
...Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini....
...°...
...°...
...Chapter 17. Haeun Pingsan...
..._______________________...
Previous Chapter
"Saya pamit, dad." ucapnya kemudian menghilang untuk mencari keberadaan adik satu - satunya itu.
...............
Jauh didalam hutan yang gelap karena tak ada penerangan sama sekali. Sekelebat bayangan berwarna hitam melintas membuat angin bergerak tak wajar. Coba saja kalau disana ada sebuah kehidupan maka akan dipastikan dalam sekejap saja akan merasakan kehadirannya.
Akhirnya sekelebat bayangan itu berhenti bergerak tepat diantara kawasan yang menjadi pembatas antara hutan yang nampak biasa dan hutan yang nampak menakutkan.
Tapi tak jauh dari sekelebat bayangan tadi, beberapa rombongan tengah berjalan menyusuri hutan ditemani gelapnya malam. Beberapa rombongan itu terdiri dari beberapa gadis. Ya, mereka adalah para si pengagum prince. Mungkin ada sekitar 8 orang gadis berkeliaran malam malam begini apalagi ditengah hutan hanya untuk sekedar mengikuti pujaan hati mereka.
2 diantara rombongan itu adalah rombongan Chaerin Cs. Dan kini pun Chaerin Cs sudah berada tepat tak jauh dari para Prince. Sedangkan rombongan satunya lagi memutuskan untuk istirahat dibawah sana.
Namun baru beberapa puluh langkah menjauh dari rombongan satunya, mereka semua kehilangan jejak dari 3 prince itu. Dan ditambah saat ini keempatnya sudah merasa sangat kelelahan.
"Bi..sakah ki..ta isti..rahat seben..tar." Tampak dari nada suaranya, orang yang tadi berbicara nampak tersengal. Ucapan itu menghentikan langkah ketiga gadis di depannya.
"Kau baik - baik saja, Eun?" Pertanyaan itu membuat Haeun menggeleng pelan. Karena dirinya merasa tidak dalam kondisi baik - baik saja.
"Kau masih kuat berjalan?" Kali ini Haeun mengangguk dengan pelan. "Kita tidak mungkin melanjutkan lagi perjalanan ini, terlalu berlalu beresiko untuk kita." Semuanya mengangguk setuju. Bagaimanapun juga keadaanya mereka sekarang tidak bisa dipaksakan untuk lanjut mendaki. Jika tetap memaksa bisa bisa malah mereka yang celaka. Jadi untuk keputusan final, mereka berniat untuk turun.
Tapi belum sempat melangkah, tubuh Haeun melemas dan dia jatuh pingsan. Ketiga sahabatnya panik luar biasa. Mereka bertiga takut terjadi hal - hal yang tak diinginkan terjadi pada Haeun.
"Haeun, bangunlah jangan buat kami khawatir." Nada khawatir jelas terdengar dari suara Chaerin yang berada disebelah Haeun.
"Bagaimana ini?" Tanya Jiyoon dengan panik. Mereka semua sangat panik saat Haeun tidak kunjung membuka matanya. Padahal mereka sudah melakukan upaya pertolongan pertama dengan memposisikan kepala Haeun lebih tinggi daripada kakinya.
Menekan jari kaki Haeun untuk membuatnya sadar juga sudah dilakukan oleh mereka bertiga, tapi tak ada respon berarti dari Haeun.
"Bagaimana ini? Haeun tidak bangun bangun dari tadi. Aku takut."
"Jangan panik Jiyoon. Aku jadi ikutan panik. Sekarang kita harus bagaimana?" Semuanya bertambah panik apalagi setelah mendengar deru napas Haeun yang terdengar putus - putus.
"Kita harus cari bantuan." Saran Chaerin cepat.
Ada helaan napas panjang, "Kau tidak lihat kita ini dimana. Kita sedang berada di tengah hutan. Tengah hutan, itu artinya tidak ada orang disini."
__ADS_1
Chaerin menatap sebel kearah Jiyoon yang baru saja menjawab perkataannya. "Terus ini gimana? Kau mau kita diam saja disini dan membiarkan Haeun kenapa napa, Itu Maumu, huh?!" Chaerin tak sadar kalau sudah membentak Jiyoon.
Jiyoon yang tidak terima dibentakpun langsung balik membentak Chaerin. "Kau mau mencari bantuan siapa di hutan yang gelap begini?! Kau pikir ini mall yang banyak orangnya?!" Lisa yang sejak tadi mencoba mengoleskan minyak angin pun segera menatap kedua sahabatnya itu.
"Sudahlah, kalian jangan bertengkar terus. Lihatlah keadaan Haeun semakin memburuk karena kedinginan. Dan kita bisa mencari bantuan bersama sama untuk segera menolong Haeun." Lisa sudah tak tahan mendengar kedua sahabatnya itu yang sejak tadi sibuk berdebat.
"Tapi Lis, Kita mau menca.." belum sempat ucapan Jiyoon selesai, Lisa sudah memotong ucapannya.
"Kita pasti bisa mencari bantuan, Yoon. Sebaiknya kita mencari dulu. Dan Chaerin tolong jaga Haeun sebentar dan juga pastikan Haeun tidak terlalu kedinginan."
Setelah mengucapkan hal itu, Lisa langsung menarik tangan Jiyoon untuk ikut keatas, karena kalau bawah pasti butuh waktu lama. Sebab posisi keempatnya saat ini sudah berada di tengah - tengah. Jadi pasti lebih membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menolong Haeun.
"Kita mau kemana, Lis?" Lisa menoleh kearah Jiyoon tanpa melepaskan genggaman tangannya di tangan Jiyoon.
"Kita bisa meminta tolong pada prince. Mungkin mereka tak begitu jauh dari kita." Jiyoon mengangguk walaupun raut wajahnya masih menyiratkan kekhawatiran pada kondisi Haeun.
Hampir 15 menit mereka berdua berjalan, raut wajah lelah terpancar jelas di balik wajah cantik keduanya.
"Ak..u su..dah san...gat le...lah, Lis." Sebenarnya bukan hanya Jiyoon saja yang lelah, tapi Lisa juga. Tapi dia tak bisa beristirahat dulu, takutnya kalau keduanya telat membawa bantuan maka keadaan Haeun akan semakin parah.
Tak jauh dari tempat mereka, Lisa jelas melihat sebuah sinar dari senter membuat senyumannya mengembang.
"Ayo lebih cepat lagi, Yoon." Setelah memberikan aba aba seperti itu, Lisa melangkah menuju arah sinar tadi. Dan yah, akhirnya Lisa berhasil sampai disana. Masih dengan napas tersengal, Lisa segera menghampiri ketiga pemuda yang tampak tengah beristirahat itu.
"To..long a..ku." Perkataan itu menyentak ketiga pemuda itu lantaran terkejut melihat penampilan Lisa yang lain dari biasanya.
"Aku Lisa, tolong bantu sahabatku. Aku mohon." Lisa menakup kedua tangannya dan meletakannya didepan wajahnya.
"Tolonglah, aku. Kalau kalian tidak menolong sahabatku, entah apa yang akan terjadi dengan sahabatku itu."
Ketiga pemuda itu saling menatap kemudian kembali menatap kearah Lisa. "Memangnya sahabatmu kenapa?"
Lisa masih tidak mengalihkan pandangannya, terlihat jelas sorot mata penuh pengharapan kepada ketiga orang itu. "Dia pingsan, aku mohon bantuan dari kalian bertiga."
Jiyoon yang berhasil menyusul Lisa, kini berdiri disamping Lisa. "Iya, kami mohon. Tolong sahabat kami. Kami tidak ingin terjadi hal - hal yang tidak diinginkan menimpa sahabat kami."
Ketiga pemuda itu kembali saling melempar pandang. Seolah tengah mendiskusikan sesuatu lewat tatapan mata mereka. Lisa dan Jiyoon berdoa semoga ketiga pemuda itu mau membantu mereka. Karena mereka tidak tahu lagi apa yang akan mereka lakukan kalau 3 pemuda di depan mereka itu menolak untuk menolong mereka.
"Kami mohon." ucap Jiyoon dan Lisa bersamaan sambil menyatukan kedua telapak tangan mereka didepan wajah mereka.
"Baiklah, akan kami bantu. Sekarang dimana sahabat kalian itu."
Lega
Itulah yang dirasakan Lisa dan Jiyoon sekarang ini. Walaupun belum sepenuhnya mereka merasa lega, tapi setidaknya mereka berhasil membawa bantuan untuk Haeun.
"Mari ikut kami," Jiyoon dan Lisa segara berjalan lebih dulu diikuti oleh ketiga pemuda itu yang terlebih dulu membereskan barang mereka.
__ADS_1
Kini ketiganya dalam perjalan menuju ke tempat Haeun dan Chaerin tadi. Tak butuh waktu lama, akhirnya kelima orang itu tiba juga di tempat ChaeEun.
"Chaerin, gimana kondisi Haeun?" Chaerin menoleh kearah Lisa yang baru saja bicara. Tapi wajahnya sempat terkejut melihat siapa yang ada dibelakang Lisa dan Jiyoon.
"Ku rasa kondisinya semakin memburuk, apalagi sepertinya dia sangat kedinginan."
Lisa dan Jiyoon menghela napas khawatir. Kini keduanya mendekat kearah Chaerin dan Haeun yang kini terbaring lemah di pangkuan Chaerin.
"Lalu, apa yang bisa kita bantu?" Lisa menoleh saat suara dari salah satu ketiga pemuda tadi terdengar di indera pendengarannya.
"Bisa kau gendong sahabat kami sampai di posko yang ada di perkemahan tadi?" Pemuda itu lalu mengangguk, tapi sebelum itu ia meminta selimut untuk membungkus badan Haeun yang semakin memgigil itu.
Lisa bergerak cepat kearah ransel Haeun, karena sebelum pergi, Haeun sempat memasukan selimut kedalam tasnya. Dan setelah dicari, akhirnya benda itu ketemu. Dan Lisa langsung memberikannya pada pemuda tadi.
Kini Haeun sudah ada dalam gendongan pemuda tadi. Lebih tepatnya Haeun di gendong di punggung oleh lelaki tadi. Kini ketujuh orang itu bersiap untuk turun.
Melihat Lisa yang kesulitan membawa ransel miliknya dan milik Haeun membuat salah satu dari kedua pemuda tadi segera menawarkan bantuan.
"Biar aku yang bawa tasnya, kau sepertinya kesulitan membawanya." Walau awalnya Lisa menolak halus, tapi pada akhirnya dirinya memberikan tas itu kepada pemuda tadi.
"Terimakasih banyak," ucapnya sambil membungkukkan badan. Kini keduanya berada di paling belakang karena tadi sempat berhenti untuk memindahkan tas yang tadinya ada di tangan Lisa kepada pemuda tadi.
Tapi sebuah ringisan didepan mereka membuat keduanya menoleh. "Jiyoon!" Seru Lisa karena melihat Jiyoon yang sempat jatuh karena jalanan yang mereka lewati cukup licin.
"Kau tidak apa - apa?" Tanya pemuda yang tadi sempat mengobrol dengan Lisa.
Jiyoon memaksakan untuk berdiri, "Aku tidak apa aakh.." Tapi belum sempat Jiyoon selesai bicara ia kembali jatuh terduduk karena merasakan kakinya yang sangat sakit.
"Kau pasti terluka, kau bisa berdiri?" Jiyoon masih mencoba berdiri tapi tubuhnya goyah karena tak kuat merasakan sakit pada kakinya. Untungnya pemuda tadi dengan sigap menopang tubuh Jiyoon agar bisa tetap tegak.
"Jangan dipaksakan, aku yakin kakimu terkilir. Mari ku bantu kau berjalan."
"Tidak usah, aku tidak apa a.."
"Sudahlah Jiyoon, lebih baik kau dibantu olehnya, aku yakin kau pasti kesulitan dan mereka sakit saat berjalan." Lisa menatap kearah kaki Jiyoon dengan cemas.
"Tapi Lis," belum sempat Jiyoon selesai bicara, ucapannya kembali dipotong. Tapi kali ini oleh pemuda yang sempat menolongnya itu.
"Benar kata temanmu itu. Mari ku bantu." Dengan perlahan pemuda itu membantu Jiyoon berjalan. Kini Lisa berada dibelakang mereka semua. Tas yang tadinya dipegang oleh pemuda itu kembali diambil oleh Lisa, karena Lisa merasa kalau pemuda itu akan kesulitan bila membawa 2 tas sambil membantu Jiyoon berjalan.
Hari semakin larut, ditambah dengan penerangan yang sangat minim membuat jarak pandang mata begitu terbatas. Kini Lisa memperhatikan tali sepatunya yang terlepas. Ia mencoba mengikatnya kembali. Dan membetulkan ikatan yang satunya lagi agar tidak mudah terlepas.
Tapi begitu mendongak kedepan, ia tidak lagi menemukan keberadaan keenam orang yang tadi berjalan bersamanya. Seketika dirinya panik membuat gangamannya pada kedua ransel yang dibawanya jatuh ke tanah. Dan ada beberapa barang milik Haeun yang jatuh berserakan karena retsleting ranselnya tidak tertutup sempurna.
Dirinya semakin dibuat bertambah panik saat merasakan udara dingin yang begitu terasa di kulitnya. Ia merasa kalau udara dingin ini berbeda dengan udara dingin yang sebelumnya. Membuat tumbuhnya merinding seketika.
..................
__ADS_1
Untuk Part ini. Tolong tinggalkan jejak👣 supaya aku tahu siapa kalian yang sudah membaca sampai sini😊. Terimakasih sudah berkunjung💞