
Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini.
°
°
Chapter 20. We Are ...
____________________________
Previous Chapter
Kali ini kedua orang tadi saling pandang sebelum menjawab pertanyaan dari Lisa tadi. Entah apa yang tengah mereka telepatikan yang pasti Lisa tidak bisa menebaknya.
"Kami ini adalah ..."
_________________________
"Kau bisa memanggilku Robert dan ini adikku Souga." ucap seseorang yang mengenalkan diri bernama Robert itu.
Lisa mengangguk mengerti. Dirinya masih menatap kedua pemuda yang terlihat tampan. Tapi bukan itu yang menjadi fokus Lisa.
Lisa hanya merasa sebelumya sudah pernah bertemu dengan salah satu dari mereka. Tapi dimana dia bertemu dengannya. Sejak tadi dirinya terlalu larut dalam lamunannya hingga tidak menyadari sosok yang tadi memperkenalkan diri padanya menatapnya intens.
"Jadi apa jawabanmu." Perkataan itu menyentak Lisa dari lamunannya. Dengan kikuk Lisa kembali bertanya.
"Pertanyaan yang mana, ya?" Tanya Lisa sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal itu.
"Tadi malam kenapa kau bisa ada di hutan." Perkataan itu bersumber dari mulut orang yang dipanggilnya Souga itu.
Lisa menatap sekilas kearah Souga sebelum menjelaskan peristiwa yang semalam dia alami itu.
Setelah semua Lisa jelaskan, kedua pemuda tadi mengangguk mengerti. "Baiklah, kami akan mengantarmu sampai ke perkemahan. Bersihkan dirimu dan kami akan menunggumu disini."
Mendengar ucapan itu membuat Lisa tersenyum bahagia. "Akhirnya ada orang baik yang mau menolongnya." Batin Lisa dengan bahagia.
"Baiklah, aku akan segera bersiap." Setelah diijinkan pergi, Lisa langsung bergegas menuju kamar yang semalam ia tempati itu. Dirinya sungguh senang bisa kembali bertemu dengan teman - temannya itu.
Sedangkan di ruang makan, 2 pemuda tadi masih diam diposisinya. Keduanya larut dalam lamunan mereka masing masing. Hingga salah satu panglima di mansion mereka itu berjalan tergesa gesa menghampiri kedua tuannya itu.
"Maaf, tuan muda." ucap panglima tadi sambil menundukkan kepalanya.
"Ada apa?" Tanya Robert dengan nada datar. Sejujurnya ia merasa akan ada sesuatu yang terjadi. Namun dirinya masih mencoba menelisik sesuatu seperti apa yang akan terjadi di sekitarnya itu.
"Terjadi keributan di perbatasan, tuan. Salah satu prince dari kaum Vampire berbuat ulah disana."
"Apa kau bilang?" Nada bicara Robert mulai terdengar dingin. Sedangkan Souga tak berkomentar apapun juga. Dirinya hanya diam sambil memasang telinganya baik baik.
__ADS_1
"Maaf, tuan muda. Para penjaga perbatasan juga kualahan mengatasi keributan yang terjadi karena kekuatan mereka tidak sepadan dengan Prince tadi."
Robert mengeram marah mengetahui adanya pemberontak yang hendak merusuh di kawasaanya itu. Dirinya tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Baiklah, kita hadapi pemberontak kecil itu." ucap Robert sambil menampilkan smirk andalannya itu.
Tanpa banyak kata, Souga mengikuti langkah kakaknya itu. Bahkan belum juga mereka bertiga sampai di pintu utama. Kedatangan sosok yang tak diundang membuat pergerakan Robert terhenti begitupun dengan Souga dan panglima tadi.
Prok prok prok
Suara tepuk tangan menggema di penjuru ruangan pintu utama.
"Wah wah wah. Senang sekali bisa bertemu dengan anak alpha Derren." Ucap sosok yang tadi bertepuk tangan itu.
"Bukan hanya satu, tapi keduanya sekaligus." Lanjutnya disertai senyum kotak miliknya itu.
Melihat kedatangan tamu tak diundang membuat Robert mengeram marah terlebih tamu itu adalah dari bangsa Vampire bukan sebangsanya.
Melihat raut wajah dari putra sulung alpha Darren membuat senyum di bibir orang tadi semakin melebar. "Apa maumu sebenarnya, Marx?" Robert mulai mengeluarkan suaranya menuntut jawaban dari yang ditanya itu.
"Wow, tenangkan dirimu sobat. Kau seharusnya tidak marah - marah begitu. Terlebih lagi sebentar lagi kita akan menjadi saudara." Senyum devil di bibir orang yang di panggil Tae itu tak kunjung pudar.
Hal itu tentu membuat darah Robert semakin mendidih dibuatnya. Apalagi mendengar kata saudara, membuat wajah Robert semakin memerah.
"Ingat pada batasanmu, Marx Taelino!" ujar Robert penuh penekanan. Dirinya tidak suka dengan keberadaan prince dari bangsa Vampire itu.
"Aku tahu itu, Robert Jin!" Balas Marx yang sama halnya dengan Robert.
Souga tak berniat ikut campur dengan masalah pribadi yang sempat tercipta diantara 2 orang itu. Dirinya hanya bersikap tenang. Namun jangan kira dirinya bisa lengah dengan begitu mudah. Karena walaupun dirinya terlihat tidak peduli tapi sebenarnya dia tengah menganalisa ada maksud apa Tae kemari.
Pandangan tajam milik Robert tak pernah terlepas dari sosok di depannya itu yang kini menatap dingin ke arahnya itu.
Menyadari kalau hal ini tidak akan berakhir dengan mudah, melihat dari gelagat keduanya yang masih saling pandangan dengan tatapan tajam dan dingin mereka, membuat Souga akhirnya buka suara "Jadi apa tujuanmu datang kemari?".
Kali ini Marx yang mengalihkan pandangan lebih dulu. Dia menatap kearah adik dari Robert yang tak lain adalah Souga.
"Cukup sederhana, hanya ingin menuntut balas atas kematian 5 pelayanku."
Hal itu membuat ekspresi Robert dan Souga tak mudah dibaca begitu. "Jadi kelima Vampire lemah itu pelayanmu." Ujar Robert di selingi dengan kekehan, seketika membuat rahang Marx mengeras tanpa aba aba.
"Apa kau bilang?!" Ucap Marx penuh penekanan.
Kali ini seringaian milik Robert kembali tercipta. "Ku rasa kau tidak tuli." Ucapnya sambil menaikkan keduanya alisnya seolah menantang Tae yang kini sudah mengeram marah.
"Kalian berdua telah membunuh pelayananku. Dengan begitu aku bisa menghabisimu sebagai balasan atas tindakanmu itu."
Kali ini kedua kubu itu mulai bersiap. Sebab kalian semuda tidak akan tahu sebagaimana mengerikannya pertarungan ini.
__ADS_1
Belum sempat keduanya bertarung, aroma manis yang terasa tidak asing itu tercium oleh ketiganya. Membuat mereka reflek memejamkan mata mereka seolah menikmati wangi yang entah bersumber dari mana.
Selama 5 detik ketiganya masih dalam posisi yang sama, hingga sebuah suara menghentikan kegiatan mereka itu. Membuat ketiganya membuka mata hampir bersamaan dan menoleh ke sumber suara.
Suara itu berasal dari sosok gadis yang nantinya akan diantar pulang oleh kakak beradik atau putra dari alpha Darren itu. Menyadari ketiga pemuda itu menatap ke arahnya membuat si gadis tadi tersenyum kikuk. Dirinya merasa telah menganggu moment ketiga pemuda tadi.
Jika kalian bertanya dimana sang panglima tadi, jawabannya adalah dia sudah pergi karena tadi Robert sudah memintanya untuk membereskan kekacauan yang ada.
"A..apa aku menganggu kalian?" Pertanyaan itu tak membuat ketiganya mengalihkan pandangan mereka terhadap Lisa, sang gadis tadi.
"Sepertinya aku memang mengganggu mereka." Rutuk Lisa dalam hati. Saat ini dirinya bingung harus bagaimana, ditambah dengan tatapan yang mengarah padanya itu membuat jantung Lisa berdetak semakin kencang.
Prok Prok Prok
Kembali suara tepuk tangan membuat tatapan mereka mengarah pada sumber suara yang tak lain ada pada si Marx tadi.
"Wah, aku sungguh terkejut melihat ini. Sungguh aku tidak percaya kalian yang waktu itu menolak mentah - mentah tentang perjanjian itu. Tapi apa? Berniat menjilat ludah kalian sendiri, huh." Sindir Marx sambil tersenyum sinis.
Robert yang mendengar nada hinaan itu mengeram tak terima. Dia sendiri saja baru sadar kalau apa yang ia selamatkan adalah sesuatu yang Ia paling benci saat ini.
"Jaga ucapanmu! Dan aku peringatkan, kau jangan melewati batasanmu atau kalau tidak seluruh bangsamu yang akan menerima konsekuensi dari perbuatanmu itu. Camkan itu?!"
Marx yang mendengarnya hanya mendengus. "Harusnya itu kau ucapkan pada dirimu sendiri, Robert."
Souga yang melihat kakaknya mulai tersulut emosi segera menahan langkah sang kakak. "Kendalikan dirimu. Disini masih ada manusia, setidaknya jangan lakukan hal yang ingin kau lakukan, karena itu sama saja kau melangar kesepakatan yang sudah dibuat."
"Tapi aku tidak pernah menyetujui kesepakatan itu!!" Geram Robert yang membuat matanya mulai berubah warna.
Melihat perubahan itu membuat Souga semakin menahan gerakan sang kakak. Jika dia tidak menahannya, bisa dipastikan bukan hanya sang kakak yang mendapat hukuman tapi semua bangsa werewolf akan terkena imbasnya.
"Pikirkan bangsa kita. Jangan gegabah, bisa saja kau ada dikalahkan dengan mudah, kak." Nasihat Souga yang sepertinya berhasil menurunkan kadar kemarahan kakaknya itu.
"Sebaiknya kau pergi dari sini, sebelum semuanya menjadi tidak terkendali." Peringatan dari Souga sama sekali tak membuat Marx takut. Tapi karena,Marx sadar akan situasi yang tidak menguntungkan buatnya membuatnya perlahan mundur.
"Baiklah, sepertinya sudah cukup untuk hari ini. Tapi jangan kalian pikir urusan kita berhenti. Karena aku akan datang untuk membalas apa yang telah kalian perbuat."
Sebelum berlalu pergi, Marx sempat melirik pada satu - satunya gadis diantara keempat orang disana termasuk dirinya itu. Satu senyum sinis ia arahkan pada Lisa yang masih mencoba memahami situasi yang sedang terjadi.
Tapi tadi dirinya sempat melihat senyum sinis yang dilayangkan oleh pemuda yang baru saja keluar dari mansion ini. Bahkan dirinya saja tidak tahu siapa pemuda itu, tapi kenapa dia diberi senyuman seperti itu.
Entahlah, Lisa lelah memikirkannya.
Kini tatapannya terarah pada 2 pemuda yang berniat mengantarkannya pulang itu.,
...°Our Mate Lily°...
...Terimakasih Sudah Berkunjung😍...
__ADS_1