Bukan Salahku Menjadi Istri Kalian

Bukan Salahku Menjadi Istri Kalian
Chapter 2


__ADS_3

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini.


°


°


Chapter 2. Halte Bus


______________________________________


Previous Chapter


Dilain tempat


"Apa tidak terlalu beresiko kalau kita biarkan sendirian?" Pertanyaan itu disambut gelengan.


"Jangan khawatir, aku akan selalu memantaunya." Jawaban itu membuat si penanya tersenyum yang entah memiliki makna apa.


🍁Our Mate Lily🍁


Lisa saat ini tengah berada di halte bis yang sering dilihatnya namun jarang disinggahi olehnya. Bisa dibilang ia jarang keluar rumah, mungkin kalaupun keluar rumah ia hanya ke supermarket, taman atau ke kampus.


Karena selama hampir 6 tahun Lisa mengambil Home Schooling daripada sekolah umum. Lisa sebenarnya menginginkan sekolah biasa seperti kebanyakan anak, namun kedua orangtuanya tak mengijinkannya untuk sekolah regular.


Alasanya adalah menjaga keselamatan Lisa. Karena sewaktu sekolah dasar Lisa sempat mengalami bullying disekolahnya. Maka dari itu kedua orangtuanya tidak ingin peristiwa itu terulang kembali disekolah menengah.


Mungkin kalau bisa orangtuanya tidak mengijinkan Lisa kuliah, tapi karena Lisa memaksa agar bisa kuliah secara umum membuat kedua orangtua Lisa akhirnya mengijinkan ia kuliah, itupun dengan syarat agar Lisa selalu diantar jemput oleh daddnya atau sang supir.


Namun hari ini, sepertinya keberuntungan berpihak padanya, buktinya orangtuanya mengizinkannya untuk pergi sendiri. Tidak diantar oleh sang daddy atau sang supir.


Sungguh Lisa sangat senang, bahkan sampai detik ini senyumannya masih berkembang dibibirnya. Ia menatap kearah sebuah bus yang mendekat kearah halte yang disambangi oleh Lisa.


Perlahan orang orang yang tadi memadati halte telah berpindah menuju ke dalam bus, begitupun dengan Lisa yang memang sedari tadi menunggu kedatangan bus itu.


Sepertinya ia tidak sadar kalau sejak tadi ada seseorang didalam sebuah mobil hitam terus memperhatikannya dari balik kemudi. Apalagi setelah kepergian bus yang ditumpangi oleh Lisa berlalu pergi, mobil itu juga ikut pergi.


Lisa yang kebagian tempat duduk disamping jendela terus mengamati pemandangan diluar sambil sesekali ia tersenyum bahagia.

__ADS_1


Ia bahkan tak sadar sama sekali dengan tatapan yang sejak tadi menjurus kearahnya itu. Lisa melirik sebentar pada jam tangannya untuk memastikan apakah dia terlambat ke sekolah atau belum.


Dan ternyata masih ada 35 menit sebelum kelasnya dimulai. Sejenak ia sandarkan tubuhnya kearah sandaran kursi yang tengah didudukinya itu.


Ia mencoba memejamkan matanya, sejenak meresapi bagaimana rasanya berbaur dengan banyak orang yang tak dikenalnya. Ia hanya ingin member kesan warna pada hidupnya yang selama ini monoton dilaluinya itu.


Anggap saja Lisa sedang mencari kesenangannya dengan caranya sendiri. Sedikit terbebas dari kekangan orangtuanya yang terlalu overprotective padanya. Sekitar 20 menit akhirnya Lisa sampai pada tujuannya yaitu dimana kempusnya berada.


Setelah membayar ongkos tarif bus, Lisa turun dan mulai melangkah menuju ke kampusnya. Ia menatap kearah bangunan yang sudah hampir 1,5 tahun ditempatinya untuk menimba ilmu itu.


Ia dengan riang hati memasuki gedung kampus tanpa menyadari ada seseorang yang memperhatikannya sejak dari halte tadi. Bahkan sampai orang itu berlalu pergipun, Lisa sama sekali tidak sadar jika dirinya diawasi sejak tadi.


"Target telah sampai di kampus dengan selamat, tuan." Ucap sosok itu sebelum pergi.


"Baiklah, saya akan kesana secepatnya." Sahutnya begitu mendengar perintah dari sang majikan untuknya itu.


🍁🍁


Lisa yang sedang melangkah menuju kekelasnya harus terhenti begitu mendengar ada seseorang yang memanggil namanya.


"Lisa," panggilnya dari kejauhan namun masih terdengar ditelinga Lisa. Segera Lisa membalikkan badan untuk mencari siapa yang memanggilnya itu. Setelah tahu siapa yang memanggilnya, senyum manis itu terbit dibibir milik Lisa.


"Kau tidak diantar oleh daddy atau supirmu?". Pertanyaan itu datang dari mulut Chaerin karena ia sempat melihat Lisa turun dari bus.


"Iya, aku naik bus ke kampus. Memangnya kenapa?" Lisa bertanya karena penasaran kenapa tiba tiba Chaerin bertanya hal itu.


"Tidak ada, hanya tadi aku melihatmu turun dari bus. Ku pikir itu bukan kau, makanya aku tidak memanggilmu".


"Ooh begitu, aku kira kenapa" Lisa menganggukan kepalanya sembari tersenyum kearah 3 temannya itu.


"Kalau begitu ayo kekelas. Aku tidak mau kena omel Jinaen ssaem gara gara terlambat dikelasnya." Jiyoon bersuara sambil menarik tangan Haeun yang ada disebelahnya, begitu pun dengan Chaerin yang menarik tangan Lisa yang ada didepannya.


Keempat gadis itu berlari kecil kearah kelas mereka karena takut terlambat dijamnya Jinaen ssem yang memang terkenal killer.


Setibanya didepan pintu kelas keempatnya bisa menghela nafas lega karena tidak menemukan kehadiran dari dosennya itu. Keempatnya masuk dan duduk ditempatnya masing masing.


Hingga suara dari Haeun mengalun ditelinga ketiganya. "Eh, kalian sudah dengar kabar kalau Prince liburan nanti ingin traveling ke gunung." Perkataan itu disambut heboh oleh Chaerin dan Jiyoon. Sedangkan Lisa hanya ikut mendengarkan.

__ADS_1


"Benarkah? Kau tidak bohongkan?" Chaerin nampak yang paling heboh diantara keempatnya. Bagaimana tidak kalau ia adalah fan fanatik dari Prince itu.


"Dapat info darimana?" Jiyoon juga tampaknya masih belum percaya.


"Ini dari sumber terpercaya.” Haeun buka suara.


"Aku dengar banyak kakak tingkat yang ingin ikut menyusul mereka." Sambung Haeun lagi.


"Kalau kalian bagaimana? Apa mau ikut sekalian?" Tanyanya yang langsung diangguki oleh keduanya kecuali Lisa.


Ketiganya langsung menatap kearah Lisa yang tak member respon apa apa.


"Kalau kau bagaimana, Lis? Kau ikut kita kan?" pertanyaan itu belum direspon oleh Lisa.


Ia hanya bingung bagaimana meminta izin orangtuanya kalau pergi ke kampus saja harus diantar, pengecualian untuk hari ini.


"Ayolah Lis, kau ikutan ya. Masa kita bertiga saja. Kan nggak asyik" bujuk Jiyoon yang ingin Lisa agar ikut mendaki gunung.


"Aku tanya orangtuaku dulu, ya." Lisa menjawabnya dengan sedikit ragu.


"Tapi janji kau harus ikut ya?" Haeun juga ikut membujuk Lisa agar mereka beempat bisa travelling bersama.


"Iya itung itung kita liburan bareng. Kan tahun kemarin kita nggak bisa pergi bersama." Chaerin membujuk Lisa sambil memasang muka melas, karena ia tahu Lisa itu susah untuk bilang tidak kalau sudah dimintai tolong. Entah siapapun itu.


"Baiklah, nanti aku coba tanya orangtuaku dulu, ya.” Pada akhirnya Lisa tidak bisa bilang tidak pada permintaan sahabatnya itu.


"Yeyy!!” Teriak mereka bertiga bahagia tanpa menyadari kalau seseorang yang tadi mereka takuti tengah berada di depan mereka dengan memasang wajah datar.


"Chaerin, Jiyoon, Lisa dan Haeun. Kalian berempat ingin keluar dari kelas saya?" Suara itu membuat keempat pemilik nama segera menatap kearah depan.


Sontak saja mereka kaget saat tahu kalau Jinaen ssaem ada didepan mereka sambil memasang muka marah. Membuat keempatnya meneguk ludahnya susah payah.


____________________________________


Kalian suka? Penasaran? Atau ingin balik arah? Kalau suka dan penasaran silahkan lanjut😍. Kalau ingin putar arah silahkan😉.


Yang mau Copas dimohon menyingkir ya. Karena nulis ini gak segampang yang dikira. Jadi tolong hargai dengan tidak copas ya😄.

__ADS_1


Thanks buat kalian sudah menyempatkan waktu untuk baca cerita ini ya😍.


🍁Our MateLily🍁


__ADS_2