Bukan Salahku Menjadi Istri Kalian

Bukan Salahku Menjadi Istri Kalian
Chapter 23


__ADS_3

...**Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini....


...°...


...°...


...Chapter 23. Kediaman Devils**?...


..._____________________...


Previous Chapter


"Baguslah, kalau perlu biar dia pergi untuk selamanya." ucapan tajam itu keluar dari mulut Robert yang kini mulai keluar dari rumah ini. Melihat hal itu membuat Souga menghela napas panjang. Pada akhirnya dia mengikuti jejak kakaknya itu menuju ke rumah mereka sendiri.


...🍁Our Mate Lily🍁...


Kini seorang gadis tengah terbaring di sebuah ranjang mewah dikediaman entah siapa. Nampak sang gadis tadi mulai terbangun dari tidurnya.


Namun sejauh matanya memandang. Hanya ada kebingungan yang nampak jelas terlihat diwajah gadis itu. Seakan merasa dé javu dengan kejadian kemarin, gadis tadi langsung bangkit dari posisinya dan melangkah menuju kearah jendela yang terbuka disamping kirinya itu.


Setelah berada tepat didepan jendela, sosok gadis itu melongokkan kepalanya memandang apapun yang dapat di jangkau oleh pandangannya.


Namun yang dia lihat bisa membuat siapa saja terpana akan apa yang dilihat oleh mata sang gadis itu tadi.


"Wow," Satu kata itu memakili apa yang dilihatnya itu. Bagaiamana tidak takjub, kalau dibawah sana banyak sekali taman bunga yang indah. Dan disalah satu sudut yang dapat dijangkau oleh mata sang gadis, dia bisa melihat keramaian. Entah ada acara apa yang jelas sangat banyak orang yang datang.


Belum juga 1 menit gadis tadi memandang takjub, rasa itu terbuyarkan akibat seruan dari belakang tubuhnya.


"Kau sudah sadar." Perkataan itu membuat gadis tadi menoleh kebelakang. Dan tepat di ambang pintu, terlihat sosok pemuda yang dirasa cukup familiar di ingatan gadis itu.


"Kau siapa? Dan ini sebenarnya ada dimana?" Lisa, sang gadis itu melontarkan pertanyaan yang sempat dilupakan sejenak begitu melihat pemandangan dibawah jendela sana.


Pemuda tadi mendekat kearah Lisa, membuat Lisa menatap waspada pada sosok tadi. "Jangan takut. Kau aman disini. Lagipula tidak akan ada yang berani menyakitimu.." Pemuda itu menjeda ucapannya membuat Lisa semakin menguatkan kewaspadaannya.


"Kecuali aku." ucap pemuda itu santai. Seolah tak ada efek apapun pada gadis yang tengah diajak bicara olehnya itu. Padahal kenyataannya, Lisa tengah menatap pemuda itu dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi.


"Jangan mendekat!" Teriak Lisa saat menyadari pemuda itu semakin mendekat ke arahnya. Bagaimana tidak teriak untuk mengusir pemuda itu.


Ditambah lagi, pemuda itu mulai menyunggingkan smirk di bibir miliknya. "Aku bilang jangan mendekat!" Seru Lisa yang sama sekali tidak di indahkan oleh pemuda itu.


Masih dengan sikap waspada, pandangan Lisa mengarah pada pintu yang menampilkan sosok wanita yang sangat cantik. Ditambah lagi senyumannya yang secerah matahari, membuat Lisa menggumam kata 'cantik' dalam hatinya.


"Jake," panggil wanita itu pada sosok pemuda didepan Lisa. Sosok pemuda itu menoleh saat namanya dipanggil oleh seseorang yang saat dia sayangi.


Jake, pemuda tadi hanya menoleh tanpa bicara apapun begitu melihat mommynya mendekat kearahnya, atau lebih tepatnya ke arah gadis yang kemarin malam baru dia dan kakaknya selamatkan.

__ADS_1


"Mom kan sudah bilang, jangan mengganggunya. Lihat, dia tampak sangat ketakutan begitu melihatmu." Ucap wanita itu begitu sampai didepan Lisa. Lisa sendiripun bahkan tidak sadar kalau wanita yang tadi dia pandangi, sekarang sudah ada di hadapannya.


"Jangan takut, kau aman disini. Lagipula kalau dia berani membuamu takut,  Kau bisa bilang padaku." ucap wanita itu yang entah kenapa langsung diangguki oleh Lisa.


Wanita tadi tersenyum. Kini dengan perlahan, dia mengelus surai coklat milik Lisa itu dengan lembut. "Perkenalkan namaku Gwenalia. Aku ibu dari pemuda itu." Tunjuknya pada pemuda yang tadi sempat berbicara dengan Lisa.


"Kau bisa tinggal disini. Dan kau tidak perlu takut, karena semua penghuni disini akan selalu memperlakukanmu dengan baik." Perkataan dari sosok bernama Gwenalia membuat Lisa sedikit tenang.


Tapi entahlah, ada bagian dalam hatinya yang merasa tidak tenang. Bukan dia mencurigai 2 orang di depannya itu. Hanya saja perasaannya kurang sedikit baik untuk saat ini.


Ditambah lagi fakta yang baru dia alami, membuat Lisa harus ekstra berhati - hati lagi. Karena dia tidak tahu mana yang benar benar baik dan mana yang tidak pada dirinya itu.


Gwenalia menatap putra bungsunya itu. Melihat tatapan itu membuat Jake mengangguk padahal ibunya tidak mengatakan apapun.


Dasar si Jake😄


"Ya, sudah. Kau sebaiknya membersihkan diri dulu. Nanti kita sarapan bersama dengan yang lainnya." Mendengarnya membuat Lisa mengangguk.


Gwenalia tersenyum kearah Lisa. "Baiklah, kau pergilah ke kamar mandi. Untuk urusan pakaian, kau tenang saja. Saya sudah menyiapkan semuanya."


Kini Gwenalia pergi meninggalkan Lisa setelah Lisa menghilang di balik pintu kamar mandi. Untuk urusan pakaian, sudah dia siapakan dan ia letakkan di atas ranjang.


...**💞**...


Lisa melangkah sambil sesekali arah pandangannya tertuju pada interior ruangan yang ia lewati itu. Entah kenapa melihat interior yang seperti ini membuat Lisa merasakan semacam dè javu.


Perasaan takut kembali melingkupi hati Lisa. Apalagi saat dirinya mengulas peristiwa kemarin malam. Dimana 'orangtuanya' memanggil pemuda tadi itu dengan sebutan prince' devils.


Jangan bilang kalau dia berada di kawasan...


Devils....


Lisa berusaha menyangkal, tapi pikirannya terus saja memikirkan kemungkinan kalau dirinya memang benar benar ada di wilayah para devil.


Lisa bingung, kalau dia pergi dari sini, maka kemungkinan dia tertangkap 99%. Dan 1% lagi dirinya bisa kabur. Lisa menghentikan sejenak langkahnya sambil memikirkan apa yang harus dipilihnya. Kabur atau tetap berada disini.


Belum sempat Lisa melaksanakan apa yang dipikirnya, lebih dulu sebuah suara di depannya membuatnya menatap sosok itu. Ternyata yang ada didepan Lisa adalah sosok paruh baya, mungkin saja itu ayah dari wanita cantik tadi.


"Kemarilah. Ikutlah dengan saya." Tanpa diminta dua kali, Lisa melangkah mendekati sosok tadi. Entah kenapa dirinya merasa tidak bisa menolak ucapan dari sosok paruh baya itu.


Sosok tadi tersenyum kearah Lisa dan terlihat jelas beberapa kerutan diwajah sosok tadi menandakan kalau sosok itu tidak lagi muda. Tapi jangan salah, walaupun sudah bukan anak muda lagi. Sosok paruh baya itu tampak masih tampan di usianya yang menurut lisa masih sekitaran 60 tahunan.


Kini keduanya sudah berada di depan ruang makan, dimana sudah ada beberapa orang yang mengisi kursi disamping meja makan itu.


Semua pelayan yang ada di sana mulai membungkukkan badan mereka kearah tuan besar mereka.

__ADS_1


"Kau duduklah disamping cucuku itu." Titah sosok tadi kepada Lisa. Lisa sebenarnya tidak tahu siapa cucu dari sosok ini, tapi begitu melihat ada 1 kursi yang kosong yang diapit oleh 2 orang pemuda, membuat Lisa bisa menyimpulkan kalau kedua pemuda itu adalah sang cucu. 


Dengan perlahan Lisa duduk di tengah tengah kedua pemuda itu. Satu pemuda dengan senyum dimple miliknya dan satu dengan smirk andalannya.


Lisa tahu siapa sang pemilik smirk tadi, siapa lagi kalau bukan Jake. Tapi kalau yang berdimple, dia belum tahu namanya. Namun dia ingat pernah bertemu dengan pemuda berdimple itu kemarin malam.


"Selamat pagi." Sapa si pemuda berdimple itu pada Lisa. Sedangkan Lisa membalasnya dengan ucapan yang sama hanya saja lebih lirih. "Selamat pagi."


"Volume suaramu hanya segitu?" Pertanyaan itu membuat Lisa menoleh kearah samping kirinya. Dan benar saja, yang baru saja bicara itu adalah si Jake itu.


Lisa tak menanggapi. Dia juga masih sedikit takut berhadapan dengan Jaks. Apalagi melihat wajah pemuda itu yang dihiasi oleh smirk yang membuat tubuh Lisa merinding begitu melihatnya.


Tak mendapat respon membuat Jeka menatap Lisa dengan alis terangkat tinggi. Tentu saja Lisa merasa takut. Kenapa pemuda itu tiba - tiba mengangkat alisnya.


Ditambah lagi jarak mereka berdua itu tidak ada 30 cm. Kegugupan Lisa semakin bertambah kala, si Jake kembali mengikis jarak diantara keduanya.


...15 cm...


...14 cm...


...13 cm...


...12 cm...


...11 cm...


...10 cm...


"Jake." Panggilan itu datang dari sosok yang tadi berjalan bersama Lisa saat akan menuju ke ruangan ini. Perlahan


Jake memundurkan kepalanya dan menghadap kedepan. Dan bertingkah seolah tak ada yang terjadi.


Dengan perlahan Lisa menghembuskan napas lega. Dalam hati dia merapalkan kata selamat berulang kali.


.......


.......


.......


...🍁°Our Mate Lily°🍁...


...Terimakasih Sudah Berkunjung Sampai Sejauh Ini😇💞...


...Sayang kalian semua💞...

__ADS_1


__ADS_2