Bucin VS Jomblo

Bucin VS Jomblo
Episode 13


__ADS_3

'Teng'


'Teng'


'Teng'


Bunyi alarm sekolah mendadak berbunyi, pertanda seseorang akan di panggil ke kantor.


"PANGGILAN KEPADA AJI, DARI KELAS 12, SILAHKAN TEMUI BAPAK KE KANTOR GURU, SEKARANG!.."


Ucap seseorang menggunakan microfon di kantor guru, suara yang tidak asing, dan suara itu tidak lain ialah suara bapak Nurani.


Tidak berapa lama kemudian, Dika dan Jamal masuk ke dalam kelas datang dari kantin, sambil membawa beberapa cemilan dan air es di tangannya.


"Eh ada apa tuh, kok tiba-tiba lo dipanggil bapak Nurani ke kantor Ji, jangan-jangan lo ada terlibat masalah lagi!?" seru Jamal terkejut mendengarnya.


"Hah masalah, masalah apa!?" tanya Aji bingung.


"Jangan-jangan lo di panggil ke kantor, gara-gara lo kabur dari ujian kemarin lagi!?" pungkas Dika panik.


"Eh bisa jadi tuh, wah tamat riwayat lo Ji, lo bisa dihukum bapak Nurani Ji!.." sahut Jamal yang sudah berpengalaman dihukum bapak Nurani.


Aji sedikit panik mendengarnya, Aji berusaha menenangkan dirinya dan menarik nafas panjang,


"Ya udah kalo gitu, lo tenang di dalam kelas aja Ji, biar gue yang menghadap ke bapak Nurani, dan menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi." pungkas Ica berusaha meyakinkan Aji.


"Kan bagaimana pun, kemarin itu juga salah gue, karena gue udah membantu lo keluar dari ujian," lanjut Ica.


"Iya Ji, lo tenang di dalam kelas aja, biar gue sama Ica, yang akan menghadap dan menjelaskan semuanya ke bapak Nurani..." ucap Dika.


"Gue ikut juga," sahut Jamal juga ikutan.


Aji hanya terdiam, dia menatap lantai kelas, dia seperti memikirkan sesuatu,


"Ya udah yok Ca, Mal, kita ke kantor. Lo tenang aja Ji, biar kami yang akan menjelaskannya," pungkas Dika meyakinkan Aji, dan bersama Ica dan Jamal, mereka perlahan berjalan keluar kelas.


'Tap' Aji memegang pundak Dika.


"Kalian gak perlu ke kantor. Ini bukan kesalahan kalian, kalian hanya berusaha membantu gue. Ini murni kesalahan gue pribadi, gue gak mau teman-teman gue juga ikut bermasalah hanya karena kesalahan gue," tutur Aji menghentikan langkah mereka.


"Biar gue yang akan menyelesaikan masalah gue sendiri!" pungkas Aji langsung keluar kelas, dan meninggalkan teman-temannya.


"JI!!!..." seru Ica yang khawatir dengan sahabatnya itu.


--------------- BUCIN VS JOMBLO -------------


"Ya moga aja Aji gak akan kenapa-kenapa..." tutur Jamal sambil menghisap air es di kantong plastik.


Ica yang merasa sedikit khawatir, ketika melihat air es di tangan Jamal, dia jadi terpikirkan sebuah ide,


"Mal, gue minjem air es lo itu dong!" pinta Ica.


"Hah, nih, buat apa Ca?" tanya Jamal heran.


Ica tanpa basa-basi langsung mengambil air es itu, dan berlari menyusul Aji yang masih di perjalanan.


"Eh, eh Ca, lo mau bawa kemana air es gue itu woy!" seru Jamal panik air es nya langsung dibawa Ica.


"JI!" seru Ica dari belakang, dan sedikit mengagetkan Aji.


"Eh, Ca!?" Aji menoleh kebelakang.


Tiba-tiba Ica malah kepeleset, dan membuat air es di tangannya tumpah di baju Aji.


"Eh Ca, lo gak papa kan Ca!?" Aji membantu mendudukan Ica.


"Gak papa kok, kepeleset dikit aja, eh maaf Ji, air es nya tumpah di baju lo"


"Gak papa Ca, asal lo nya aja gak kenapa-kenapa," jawab Aji sambil tersenyum kepada Ica.


Ica menatap mata Aji, dan Aji juga menatap mata Ica, di lantai itu mereka saling bertatap mata satu sama lain.

__ADS_1


"Eh, eh, ya udah, gue ke... wc dulu bentar, abis itu ke kantor, gue duluan Ca" Aji kikuk tiba-tiba salting sendiri.


"I.. iya Ji" jawab Ica juga salah tingkah.


Aji pun pergi ke wc siswa untuk membersihkan baju nya yang terkena air es tadi, setelah itu dia pun kembali lagi menuju kantor.


------------------------------------


"Permisi pak," Aji mengetuk pintu ruangan Bapak Nurani yang setengah terbuka.


"Ya, silahkan masuk," jawab Bapak Nurani dingin.


Ruangan yang benar-benar menakutkan, suasananya amat mencekam, di tambah aroma minyak kayu putih yang dipakai Bapak Nurani.


"Huuuufftt.... fuuuhhhhh..." Bapak Nurani menghirup minyak kayu putihnya.


"Silahkan duduk," tukas Bapak Nurani dingin, kemudian menghirup minyak kayu putihnya lagi.


Namun di ruangan itu Aji tidak sendiri, ketika Aji akan duduk, baru Aji sadari ternyata di sebelah kursinya ada siswa lain, yang tidak lain ialah...


"Eh, lo!" pungkas Aji sedikit terpancing emosi.


"Eh, apa!" sahut orang itu membalas.


"Lo kan yang berani-berani nya mengganggu Ica hari itu ketika pulang sekolah, maksud lo apa hah!?" seru Aji langsung menarik kerah baju siswa itu.


"Eh, eh, apa-apaan ini!" Bapak Nurani langsung melerai dua orang itu.


"Masuk ruangan guru malah mau berkelahi, kalian mau menambah hukuman kah hah?" lanjut Bapak Nurani.


(FYI, siswa yang di sebelah Aji itu, ialah Ohang, bagi temen-temen yang masih belum tau atau gak ingat siapa dia, bisa dibaca di bab 2 dan bab 6.)


Aji pun melepaskan genggamannya dari kerah baju Ohang. Dan setelah itu, mereka pun duduk bersebelahan, walau saling membuang muka.


---------------------------------


"Kalian berdua dipanggil kesini bukan tanpa alasan, seperti yang kalian ketahui, kalian berdua melakukan kesalahan yang sangat fatal, yang mana itu akan mendapat hukuman yang sangat berat, karena kalian telah melakukan pelanggaran terhadap aturan sekolah" jelas Bapak Nurani.


"Mohon maaf pak sebesar-besarnya, saya tidak akan mengulanginya lagi, tapi kalau boleh saya menjelaskan, sebenarnya saya kemarin itu..." ucapan Aji belum selesai tapi malah langsung di potong bapak Nurani.


"Kamu gak perlu menjelaskan apa-apa..." potong Bapak Nurani dingin.


Mendengar kata bapak Nurani itu, Aji hanya tertunduk, dan sangat menyesali perbuatannya.


"Karena tadi, teman kamu Ica datang kesini sudah menjelaskannya." lanjut Bapak Nurani.


"Hah, Ica!?" Aji spontan terkejut mendengarnya.


Yang terjadi sebelumnya...


"Ya moga aja Aji gak akan kenapa-kenapa..." tutur Jamal sambil menghisap air es di kantong plastik.


Melihat air es di tangan Jamal, Ica jadi terpikirkan sebuah ide.


"Mal, gue minjem air es lo itu dong!" pinta Ica.


"Hah, nih, buat apa Ca?" tanya Jamal heran.


Ica tanpa basa-basi langsung mengambil air es itu, dan berlari menyusul Aji yang masih di perjalanan.


"Eh, eh Ca, lo mau bawa kemana air es gue itu woy!" seru Jamal panik air es nya langsung dibawa Ica.


"JI!" seru Ica dari belakang, dan sedikit mengagetkan Aji.


"Eh, Ca!?" Aji menoleh kebelakang.


Tiba-tiba Ica malah kepeleset, dan membuat air es di tangannya tumpah di baju Aji.


"Eh Ca, lo gak papa kan Ca!?" Aji membantu mendudukan Ica.


"Gak papa kok, kepeleset dikit aja, eh maaf Ji, air es nya tumpah di baju lo"

__ADS_1


"Gak papa Ca, asal lo nya aja gak kenapa-kenapa," jawab Aji.


"Eh, eh, ya udah, gue ke... wc dulu bentar, abis itu ke kantor, gue duluan Ca" pungkas Aji langsung pergi ke wc.


"I.. iya Ji" jawab Ica.


"Eh kenapa Ca!?" tanya Jamal dan Dika heran begitu mendatangi Ica.


"Cepetan kita sekarang ke kantor mumpung Aji nya lagi ke wc!" seru Ica, bersama Dika dan Jamal langsung pergi ke kantor.


Sebelum Aji tiba, mereka pun menjelaskan semua apa yang sebenarnya terjadi.


"Jadi begitu, teman-teman kamu tadi kesini dan sudah menjelaskan semua nya ke bapak, jadi kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi," jelas bapak Nurani.


"Eh geser dikit dong mal, gue juga mau melihat nih" suara beberapa orang terdengar dari arah luar, dan terlihat di jendela kepala tiga orang sedang berusaha mengintip dari luar.


"Kalian..." tutur Aji dalam hati sembari tersenyum.


"Eh kalian ngapain ngintip disitu, kalian mau dipanggil juga ya!" tegur Bapak Nurani kepada tiga orang itu.


"Eh kabur... kabur..." ucap ketiga orang itu langsung kabur.


-------------------------------


"Bapak ngerti kok apa yang sedang kamu rasakan sekarang, karena bapak juga ditinggalin istri bapak sama cowok lain huuu..." tutur Bapak Nurani tiba-tiba malah menangis.


"Pak sabar pak, sabar..." Aji berusaha menenangkan bapak Nurani.


"Tapi bapak masih mencintai dia, kenapa sih kenapa, kenapa dia setega itu sama bapak!.. Huuu..." lanjut Bapak Nurani lagi.


"Lah kirain tadi dipanggil kesini mau dihukum, ternyata malah dengerin curhatan bapak..." gerutu Ohang.


"Eh maksud kamu apa, ngomong begitu hah!?" sahut Bapak Nurani naik pitam.


"Pak sabar pak, sabar..." Aji berusaha menenangkan bapak Nurani.


"Setidaknya lebih kalian pernah dicintai dan kehilangan, daripada aku tidak pernah dicintai sama sekali..." tutur Ohang malah ikutan curhat.


"Dasar cowok ga jelas!"


"Apaan sih!"


"Udah miskin, jelek lagi, mana mau gue sama lo!"


"Jauh dikit dong, jangan deket-deket sama gue!"


"Emangnya lo siapa!"


Beberapa ucapan cewek yang terngiang di kepala Ohang.


"Hang..." tutur Aji yang merasa kesihan kepada Ohang.


"Mengapa semua cewek gak ada yang mau sama aku, sudah berapa banyak cewek yang aku tembak, dan ujungnya selalu mereka tolak, seburuk itukah diriku..." tutur Ohang meneteskan air mata.


"Oh jadi begitu, banyak siswi perempuan yang melapor karena merasa diganggu oleh Ohang, padahal dia gak ada niatan untuk mengganggu sama sekali melainkan hanya ingin dicintai." jelas bapak Nurani.


Ohang hanya terus tertunduk lesu dengan tatapan mata kosong menatap lantai.


'Tap' Aji menepuk pundak Ohang.


"Kawan, lo gak perlu menembak semua cewek di sekolah ini untuk mendapat cinta seseorang," ucap Aji kepada Ohang.


"Lo hanya perlu berusaha menjadi pribadi lebih baik, jangan membolos lagi, pakai baju yang rapi, maka nanti orang yang sayang sama lo akan datang dengan sendirinya..." ucap Aji memotivasi Ohang.


"Emang bisa ya!?" tanya Ohang sambil mengusap air matanya.


"Kalaupun dengan begitu lo masih belum mendapat pasangan, setidaknya dengan begitu lo sudah menjadi pribadi yang lebih baik..."


--- Aji\, 2021---


------------------------------------

__ADS_1


__ADS_2