Bucin VS Jomblo

Bucin VS Jomblo
Episode 4


__ADS_3

Seperti biasa ketika pulang sekolah, setelah mengantarkan pacarnya pulang, Aji kembali ke sekolah untuk menjemput Ica dan pulang bersama, mereka pulang bersama-sama karena rumah mereka yang berdekatan.


"Eh bucin, lama banget sih lo nganterin pacar lo itu!" gerutu Ica begitu melihat Aji tiba, setelah sekian lama nungguin Aji.


"Yah namanya juga orang pacaran Ca, mesra-mesraan dulu di jalan, peluk-pelukan, uwwu-uwu an..." sahut Aji sambil membayangkan perkataannya.


"Idihhh... dasar lo bucinn!!!" timpal Ica langsung.


"Yee... makanya ca, pulang itu diantar pacar dong, jadi lo bisa uwwu-uwwu an ketika pulang sekolah, bukan malah numpang sama gue, hadehh... dasar jomblo!" ejek Aji dengan muka sedikit meledek.


"Eh asal lo tau ya, gue jadi ikut pulang sama lo ini, itu juga terpaksa karena disuruh emak lo!" sewot Ica, "Ah udahlah, gue mau cepat nih pulang, malah debat sama bucin lagi, hadehh..."


"Iya deh iya, terserah lo mblo..." ucap Aji sambil menyerahkan helm ke Ica.


Setelah mereka berdua memakai helm, Aji pun menghidupkan motornya, dan perlahan mereka berdua pun meninggalkan sekolah. Di jalan pulang sekolah, kebetulan mereka berpapasan dengan teman-teman Nayla yang sedang berjalan.


"Nia, Via, gue duluan ya..." sapa Aji menegur mereka.


"Iya..." sambut mereka tersenyum manis. Namun ketika motor Aji nya udah lewat, ekspresi muka mereka berubah seratus delapan puluh derajat.


"Tuh kan, sahabat apaan mereka mesra banget gitu!" gerutu Via setelah Aji dan Ica nya udah lewat.


"Ya elah vi, lo suudzon banget sih sama mereka, siapa tau mereka cuma temenan biasa aja kan?" sahut Nia membela.


"Yeee... asal lo tau ya Nia, laki-laki kalo temenan sama perempuan, itu gak mungkin cuma temenan biasa, pasti salah satu diantara mereka ada yang menyimpan perasaan," jelas Via, "atau, mungkin aja kedua-dua nya menyimpan perasaan, tapi mereka aja yang takut mengungkapkannya..."


"Takut kenapa?" tanya Nia.


"Ya mungkin mereka takut kehilangan sahabatnya..." jawab Via.


"Tapi Vi, setau gue Aji dan Ica itu mereka berteman udah dari kecil, bahkan sebelum mereka lahir orang tua mereka udah bertetangga," tutur Nia, "apalagi setelah orang tua Ica bercerai, kan yang mengasuh Ica orang tuanya Aji."


"Ahh... masa sih!?" tanya Via.


"Yaa... cerita orang-orang sih begitu," jawab Nia.


-------------------------------


Sementara itu, Aji dan Ica masih di jalan pulang menuju ke rumah.

__ADS_1


"Eh Ca, lagian lo kenapa sih Ca, kalo Ohang sih gue paham kenapa lo tolak, kan semua cewek di sekolah juga gak ada yang mau sama dia (baca di episode dua). Tapi kalo Kafka, kan dia cowok paling tampan dan paling tajir di sekolah, semua cewek juga mau sama dia, kok dia juga lo tolak sih Ca!? (baca di episode satu) Lo gak mau pacaran ya?," tanya Aji sambil mengendarai sepeda motornya.


"Gue masih nyaman dengan kesendirian gue, Ji..." tutur Ica.


Mendengar perkataan Ica, Aji pun mengerti bagaimana perasaan sahabatnya itu. Namun tidak berapa lama kemudian, dari pinggir jalan terlihat sepasang orang pacaran sedang bertengkar dengan seorang cewek.


"Kamu tega sih mas, ninggalin aku demi dia, salah aku apa mas!?" kata salah seorang cewek di sana, sambil memohon-mohon menggenggam tangan cowoknya.


"Aku tu udah gak sayang lagi sama kamu, aku udah terlanjur sayang sama dia, udah pergi sana jangan ganggu hubungan kami!" kata cowok itu sambil menarik tangannya dari genggaman cewek tadi.


"Waduhh, ada yang lagi selingkuh tuh Ca, kesihan ya ceweknya di tinggalkan cowoknya begitu aja," celetuk Aji sembari menghentikan motornya untuk melihat kejadian itu dari kejauhan.


Melihat kejadian perselingkuhan itu, tanpa pikir panjang, Ica langsung turun dari motor dan mendatanginya.


"Eh Ca, Ca, Ca... lo mau kemana Ca woy!?" tanya Aji bingung dan spontan langsung berlari begitu melihat Ica yang mendatangi kejadian itu.


Ica pun terus berlari mendatangi, dan...


'Plakkkkkk....' suara pukulan tangan Ica tepat mengenai wajah cowok yang selingkuh itu.


"Caaaa!!!!" seru Aji langsung menarik tangan Ica dan berusaha menenangkannya, "Maaf ya mas, temen saya memang suka kelepasan..." pinta Aji kepada mas-mas itu.


Mas-mas yang selingkuh tadi hanya terdiam sembari memegang wajah nya kesakitan, setelah itu dia pun bersama selingkuhannya langsung pergi dari tempat itu, sedangkan cewek yang tadi tetap terus bersikeras memohon-mohon kepadanya.


Teringat Ica akan kejadian dua belas tahun yang lalu, tepatnya ketika dia masih berusia lima tahun. Hari itu, Ica dan Aji sedang bermain di ruang tamu rumah Ica.


'Tok... tok... tok...' suara seseorang mengetuk pintu rumah Ica.


"Iya, nyariin siapa ya?" ucap Ica kecil dengan suara sedikit cadel, membuka pintu rumahnya.


Terlihat orang yang di depan pintu tadi, seorang perempuan cantik, putih dengan beberapa perhiasan.


"Ayah kamu ada dek?" tanya perempuan itu kepada Ica kecil.


"Sebentar ya, saya mau manggilin bapak dulu, silahkan masuk," jawab Ica suaranya cadel.


Perempuan tadi pun masuk ke ruang tamu rumah Ica, sedangkan Ica pergi ke dapur untuk memanggil ayahnya, namun dari dalam kamar, ibu Ica yang saat itu sedang terbaring sakit bertanya kepada Ica tentang siapa yang ada di luar.


"Ca, orang yang di luar itu siapa Ca?" tanya Ibu Ica suaranya parau sembari bangkit dari tempat tidurnya.

__ADS_1


"Ohh itu ada perempuan Ma, mau nyari ayah katanya" jawab Ica kecil dengan suara cadelnya.


"Oh gitu, ayah kamu di dapur lagi benerin lampu, sini biar mama aja dulu yang menemuinya" ujar Ibu Ica sembari naik ke kursi roda dan perlahan keluar kamar.


Ica pun meneruskan jalannya ke dapur, sedangkan Ibu Ica perlahan ke ruang tamu dan menemui perempuan tadi.


"Mohon maaf, mbak kesini mau apa ya?" tanya Ibu Ica begitu melihat perempuan itu.


"Saya kesini mau nyariin bapak Herman, bapak Herman nya ada?" tanya perempuan itu kepada Ibu Ica.


"Oh kenalin saya istrinya bapak Herman, mbak sendiri siapa ya nyariin suami saya?" tanya Ibu Ica lagi sembari memajukan sedikit kursi rodanya.


"Owh kenalin nama saya Dinda, pacarnya bapak Herman," ujar perempuan itu sembari tersenyum.


Mendengar perkataan perempuan itu, ibu Ica seketika syok, dan tidak berapa lama kemudian dari belakang dari arah dapur datang suaminya ibu Ica bersama Ica kecil.


"Sayang!.." sambut perempuan itu begitu melihat suami ibu Ica datang.


"Ka.. kamu... kok kesini!?" sahut ayah Ica sedikit kikuk.


Tidak berapa lama kemudian pertengkaran antar ibu dan ayah Ica pun terjadi. Melihat pertengkaran orang tua di depan mata nya, Ica kecil hanya bisa menangis, dan berharap kebisingan itu segera berhenti.


"Ayah.. hentikan.. kesian Ibu yah... hentikan..." ujar Ica kecil terus menangis sembari menarik tangan ayahnya.


Namun suara kecil Ica itu seperti tak terdengar oleh kedua orang tuanya. Pertengkaran mulut terus terjadi, bahkan sampai pertengkaran juga disertai kekerasan yang di lakukan ayah Ica kepada ibu Ica.


"Ibuuuu.... Ayaaahhh...." rintihan Ica terus menangis melihat kejadian itu.


Aji yang juga ada di tempat itu, langsung menarik Ica menjauh dari orang tua nya, kemudian memeluk Ica untuk menenangkan nya dan supaya Ica tidak terus melihat kejadian itu. Sedangkan Ica tanpa bicara dan suara apa pun, air matanya terus mengalir dengan derasnya.


Kejadian dua belas tahun yang lalu itu, memang membuat Ica trauma dan takut akan hubungan percintaan, apalagi kejadian itu di lakukan oleh kedua orang tua nya sendiri.


Aji yang saat ini sedang memeluk Ica, paham betul bagaimana hancur nya perasaan sahabatnya itu. Sedangkan Ica terus menangis di pelukan Aji mengingat kejadian di masa lalunya.


"Sabar Ca, sabar... masa lalu itu udah berlalu kok, kamu harus kuat!" seru Aji menenangkan Ica yang terus menangis.


"Ehh... apaan tuh! wah.. wah.. wahh.. Aji dan Ica lagi ngapain tuh malah pelukan di situ, cihh... apakan gue bilang, mereka itu pasti bukan temenan biasa!" seru Via, temannya Nayla, sontak terkejut begitu melihat Aji dan Ica sedang berpelukan di seberang jalan.


"Astaga kok mereka sampai begitu sih!.." sahut Nia juga terkejut melihatnya.

__ADS_1


"Gak bisa di biarin nih, kita harus laporkan nih ke Nayla!" pungkas Via sembari memfoto Aji dan Ica lagi pelukan dari kejauhan.


-------------------------------------


__ADS_2