
...Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini....
...°...
...Chapter 24. Menjadi Mate Mereka...
...____________________________...
...°Our Mate Lily°...
Acara makan pagi sudah selesai dari beberapa jam yang lalu. Kini semua orang yang tadi berada di ruang makan, sudah berada di ruang pertemuan. Ada sesuatu hal yang ingin tetua katakan kepada semua orang terlebih lagi pada Lisa.
Lisa hanya duduk diam di posisinya. Dia bingung harus bagaimana, dia sendiripun tidak tahu harus apa dan kenapa sampai harus dipanggil kesini.
Kini sofa disampingnya sedikit bergerak membuat Lisa menatap kearah pergerakan itu. Dan ternyata yang duduk disampingnya adalah si Jake. Dalam hati, Lisa berdoa semoga saja pria disampingnya ini tidak melakukan hal - hal yang merugikan dirinya itu.
Tak begitu lama, kedatangan beberapa orang mampu mengalihkan pandangan Lisa terhadap mereka. Ada rasa terkejut didalam diri Lisa saat melihat siapa yang datang itu.
Di wajah Lisa tergambar raut tak tenang begitu matanya tak sengaja bertatap dengan salah satu dari ke sepuluh sosok yang baru saja muncul itu.
Semuanya mulai menempati sofa yang kosong. Bahkan disamping Lisa juga sudah terisi oleh sosok dengan senyum cerahnya itu.
Walaupun tak bersuara, Lisa tahu kalau sosok di sebelahnya itu menyapa dirinya membuat Lisa mengulas senyum tipis miliknya itu.
"Baiklah, karena semua sudah berkumpul, saya ingin menyampaikan beberapa hal terhadap kalian semua. Terutama bagi penerus kerajaan." Mendengar kata kerajaan membuat Lisa menaikkan alisnya bingung.
Dia tidak salah dengar, kan?
Dan apa itu tadi, penerus kerajaan?
Lisa tidak salah dengar, kan?
Kebingungan Lisa semakin bertambah kala namanya disebutkan oleh sosok yang bicara tadi.
"Dan ini juga berlaku untuk Lisa juga." Menyadari kalau Lisa nampak seperti kebingungan begitu membuat sosok tadi segera menjelaskan duduk permasalahannya.
"Karena kau belum kenal semua yang ada disini, jadi lebih baik aku perkenalkan mereka padamu."
"Namaku adalah William John Vanderwick. Aku adalah kakek dari Jake dan Rym. Kau tentu sudah tahu kan siapa cucuku itu."
"Dan sosok yang ada disampingku adalah Kim Jeong Hyun, lalu sebelahnya ada Marxcello dan di kananku ada Victor Alexander. Mereka itu adalah kakek dari pemuda yang ada di sekitarmu itu."
__ADS_1
Lisa mengangguk dan menundukkan kepalanya saat matanya bersitatap dengan para pria paruh baya yang di kenalkan padanya itu.
Seseorang bernama John itu menatap cucu tertuanya. Menyadari tatapan yang mengarah padanya itu membuat Rym mengangguk.
"Perkenalkan namaku Rym Vanderwick, ya walaupun tadi kita sudah sempat berkenalan." Kekeh pemuda itu membuat pipinya berlubang yang mana menambah kesan manis di wajah pemuda itu.
"Dan dia adalah adikku, Jake Vanderwick." Lisa melirik sekilas kearah Jake yang kini menatapnya.
Deg!!
Buru buru Lisa mengalihkan pandangannya, entah kenapa menatap pemuda itu membuat tubuh Lisa seakan memiliki sinyal pendeteksi bahaya.
Berlebihan memang, tapi Lisa merasa harus lebih waspada dengan pemuda itu. Apalagi setelah tadi melihat seringai yang tercetak manis di bibir pemuda bernama Jake itu.
Rym kembali menyambung kalimatnya, "Dan pemuda di sampingmu itu adalah Jay HyunJeong. Dia kakak dari pemuda ini. Dia bernama Ji Minè HyunJeong."
"Sedangkan dia adalah Marx Taelino." Tunjuk Rym pada pemuda yang duduk disalah satu single sofa.
"Kemudian itu adalah Souga Marcello dan disampingnya ada kakaknya bernama Robert.." Belum sempat menyelesaikan ucapannya. Lebih dulu di potong oleh sang pemilik nama.
"Robert," ucapnya datar. Lisa sedikit menaikkan alisnya begitu hanya mendengar satu kata yang diucapkan oleh pemuda itu.
Memang tidak harus seseorang memiliki nama panjang, tapi Lisa merasa agak ragu kalau pemuda itu hanya bernama Robert tanpa diikuti nama yang lain.
"Kau pasti bingung, kan?" Pertanyaan itu membuat Lisa mengangguk. Jelas saja dia bingung, memang siapa yang tidak akan bingung kalau berada dalam situasi seperti ini.
Lisa menatap kearah seseorang yang tadi diperkenalkan bernama JeongHyun itu. Keempat pria paruh baya itu saling berpandangan sebelum mengeluarkan pernyataan yang membuat Lisa sangat syok.
"Karena kau akan menjadi pendamping cucu-cucu kami. Lebih tepatnya karena kau adalah mate mereka bertujuh."
Kaget ...
Tak Percaya ...
Tercengang ...
Dan tak masuk akal ...
Itulah yang dirasakan oleh Lisa saat ini. Dia akan menjadi pendamping ketujuh pemuda itu? Jangan bercanda! Mana mungkin dia menikahi ketujuh pemuda itu. Apa kata orang - orang nanti.
Memiliki 2 suami saja sudah dianggap hal tabu oleh masyarakat. Lalu ini, bukan hanya 2 melainkan 7.
__ADS_1
7 loh ya, bisa kalian bayangkan?
Berusaha menyangkal apa yang barusan ia dengar, Lisa melayangkan pertanyaan karna dirinya merasa mendadak sulit menafsirkan apa yang baru saja dia dengar itu.
"Apa maksudnya ini?" tanya Lisa sambil berdiri dari posisinya itu membuat dirinya menjadi pusat perhatian diantara 15 orang didalam ruangan ini.
"Sebenarnya apa yang tengah kalian bicarakan ini dan mengenai perkataan Anda tadi itu sama sekali tidak mungkin."
Jujur saja Lisa sangat jarang bersuara lantang terhadap orang lain. Tapi entah kenapa sejak mengetahui kalau sosok yang merawatnya selama ini adalah bukan orang tuanya membuat emosi Lisa kadang baik turun. Seperti halnya saat ini.
Pandangan mata semuanya tertuju pada Lisa. Dan Lisa sadar akan hal itu. Tapi dirinya mencoba mengabaikan dan masih menatap kearah si pemilik suara.
"Aku tahu kalau kau pasti syok mendengar berita ini. Tapi apa yang aku bilang itu adalah sebuah kebenaran. Dimana kau akan menjadi pendamping dari cucu kami." jelasnya kepada Lisa.
Lisa menggeleng, "Maaf sebelumnya karena harus bersifat tidak sopan. Tapi saya tidak bisa menjadi pendamping cucu - cucu Anda."
Perkataan itu mendapat beragam reaksi, tapi Lisa mencoba untuk mengabaikan beragam reaksi yang di dapatinya akibat ucapannya barusan.
"Bagaimana mungkin saya menjadi pendamping cucu - cucu Anda? Ini sungguh tidak masuk akal." Lanjut Lisa yang masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar, dimana dirinya harus menjadi pendamping ketujuh pemuda ini.
Tolong katakan kalau Lisa tengah bermimpi saat ini. Dan tolong segera bangunkan Lisa, sebab Lisa merasa kalau mimpinya ini sungguh sangat aneh.
"Kau sedang tidak bermimpi, Nak. Kau memang mate dari ke-7 pemuda di sampingmu itu dan kau tidak bisa menyangkal hal ini. Kau harus menerimanya." Ucapan itu malah semakin membebani pikiran Lisa saat ini.
Helaan nafas kasar mulai Lisa keluarkan dari celah bibirnya itu. Dia tidak tahu kenapa masalah mulai berdatangan di dalam hidupnya.
Padahal sebelumnya, hidupnya terasa damai dan aman - aman saja. Tapi kenapa sekarang Lisa merasa kalau masalah terus saja muncul dan berniat menenggelamkannya.
Apakah takdir sedang mempermainkannya?
Kenapa semuanya membuat rumit, Lisa bahkan sama sekali tidak pernah berpikir kalau dirinya akan menjadi mate dari tujuh sosok sekaligus.
Belum cukupkah dengan keberadaannya didunia yang asing baginya itu. Belum lagi dia harus mempercayai bahwa ada penghuni lain di muka bumi ini selain bangsa tumbuhan, hewan dan tentunya manusia.
Lisa hanya ingin hidupnya kembali normal. Bukan malah tersesat dalam dunia yang begitu asing baginya itu. Tapi kemana tujuannya setelah bisa lepas dari dunia ini?
Kenyataan kembali menamparnya dengan fakta bahwa sosok kedua orangtuanya sudah pergi meninggalkannya sejak lama.
"Maafkan atas kelancangan saya, tapi saya tidak bisa menjadi pendamping cucu Anda. Saya pamit undur diri." Setelah mengatakan hal itu, Lisa langsung pergi meninggalkan ruangan yang di isi oleh 15 sosok ini. Beberapa tatapan datar dilayangkan menuju kearah dimana perginya Lisa tadi.
"Mungkin dia butuh waktu untuk menerima kenyataan ini. Jadi biarkan saja dulu dia tenang. Setelahnya pasti dia bisa menerima semuanya." Ucapan dari Marxcello itu mengakhiri pertemuan ini. Kaum penyihir, vampir dan werewolf kembali ke mansion mereka masing - masing.
__ADS_1
...☀❄☀❄💖❄☀❄☀...
...°Terimakasih💙°...