Bucin VS Jomblo

Bucin VS Jomblo
Episode 19 : Epilog


__ADS_3

"Terus kalo lo udah bosan menyendiri, lo bakal kembali ke Nayla atau mencari perempuan yang lain aja, eh atau jangan-jangan lo udah punya rasa ke perempuan lain lagi, " tanya Dika.


"Emmm... Sebenarnya sih, gue udah punya rencana untuk menembak seseorang," jawab Aji sembari tersenyum.


"Hah, yang bener Ji, siapa tuh!?" celetuk Ica duduk di belakang Aji.


"Emmm... Rahasia deh, nanti kalau udah waktunya, kalian juga bakal tau..." tutur Aji tersenyum melirik seseorang di kaca spionnya.


----------------Bucin VS Jomblo-----------------


Tak terasa Aji dan Ica sebentar lagi akan lulus SMA. Dan setelah lulus SMA nanti, mereka tak akan lagi bersama, karena Aji akan melanjutkan pendidikannya yaitu kuliah, sedangkan Ica akan langsung memasuki dunia kerja.


Dan untuk itu, dua sahabat ini berencana untuk ketemuan di sebuah kafe, walaupun rumah mereka padahal cuma bersebelahan.


Tak seperti biasanya, Ica kali ini tidak dibonceng Aji, karena Ica terlebih dahulu ke kafe, sedangkan Aji menyusul beberapa saat setelahnya.


Di perjalanan menuju kafe, Aji terus tersenyum sambil membawa sekuntum bunga di motornya. Sepertinya ada yang ingin disampaikannya ketika bertemu Ica.


'Krieetttt...' suara decit pintu kafe terbuka, seorang lelaki masuk perlahan berjalan membawa sekuntum bunga disembunyikan di belakangnya menjumpai perempuan yang sudah lama menunggunya. Terlihat dari jauh, Ica sedang duduk manis ditemani segelas es boba, menyambut hangat lelaki itu ketika datang menemuinya.


"Ji, lama banget sih lo, gue tungguin dari tadi juga!" seru Ica begitu melihat Aji datang.


"Yeee... sabarlah Ca, kan lo tau sendiri motor gue susah menghidupkannya, lagian siapa suruh lo duluan kesini," gerutu Aji.


"Mas, pesan es cappucino cincau satu!" pinta Aji sembari duduk di kursi di sisi seberang meja Ica.


"Nah, jadi sekarang lo mau menyampaikan apa tadi!?" pungkas Ica langsung.


"Lo duluan deh, kan lo juga ada yang mau disampaikan ke gue tadi kata lo," tukas Aji.


"Yeee gitu, lo duluan aja, ngomong-ngomong kok lo tumben Ji, pakaian rapi mana wangi lagi, lo mau nembak seseorang ya!?"


"Serah gue lah! Gue pakaian gak rapi, lo katain, sekalinya gue pakai pakaian rapi, lo bilang tumben,"


"Ya kali aja Ji, gak biasanya lo begini, kali aja lo mau nembak cewek. Ya udah, lo mau ngomongin apa tadi?"


"Lo aja duluan Ca!"


"Lo aja Ji!"


"Lo!"


"Ya udah, gimana kalau kita suit aja, siapa kalah itu yang duluan menyampaikan," kata Aji bersiap untuk suit.

__ADS_1


Tiba-tiba dari belakang Ica, datang Dika berjalan sepertinya baru selesai dari toilet.


"Eh Ji! Wah pas bener nih, lo ada disini," seru Dika baru datang sembari duduk di kursi sebelah Ica.


"Eh Dik, lo ternyata juga ada disini, baru tau gue, Ica gak bilang lo juga datang," sahut Aji sambil cengengesan.


"Lah emangnya Ica gak bilang ya!?" tanya Dika.


"Bilang apa!?"


"Ya kan, kami baru aja jadian Ji..."


"Hah!? Kalian jadian!?" Aji begitu terkejut dan sakit hati mendengarnya, sekuntum bunga di belakangnya langsung jatuh begitu saja.


"Yah, memang ini mengejutkan sih, tapi ya gimana ya, walaupun gue sama Ica udah lama sahabatan, tapi gak bisa dipungkiri gue udah lama suka sama dia, dan ternyata Ica nya juga mau menerima cinta gue," jelas Dika dengan semangat.


"Ji, lo gapapa kan Ji!?" tanya Ica melihat ekspresi kecewa Aji yang tak bisa ditutupi.


"Hah ya iyalah gapapa, malah senang gue melihat dua sahabat dekat gue, akhirnya bisa bersama, dan saling menyayangi satu sama lain," tukas Aji sambil tersenyum, walau Ica tau itu terpaksa.


"O iya, btw congrats ya atas hubungan kalian, jangan lupa nanti traktirannya hahaha..." lanjut Aji.


"Makasih ya Ji, kalau gitu sekarang lo mau pesan apa Ji, tenang biar gue aja yang mentraktir," ujar Dika penuh semangat.


"Ya udah gue duluan ya..." dan Aji pun langsung pergi keluar kafe.


"Eh mas... tunggu, ini es cappucino cincau nya!!!" seru pegawai kafe membawa minuman pesanan Aji tadi, akan tetapi Aji sudah keluar kafe begitu saja.


 


Setelah keluar dari kafe, di perjalanan, Aji perlahan mengendarai sepeda motornya, namun di pertengahan jalan terlihat di pinggir jalan seorang pria tua yang nampak tak asing mukanya.


Ketika Aji semakin dekat, tiba-tiba pria itu memberhentikan sepeda motor Aji.


Sontak Aji panik dibuatnya...


"Eh mas, kamu temannya cewek yang beberapa minggu lalu menampar saya disini kan!?" seru pria itu.


"Hah!? Yang mana ya!?" Aji masih bingung mengingatnya.


Baru teringat Aji, pria ini adalah mas-mas yang ditampar Ica, ketika Aji dan Ica melihat mas ini sedang berselingkuh di pinggir jalan (baca di episode 4).


"Maaf mas, maaf... Saya bersama teman saya itu sungguh meminta maaf mas, atas perbuatan teman saya yang kelewatan sampai menampar anda mas... Beneran mas, saya sama teman saya itu sungguh-sungguh minta maaf..." pinta Aji kepada pria itu sambil memohon.

__ADS_1


"Eh gak, gak, maksud saya itu ingin bertemu cewek teman kamu itu, saya malah ingin berterimakasih kepadanya, karena sudah menyadarkan saya, untuk tidak berselingkuh," jelas pria itu.


"Hah!? Emangnya kenapa mas!? " potong Aji.


"Iya, saya menyesal telah berselingkuh waktu itu. Karena saya telah meninggalkan wanita yang begitu sayang sama saya, demi memilih wanita yang salah, " pria itu melepaskan tangannya dari motor Aji.


"Saya salah terlalu mengejar perempuan lain, tanpa sadar perempuan yang begitu mencintai saya, padahal ada di samping saya sendiri, dan ketika saya ingin kembali, perempuan yang begitu sayang sama saya, sudah bersama orang lain..." lanjut pria itu.


"Saya bisa mengerti mas, apa yang mas rasakan..." tutur Aji termenung mendengar perkataan pria itu.


.


.


.


Hidup memang sebuah pilihan.


Begitu juga dalam urusan percintaan.


Kita bisa memilih untuk bersama dengan pasangan yang kita sayang.


Ica dan Dika saling bercanda tawa bersama, berdua menikmati suasana kafe diiringi musik romansa.


Kita juga bisa memilih untuk bertahan dalam kesendirian.


Aji di atas motor sendirian menuju jalan pulang, dengan kecepatan perlahan, sambil memandangi bunganya yang tak jadi diberikan.


Tidak ada yang salah dengan masing-masing pilihan.


Setiap pilihan ada konsekuensi dan resiko yang harus dijalankan.


Nayla yang masih bersedih di dalam kamarnya, sambil melihat foto-foto kebersamaannya dengan Aji, yang kini hanya tinggal kenangan.


Selagi kita masih bahagia dengan pilihan kita,


Jamal dan Via sedang nonton bersama film horor di bioskop, akan tetapi Jamal sudah lari kabur karena takut dengan hantu.


Jalani dan nikmati saja prosesnya.


Bucin VS Jomblo S1


Ilhm03_

__ADS_1


--------------------Bersambung-------------------


__ADS_2