Bukan Salahku Menjadi Istri Kalian

Bukan Salahku Menjadi Istri Kalian
Chapter 6


__ADS_3

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini.


°


°


Chapter 6. Syarat


____________________________


Previous Chapter


Marco mengelus puncak kepala Lisa sambil tersenyum menatap Anne disampingnya.


"Oke, tapi dengan syarat." Ucapan itu membuat Lisa yang tadinya memeluk daddynya itu kini mulai melonggarkan pelukannya.


••Our Mate Lily••


"Syarat?" Tanya Lisa tak mengerti.


"Iya, syarat. Kalau kamu bisa memenuhinya daddy bakalan kasih izin buat kamu liburan bareng sahabat sahabatmu itu, gimana?"


Kini Lisa mulai duduk disamping Daddynya yang itu artinya posisinya ada di tengah tengah antara dad dan Mommynya itu.


Lisa mengangguk, "Syaratnya apa, dad?"


"Ehm," gumam Marco sambil meletakan jarinya di dagunya seolah berfikir.


"Jangan susah-susah ya, dad." Pinta Lisa membuat Anne tertawa pelan.


Marco menatap Lisa yang kini mulai menunjukkan puppy eyes miliknya. Marco mengumul senyumannya sebelum angkat bicara.


"Baiklah, ada 3 syarat." Ucapan itu tentu membuat Lisa kaget.


"Kenapa banyak sekali, dad." Protes Lisa.


"Mom, coba bujuk daddy supaya kasih syaratnya jangan yang susah-susah." Kini Lisa beralih menatap Mommynya itu.


"Jangan coba - coba merayu Mommy mu ya. Nanti daddy kasih syarat yang susah, kau mau?" Seketika Lisa menggeleng, menolak perkataan sang daddynya itu.


"Ya, sudah. Kau harus setuju  dengan syarat yang dad berikan." Lisa mengangguk dengan lemas, ia hanya berharap semoga saja syarat yang diajukan oleh daddynya itu bisa ia laksanakan.


"Syarat pertama, Kau harus cepat pulang." Mendengar syarat pertama membuat senyum Lisa terulas bahkan ia mengangguk kepala dengan begitu semangatnya.


Anne dan Marco tertawa kecil begitu melihat respon putri kecil mereka itu.


"Oke. Syarat kedua adalah..."

__ADS_1


Marco sengaja menggantungkan ucapannya agar membuat Lisa penasaran.


Dan ternyata terbukti, sekarang Lisa dibuat tak sabar mendengar syarat kedua dan ketiga dari daddynya itu.


"Apa daddy. Jangan buat Lisa makin penasaran." Pintanya sambil menggoyangkan lengan sang daddy.


"Baiklah, syarat kedua adalah kau jangan sampai terluka sedikit pun. Daddy tidak ingin putri daddy kesakitan diluar sana."


Lisa kembali mengangguk, ia bahkan memberikan senyum terbaiknya kearah daddynya itu.


"Baiklah, Lisa berusaha untuk tidak terluka." Lisa menyodorkan jari kelingkingnya kearah daddynya itu.


Marco yang melihatnya tentu langsung menautkan jari kelingkingnya dengan sang putri.


"Daddy pegang ucapanmu, ya."


"Jadi syarat yang ketiga apa?" Ucap Lisa begitu sudah melepaskan tautan jari mereka.


"Ehm, syarat yang ketiga adalah jangan menerima sesuatu ataupun berbicara dengan orang yang tidak kau kenal, kau bisa melakukan ketiga syarat itu?".


Walaupun merasa aneh di syarat ketiga, akhirnya Lisa mengiyakan saja dan menganggap syarat ketiga sebagai bentuk kalau daddynya itu tidak ingin ia dilukai oleh orang yang tidak dikenal.


"Oke, Lisa berusaha nglakuin 3 syarat tadi. Berarti Daddy dan Mommy memberikan izin pada Lisa, kan?" Katanya untuk memastikan.


Kedua orangtuanya itu menganggukkan kepalanya pertanda mengiyakan ucapan Lisa. Lisa bersorak gembira kemudian memeluk kedua orangtuanya erat.


"Terimakasih, daddy dan Mommy. Lisa senang sekali" ucapnya disela sela pelukannya itu.


OoOoOoOoOo


Kini Lisa tengah ada di kampus. Semalam ia sudah meminta 3 sahabat untuk bertemu. Dan hari ini Lisa kembali naik bus seperti kemarin.


Namun tidak seperti kemarin. Hari ini Lisa duduk ditemani oleh penumpang lain. Dari pakaiannya si orang disampingnya ini mungkin seperti dirinya, seorang mahasiswa.


Tapi Lisa ragu untuk menyapa atau mengobrol dengan pemuda disampingnya itu.


Yap, orang disamping Lisa memang seorang pemuda. Tapi terlihat dari gayanya ia nampak dingin. Lagi pula sepertinya pemuda ini juga tak berminat berbicara dengannya.


Lisa berusaha seramah mungkin, hitung hitung ia mencoba berinteraksi dengan orang lain, selain ketiga sahabatnya itu.


Karena bagaimanapun juga, ia sangat jarang mengobrol dengan teman seusianya.


"Maaf, masnya kuliah?" Tanyanya sambil menatap kearah pemuda itu.


Namun sang pemuda hanya memfokuskan pandangannya kearah depan bahkan mengabaikan pertanyaan dari Lisa.


Lisa yang merasa kalau orang disampingnya ini tidak akan menjawab pertanyaannya. Makanya ia kembali menatap kearah depan dan sesekali menatap kearah jendela.

__ADS_1


Entah kenapa perjalanan menuju ke kampus kali ini terasa begitu lama bagi Lisa. Bukan karena bus yang berjalan lambat atau kemacetan yang terjadi.


Tapi entahlah, Lisa hanya merasa suasananya agak berbeda dengan hari kemarin. Atau jangan jangan ia salah naik bus? Tapi ia rasa bus yang ditumpanginya itu akan tetep berjalan melewati depan kampusnya.


Jadi apa penyebabnya?


Ia sekilas menatap kearah pemuda disampingnya itu. Merasa diperhatikan, si pemuda tadi menoleh kearah Lisa membuat Lisa terkejut karena kelakuannya disadari oleh pemuda tadi.


Ia tidak berani menatap kesampingnya. Ia hanya menunduk mencoba terlihat biasa saja walaupun sekarang ia merasa agak gugup.


Ia sadar kalau pemuda di sampingnya itu menatap lurus ke arahnya. Tapi ia sama sekali tidak berani membalas tatapan itu.


Dan akhirnya bus yang ditumpangi oleh Lisa telah berada didepan halte yang berada tepat sebelah kiri pintu gerbang kampusnya itu.


Ia berniat turun, tapi harus terhalang oleh pemuda yang ada disamping itu. Bagaimanapun pemuda itu menghalangi langkahnya saat akan keluar.


Ingatkan, posisi Lisa itu disamping jendela. Jadi kalau mau keluar harus melewati bangku disampingnya. Karena kemarin ia duduk sendirian, dia tidak perlu permisi.


Tapi beda dengan hari ini, disampingnya sudah ada yang menempati. Dan sepertinya pemuda itu tidak berniat beranjak dari tempat duduknya.


Lisa menghela nafas pelan. Ia sendiripun bingung harus bagaimana. Apalagi seruan dari kondektur bus membuat Lisa makin panik.


Sang kondektur sudah mengaba-aba untuk menutup pintu karena ia merasa sudah tidak ada lagi yang turun di halte ini.


"Tunggu sebentar, pak." Lisa berseru agar sang kondektur jangan melajukan busnya karena ia belum turun.


"Permisi mas, saya mau lewat" pintanya membuat sang pemuda kembali menatap kearahnya. Tatapan mata keduanya bertemu. Baik Lisa maupun pemuda itu terdiam dalam beberapa detik.


Lisa segara mengalihkan pandangannya kearah lain, kemudian ia mulai melewati pemuda tadi karena ia bisa melihat pemuda tadi mulai bergeser membuat Lisa bisa lewat.


"Terimakasih, mas." Ucapnya sambil berlalu dari hadapan pemuda itu.


Kini ia tiba didepan sang kondektur. Ia sejenak meminta maaf karen telah membuat sang kondektur menunggu lama. Kemudian mengucap terimakasih sesudah membayar ongkos busnya itu.


Setelah memberikan senyuman manisnya, ia melangkah turun dari bus tersebut dan mulai berjalan menuju ke kampusnya itu.


Pipinya sedikit merona saat mengingat kejadian di bus tadi. Apalagi saat dirinya tidak sengaja bertatapan dengan pemuda tadi.


Tak ingin memikirkannya, Lisa lantas melangkahkan kakinya menuju kelasnya itu.


Sedangkan sang pemuda tadi tersenyum tipis kemudian mulai menghilang tanpa disadari oleh orang lain. Atau mungkin sejak tadi tidak ada yang menyadari kehadirannya kecuali Lisa saja.


Who knows?


OoOoOoOoOo


Mulai bertemu dengan pasangannya. Kira kira siapa pemuda itu, ya?

__ADS_1


Untuk hari ini. Tolong tinggalkan jejak👣 supaya aku tahu siapa kalian yang sudah membaca ini😊.


See You Later😍


__ADS_2