
Aji, hampir setiap saat ketika di sekolah dia selalu bersama pacarnya,ke kantin berdua, menghabiskan waktu istirahat berdua, kemana-mana mereka selalu berdua. Kecuali saat jam pelajaran berlangsung, karena kelas mereka yang berbeda. Walaupun begitu, di dalam kelas pun Aji tetap chattingan dengan Nayla, seolah kapanpun dan dimana pun mereka selalu bersama.
Ica, sama seperti biasa, kalau waktu istirahat ya main bola, kalau waktunya jam pelajaran ya tidur. Tidak ada yang berubah dari Ica, apapun yang dia buat dia merasa bebas melakukannya dan tidak ada yang melarangnya. Ya walaupun Ica kemana-mana gak sama Aji lagi. Tapi sekarang, dia selalu ditemani banyak teman-teman cowoknya.
"Eh sayang, kok kamu dari tadi main hp mulu, gak dimakan baksonya?" tegur Aji kepada pacarnya yang dari tadi terlihat asik main hp mulu.
"Eh gak nih sayang, aku dari tadi tu main hp karena balesin chat Via nih, curhat mulu Via ke aku," jelas Nayla sembari membalas pesan di hp nya.
"Hah curhat, curhat masalah apa!?" tanya Aji bingung.
"Entah, kayak curhat masalah hubungannya gitu..." jawab Nayla kurang meyakinkan.
"Ah masa sih chat Via, sini dong aku lihat!" pinta Aji ingin ngintip hp Nayla.
"Ih sayang, kamu kepo deh.." sahut Nayla menutup-nutupi hp nya dari Aji.
'-_-'*ekspresi Aji tidak bisa melihat hp pacarnya.
Sebenarnya Aji ada sedikit curiga dengan chat itu, namun karena dia males ribut dengan pacarnya, Aji pun hanya acuh dan melanjutkan makan baksonya.
Di sisi lain...
"Dik, oper sini Dik!" seru Ica berlari mendekati Dika yang sedang menggiring bola.
"Nih, ambil Ca!" sahut Aji sembari mengoper bola ke Ica.
Mendapat operan bola, Ica pun mengontrol bola tersebut dan menggiring nya sampai ke muka gawang lawan. Dua tiga pemain lawan berhasil di lewati Ica dengan mudahnya, ada yang dikolong Ica, diperdaya Ica, sampai ada yang dikedipin mata sama Ica sampai dia tidak dapat bergerak.
"Wahh... gila tu Ica, hebat banget dribbling nya," tutur beberapa pemain di belakang geleng-geleng kepala melihat kehebatan Ica.
"Ca, sini Ca, sini!." teriak Dika di dekat gawang, tanpa ada pengawalan lawan sama sekali.
Melihat Dika bebas tanpa ada pengawalan, Ica pun mengumpan bola ke Dika, mendapat bola Dika pun langsung menendang keras bola itu ke arah gawang lawan, dan...
"Goooll!." teriak beberapa pemain setim Ica senang, melihat bola itu masuk kegawang lawan.
Karena gawang yang digunakan bukan gawang sungguhan, melainkan hanya dua pot bunga yang disusun sejajar. Bola yang ditendang keras Dika tadi pun, tidak terhalang dan terus terbang menjauh.
"Goooll!.." seru Dika kegirangan tanpa melihat bola tadi terus kemana.
"Dik, jangan seneng dulu Dik, itu bolanya!" tegur Ica kepada Dika, menunjuk bolanya yang sudah terbang melayang.
"Waduhh!" respon Dika terkejut melihat bolanya terbang entah kemana, "Woy bola, tunggu akuu!.." teriak Dika sambil berlari mengejar bola tadi.
"Hahaha... Dika.. Dika... makanya nendang bola itu jangan sembarangan hahaha..." Ica tertawa lepas melihat temannya itu berlari pontang-panting mengejar bola tadi.
Sesaat Ica pun terdiam, dibalik tawanya itu sebenarnya dia menyimpan rasa kecewa terhadap Aji. Sahabatnya yang dari kecil selalu bermain bersama, tertawa bersama, berjuang bersama, namun semua itu tak lagi sama, ketika datang yang namanya cinta.
Lamunan Ica di tengah lapangan itu, membuatnya teringat akan kenangan masa kecilnya dulu bersama Aji,
"Ji, lo kalo gede nanti lo mau jadi apa Ji?" tanya Ica kecil suaranya cadel kepada Aji kecil di atas sebuah cabang pohon mangga.
"Eeemmm... kalo gue sih, kalo udah gede nanti Ca, gue mau jadi seorang pangeran yang bisa menyelamatkan seorang putri," jawab Aji kecil sambil membayangkan ucapannya.
"Emangnya tuh putri gak bisa nyelametin dirinya sendiri ya Ji!?" protes Ica kecil dengan muka songongnya, "Kan dia bisa nelpon polisi minta bantuan, ngapain dia minta tolong lo. Lagian lo emang bisa nyelametinnya!?"
"Ya iyalah bisa Ca, kan gue pangerannya. Apapun akan gue hadapi demi tuan putri, bahkan badai sekalipun!" tukas Aji kecil penuh semangat, dan langsung berdiri dengan gagahnya.
"Ya elah Ji, jangankan badai, kena hujan gerimis kemarin aja lo langsung demam tinggi hahaha..." ejek Ica kecil tertawa puas.
"Kalau lo Ca, besar nanti lo mau jadi apa?"
"Hmmm... Kalo gue sih, besar nanti mau jadi seorang bajak laut!" jawab Ica kecil tegas.
__ADS_1
"Hah bajak laut, ngapain Ca!?" sahut Aji kecil terkejut mendengarnya.
"Ya kan enak aja gitu Ji, gue bisa bebas di tengah laut mau ngapain aja, tanpa ada siapapun yang melarang," jawab Ica kecil dengan penuh keyakinan.
"Mau jadi bajak laut, emang lo bisa berenang Ca?" tanya Aji kecil.
"Ya kan aku punya pelampung bebek," jawab Ica kecil dengan polosnya.
"Oiii... Kalian ngapain oiii... di atas pohon mangga gue! Dasar ya kalian bocah pencuri mangga!" teriak seorang emak-emak dari kejauhan, membawa sebuah galah panjang untuk menghajar Aji dan Ica kecil.
"Lariii!!!..." seru Aji dan Ica kecil langsung turun dan kabur begitu saja.
"Jangan kabur kalian!" seru emak-emak itu berlari mengejar Aji dan Ica kecil.
Mengingat kejadian itu, Aji sedikit tersenyum ditengah lamunan nya sambil memakan bakso.
"Eh lo kenapa Ca, senyum-senyum sendiri kayak gitu!?" celetuk Dika masih ngap-ngapan sambil membawa bola di tangannya, memecahkan lamunan Ica di tengah lapangan itu.
"Hah, apaan sih Ji!?" sahut Ica salah sebut nama.
"Ciyeee... lo lagi kepikiran Aji ya, ciyee..." goda Dika sambil menunjuk-nunjuk Ica.
"Ih apaan sih Dik, ngapain juga gue mikirin tuh bucin." gerutu Ica sewot, "Lagian dia pasti sedang bahagia tuh, uwwu-uwwu an sama pacarnya itu!"
"Eeemmm..." goda Dika sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Ih apaan sih Dik!!" sewot Ica mukanya langsung memerah.
Di sisi lain...
"Sayang, aku mau ke kelas dulu ya, kasihan nih Via, dia chat aku mulu, dia lagi ada masalah kayaknya," pungkas Nayla sambil terlihat masih sibuk membalas chat di hp nya.
"Eh, tapi kan kamu belum makan baksonya sayang!?" tanya Aji sedikit terkejut begitu mendengar pacarnya ingin pergi.
Sejenak Aji pun terdiam, ekspresi mukanya menjadi sedikit datar, Aji menarik napas panjang,
"Ya udah datengin aja temanmu, kalo aja dia kenapa-kenapa..." jawab Aji sambil tersenyum tipis kepada Nayla.
"Maaf ya, aku duluan sayang..." ucap Nayla sembari pergi keluar kantin meninggalkan Aji.
Aji pun termenung, dia meletakkan kembali sendoknya di mangkuk, Aji mengaduk-adukkan kuah baksonya, selera makannya berasa langsung hilang begitu saja.
-------------------------------
'Tuk... tuk... tuk...' suara langkah kaki seseorang menghampiri Aji, namun Aji masih termenung tidak menghiraukannya.
"Ji!?" tegur seseorang itu menghentikan lamunan Aji.
"Eh, Jamal!?" respon Aji sedikit terkejut.
"Gue boleh duduk disini gak Ji?"
"Ya boleh lah, duduk aja, emangnya ada apa Mal?"
Jamal pun langsung duduk di sisi seberang meja. Gelagatnya seperti ingin membicarakan sesuatu yang serius dengan Aji.
"Kayaknya gue mau putus aja deh sama Via Ji," pungkas Jamal menarik napas panjang.
"Hah, emangnya ada apa Mal, jadi kalian mau putusan!?" tanya Aji begitu terkejut mendengarnya.
"Entah kenapa, beberapa hari ini gue merasa begitu dikekang Ji sama Via,"
"Dikekang!? Dikekang bagaimana maksud lo Mal?"
__ADS_1
"Yah gimana ya Ji, gue merasa, masa hanya karena cinta, kita harus mengorbankan segalanya gitu demi dia!?" protes Jamal begitu emosional.
"Kan cinta itu harusnya saling memahami, bukan malah mengatur-atur demi ego sendiri," lanjutnya
"Emangnya segitu possesif nya ya, Via sama lo Mal?" tanya Aji kepada Jamal.
"Kalau melarang deket sama perempuan lain sih, gue ngerti Ji. Tapi masa sama temen sendiri, gue disuruh menjauh!?"
"Lo juga dilarang pacar lo, berteman sama Ica ya Mal?" pungkas Aji bertanya kepada Jamal.
"Iya Ji, mana gue disuruh Via nemenin dia mulu lagi!" gerutu Jamal ngomel-ngomel.
"Yah, namanya dalam menjalani suatu hubungan Mal, sesulit apapun itu, lo harus mengerti dan memahami, bagaimana pasangan kita." tutur Aji sembari menghabiskan bakso sisa Nayla tadi.
Jamal terdiam, menarik napas panjang, dia mengalihkan pandangannya kebawah. Jamal merasa kata-kata Aji tadi, ada juga benarnya.
--------------------------------
Sesaat suasana menjadi sedikit hening, hanya suara kipas angin yang terdengar dari kejauhan, juga suara beberapa siswa yang membayar baksonya kepada ibu kantin.
'Ngeettt...' suara decit pintu kantin terbuka.
"Eh Jamal, Aji," sapa Dika memecahkan keheningan diantara dua teman itu.
"Kalian ngapain, kok kaya sama-sama melamun gitu?" celetuk Dika sambil meminum air es di tangannya.
"Eh gak papa kok Dik, kami lagi bengong aja..." sahut Jamal dengan santainya.
Di belakang Dika, terlihat juga Ica sambil membawa air es di tangannnya. Sepertinya mereka sehabis kehausan setelah main bola, makanya mereka ke kantin untuk membeli air es.
"Eh Ca, ngapain lo di belakang situ mulu, kesini lo, lo kayak lagi ada utang aja," celetuk Dika menegur Ica yang seperti menjaga jarak.
"Nggak ah Dik, gue disini aja. Gue takutnya nanti kalo gue mendekat, malah ada tuan ratu yang marah, kan kesihan bucin dimarahin pacarnya hahaha..." ledek Ica sedikit cengengesan.
"Eh maksud lo itu apa ha jomblo!" sahut Aji sedikit tersinggung dengan Ica.
"Eh maaf-maaf gue gak bermaksud apa-apa kok," balas Ica sambil bergaya minta ampun, "Ehem, cin... bucin... bucin... bucin..." ejek Ica sambil memelankan suaranya.
"Eh dasar lo ya, dasar jomblo!" sewot Aji naik pitam geregetan melihat Ica.
"Stoopp!!!" pungkas Dika langsung menengahi keributan antar dua sahabat itu,
"Kalian ini yah, kalo ketemu ribuutt... aja melulu!" gerutu Dika ngomel-ngomel, "Tapi kalo nya gak ketemu, malah saling merindukan satu sama lain, apaan sih kalian ini!" lanjut Dika penuh amarah.
"Idihh ngapain juga gue mikirin tuh bucin! / jomblo!" sahut Ica dan Aji serentak.
'-_-'* ekspresi mereka berdua saling menatap kesal satu sama lain.
"Hadehh..." tutur Dika dan Jamal geleng-geleng kepala tidak sanggup melihat kelakuan dua sahabat ini.
"Sayang!?" teriak seseorang dari arah pintu kantin. Dan orang itu tidak lain ialah Nayla, pacarnya Aji. Dan dia juga bersama Via, pacarnya Jamal.
Melihat Aji dan Ica kembali dekat. Nayla pun menjadi sangat geram, dia langsung pergi keluar kantin begitu saja, tanpa berkata apa-apa.
"Kita putus!" pungkas Via tegas kepada Jamal, dan juga pergi keluar kantin menyusul Nayla.
'Brakk...' suara keras hempasan pintu kantin ditutup Via.
Melihat kejadian itu, Aji sangat terkejut tak bisa berkata apa-apa, dia kembali meletakkan sendoknya di mangkuk bakso sisa Nayla tadi, yang tinggal sisa sedikit. Sedangkan Jamal tiba-tiba menangis meraung-raung tidak sanggup diputusin pacarnya.
"Sayaaang... Jangan tinggalkan aku!.." pinta Jamal terus menangis berderai air mata.
-------------------------------------
__ADS_1