
...Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini....
...°...
...°...
...Chapter 26. Pernikahan...
...____________________________...
...°Our Mate Lily°...
Hari yang dinantikan pun telah hadir. Kini keempat klan sudah berkumpul, namun seseorang yang mereka tunggu belum juga terlihat.
Banyaknya sosok immortal yang hadir membuat ruangan seluas inipun terasa sesak. Sebab dari keseluruhan klan, banyak sekali yang saling melempar tatapan intimidasi.
Ternyata menggabungkan empat klan yang berbeda dalam satu ruangan itu adalah sesuatu hal buruk. Buktinya sejak berada disini, keempatnya terlihat memberi tatapan permusuhan.
"Kami berempat mengumpulkan kalian disini, bukan untuk saling melempar tatapan seperti itu." Ucapan itu membuat aksi saling melempar tatapan tajam terhenti.
Dari klan werewolf tidak ada yang berani menginterupsi, karena yang berbicara tadi adalah tetua mereka. Sedangkan klan yang lain, tidak berani mengusik sebab tatapan tajam dari tetua mereka kearah mereka itu.
Sedangkan di sisi lain, seorang gadis telah di rias saat ini. Di samping kanan dan kirinya ada sosok ibu dari ketujuh pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Lisa. Sudah sejak tadi dia dirias sambil menanggapi ucapan dari sosok 'ibu - ibunya' itu. Dan Lisa hanya menjawab saat ditanya. Serta memilih diam saat tidak ditanyai.
"Kau sudah siap, sayang?" Ucapan itu berasal dari sosok tegas -Julia- yang mana merupakan ibu dari Robert dan Souga.
Lisa mengangguk disertai senyuman sebagai balasan dati pertanyaannya tadi. "Kalau begitu kita ke aula sekarang juga." Ajakan itu keluar dari mulut Hyorin, ibu dari Marx.
Lagi dan lagi Lisa hanya mengangguk. Kini kelima wanita beda usia itupun mulai melangkah menuju ke aula, dimana akan dilaksanakanya acara besar yang menyangkut keempat klan.
Kegugupan Lisa muncul seiring berkurangnya jarak dari posisinya tadi ke aula. Sungguh, Lisa tidak siap akan jawaban yang harus dia berikan itu.
Tapi, mau bagaimanapun juga. Dia harus siap akan segala konsekuensi dari pilihannya itu. Kehadiran kelima sosok dari lantai dua, mampu membuat semua yang berada di aula kini menatap kearah mereka.
Tatapan penasaran langsung tertuju pada Lisa yang posisinya diapit oleh Minnei dan Gwenelia, selaku ibu dari Jay, Ji Miné, Rym dan Jake.
__ADS_1
Aroma darah manusia mulai menguar diruangan ini. Bahkan mata dari makhluk klan vampir langsung terbuka lebar. Geraman tertahan terdengar jelas, sebab bersumber bukan hanya dari satu sosok, melainkan dari puluhan sosok yang hadir.
"Berhenti melalukan itu atau aku yang akan menghabisi kalian semua." Ucapan bernada tajam itu keluar dari sosok yang paling disegani oleh kaum vampir.
Siapa lagi kalau bukan Marxlino, pemimpin besar kaum vampir, sekaligus anak dari pimpinan klan terdahulu yaitu Marxcello. Serta ayah dari Marx Taelino.
Akhirnya keadaan kembali kondusif, tidak lagi terdengar suara geraman yang sempat memenuhi aula ini.
Lisa baru tiba di lantai aula. Bisa dia rasakan begitu banyak sorot mata yang kini berfokus padanya. Bahkan sangking banyaknya orang, Lisa tidak berani membalas tatapan mereka semua.
Apa lagi tatapan ketujuh pemuda yang menjadi matenya itu. Entah apa yang sedang mereka pikirkan tentangnya, Lisa tidak ingin tahu.
"Baiklah, berhubung semuanya sudah lengkap, maka kita segerakan saja." Intrupsi ini datang dari JeongHyun selaku tetua dari kaum penyihir.
Tatapan para tetua iklan tertuju pada ketujuh pemuda yang tak jauh dari mereka. Mengerti akan arti tatapan itu, ketujuh pemuda itu mulai mendekat kearah Lisa.
Sedangkan Lisa yang tidak tahu bagaimana jalan acara inipun, hanya diam di posisinya. Lagipula para 'ibunya' sudah berdiri di samping suami mereka masing - masing.
"Baiklah. Kalian semua tentu bertanya - tanya, kenapa kami berempat mengumpulkan kalian semua disini." Memang belum ada uang tahu, kenapa mereka semua disatukan disini.
Tatapan para tetua klan tertuju pada Lisa yang sejak tadi menundukkan kepalanya. "Lisa." Merasa di panggil, Lisa pun mendongak kearah depan. Ternyata Marxcello yang memanggil namanya.
Sebelum mengangguk, Lisa menghembuskan napas panjang. "Aku sudah siapa," jawabnya walaupun sedikit ragu.
Para tetua tersenyum kecil mendengar jawaban itu. "Baiklah, apa jawabanmu?" Lisa menoleh sejenak kearah ketujuh pemuda yang berada di samping kirinya.
Tak ada satupun dari mereka yang menatap kearah Lisa. Ets tunggu, mungkin sekarang ada yang menoleh ke arahnya. Lisa tersenyum tipis ketika pemuda yang dia tatap itu tersenyum kecil ke arahnya.
Pemuda itu adalah si Jay. Hanya dia yang kini menatap kearah Lisa. Tidak dengan yang lain. Lisa kembali menatap depan. Kegugupan kembali melingkupi dirinya. Semakin dia pikirkan, maka jawabannya akan semakin membuatnya bimbang.
Mengambil napas panjang dan mengeluarkannya secara pelan. Kini Lisa mulai menjawabnya. "Aku menerimanya." Dua kata itu membuat reaksi tetua menjadi lega. Begitupun yang dilakukan oleh para anak dan menantunya itu.
"Baiklah, keputusan sudah diambil. Besok, kita akan mengadakan pernikahan para penerus kami." Ucapan itu membuat semua yang ada disana mengernyit bingung.
Mengerti akan kebingungan mereka, membuat Victor akhirnya buka suara. "Kalian tentu tidak lupa akan ramalan itu, kan? Makanya sekarang ramalan itu terjadi. Para penerus kami hanya memilik satu mate. Dan Lisa lah mate para penerus kerajaan selanjutnya."
Mendengar hal itu membuat sebagian bersorak gembira. Tapi sebagiannya lagi sedikit tidak terima. "Aku tahu, sebagian dari kalian tidak terima. Tapi inilah yang terjadi. Maka dari itulah, akan ada kesepakatan antar keempat klan."
__ADS_1
Ucapan dari pemimpin klan vampir itupun, membungkam mulut para makhluk ingin mengajukan protes. "Acara pernikahan inti akan di gelar nanti malam. Dan untuk besok, acara resepsi akan diadakan di perbatasan."
Setelahnya, ruangan yang tadinya terasa sesak bagi Lisa. Kini hanya menyisakan keluarga inti saja. "Terimakasih anak mommy." Perkataan itu berasal dari mulut Gwenelia disusul oleh pelukan darinya pada calon menantunya itu.
Entah bagaimana perasaan Lisa saat ini, mungkin sedikit lega, cemas dan takut. Dan untuk kedepannya, Lisa tidak memiliki bayangan akan meneruskannya itu bagaimana. Biarlah semuanya mengalir begitu saja.
...☀❤☀❤☀❤☀❤☀❤...
Acara pernikahan sudah di persiapan. Para tamu undangan sudah mulai hadir di perbatasan. Perbatasan yang semula hanya berupa hutan. Kini sudah di sulap dengan begitu meriah. Banyak makanan dan makanan yang sudah di sediakan.
Bahkan simbol lingkaran sudah dibuat untuk acara pernikahan ini. Dan ditengah lingkaran itu akan di isi oleh Lisa sebagai calon mempelai wanita. Sedangkan nanti para calon mempelai pria akan berdiri mengelilingi calon istri mereka.
"Kalian bertujuh mulailah menempati posisi kalian masing - masing." ucap seorang yang biasanya menikahkan bangsa immortal.
Ketujuh pria itu mulai berjalan menuju ke posisi mereka masing - masing. Sedangkan Lisa sudah berada di posisinya. Tepat di tengah malam, acara pernikahan dimulai.
Ditambah lagi, bulan tengah memancarkan sinarnya tanpa malu sedikitpun. Acara pernikahan ini tentu saja berbeda dengan pernikahan pada umumnya di dunia manusia.
Sebab disini, para mempelai pria akan menghisap darah dari mempelai wanita. Begitupun sebaliknya, hanya saja efeknya akan berbeda dengan mempelai pria.
Rasa sakit akibat darahnya yang dihisap oleh ketujuh pemuda, membuat Lisa memejamkan matanya dan mengigit kuat bibirnya. Tubuhnya mendadak melemas, tapi hal ini belum berakhir.
Lisa masih harus meminum beberapa tetes darah yang sudah dicampur dengan ramuan itu. Entah bagaimana cara Lisa menjabarkan rasa yang baru ditelannya itu.
Setelah semua rangkaian acara pernikahan selesai, tubuh Lisa sudah terkulai lemas dan jatuh pingsan. Untung saja sebelum tubuhnya menyentuh lantai, ada sepasang tangan yang menangkap tubuhnya itu.
"Astaga, Lisa. Cepat kau bawa dia ke istana kita, Marx." Ini adalah suara Hyorin yang meminta putranya untuk membawa mantunya ke istana mereka.
Memang benar yang tadi menangkap tubuh Lisa adalah si Marx. Sebab memang posisinya yang ada di belakang Lisa. Sedangkan yang ada di depan Lisa adalah si Robert.
Dengan malas, Marx mulai mengangkat tubuh Lisa menuju ke istana para vampir. Acara tetap berlangsung, karena semuanya memaklumi kalau sampai terjadi hal seperti tadi.
Karena memang prosesnya agak menyakitkan. Satu mempelai saja, rasanya sudah seperti meruntuhkan tulang, bagaimana dengan tujuh mempelai. Bisa kalian bayangkan rasa sakit itu?
...****************...
...💞☀💖...
__ADS_1
...Terimakasih...