gak papa kok,"
"Mal, emmm.... gue minta maaf ya, udah bikin lo sampe kaya gitu" sahut Ica di samping merasa tidak enak.
"Iya ca gak papa,santai aja," jawab Jamal santai.
"Lagian cuma gitu doang sih, gak papa gue Ca, gue udah biasa menghadapi hal-hal kaya begitu, gue tadi cuma sedikit syok aja, gak papa gue kok,"
"Ya elah lo Mal, udah pingsan gitu, masih aja sok kuat lagi," celetuk Ica.
"Beneran, gue tadi sedikit terkejut aja, coba aja sekali lagi, gue gak akan kenapa-kenapa kok" celoteh Jamal.
"Ah... masa!?"
"Iya coba aja"
Mendengar perkataaan Jamal tersebut, Ica pun tanpa basa-basi langsung melayangkan genggaman tangan nya kehadapan muka Jamal.
"E..."
"E..."
"E..."
Jamal langsung tidak sadarkan diri lagi.
__ADS_1
"Yah dia syok lagi..." gerutu Dika dan Aji.
--------------------------------
Keesokan harinya...
'Tik..'
'Tik..'
'Tik..'
Bunyi hujan di atas genteng sekolah. Hari itu memang cuacanya kurang mendukung, karena dari pagi hujan terus mengguyur sekolah dengan lebatnya.
"Ca, main bola yok," ajak Aji penuh semangat.
"Dih, tumben-tumbenan lo semangat ngajak main bola Ji, biasanya kan gue yang ngajak lo main bola," balas celetuk Ica.
"Hehe, sekali-sekali lah Ca, kan gue lagi semangat banget nih pengen main bola," pungkas Aji antusias.
"Pas hujan lebat gini lo mau main bola!?" sahut Ica.
"O iya ya, gak jadi deh, hujan, hehe..." jawab Aji cengengesan.
"Hmmmm..." gumam Ica geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya itu.
"Kalau gitu, kita ke kantin aja yok Ca, hujan-hujan begini enaknya makan bakso nih!"
"Ya elah Ji, lo kan tau sendiri gue tadi lupa bawa uang jajan dari rumah..." gerutu Ica sambil merenung merebahkan kepalanya di meja.
"Ya udah, gue yang traktir deh," seru Aji mendekati bangku Ica.
"Hah... yang bener Ji!?" tukas Ica langsung mengangkat kepalanya.
"Iya." kata Aji menganggukkan kepalanya.
"Weeee... Makasih bucin, ehh... tunggu dulu, kok adegan kita ini mirip seperti adegan di awal bab 2 ya!?" gumam Ica merasa de javu.
"Ya iyalah Ca, kan penulis cerita kita ini orangnya males mikir, makanya adegan di bab awal di tulis ulang nya lagi di bab ini," gerutu Aji merasa frustasi dengan penulisnya.
"Duhh, kok penulis kita gini amat yak!" gerutu Ica juga merasa frustasi.
"Mungkin dia lagi pusing kebanyakan tugas kuliah kali..." ucap Aji, yang sebenarnya author lagi curhat.
----------------------------
Tidak berapa lama kemudian, Dika dan Jamal masuk ke dalam kelas datang dari kantin, sambil membawa beberapa cemilan dan air es di tangannya.
'Teng'
'Teng'
'Teng'
Bunyi alarm sekolah mendadak berbunyi, pertanda seseorang akan di panggil ke kantor.
"PANGGILAN KEPADA AJI, DARI KELAS 12, SILAHKAN TEMUI BAPAK KE KANTOR GURU, SEKARANG!.."
Ucap seseorang menggunakan microfon di kantor guru, suara yang tidak asing, dan suara itu tidak lain ialah suara bapak Nurani.
"Eh ada apa tuh, kok tiba-tiba lo dipanggil bapak Nurani ke kantor Ji, jangan-jangan lo ada terlibat masalah lagi!?" seru Jamal terkejut mendengarnya.
"Hah masalah, masalah apa!?" tanya Aji bingung.
"Jangan-jangan lo di panggil ke kantor, gara-gara lo kabur dari ujian kemarin lagi!?" pungkas Dika panik.
"Eh bisa jadi tuh, wah tamat riwayat lo Ji, lo bisa dihukum bapak Nurani Ji!.." sahut Jamal yang sudah berpengalaman dihukum bapak Nurani.
Aji sedikit panik mendengarnya, Aji berusaha menenangkan dirinya dan menarik nafas panjang,
"Ya udah kalo gitu, lo tenang di dalam kelas aja Ji, biar gue yang menghadap ke bapak Nurani, dan menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi." pungkas Ica berusaha meyakinkan Aji.
"Kan bagaimana pun, kemarin itu juga salah gue, karena gue udah membantu lo keluar dari ujian," lanjut Ica.
"Iya Ji, lo tenang di dalam kelas aja, biar gue sama Ica, yang akan menghadap dan menjelaskan semuanya ke bapak Nurani..." ucap Dika.
"Gue ikut juga," sahut Jamal juga ikutan.
Aji hanya terdiam, dia menatap lantai kelas, dia seperti memikirkan sesuatu,
"Ya udah yok Ca, Mal, kita ke kantor. Lo tenang aja Ji, biar kami yang akan menjelaskannya," pungkas Dika meyakinkan Aji, dan bersama Ica dan Jamal, mereka perlahan berjalan keluar kelas.
'Tap' Aji memegang pundak Dika.
"Kalian gak perlu ke kantor. Ini bukan kesalahan kalian, kalian hanya berusaha membantu gue. Ini murni kesalahan gue pribadi, gue gak mau teman-teman gue juga ikut bermasalah hanya karena kesalahan gue," tutur Aji menghentikan langkah mereka.
"Biar gue yang akan menyelesaikan masalah gue sendiri!" pungkas Aji langsung keluar kelas, dan meninggalkan teman-temannya.
__ADS_1
"JI!!!..." seru Ica yang khawatir dengan sahabatnya itu.
---------------------------------