
"Nia!?" sapa Aji begitu menemui orang itu di luar kelas.
"Eh Ji!" jawab Nia, salah satu teman dekat Nayla.
"Ada apa Nia, katanya ada yang mau lo bicarakan sama gue?" tanya Aji.
"Iya Ji, ini soal Nayla!.."
"Kenapa Nayla!?" pungkas Aji bingung.
"Kasihan Nayla Ji, setelah kemarin kalian tinggalkan di cafe itu... dia dipukulin Kafka Ji!.." jelas Nia.
"A... apa!?"
.
------------- BUCIN VS JOMBLO -------------
Waktu istirahat, setelah semua selesai mendapatkan hadiah perpisahan dari BapakNurani (ujian dadakan),
"Sumpah tuh guru! Bikin murid panik aja, nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba ngasih ujian dadakan!" gerutu Ica.
"Gue kira tadi bapak Nurani mau memberi kita hadiah perpisahan beneran. Kali aja bapak mau mentraktir makan atau mau membagikan kado gitu gue kira, gue udah senang nya bukan kepalang. Eh ternyata malah di kasih ujian dadakan, itu sih bukan memberi hadiah pak, itu sih memberikan azab nama nya" keluh Jamal kecewa.
"Emang sih nama nya bapak Nurani, tapi kalo memberi tugas dan ujian nggak pernah pake hati nurani..." lanjutnya.
"Eh tapi btw Ji, si Nia tadi ada perlu apa menemui lo di luar kelas?" tanya Dika penasaran.
"Oh tadi itu, Nia menemui gue di luar kelas, dia mengasih gue kabar," jawab Aji.
"Kabar tentang apa?"
"Kabar tentang Nayla. Kata Nia, Nayla dipukulin Kafka, sehabis kita meninggalkan mereka di depan kafe kemarin." jelas Aji.
"Hah!? Yang bener Ji!?" pungkas yang lain, terkejut mendengarnya.
"Iya, makanya setelah pulang sekolah, rencananya gue mau menjenguk Nayla di rumahnya." lanjut Aji.
"Kalo gitu, gue juga ikut Ji, menjenguk Nayla ke rumahnya," sahut Ica.
"Gue juga ikut, Ji," sahut Dika juga.
"Gu..gue ikutan deh," Jamal ikut-ikutan.
Dan setelah pulang sekolah, mereka berempat pun bersama-sama menjenguk Nayla di rumahnya.
Sesampainya di rumah Nayla, Aji dan teman-temannya melihat kondisi Nayla yang terbaring sakit. Dan di situ juga ada teman dekat Nayla, yaitu Nia dan Via.
__ADS_1
“Nay, gimana sekarang keadaanmu, emangnya benar ya, kata Nia kamu sehabis di kafe kemarin, kamu dipukulin Kafka!?” tanya Aji begitu melihat keadaan Nayla.
“Iya Ji, aku menyesal udah meninggalkanmu Ji, aku menyesal udah meninggalkan cowok yang mencintaiku begitu tulus seperti kamu Ji. Maafkan aku ya Ji…” pinta Nayla sembari perlahan bangkit dari tempat tidurnya.
“Iya Nay, gapapa. Aku udah memaafkan kamu kok. Sekarang gimana keadaanmu Nay, udah baikan kan?” tanya Aji lagi.
“Alhamdulillah, keadaan aku perlahan mulai membaik Ji, cuman di bagian pipi aja yang masih sedikit sakit akibat kejadian kemarin…” jelas Nayla memperlihatkan bagian wajahnya yang sedikit memar.
“Emangnya kalo kami boleh tau, gimana sih Nay kronologi kejadiannya kemarin, sehingga lo bisa dipukulin Kafka, karena kan kalo diingat kemarin ketika kami meninggalkan kalian di depan café itu, kalian masih terlihat baikan aja tuh gak ada masalah apa-apa,” tanya Dika penasaran di samping Aji.
“Jadi kemarin itu, setelah kalian pergi meninggalkan kami…”
Di depan kafe, Aji dan teman-temannya bersiap mengantarkan Jamal yang jatuh pingsan ke puskesmas terdekat (bisa baca ulang di episode 12).
"Jaga dia baik-baik ya Kaf, buat dia bahagia..." pesan Aji pada Kafka sembari tersenyum kepada Nayla.
"Iya Ji, santai aja..." sahut Kafka sambil merangkul pundak Nayla.
"Ji..." tutur Nayla dalam hati, mendengar perkataan Aji tadi.
Aji, Ica dan Dika pun, bersama Jamal yang masih syok, menghidupkan motornya, meninggalkan Nayla dan Kafka di depan kafe tersebut.
"Ya udah sayang, sekarang kita pulang yuk..." ajak Kafka sambil tersenyum kepada Nayla.
Nayla masih terdiam, dia hanya menatap kosong jalanan, seolah dia sedang memikirkan hal yang lain.
"Sayang!?" tegur Kafka lagi.
"Maksud kamu apa ngomong seperti itu di depan mereka!?" pungkas Nayla marah.
"Hah, ngomong apa sayang!?" sahut Kafka bingung.
"Aku kan cuma di anterin pulang sama kamu, kita itu gak ada hubungan apa-apa! Kenapa kamu malah bilang begitu sama mereka!?"
"Ya kan, aku hanya berusaha membantu..."
"Membantu!? tapi ya bukan begini caranya!" protes Nayla marah, berjalan pergi meninggalkan Kafka.
"Sayang..." ucap Kafka berusaha membujuk Nayla, dan menarik tangan Nayla.
"Apaan sih!.." Nayla menarik tangannya dari genggaman Kafka.
"Aku tu bukan pacar kamu! Jadi kamu gak usah sok-sok an panggil sayang-sayang gitu!"
"Dan jangan pernah dekati aku lagi!" pungkas Nayla begitu kesal dengan Kafka.
Mendengar perkataan Nayla, Kafka pun mulai naik pitam.
__ADS_1
Dengan amarah membabi buta, Kafka dengan keras mengayunkan pukulan tangannya tepat ke wajah Nayla.
‘Bukkk…’ Nayla seketika tersungkur ke jalan, setelah dihantam Kafka yang begitu sangat marah.
Beberapa pegawai di dalam kafe tersebut melihat kejadian itu, namun mereka takut melerai kekerasan tersebut, karena kafe itu tempat mereka berkerja pemiliknya tidak lain ialah ayah Kafka, dan Kafka sendiri adalah bos mereka.
"Ya udah sana aja lo, pulang jalan kaki! Siapa juga yang mau jadi pacar lo! Dasar lo cewek murahan!" balas teriak Kafka keras.
Nayla hanya bisa terus menangis sambil memegangi wajahnya yang memerah terkena pukulan Kafka tadi. Nayla pun terus berjalan meninggalkan kafe itu dan menjauh dengan berderai air mata.
------------------------------------------------------------
“Emang kurang ajar tuh Kafka! Main pukul-pukul aja, kasar banget jadi cowok. Lain kali kalo gue ketemu sama dia, gue kasih pelajaran tuh Kafka!” pungkas Ica yang begitu emosi setelah mendengar cerita dari Nayla.
“Iya Ca, kudu diberi pelajaran tuh Kafka. Main suka hatinya aja berbuat kekerasan ke perempuan!” sahut Dika yang juga emosi mendengarnya.
“Kalau kamu sayang, kamu gak ikutan marah tuh sama Kafka?” celetuk Via teman dekat Nayla, yang juga pacarnya Jamal.
“Ya iyalah marah aku sayang, apalagi kalau Kafka sampai berani nyentuh kamu, gak bakalan aku kasih ampun tuh Kafka!” jawab Jamal berlagak jagoan di samping pacarnya.
“Ihhh… kamu ayang, gentelman banget deh jadi cowok…” Via kesenengan setelah mendengar jawaban pacarnya itu.
‘-_-‘ Ica dan Dika mengerutkan dahinya, geli melihat kebucinan itu.
“Maafkan aku ya Nay, gak bisa melindungi kamu di saat kamu disakiti seperti itu,” tutur Aji menarik nafas panjang.
“Iya gapapa, ini kan memang kesalahan aku kok Ji, salah aku juga yang meninggalkan kamu dan malah memilih bersama cowok kurang ajar itu,” sesal Nayla.
“Maafkan aku ya Ji…”
“Maafkan aku juga ya, Nay…”
.
.
.
“Emmm… hubungan kita, akan terus berlanjut kan Ji?” tanya Nayla tiba-tiba.
Seketika suasana menjadi hening beberapa saat,
.
.
.
__ADS_1
“Maafkan aku ya Nay, sepertinya… untuk hubungan kita, tidak bisa berlanjut lagi…”
_____________________________________