Bukan Salahku Menjadi Istri Kalian

Bukan Salahku Menjadi Istri Kalian
Chapter 12


__ADS_3

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini.


°


°


Chapter 12. Antara Senang dan Ketakutan


____________________________


Previous Chapter


"Baiklah, aku ingin istirahat dulu. Lelah juga nyetir sampai sini, ya." Keluh Chaerin sambil meregangkan tangan kemudian mulai masuk kedalam tenda, setelah sebelumnya berpamitan dengan ketiga sahabatnya.


Lisa dan Jiyoon juga ikut masuk kedalam, sedangkan Haeun izin pergi sebentar untuk memotret pemandangan yang ada disekitar sini.


_______________


Haeun berjalan jalan disekitar tenda tenda yang ada disana. Sesekali tangannya menekan tombol kameranya untuk memotret pemandangan yang tersaji di depannya.


Bahkan sangking asyiknya mengambil foto, Haeun sampai tidak sadar kalau dia sudah agak jauh dari tanah perkemahan.


Ia kini mulai berjalan diantara kebun teh yang memang ada di sekitar kawasan perkemahan. Selain kebun teh, ada juga kebun bunga, kebun sayuran, hutan pinus dan beberapa hutan yang terlihat tidak pernah terjamah oleh manusia. Apalagi melihat betapa rimbunnya hutan tersebut, membuat siapapun yang melihatnya harus berpikir puluhan kali untuk masuk kedalamnya.


Dirinya baru sadar kalau sudah melangkah menjauh dari kawasan perkemahan tadi. Itu pun karena tepukan di bahunya. Segera saja Haeun menoleh untuk melihat siapa yang telah menepuk pundaknya.


"Astaga!" Pekik Haeun karena kaget melihat siapa yang telah menepuk bahunya itu.


Bagaimana tidak kaget kalau dibelakang kalian ada seorang nenek - nenek dengan badan membungkuk ditambah dengan rambut bewarna putih sambil menatap lurus kearah mata kalian.


Kalian bakalan takut atau biasa aja?


"Sedang apa kau disini?" Suara nenek nenek itu entah kenapa terdengar seram di telinga Haeun. Belum lagi tatapan dari nenek - nenek itu membuat Haeun merinding.


"I..itu nek..Ak..ku la..gi..mau..ngam..bil foto." Dengan terbata, Haeun menjawab perkataaan nenek tadi.


"Sebaiknya kau cepat pergi dari sini." Perkataan itu seperti terdengar perintah di telinga Haeun.


"Ah, kal..au..begi..tu saya..pa..mit dulu, nek. Selamat siang." Langsung saja Haeun melangkah cepet meninggalkan nenek - nenek itu, sambil sesekali menoleh kebelakang untuk melihat apakah nenek - nenek itu masih ada disana atau sudah pergi.


Tapi ternyata nenek - nenek itu masih ada disana sambil menatap kearah Haeun, tak lupa dengan seringaian di bibir pucat nenek tersebut.


Setelah begitu jauh dari nenek - nenek tadi, Haeun mulai mengatur napasnya yang tersengal. Setelah merasa lebih baik, Haeun segera berjalan lagi menuju kearah tendanya.


Dan dirinya baru sadar kalau dia sudah lumayan jauh dari area perkemahan. Padahal seingatnya, ia baru melangkah beberapa puluh meter saja dari tendanya. Tapi ini kenapa rasanya mau hampir 1 kilometer.


Tak ingin membayangkan kenapa dia bisa sampai sana, Haeun segera berjalan turun menuju tenda yang di huni oleh ketiga sahabatnya itu.


Tapi sebelum sampai di tendanya, ia malah menabrak seseorang yang baru keluar dari dalam tenda.


"Aduh," ringis Haeun karena pantatnya mendarat lebih dulu ke tanah.


"Kau tidak apa - apa?" Pertanyaan itu berasal dari orang yang tak sengaja ditabrak oleh Haeun. Haeun mendongak untuk mengetahui siapa yang tak sengaja dia tabrak.

__ADS_1


Matanya terbelalak setelah tahu siapa yang dia tabrak. Ternyata orang itu adalah,


"Justin!" Pekik Haeun tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Haeun tak berkutik dari posisinya, ia hanya memandang lurus kearah Justin. Bahkan dia sampai melamun dibuatnya


"Kau tidak apa - apa?" Pemuda dihadapan Haeun itu kembali melontarkan pertanyaan begitu tidak melihat respon apapun dari gadis dibawahnya itu selain menatapnya dengan pandangan memuja.


Orang itu memang Justin, salah satu member Prince yang sangat terkenal di kampus. Bahkan diluar kampus dia juga sangat terkenal. Terkenal karena tampan, kaya dan yang tidak boleh ketinggalan yaitu sifat playboynya itu.


"Hei, kau baik - baik saja?" Lambaian tangan didepan wajahnya membuat Haeun tersadar. Ia lantas berdiri dari posisinya kemudian menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.


"Kau tidak apa - apa?" Pertanyaan yang entah sudah berapa kali diajukan oleh Justin kepada Haeun mengingat respon Haeun yang sedari tadi diam tak bicara.


Bukannya menjawab, Haeun malah langsung berlalu pergi begitu saja. Meninggalkan kebingungan dibenak Justin yang melihat tingkah aneh dari gadis tersebut.


"Aneh sekali dia." gumam Justin sambil menggelengkan kepalanya.


"Siapa yang aneh?" Justin menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang bicara padanya itu.


"Tidak ada. Kau kali yang aneh." Jawab Justin sambil melangkah menuju ke toilet umum yang tersedia di dekat kawasan perkemahan.


Ryujin menatap jengkel kearah Justin yang bukannya menjawab pertanyaannya dengan jelas malah meninggalkannya begitu saja. Dengan segera Ryujin mengejar Justin yang sudah lebih dulu berjalan membelakanginya itu.


...________...


Begitu sampai didepan tenda miliknya dan sang sahabat, segera saja Haeun menerobos masuk dan langsung menubruk tubuh Chaerin yang posisinya memang paling dekat dari pintu tenda.


"Aw..aw.. Kamu apa - apaan sih Haeun. Badanku sakit semua ini." Dengus Chaerin kearah Haeun yang dengan seenak jidatnya langsung menunduk badannya.


"Kenapa sih, Eun. Dateng datang bukannya ucapin salam malah nendang badan orang sembarangan." Kali ini Jiyoon yang bicara, karena kesal kakinya main di tendang tendang seenaknya sama itu anak.


Bukannya minta maaf, Haeun malah nyengir membuat Jiyoon dan Chaerin mengumpat dalam hati.


"Hehehe. Habisnya aku lagi seneng banget sih." Ucap Haeun tak lupa dengan senyum lebarnya. Membuat ketiga sahabatnya menatapnya aneh.


"Jangan bilang, Haeun kerasukan." Ketiganya langsung bergidik ngeri dan perlahan sedikit menjauh dari Haeun.


Haeun yang melihat kelakuan ketiga sahabatnya itu menatap mereka bertiga dengan raut wajah bingung.


"Kalian kenapa?" tanyanya dengan bingung.


"Harusnya kita yang nanya, lu yang kenapa. Datang datang langsung nubruk badan orang sembarangan. Dan sekarang malah cengegesan kayak nggak punya salah. Kemasukan jin apaan lu tadi?"


"Ooh itu, karena," Haeun sengaja menggantungkan ucapannya agar membuat ketiganya penasaran. Dan itu terbukti dari raut wajah ketiganya yang terlihat mulai penasaran.


"Karena apa?" Jiyoon nampak penasaran dengan kelanjutan cerita Haeun itu. Tapi sepertinya Haeun tidak ingin segera memberitahukannya pada mereka bertiga.


"Kare--" Belum sempat Haeun bicara, suara Chaerin lebih dulu mengudara.


"Sekali lagi kau bilang 'Karena', ku pastikan aku akan menampol kepalamu, eun." Sungut Chaerin karena sejak tadi merasa di permainkan oleh Haeun yang sengaja membuat mereka penasaran.


"Iya, ini lagi juga mau ngomong. Tapi nggak usah pakai ngancem segala, bisakan?"


"Kim Haeun." Mendengar nada tekanan di suara sang sahabat membuat Haeun langsung memasang muka imut, agar Chaerin tidak jadi memakannya hidup hidup.

__ADS_1


"Baiklah, tadi aku bertemu dengan prince. Lebih tepatnya si Justin." Ketiganya mengangguk mendengarnya. Tapi,


Satu detik


Dua detik


Ti--


"Apa kau bilang?!" teriak Chaerin dan Jiyoon setelah sadar dengan apa yang dikatakan oleh Haeun.


Lisa dan Haeun menutup kedua telinga mereka, mencegah suara berlebihan dari kedua sahabat mereka yang bisa saja membuat telinga keduanya bermasalah.


"Jangan berteriak." tegur Lisa dan Haeun begitu melepaskan tangan mereka yang sebelumnya menutupi telinga mereka.


"Jadi maksudmu, si prince Justin?" Jiyoon dan Chaerin tidak memperdulikan teguran Lisa dan Haeun. Mereka malah masih mempertanyakan apa yang barusan mereka dengar.


Melihat anggukan yang di berikan oleh Haeun membuat keduanya memekik membuat Lisa dan Haeun kembali menutup telinga mereka.


"Jangan berteriak!" ujar Haeun sambil berteriak.


Lisa menepuk pelan jidatnya, tak habis pikir dengan ketiga sahabatnya yang bisa menjadi berisik kalau sudah menyangkut tentang Prince kampus itu.


"Kau juga berteriak, Eun." Sedangkan Haeun hanya memberikan cengiranya sambil mengaruk kepalanya yang tak gatal.


Sedangkan Jiyoon dan Chaerin segera memberondong Haeun tentang dimana dia bertemu dengan Prince.


Tak ingin mendengar kebisingan yang dilakukan ketiganya yang masih asyik membahas tentang prince mereka, membuat Lisa lebih memilih keluar dari tenda dan mulai memandang pemandangan yang ada di sekelilingnya itu.


Kini dirinya berjalan menuju kearah yang sama yang sempat di lalui oleh Haeun. Tapi bukan arah saat Haeun pulang tadi, melainkan saat berangkat.


Ia menatap pemandangan kebun teh yang terhampar luas di matanya. Aroma daun teh yang menyeruak membuat ketenangan tersendiri bagi Lisa saat menghirupnya.


Bisa ia lihat beberapa belalang hinggap di atas daun teh yang satu ke daun yang lain. Belum lagi beberapa kupu kupu, burung dan kumbang yang melewatinya.


Dari atas sini Lisa masih melihat beberapa orang yang ada di sekitar kebun teh, bahkan ada yang nampak berpasangan. Sedangkan di kawasan perkemahannya juga sudah berdiri banyak tenda, termasuk tendanya dan tenda sahabatnya itu.


Kini Lisa melangkah menuju keatas lagi untuk melihat lebih banyak keindahan dari atas sana. Saat dirinya melangkah jauh keatas, hampir tidak ada tanda tanda kehidupan disana.


Bahkan orang - orang yang tadi di kebun teh masih disana. Mereka seperti lebih memilih menikmati alam dari sana, daripada naik keatas. Padahal kalau dari atas, akan lebih jelas pemandangannya. Apalagi pemandangan kota yang ada dibawah sana.


Pemandangan yang sama seperti yang dilihat Haeun, kini juga Lisa lihat. Ada kebun teh, kebun bunga, kebun sayur, hutan pinus dan beberapa hutan yang masih nampak rimbun. Seolah menyembunyikan sesuai di balik rerimbunan itu.


Mata Lisa bergerak untuk menjelajahi kebun bunga yang ada disana. Entah kenapa kebun bunga yang Lisa lihat berbeda dengan yang Haeun Lihat tadi.


Kalau kebun bunga yang dilihat Haeun itu ada di samping kebun teh, tapi yang dilihat Lisa ada di atas bukit. Lebih tepatnya ada disisi yang tak jauh dari hutan rimbun tadi.


Setelah memasuki kebun bunga disana, senyum Lisa terbit begitu melihat pemandangan yang menurutnya sangat indah itu. Dan ternyata ada banyak jenis bunga disana. Saat akan lebih dalam masuk ke kebun bunga itu, sebuah tepukan mendarat di bahunya membuat Lisa segera menoleh kebelakangnya.


Namun apa yang dilihatnya sempat membuatnya terkejut tapi tak lama, ia memberikan senyumannya kepada orang yang menepuknya itu.


...-----------------...


...💞See You Later😍...

__ADS_1


__ADS_2