
...Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini....
...°...
...°...
...Chapter 21. Mengantar Pulang...
...____________________________...
Previous Chapter
Entahlah, Lisa lelah memikirkannya.
Kini tatapannya terarah pada 2 pemuda yang berniat mengantarkannya pulang itu.
...*Our Mate Lily*...
Amarah milik Robert belum kunjung surut. Tapi Souga masih berusaha untuk menenangkan saudaranya itu.
Robert berusaha untuk mengendalikan dirinya. Untung saja si Marx tadi cepat pergi, kalau tidak. Mungkin sosok yang ada saat ini bukan Robert lagi, melainkan si Leo.
Souga menatap kearah Lisa yang masih berdiri di posisinya saat ini. "Kau tunggu dulu di ruang tamu, kami akan segera mengantarmu pulang. Dan ada yang ingin aku bicarakan dengan kakakku dulu." Ucapan dari Souga diangguki oleh Lisa.
Melihatnya membuat Souga lantas berlalu dengan Robert di sisinya itu. Sedangkan Lisa kini menuju kearah ruang tamu. Dirinya tidak apa - apa menunggu kedatangan kedua kakak beradik itu.
Toh dirinya seharusnya berterima kasih pada kakak beradik itu karena mau mengantarnya pulang. Walaupun dalam hati kecilnya, dia masih bingung kenapa ada bangunan semegah dan semewah ini di dalam hutan.
Adakah dari kalian yang berpikir sama halnya dengan Lisa? Coba kalian bayangkan, bangunan besar ini ada di dalam hutan belantara. Dan bagaimana cara mengangkut material untuk membuat bangunan besar ini.
Saat inipun Lisa tengah memandangi arsitektur dari ruang tamu. Sungguh bangunan ini mirip seperti kastil dalam cerita dongeng anak - anak.
Sekelebat pemikiran terlintas di benak Lisa terkait siapa kakak beradik yang akan mengantarnya pulang itu. Apakah mereka itu adalah orang jahat atau bukan.
Dan apakah mereka itu ada kaitannya dengan sosok besar berbulu lebat yang kemarin malam menolongnya dari para Vampir.
Tunggu dulu, bicara soal vampir. Bulu kuduk Lisa mulai meremang begitu mengingat kejadian buruk yang hampir membunuh jiwanya itu.
Walaupun Lisa mencoba berpositif thinking, tapi tetap saja pikirannya memaksanya untuk kembali memikirkan kemungkinan kalau kakak beradik itu berbeda dengannya. Dalam artian mereka itu kaum immortal. Bukan kaum mortal seperti dirinya.
Lamunannya buyar akibat kedatangan kedua kakak beradik itu yang kini sudah ada di depannya. Tapi Lisa agak mengernyit begitu menyadari kalau tatapan mata Robert begitu dingin menatapnya.
Apakah ia punya salah pada Robert?
Dengan gerakan pelan, Lisa mulai menundukkan kepalanya. Dan berusaha mengalihkan pandangannya dari tatapan Robert yang serasa mengintimidasinya itu.
Beberapa saat yang lalu. Tepatnya dimana Robert dan Souga berada.
Kini keduanya saling berhadapan untuk membicarakan hal yang penting. Meninggalkan Lisa yang masih ada di ruang tamu.
Souga dan Robert kini berada di lorong pemisah kamar mereka. "Jadi gadis itu adalah dia." Robert membuka suaranya dan terdengar jelas geraman tertahan yang keluar dari mulut Robert.
Robert merasa tidak percaya kalau dirinya baru saja menolong seorang yang begitu tidak diinginkannya itu. Souga menatap lurus kearah Robert tanpa rasa takut "Sepertinya begitu. Itupun kalau tadi kau mencium bau wangi dari tubuhnya itu."
Dengan kesal Robert mengangguk sekilas. "Kalau begitu bisa dipastikan dia lah orangnya."
Mendengar ucapan dari adiknya, malah membuat Robert semakin kesal. "Apa aku langsung membunuhnya saja disini." Senyum miring di bibir Robert terluas begitu mengatakan hal yang pastinya akan seru menurutnya itu.
"Kau gila! Bagaimanapun juga kita semua sudah terikat perjanjian dan tidak ada yang bisa menyangkal hal itu. Jika kau berulah bukan hanya dirimu saja yang akan mendapat hukuman. Tapi kita semua pasti akan kena imbasnya karena dianggap melanggar perjanjian itu." Souga menatap dingin kearah kakak satu satunya itu. Ada kilatan tajam dari sorot mata Souga mendengar ucapan kakaknya tadi.
__ADS_1
Robert menatap dingin kearah adiknya itu. "Lalu aku harus bagaimana. Mengetahui kalau dia orangnya membuatku sangat marah." Geram Robert yang terlihat jelas dari matanya itu.
"Bersabarlah." Hal itu yang dikatakan oleh Souga. Sedari tadi Luca berusaha keras untuk mengambil alih tubuh Robert. Tapi untungnya Robert bisa mengendalikannya.
"Lalu sekrang aku harus bagaimana? Aku tidak yakin bisa mengendalikan diriku jika berada di sekelilingnya."
"Tapi kita juga harus mengantarnya pulang. Bagaimanapun juga dia sudah di tetapkan untuk kita. Dan kita tidak bisa melawan hal itu."
Robert mendengus kesal, "Persetan dengan semuanya! Suatu saat aku akan pastikan dia mati di tanganku." Ucapnya marah sambil berlalu menuju ketempat dimana Lisa berada.
Souga langsung mengikuti jejak kakaknya itu. Takut kalau kakaknya sampai berbuat diluar kendalinya. Tentu saja itu akan menimbulkan masalah yang lebih besar daripada menanggani si Marx tadi.
Lisa yang menyadari kalau salah satu dari kedua orang tadi menghampirinya. Dia segera berdiri dari posisinya. Dirinya hanya terdiam bingung ingin melakukan atau bertanya apa terhadap orang yang sudah ada di depannya itu.
Bahkan rasanya tadi dia tidak mendengar suara langkah kaki. Apa mungkin karena dia tadi terlalu fokus pada lamunannya itu atau memang orang di depannya bisa berjalan pelan tanpa diketahui.
"Kami akan mengantarmu pulang." Ujar Robert kepada Lisa. Dan jangan lupa tatapan tajam yang masih setia dilayangkan oleh Robert kepada Lisa.
Robert berjalan lebih dulu meninggalkan kedua orang di belakangnya. Bahkan tanpa mau repot - repot mendengar jawaban dari mulut Lisa.
Souga juga ikut untuk mengantar Lisa pulang ke tempat perkemahan, dimana itu merupakan tempat terakhir Lisa bersama ketiga temannya itu sebelum Lisa tersesat didalam hutan.
Selama perjalanan menuju ke perkemahan, membutuhkan waktu yang cukup lama karena jalur hutan yang agak sulit dilalui oleh Lisa tapi dengan mudah dilalui oleh kedua orang tadi.
Sebenarnya perjalan ini tidak ada apa apanya bagi kedua kakak beradik itu. Tapi berbeda dengan Lisa. Jelas saja berbeda, kalian tahu sendiri apa sebabnya, kan😉.
Akhirnya dengan perjuangan keras Lisa bisa sampai di perkemahan. Tapi apa yang dilihatnya saat ini membuatnya bingung. Perasaan terakhir kali dia melihat perkemahan ini, masih banyak tenda-tenda disini dan jangan lupakan juga masih banyak orang yang melakukan perkemahan disini.
Tapi kenapa sekarang tidak ada sama sekali. Bahkan ia sempat bingung saat melihat adanya garis polisi dan sebenarnya saat di dalan hutan tadi, Lisa juga melihat adanya garis polisi.
Dia pikir itu sebagai batasan untuk masuk kedalam hutan. Apa yang sebenarnya sedang terjadi disini. Atau mungkin garis polisi itu ditunjukkan untuk mencari dirinya yang tersesat di dalam hutan.
Tapi apa mungkin? Padahal dirinya merasa belum juga 24 jam dia hilang. Seharusnya kan lebih dari 1x24 jam untuk mengurusi kasus orang hilang.
"Jadi dimana teman - temanmu itu?" Pertanyaan itu dibalas gelengan tidak tahu oleh Lisa.
"Seingatku tenda kami ada disini, tapi kenapa sekarang malah tidak ada satupun tenda disekitar sini." Bingung Lisa sambil menatap ke segala arah. Siapa tahu ada yang bisa ia tanya tentang keberadaan teman - temannya itu.
Sebenarnya Souga dan Robert tidak terlalu bingung mengenai hal ini, mengingat mereka berdua memang berbeda dengan Lisa. Baik dari segi kemampuan ataupun kekuatan.
"Kalau begitu kami akan mengantarkanmu pulang ke rumah. Mungkin saja teman - temanmu itu sudah pulang ke rumah lebih dulu." Ucap Souga cukup panjang.
Sebenarnya Lisa merasa tidak enak pada keduanya. "Apa itu tidak merepotkan kalian?"
Robert mendengus begitu mendengar perkataan Lisa itu. "Memangnya kalau kami merasa direpotkan, apakah kau bisa pulang sendiri dengan selamat. Tidak, kan?!" Ucapan tajam itu keluar dari mulut Robert membuat Lisa menundukkan kepalanya.
Lisa merasa bagai beban untuk kedua orang penolongnya itu. Dan sekali lagi rasa bersalah timbul dihati Lisa.
"Maaf." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Lisa, yang tentunya membuat Robert mendengus sinis.
Robert memilih pergi meninggalkan keduanya. Melihat kepergian Robert membuat Lisa merasa tidak nyaman. Sepertinya dia berhasil membuat orang lain kesal padanya. Tapi apa yang telah ia lakukan hingga membuat Robert tampak begitu membencinya itu.
"Sudah, jangan dipikirkan ucapan kakakku itu. Dia hanya sedang tidak dalam suasana baik. Mari ikut aku." Ajak Souga yang diikuti oleh Lisa.
Ternyata tak begitu jauh dari posisi keduanya tadi, Robert sudah berada didalam mobil berwarna hitam itu. Sebenarnya dia sangat malas untuk mengantar gadis itu. Tapi apa boleh buat. Terpaksa dia harus repot - repot mengantar gadis itu pulang ke rumahnya.
Kalian bertanya itu mobil siapa? Anggap saja ini adalah salah satu kekuatanya. Jangan lupakan kalau mereka itu berbeda dengan manusia. Dan soal mobil mah gampang.
...🍁💞🍁...
__ADS_1
Selama perjalanan tidak ada obrolan yang terdengar. Mereka hanya diam bahkan suasananya terlalu sepi menurut Lisa. Lisa sendiri sadar diri, dia sudah merepotkan keduanya dengan diantar pulang dan dia juga ragu untuk membuka obrolan yang mungkin tidak akan ditangkap oleh keduanya.
Jadi lebih baik dia diam saja, sembari menunggu sampai ke rumahnya itu. Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya mereka sampai di depan gerbang rumah Lisa.
Satpam di rumahnya saja sampai terkejut begitu melihatnya. Padahal dia merasa hanya pergi selama beberapa hari. Tapi melihat reaksi sarapannya itu, seolah dirinya sudah pergi selama sebulan lebih.
Mengabaikan reaksi terkejut dari satpamnya yang dirasa terlalu berlebihan itu, Lisa lantas turun dari dalam mobil. Dengan gerakan pelan Lisa menundukkan kepalanya untuk menatap kedua penolongnya itu.
"Terimakasih sudah mau mengantarku kerumah. Maaf untuk semuanya karena sudah banyak merepotkan kalian berdua."
Souga menganggukan kepalanya sedangkan Robert sama sekali tidak menatap kearah Lisa. "Kami pamit dan kau harus lebih hati hati lagi mulai detik ini." Ucap Souga yang diangguki oleh Lisa.
Sebenarnya Lisa merasa janggal dengan perkataan Souga yang terakhir tadi. Tapi diabaikan oleh Lisa. Mungkin saja itu sebuah nasihat untuknya agar kedepannya bisa lebih menjaga diri.
"Sekali lagi, terimakasih Souga dan Robert." Ucap Lisa sebelum kaca mobil di sambil Souga perlahan mulai tertutup rapat. Lisa masih berdiri disana sambil memperhatikan mobil Souga yng bergerak menjauhi depan gerbang rumahnya.
Begitu mobil tadi sudah tidak terlihat, Lisa berjalan menuju rumahnya setelah menyapa satpam rumahnya yang masih saja menatapnya dengan raut terkejut yang begitu ketara di pandangan Lisa.
Setelah membuka pintu rumahnya yang ternyata tidak terkunci, Lisa mulai memasuki rumahnya itu. Tapi bisa Lisa rasakan rumahnya ini terasa sangat sepi.
Awalnya Lisa menghiraukan hal itu, tapi semakin dia masuk kedalam, hawa di rumahnya itupun sedikit lebih dingin dari biasanya.
"Apa mungkin karena Ac-nya yang terlalu dingin, ya." Batin Lisa sambil memandang sekitarnya itu.
Kini Lisa sudah berada di dalam rumah, niat awal Lisa ingin langsung ke kamarnya. Tapi saat akan berjalan ke kamarnya itu. Dia menghentikan langkahnya.
Dia berhenti karena melihat pintu yang akan ia lewati tidak tertutup dengan rapat. Padahal biasanya pintu itu selalu dikunci oleh mommynya. Bahkan dia tidak pernah dibiarkan masuk ke dalamnya. Sebenarnya sejak dulu Lisa selalu penasaran dengan ruangan ini. Dan hal itulah yang mendorongnya untuk membuka pintu tersebut dengan sepelan mungkin.
Bisa Lisa dengar sayup sayup suara dari dalam kamar tersebut. Ternyata di dalam ruangan ini ada pintu dimana suara suara itu berasal. Dengan memberanikan diri, Lisa perlahan membuka pintu itu.
Niat awal Lisa ingin memberi kejutan kepada sang pemilik suara yang begitu ia kenali itu karena dirinya sudah pulang ke rumah. Suara itu ada milik kedua orang tuanya.
Tapi bukan orangtuanya yang terkejut, malahan dirinya yang dibuat terkejut begitu mengetahui fakta yang baru dia dengar itu.
"Sia-sia kita membesarkan anak itu. Kalau tahu begini, sudah sejak lama aku membunuh anak itu." ucap seseorang bernada suara berat itu.
"Aku pun begitu. Bahkan aku sudah mengerahkan seluruh pengikutku untuk mencarinya. Tapi sampai detik ini anak itu belum juga ketemu. Jadi sia-sia selama ini kita merawatnya."
"Kau benar, apa yang akan kita katakan pada tuan, kalau beliau tahu anak itu hilang bak ditelan Bumi. Aku tidak bisa membayangkan kemarahan Tuan pada kita karena kegagalan misi kita ini."
"Harusnya kita bunuh saja anak itu sejak dulu. Sama seperti kita yang membunuh kedua orangtua anak itu. Dengan begitu kita kan tidak perlu repot mengurusnya selama ini."
Seperti ada pukulan telak yang menghantam kepala dan hati Lisa secara bersamaan begitu mendengar perkataan kedua orang yang sudah ia anggap sebagai orangtua kandungnya itu.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...🍁°Our Mate Lily°🍁...
__ADS_1
...Untuk Part ini. Tolong tinggalkan jejak👣 supaya aku tahu siapa kalian yang sudah bertahan sampai sini😊....
...See You Later👋 and Thank You Guys😍...