
...Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini....
...°...
...°...
...Chapter 22. Bukan Orangtua Kandungnya...
...____________________________...
Previous Chapter
"Harusnya kita bunuh saja anak itu sejak dulu. Sama seperti kita yang membunuh kedua orangtua anak itu. Dengan begitu kita kan tidak perlu repot mengurusnya selama ini."
Seperti ada pukulan telak yang menghantam kepala dan hati Lisa secara bersamaan begitu mendengar perkataan kedua orang yang sudah ia anggap sebagai orangtua kandungnya itu.
...🍁💞🍁...
Apa yang didengarnya itu, tentu membuat Lisa sangat terkejut. Bahkan dirinya tidak menyangka kalau orang yang selama ini dianggapnya sebagai orangtuanya, ternyata bukan dan fakta lain yang lebih mengejutkannya adalah orangtuanya sudah terbunuh sejak lama.
Betapa bodohnya dia sampai tidak tahu akan hal itu dan baru tahu hari ini. Jika saja dia tidak mendengar percakapan tadi, bisa dipastikan dia tidak akan tahu hal ini sama sekali.
Tubuh Lisa menegang begitu tak sengaja bertatapan dengan mata 'mommynya' itu. Sang 'Mommynya' juga terlihat terkejut begitu melihat kehadirannya. Dan mungkin juga dia sudah menebak, kalau Lisa itu mendengar apa yang barusan dia ucapankan. Dan itu artinya..
"Lisa, kau sudah pulang." Ucap Anne yang tak dijawab oleh Lisa. Dan Lisa perlahan memundurkan langkah kakinya begitu menyadari pergerakan dari kedua 'orangtuanya ' itu.
"Lisa kau mau kemana?" tanya Anne kepada Lisa yang semakin berjalan mundur menjauhinya dan suaminya itu.
Melihat Lisa yang berlari menjauh membuat Anne dan Marco segera mengajar Lisa. Sebab mereka berdua tahu kalau Lisa pasti mendengar apa yang mereka ucapkan tadi.
Tapi ada yang mengganjal di pikiran mereka. Kenapa mereka berdua tidak menyadari kalau Lisa ada disekitar mereka. Padahal sebelum - sebelumnya mereka bahkan bisa tahu Lisa ada dimana. Tapi kini, jarak sedekat ini saja mereka sampai tidak tahu.
"Sepertinya ada yang aneh disini." Batin keduanya sambil mengejar langkah Lisa yang kini mengarah ke pintu utama.
"Lisa tunggu, Mommy." ucap Anne yang tidak dipedulikan oleh Lisa. Yang sekarang dipikirkan oleh Lisa hanya satu, yaitu dia harus cepat cepat keluar dari rumah ini. Kalau tidak dia sendiri tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepadanya.
Srett
Tangan Lisa berhasil dicekal oleh Marco yang kini berada dibelakang Lisa. "Mau kemana kau, Lisa?" ucap Marco dengan nada berat yang membuat Lisa merinding mendengarnya.
Lisa masih berusaha untuk melepaskan tangannya yang kini masih di cekal oleh orang yang rupanya mirip sekali dengan orangtuanya.
"Lepaskan aku!" Seru Lisa sambil berusaha melepaskan sekalian tadi. Tapi semakin dia berusaha untuk melepaskan, maka semakin kuat cengkeraman itu di tangan Lisa.
"Mau pergi kemana kau ini, huh?" Suara itu berasal dari sosok cantik yang selama ini menemani Lisa. Tapi entah kenapa melihat wajah itu membuat Lisa ingin sekali menangis.
"Siapa kalian sebenarnya?!" Teriak Lisa yang kini tak bisa menyembunyikan amarah setelah mengetahui fakta tadi.
"Kami ini orangtuamu, Lis. Masa kau lupa dengan kami." Mendengar perkataan itu tentu saja membuat Lisa tidak bisa percaya begitu saja.
Ditambah lagi senyum miring yang di berikan oleh 'Mommynya' padanya itu.
"Kalian berdua bohong. Kalian bukan orangtuaku. Tapi kalian yang membunuh orangtuaku!" Teriak Lisa meluapkan rasa sakit dan amarahnya itu.
Dadanya begitu sesak saat tahu kalau sudah lama orangtuanya pergi meninggalkannya sendiri didunia ini. Tapi kenapa kedua orang di depannya ini memiliki wajah yang sangat mirip dengan orangtuanya.
__ADS_1
"Ooh, jadi kau sudah dengar semua pembicaraan kami. Baguslah, dengan begitu aku tidak perlu lagi berpura pura menjadi mommy mu itu." Entah siapa yang ada di depannya itu, yang pasti dia bukanlah Anne ibu kandung Lisa.
Lisa masih berusaha untuk melepaskan cengkeraman itu. Dia bahkan berusaha sekeras mungkin untuk melepaskan cengkeraman di tangannya itu tanpa memikirkan darah yang mulai merembes keluar dari kulitnya itu.
Mencium bau darah membuat mata kedua orang didepan Lisa sekitar berubah menjadi merah. Hal itu tentu saja membuat Lisa terkejut bukan main.
Tubuhnya kembali merinding dan ingatan tentang vampir yang kemarin malam dia temui kembali berputar di pikiran Lisa.
Baru saja sosok 'Anne' ingin menyerang Lisa, tapi dihentikan oleh sosok 'Marco'. Tampak sosok Anne tadi mengeram marah.
"Kau tidak ingat perintah tuan. Kalau sampai dia tahu kita mengambil darahnya atau bahkan menghabisinya sekarang juga. Detik ini juga kita berdua akan dikirimi langsung ke dalam api keabadian." Tegas Marco yang membuat Anne mendengus kesal.
Tatapannya sekarang beralih pada Lisa yang masih terpaku di ditempatnya itu. Senyum sinis kembali muncul di bibir sosok Anne tadi.
Lisa yang tersadar dari rasa terkejutnya itu langsung berusaha untuk melarikan diri dari rumah ini.
Tapi belum juga tiga langkah dari tempat semula, rambutnya sudah lebih dulu di tarik kebelakang oleh sosok Anne tadi. Lisa meringis pelan begitu merasakan sakit pada kepalanya itu.
"Argh, lepaskan aku." Ringis Lisa sambil berusaha memegangi rambutnya yang masih ditarik oleh sosok Anne tadi.
"Melepaskanmu? Kau bercanda, huh. Susah payah aku merawatmu. Dan sekarang kau ingin kabur dariku. Tidak akan bisa!" Senyum miring itu masih tercipta di bibir Anne itu.
"Sebenarnya apa mau kalian?" Mendengar pertanyaan itu membuat keduanya tertawa. Dan sosok Anne semakin mengeratkan genggamannya pada rambut Lisa yang membuat si empunya meringis kesakitan.
"Le..pas..kan ram..butku.." ucap Lisa terbata bata.
Sosok Anne tadi kini mulai mendekatkan mulutnya kearah telinga Lisa dan mulai membisiki sesuatu. "Kau tidak akan bisa kabur dariku. Jadi sebaiknya jadilah anak baik sebelum kau kuserahkan pada tuanku."
Lisa masih memegangi kepalanya. "Memangnya siapa tuanmu. Dan kenapa keluargaku juga harus ikut terseret."
"Kau tidak perlu tahu. Memangnya kalau kau tahu, apa yang akan kau lakukan?" Lisa terdiam, dia juga sebenarnya juga tidak tahu akan melakukan apa pada sosok tuan yang sedang dibicarakan itu.
Dengan kasar Anne menghempaskan tubuh Lisa ke lantai begitu saja. Lisa tentu saja meringis pelan saat tubuhnya bertubrukan langsung dengan dinginnya lantai.
Tapi penderitaan Lisa belum cukup sampai disitu. Bisa Lisa rasakan kuku tajam mulai menekan permukaan kulit lehernya itu. Belum lagi pernapasannya yang rasanya seperti ditarik paksa dari paru parunya, membuat napas Lisa tersengal.
Sepertinya sosok Anne ini belum puas dengan menjambak rambut Lisa. Kini dia menambah lagi dengan mencekik leher Lisa. Belum lagi kuku kuku tajam yang perlahan mulai menggores kulit leher Lisa.
Hal itu tentu membuat darah Lisa kembali merembes keluar. Tapi kali ini di tempat yang berbeda.
Belum sempat terlalu jauh aksi sadis itu. Kedatangan 2 sosok yang muncul dari balik pintu utama membuat eksistensi kedua orang disana teralihkan.
"Lepaskan dia!" Suara dingin itu berasal dari salah satu dari kedua orang yang kini menatap tajam kearah Marco dan Anne.
"Wah wah wah, ternyata kita kedatangan tamu tak diundang rupanya." Ujar Marco yang dibalas anggukan oleh Anne.
"Selamat datang prince's devils." Balas Anne yang kini mulai melepaskan tanganya di leher Lisa.
Leher Lisa yang sudah terlepas dari cengkeraman Anne. Lisa berusaha mengambil pasokan udara sebanyak mungkin untuk mengisi paru parunya agar pernapasannya kembali normal.
"Sebaiknya kalian berdua enyah dari sini. Sebelum kami berdua melakukan hal yang tidak pernah terpikirkan oleh kalian berdua." Salah satu dari kedua sosok tadi mulai membuka suaranya.
Hal itu tentu disambut tawa sinis dari Marco dan Anne. "Memangnya apa yang bisa kalian lakukan pada kami, huh? Kalian itu hanya anak kecil dimata kami." Ejek Marco yang membuat salah satu dari kedua orang tadi mengeram marah.
Dia merasa tidak terima dibilang anak kecil oleh Marco. "Beraninya kau bicara seperti itu padaku." Nada tajam disertai penekanan itu keluar dari mulut sosok yang biasa dipanggil Jake itu.
__ADS_1
"Memang kenyataannya kau hanya anak kecil. Jadi aku benar, kan?" Senyum remeh dilontarkan oleh Marco kepada kedua orang tadi tapi terlebih lagi pada sosok Jeka itu.
"Sia*an, aku akan membunuhmu!" Tanpa aba aba sosok Jake tadi langsung menyerang Marco yang membuat Marco terdorong cukup jauh dari posisinya semula.
Moment itu dimanfaatkan oleh sosok yang satunya lagi untuk menolong Lisa yang sekarang nampak sangat ketakutan melihat pertarungan yang hampir sama dengan kejadian kemarin malam.
"Kau tidak apa - apa?" Pertanyaan itu menyentak Lisa dari pikirannya dan kini dia menatap kearah samping kanannya untuk melihat siapa yang tengah berbicara padanya itu.
"Kau siapa?" Terdengar jelas nada ketakutan dari mulut Lisa yang kini berusaha beringsut menjauh dari orang di depannya itu.
Lisa melakukan hal itu karena takut orang yang ada di depannya itu juga berniat mencelakainya. Jadi dia berusaha menjauh dari sosok tadi. Melihat tingkah Lisa membuat orang tadi menaikkan sudut bibirnya dan terlihat 2 buah lesung pipi di wajah pemuda itu.
Lisa akui orang yang ada di depannya itu sangat manis saat tersenyum. Tapi hal itu tidak mengendurkan kewaspadaan Lisa terhadap sosok di depannya itu.
"Perkenalannya kita lanjut lagi nanti. Sekarang aku harus membantu adikku dulu." ucap orang itu sambil tersenyum manis kearah Lisa. Tapi tak lama dia pergi untuk membantu Jake yang sepertinya agak kesulitan melawan Marco dan Anne sekaligus.
Pertarungan ini sangat tidak seimbang, lantaran lawan dari Marco dan Anne bukan tandingan mereka. Jadi bisa dipastikan mereka berdua kalah telak dari 2 sosok tadi.
Akhirnya pertarungan ini dimenangkan oleh Jake dan kakaknya. Sedangkan sosok Marco dan Anne sudah menjadi abu akibat serangan dari kedua kakak beradik itu.
Kini keduanya menghampiri Lisa yang sejak tadi tidak ingin melihat pertarungan yang ada didepan matanya. Itu bisa saja membuat Lisa merasa trauma bila harus melihat dan mengingatnya.
"Kau sudah aman. Mari ikut kami. Kami akan membawamu ke tempat yang aman agar tidak diganggu lagi seperti tadi." Ucap sosok yang memiliki lesung pipi di pipinya itu.
Lisa masih saja menatap keduanya dengan sorot wajah ketakutan yang sangat terlihat. Dia masih takut kalau kedua orang ini sama halnya dengan Marco dan Anne.
Dia hanya tidak mau percaya begitu saja dengan orang yang baru saja ia kenal. Walaupun faktanya dia baru saja ditolong oleh kedua pemuda itu. Tapi tetap saja masih ada rasa khawatir di hatinya.
Belum juga menjawabnya, tubuhnya langsung limbung karena ia merasa lehernya terbentur agak keras. Dan seketika dia pingsan. Untung saja pemuda berlesung pipi itu dengan sigap menangkap tubuh Lisa yang hampir menyentuh lantai.
"Kau apa apaan sih, Jake." Tekan kakaknya itu begitu melihat aksi adiknya itu yang menekan titik sadar ditubuh Lisa.
Dengan senyum ringan si Jake menatap kearah kakaknya itu. "Habisnya dia lama, tinggal ikut saja apa susahnya sih. Makanya jangan salahkan aku kalau aku membuatnya pingsan." Ucap Jake ringan seolah tak terjadi apa apa membuat Rym menghela napasnya.
"Lain kali jangan begitu. Kau bisa menyakitinya. Sekarang kita pulang ke kediaman utama." ucap Rym sambil membawa Lisa dalam gendonganya.
Kini keduanya melesat dengan cepat menuju ke kediaman utama. Tepat beberapa detik setelah mereka pergi, 2 sosok yang kemarin malam menolong Lisa muncul dari balik pintu utama.
"Sepertinya baru saja terjadi keributan." hcap Souga sambil menatap ruangan yang sangat berantakan itu.
Dan arah tatapannya tertuju pada 2 gundukan abu yang tak jauh dari posisinya saat ini. "Sepertinya dia sudah dibawa pergi." Souga kembali membuka suaranya yang dibalas dingin oleh Robert.
"Baguslah, kalau perlu biar dia pergi untuk selamanya." Ucapan tajam itu keluar dari mulut Robert yang kini mulai keluar dari rumah ini. Melihat hal itu membuat Souga menghela napas panjang. Pada akhirnya dia mengikuti jejak kakaknya itu menuju ke rumah mereka sendiri.
.
.
.
.
...°Our Mate Lily°...
...Terimakasih Sudah Berkunjung kemari💞😇💞...
__ADS_1