
Hari itu seperti biasa, ketika jam istirahat, Ica bersama temen-temen cowoknya bermain bola di lapangan sekolah.
Setelah waktu istirahat sudah hampir habis, mereka pun menghentikan main bolanya. Merasa haus karena kelelahan, Ica pun memutuskan pergi ke kantin sebentar untuk membeli sebotol air es.
Di kantin, kebetulan dia bertemu dengan sahabatnya Aji, yang seperti biasa ketika jam istirahat dia selalu makan bersama pacarnya di kantin, namun berbeda dari biasanya, kali ini terlihat Aji sedang duduk termenung sendiri.
"Eh ada bucin nih!" ucap Ica baru sampai langsung nyeletuk.
"Apaan sih mblo, ganggu aja sih lo!" sahut Aji dengan wajah yang sendu.
"Tumben lo sendiri, tuan ratu lo mana tuh si Nayla haha.." ejek Ica sambil cengengesan.
"Dia lagi sibuk sama temen nya katanya..." sahut Aji raut mukanya masih juga sendu.
"Hah!? Kok gitu sih!" pungkas Ica dengan nada sedikit marah.
"Kok gitu sih, apanya maksudnya!?" sahut Aji bingung.
"Kok gitu, lo mau main bola sama temen-temen lo dia marahin, harus nemenin dia makan! Ehh... pas lo mau makan, dia malah dengan suka hati bilang dia lagi sibuk sama temen-temennya, apaan itu!?" protes Ica kesal.
"Ya mungkin, dia memang beneran lagi sibuk sama temennya Ca..." bela Aji.
"Tapi ya gak bisa gitu dong! Kalau lo gak bisa main bola sama temen lo karena lo harus nemenin dia makan, harusnya dia juga begitu dong memperlakukan lo!" protes Ica berapi-api.
"Eh kok lo malah sewot sih Ca! Ya terserah dia lah, kok lo malah ngurusin hubungan gue sih!" Aji naik pitam, dan dia langsung bangkit dari tempat duduknya.
Berbeda dari biasanya, perselisihan mereka kali ini terlihat begitu emosi. Keributan mereka sontak membuat seisi kantin terdiam.
Ibu kantin yang melihat, sepertinya tidak berani meleray percekcokan antar dua sahabat ini. Kipas angin saja seperti terasa melambat berputar. Terlihat beberapa siswa yang juga ada di kantin itu, ikut sedih meneteskan air cuka, karena dia lagi makan bakso.
"Ji, kok lo malah gitu sih, lo marah ya sama gue..." ucap Ica menatap mata Aji.
"Maaf Ca, bukan maksud gue begitu..." ucap Aji duduk kembali, menundukkan kepalanya ke meja dan melipat kedua tangannya untuk menutup mukanya.
Teringat Aji akan kejadian beberapa minggu lalu, saat itu cuacanya hujan lebat dan berpetir.
'Ctarrrr....' suara petir.
Waktu itu Aji sedang tergesa-gesa ingin berangkat ke rumah Nayla, setelah Aji diminta pacarnya nemenin dia yang lagi kesepian sendirian di rumah.
"Woy Ji, hari hujan lebat gini mau kemana lo!?" teriak Ica dari teras rumah di sebelah.
__ADS_1
"Mau ke rumah Nayla, kesian dia lagi kesepian sendiri di rumah!" sahut Aji yang sedang mengenakan jas hujannya dan juga membawakan sebungkus bakso.
'Bresssssss......' suara rintik hujan yang semakin deras.
"Eh tapi kan lo lagi sakit Ji, gak papa lo hujan-hujan begini kesana, mana banyak petir lagi nih!" teriak Ica lagi.
"Gak papa lah, hujan dikit gini doang kok!" sahut Aji menghidupkan sepeda motornya.
'Brmmmmm....' Aji menjalankan sepeda motornya.
"Jiiii!!!!" teriak Ica lagi.
'Ctarrrrrr.....' suara petir bergemuruh di langit, sedangkan air hujan terus berguguran dengan derasnya.
"Huooooaaaakkkkk...." suara Aji muntah di pinggir jalan, dengan wajahnya sedikit pucat, "Uhuk... uhuk... uhuk... uhuoooaaakkk...", batuk Aji di teruskan dengan muntah.
Setelah sebentar berhenti di pinggir jalan karena dia muntah, Aji pun kemudian terus melanjutkan perjalanannya. Sesampainya di depan pagar rumah Nayla, tidak berapa lama kemudian Nayla pun datang dengan memakai payung.
"Sayang..." teriak Aji memanggil pacarnya.
"Eh sayang, udah sampai..." sahut Nayla sembari mendekati Aji. "Eh anu emmm... gimana ya?"
"Gimana apa maksudnya sayang?" tanya Aji sedikit bingung.
"Eh iya deh, gapapa sayang, nih buat kamu..." ujar Aji sembari menjulurkan tangan ke dalam pagar untuk memberikan sebungkus bakso di tangannya.
"Eh gak usah sayang, aku udah kenyang makan tadi," sambut Nayla sambil mengembalikan baksonya ke Aji, "Maaf ya sayang..." pinta Nayla.
"Iya gak papa... Ya udah kamu masuk aja lagi ke rumah, hujannya tambah deras nih, nanti kamu sakit," ucap Aji sambil tersenyum.
"Ya udah sayang, aku masuk dulu ya dahhh..." ujar Nayla sembari meninggalkan Aji yang masih ada di depan pagar.
"Dahhh..." sahut Aji di depan pagar sambil tersenyum ke Nayla.
Aji hanya terdiam, sembari menarik napas panjang, dan dia pun perlahan menghidupkan motor untuk pulang, meninggalkan rumah Nayla.
Aji hanya terus menundukkan kepalanya ke meja dan menutup wajahnya. Sedangkan Ica perlahan juga duduk di sisi meja sebelahnya untuk menenangkannya.
"Ji, sebenarnya kenapa sih, lo rela mau melakukan ini semua..." tanya Ica.
"Yah ini kan pengorbanan gue buat dia Ca, bukti sayang gue sama dia. Yah walaupun dia gak bisa nemenin gue, tapi itu gak papa, gue tetap senang kok melakukan nya. Kan itu gue lakukan untuk orang yang gue sayang..." tutur Aji sembari mengangkat wajahnya sembari tersenyum.
__ADS_1
"Ah masa sih lo senang, kok muka lo gak kelihatan senang gitu?" gerutu Ica sedikit cengengesan.
"Eh dasar sok tau lo ca, enak aja bilang gue gak happy!" sewot Aji.
"Ah ngaku aja deh ji, gak happy kan lo. Gue tuh udah lama kenal sama lo ji, jangan bohong sama gue gitu deh lo!" balas Ica.
"Gue tuh takut kehilangan dia ca, gue gak mau kehilangan dia" tutur Aji,
"Gue tuh... udah terlanjur sayang sama dia. Akan gue perjuangkan apapun buat dia, ya walaupun terkadang perjuangan gue gak dihargai nya..." lanjut Aji meneteskan air mata.
"Ji..." ucap Ica menatap mata Aji, "Buat apa lo berjuang, toh kalo perjuangan lo sia-sia..."
"Ji, lo jangan takut kehilangan dia..." sambung Ica tersenyum kepada Aji, Aji pun juga menatap mata Ica,
"Karena jika dia benar-benar mencitai lo, bagaimana pun lo, dia tidak akan pernah meninggalkan lo..." pungkas Ica.
Aji pun hanya terdiam, dia pun mengalihkan pandangannya ke bawah. Ica pun menggenggam tangan Aji, untuk meyakinkan sahabatnya itu.
Di sudut lain kantin, menatap tajam seorang cowok, yang tampangnya tidak asing.
Sementara itu, di kelas Nayla pacarnya Aji, Nayla terlihat sedang bersenang-senang main tik tok bersama teman-temannya.
"O iya Nay, kok lo tumben gak ke kantin sih, biasanya lo jam segini ngebucin sama pacar lo itu hahaha..." ejek Via, salah satu temen Nayla.
"Ah enggak ah Vi, gue lagi gak mood nih, hehe..." canda Nayla sedikit cengengesan.
"Tapi lo gak kesian Nay? kesian pacar lo tau, sendirian nungguin lo di kantin dia," sahut Nia, salah satu temen Nayla juga.
"Ah kesian apanya, malahan senang dia!" tukas Via.
"Hah senang apanya maksud lo vi!?" sahut Nia bingung.
"Lah iyalah dia seneng, tadi aja ya, gue lihat di kantin, dia lagi berduaan sama temen ceweknya!" gerutu Via.
"Hah, siapa vi!?" tanya Nia lagi.
"Lah siapa lagi, kalau bukan si tomboy Ica itu!" pungkas Via, "Lagian lo gak merasa cemburu ya Nay, melihat pacar lo sama cewek itu terus!" protes Via.
"Ya kalau cemburu sih, pasti ada vi. Tapi kan lo tau sendiri, dia kan sahabatnya Aji..." tutur Nayla menarik nafas panjang.
"Eh Nay, sahabat sih boleh sahabat, tapi ya gak sampai kemana-mana selalu berdua juga kali!" sewot Via, "Lain kali lo larang tuh pacar lo, supaya jangan mendekati tuh cewek lagi!" bujuk Via ke Nayla.
__ADS_1
Nayla pun hanya terdiam, mendengar perkataan Via tadi, dia mengalihkan pandangannya ke bawah, seperti merencanakan sesuatu.
-------------------------------------