Bukan Salahku Menjadi Istri Kalian

Bukan Salahku Menjadi Istri Kalian
Chapter 16


__ADS_3

...Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini....


...°...


...°...


...Chapter 16. Pendakian...


...____________________________...


Previous Chapter


Karena mereka tahu sebagian besar gadis gadis itu tidak akan mampu mendaki gunung dan pada akhirnya akan kelelahan sendiri. Dengan begitu mereka pasti lebih memilih turun kebawah daripada melanjutkan pendakian.


.....................


Selama perjalanan pendakian yang entah sudah memakan waktu berapa lama, yang pasti raut wajah kelelahan mulai menghiasi sebagaian besar dari gadis gadis yang ada dibelakang para Prince. Termasuk juga keempat gadis cantik ini.


Ya, siapa lagi kalau bukan Jiyoon, Chaerin, Lisa dan Haeun. Keempatnya sudah sejak tadi merasa kelelahan. Tapi mereka tak ada niatan untuk berhenti mengikuti pujaan hati mereka atau lebih tepatnya mereka mengubur niatan itu karena tak ingin kehilangan jejak para Prince itu.


Bahkan mereka belum juga istirahat jejak para prince sudah lumayan jauh dari mereka. Bagaimana kalau mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak. Yang ada malah mereka kehilangan jejak.


Matahari pun kini mulai kembali keperaduan. Hal itu tentu membuat suasana makin mencengkam. Langit memang belum terlalu gelap, tapi tetap saja hal itu membuat jarak pandangan mereka menjadi terbatas karena keterbatasan cahaya yang ada.


Bisa kalian bayangkan gimana gelapnya hutan saat malam hari. Jangan sinar lampu, sinar sekecil lilin pun tak terlihat jelas disana.


Sekarang saja hanya tersisa tiga rombongan yang masing masing beranggotakan 4 orang termasuk kelompok Chaerin tadi. Sisanya sudah kelelahan dan memilih untuk tidak melanjutkan pendakian.


"Ak..u sang..at le..lah." ujar Haeun dengan nafas ngos - ngosan. Nafasnya seolah tercekat karena sejak tadi dirinya tidak beristirahat sama sekali.


Sebenarnya bukan hanya Haeun yang lelah, Lisa, Chaerin dan Jiyoon juga merasakan hal yang sama. Tapi mereka masih berusaha untuk tetap melangkah.


Haeun segera menghentikan langkahnya kemudian duduk di sebuah batu untuk mengatur napasnya. "Gimana kalau kita istirahat dulu. Aku benar benar capek."


Jiyoon dan Lisa segera duduk disamping Haeun. Mereka berdua juga terlihat sangat kelelahan. Ditambah udara malam yang membuat tubuh mereka kedinginan.


"Tapi kalau kita kehilangan jejak prince gimana?" Pertanyaan dari Chaerin membuat Lisa, Haeun dan Jiyoon menatap kearah Chaerin.

__ADS_1


"Nanti saja, kita istirahat sebentar. Kalaupun kita tetap melanjutkan perjalanan bisa bisa kita pingsan." Chaerin membenarkan ucapan dari Haeun. Dirinya juga sebenarnya sangat kelelahan.


Kini dirinya ikut duduk disamping Lisa sambil mengatur napasnya yang terasa sesak sejak tadi akibat kelelahan.


"Kalian masih ada yang bawa minum. Kalau ada aku minta, ya." Jiyoon menanyakan hal itu kepada ketiga sahabatnya itu.


Lisa nampak mengambil sebuah botol air minum dari tasnya. Kemudian ia menyodorkan botol itu kearah Jiyoon.


"Terimakasih, Lis. You're the best lah." Sahut Jiyoon sebelum meminum air yang telah diberikan oleh Lisa tadi.


Setelah merasa cukup, keempatnya kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka menyalakan senter untuk penerangan mereka.


Karena jujur saja, mereka tidak akan bisa berjalan dengan baik kalau hanya bermodalkan cahaya bulan yang ada diatas langit sana.


"Kita bawa berapa senter?" Mereka mulai mengeluarkan senter dari tas mereka. Tapi ternyata hanya ada 3 senter ditangan mereka saat ini.


"Kau tidak bawa senter, Eun?" Haeun menggeleng kemudian mengangguk membuat ketiganya menatapnya bingung.


"Apa maksudmu, Eun. Aku tidak mengerti." Jiyoon menatap Haeun dengan bingung begitu melihat respon Haeun tadi.


"Aku bawa kok. Tapi sepertinya ketinggalan dimobil." Jawaban itu malah membuat Chaerin ingin menjitak kepala Haeun saat ini.


"Sudahlah, Chae. Mungkin Haeun memang sedang lupa saat itu. Lebih baik kita lanjutkan saja perjalan kita. Didepan sana seperti masih ada 1 kelompok lagi yang masih mendaki." Kali ini Lisa yang bicara.


Chaerin menghembuskan napas panjang. Percuma saja dirinya kesal dengan Haeun. Toh dia juga lupa bukan sengaja tidak membawa, kan.


Chaerin bangkit dari posisinya kemudian menepuk pelan celananya yang kotor akibat duduk diatas batu itu. Kemudian ia mulai kembali bicara.


"Baiklah, kita lanjutkan saja perjalanan kita." Ketiganya langsung mengangguk kemudian mereka mulai melangkah mengikuti jejak kaki yang masih berbekas diatas tanah yang ada di depan mereka.


Di sudut yang beberapa dan diwaktu yang sama terdengar teriakan yang berasal dari sesosok mahluk yang sejak tadi tampak mengeram marah. Bahkan warna matanya masih saja tak berubah sejak beberapa jam yang lalu.


Dirinya ingat betul mengenai perkataan dari orang tua dan kakeknya mengenai takdir yang tak bisa diterima itu.


🍁Flashback On🍁


Disebuah bangunan tua namun terlihat sangat kokoh itu terlihat beberapa pasang mata tengah memperhatikan raja mereka yang kini berada disingah sana.

__ADS_1


Karena mereka sudah cukup membuat beberapa pasang mata itu menunggu, sang raja langsung angkat bicara.


"Sepertinya ramalan yang telah ditunggu sejak lama sebentar lagi akan terlaksana." Dari beberapa pasang mata itu ada yang mengernyit bingung. Namun sebagian dari mereka ada yang menghela napas.


"Ramalan apa, Dad?" Pertanyaan itu terlontar dari bibir si sulung yang berada tak jauh dari posisi raja atau lebih tepatnya daddynya itu.


"Ramalam itu adalah tentang keberadaan mate kalian." Mendengar kata mate membuat si bungsu dari keluarga itu mengeraskan rahangnya.


Tiba tiba aura berubah menjadi mencengkam. Dan hal itu berasal dari aura sang bungsu. Jelas mereka semua tahu, membicarakan tentang mate pasti menjadi topik sensitif bagi sang bungsu. Dan sepertinya itu terbukti kali ini.


"Dad, apa maksud dari perkataanmu itu?" Kali ini sang bungsu yang bertanya. Jangan lupakan ada sorot kemarahan tersendiri dibalik kornea miliknya itu.


"Kalian berdua akan tahu cerita lengkapnya dari kakek kalian. Daddy hanya ingin bilang kalau kalian akan mendapatkan mate yang sama." Perkataan itu jelas menyulut api kemarahan dihati sang bungsu yang sejak tadi berkobar dalam hatinya.


"Tidak ada yang akan berbagi mate. Mateku hanya satu dan tidak ada yang lain." ucapnya penuh penekanan. Baru saja dirinya ingin melangkah pergi, suara dari daddynya kembali membuat amarahnya kembali berkobar.


"Ingat, Ji Minè. Dia bukan matemu. Matemu yang asli akan segera muncul. Jadi terima garis yang sudah menjadi takdirmu."


Seseorang yang dipanggil Ji Minè itu menoleh menghadap sang daddy.


"Tidak ada yang bisa menggantikan mateku. Sekalipun dia adalah mate yang ditakdirkan untukku. Tidak ada!!" Tekannya pada kata tidak ada.


Kemudian dirinya melangkah pergi meninggalkan rumahnya. Tapi mulai detik ini tempat ini bukan lagi rumahnya. Bahkan ia sudah lupa sejak kapan dirinya punya tempat berpulang.


"Ji Minè." Panggilan itu sama sekali tidak di gubris oleh Ji Minè. Ada helaan yang berasal dari bibir sang raja begitu melihat respon putra bungsunya itu.


Bahkan rasanya sudah lama ia tidak bisa merasakan pelukan hangat dari putra bungsunya itu. Lebih tepatnya setelah kejadian itu. Kejadian yang mengubah dunia sang putra dalam sekejab mata.


Dimana dia tidak lagi menemukan sosok hangat dari putra bungsunya itu. Bahkan secuilpun ia tidak lagi merasakannya. Padahal dulu putra bungsunya tak bisa lepas dari pelukannya. Tapi kenapa sekarang sang putra malah seolah enggan berada di pelukannya. Jangankan pelukannya, berada di dekatnya saja sang putra nampak sangat keberatan.  


"Jangan terlalu memikirkan tingkah Ji Minè, dad. Dia hanya sedikit marah. Nanti biar aku yang bicara padanya. Daddy tenang saja." Kali ini sang putra sulung yang mengeluarkan suaranya guna mengalihkan perhatian daddynya dari tingkah adikknya itu.


Sang daddy menatap kearah putra sulungnya yang dulu jarang ia perhatikan, karena perhatiannya lebih banyak kepada sang bungsu. Tapi lihatlah siapa yang kini berada disampingnya disaat dirinya merasa sendirian lantaran sang istri tengah berada jauh darinya.


"Terimakasih, Jay. Sekarang tolong susul adikmu. Daddy tidak ingin dia melakukan hal yang akan menyakiti dirinya." Perkataan itu mendapat anggukan dari Jay.


"Saya pamit, dad." ucapnya kemudian menghilang untuk mencari keberadaan adik satu satunya itu.

__ADS_1


..................


Terimakasih Sudah Berkunjung😊.


__ADS_2