Bucin VS Jomblo

Bucin VS Jomblo
Episode 10


__ADS_3

"Mungkin cukup segini dulu pelajarannya. Sampai jumpa di lain waktu. Selamat siang." kata Bapak Nurani mengakhiri pelajaran.


"Selamat siang..." sahut para murid bersiap-siap untuk pulang.


Bapak Nurani pun keluar kelas, tanda pelajarannya sudah selesai dan waktunya pulang sekolah. Ya walaupun seharusnya udah pulang sejam sebelumnya.


"Ahh... akhirnya pulang juga. Emang sih bapak itu, sudah pelajarannya matematika, mana suka telat lagi waktu pulangnya, hadehh..." gerutu Ica sambil memasang tas di pundaknya.


"O iya, kira-kira gimana juga ya nasib Aji, dia berhasil gak ya minta maaf ke pacarnya?" celetuk Jamal sambil memasang tas nya.


"Semoga aja sih berhasil ya. Udah susah-susah begitu, mana pake keluar dari ujian lagi, gue yakin sih Aji pasti berhasil. Mana mungkin lah Nayla tega sampai gak maafin Aji, kan dia udah melihat betapa besarnya perjuangan Aji demi minta maaf sama dia," jawab Dika juga memasang tasnya.


"Ya elah, lo kan tau Aji. Si bucin itu, mana mungkinlah gagal cuma minta maaf doang kok. Lagian sekarang dia pasti bahagia tuh uwwu-uwwuan sama pacarnya itu haha..." sahut Ica cengengesan.


Ica, Dika dan Jamal pun keluar pergi meninggalkan kelas. Namun, terlihat di depan perpustakaan....


"Eh, itu Aji kan!?" seru Jamal menunjuk seseorang yang dari kejauhan seperti Aji.


"Eh iya tuh Aji, ngapain dia di situ!?" protes Ica, kemudian tiga teman itu berlari mendatangi Aji.


"Ji!?" seru mereka menyapa Aji. Namun Aji terlihat seperti tidak menghiraukannya.


"Ji, kok lo masih disini sih? Lo gak jadi minta maaf ya!?" tanya Jamal heran.


Di lantai, terlihat tergeletak sekuntum bunga yang sebelumnya direncakan akan digunakan untuk minta maaf ke Nayla.


"Ji, kok bunga nya ada di lantai gitu sih, bukannya bunga itu buat lo minta maaf ke Nayla!?" tanya Jamal lagi.


Sedangkan Aji masih saja termenung, seolah tidak mendengar apa yang dikatakan Jamal, dan pikirannya memikirkan hal yang lain.


"Ji, lo tadi gak sempat ketemu Nayla ya!?" tanya Dika.


"Nggak, gue tadi udah ketemu kok." jawab Aji sendu.


"Terus, apa jangan-jangan lo tadi gak di maafin Nayla!?" tanya Dika lagi.

__ADS_1


"Nggak, gue tadi udah dia maafin kok." jawab Aji juga masih sendu.


"Hmmm...." gumam Dika jadi penasaran.


"Ji, kok lo kayak banyak pikiran gitu sih, sebenarnya ada apa sih Ji!?" pungkas Ica mulai geregetan.


"Nggak, gue nggak apa-apa kok..." jawab Aji sembari tersenyum tipis.


"JANGAN BOHONG!!!" sahut Ica, Dika, dan Jamal serentak.


Aji pun menarik nafas panjang, dia menatap langit- langit lorong kelas, sembari dia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi tadi,


----------------------------------


'Tuk... tuk... tuk...' suara sepatu Aji terus berlari.


Dengan perasaan gembira, Aji perlahan mengeluarkan sekuntum bunga yang ada di tasnya. Setelah menutup kembali tas nya, Aji pun menyembunyikan bunga itu di belakang punggungnya, sembari tersenyum bahagia. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu pacarnya yang sudah lama menunggunya.


Aji pun tiba di parkiran. Langkah nya tertahan, begitu melihat Nayla sudah ada di depan.


"KA... KAFKA!!?.." pungkas Aji sedikit heran, karena pacarnya itu sedang bersama cowok lain. Dan cowok itu ialah Kafka (BTW, yang belum tau atau lupa Kafka ini siapa, baca aja di eps 1).


"Eh... Aji!?" sahut Kafka ramah, sambil tersenyum kepada Aji.


Sedangkan Nayla seperti tidak menghiraukan Aji, memalingkan muka, dan malah menggenggam tangan Kafka.


"Sa... Sayang!?" pungkas Aji begitu syok, seolah tidak percaya yang ada di depan matanya.


Aji pun mengambil kembali bunga yang jatuh di lantai tadi, dia langsung berlari, dan berdiri di hadapan Nayla.


"Sayang, maafkan aku sayang, aku sudah salah melanggar permohonan kamu waktu itu untuk tidak mendekati Ica. Maafin aku sayang, aku janji gak akan mengulanginya lagi!.." pinta Aji mengulurkan tangannya ingin memberikan bunga itu kepada Nayla.


"Aku mohon sayang, maafin aku!.." pinta Aji lagi.


Mendengar perkataan Aji itu, Nayla pun berusaha menahan air matanya, dia melepas genggamannya dari tangan Kafka, dan mempersilahkan Kafka untuk pergi lebih dulu.

__ADS_1


"Iya, aku maafin kok..." jawab Nayla matanya berkaca-kaca sambil tersenyum tipis.


"Beneran nih sayang!? Makasiiihh..." respon Aji begitu senang mendapat maaf dari Nayla.


Bahkan saking senangnya, Aji langsung ingin memeluk pacarnya itu.


"Tapi maafin aku juga ya..." ucap Nayla menjauhkan diri, berusaha tidak ingin dipeluk Aji.


"Eh kenapa sayang!?" tanya Aji heran.


"Untuk hari ini dan kedepannya, kamu jangan nganterin aku pulang lagi ya. Aku pulang sama Kafka..."


"Eh, eh, kok..."


"Setidaknya dengan begitu, aku tidak akan mengganggu kamu lagi pulang bersama teman mu itu..." tutur Nayla tangisnya pecah. Dan langsung pergi meninggalkan Aji, menyusul Kafka yang sudah menghidupkan motornya dari tadi.


"Sa... sayang!.." seru Aji berusaha mengejar Nayla.


Namun langkahnya tertahan, begitu melihat pacarnya itu naik ke motor Kafka, dan memeluk Kafka dengan erat.


'Bruuuummmm...' suara motor ninja Kafka melaju dengan cepat, meninggalkan Aji yang masih ling-lung melihat yang barusan terjadi.


---------------------------------


"Uwaaa... kok Nayla tega banget sih Ji, uwaaa..." tangis Jamal meraung-raung mendengar cerita temannya itu.


"Gue gak nyangka sih Ji, dia sampai segitunya memperlakukan lo Ji," pungkas Dika juga prihatin.


Aji hanya terdiam, menarik nafas panjang, dan kembali termenung dengan tatapan kosong.


'Set' tangan Ica tiba-tiba mengambil bunga yang tergeletak di lantai tadi. Dia langsung berlari menuju parkiran, terlihat Ica begitu emosi.


"Eh Ca, mau kemana lo Ca!?" seru Jamal langsung berlari menyusul Ica.


"CA!?" pungkas Aji dan Dika serentak.

__ADS_1


-----------------------------------


__ADS_2