Bukan Salahku Menjadi Istri Kalian

Bukan Salahku Menjadi Istri Kalian
Chapter 8


__ADS_3

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini.


°


°


Chapter 8. Gang Sepi


____________________________


Previous Chapter


Ketiganya mengedarkan pandangannya dan benar saja sebagian besar para pengunjung menatap kearah mereka aneh. Ketiganya tersenyum malu membuat Lisa tertawa begitu melihat wajah para sahabatnya itu.


•Our Mate Lily•


"Kau tidak sedang membohongi kami, kan?" Jiyoon sepertinya masih belum terlalu percaya dengan apa yang barusan diucapkan oleh Lisa.


Yang ia tahu, orang tua Lisa sangat menyayangi Lisa makanya kadang bersikap overprotective pada Lisa. Bahkan untuk berangkat dan pulang sekolah saja masih diantar jemput.


"Ehm." Lisa mengangguk sambil bergumam semangat.


Chaerin dan Haeun berseru senang. "Akhirnya kita bisa liburan bersama. Aku masih tidak menyangka kalau kamu diizinin liburan bareng kita."


"Jangankan kalian, aku saja masih tidak menyangka. Akhirnya kita bisa liburan bareng." Keempat gadis itu tersenyum bahagia.


Karena rencana liburan mereka tahun ini bisa terlaksana. Haeun yang tidak sabar langsung bertanya perihal kapan liburan akan diadakan.


"Jadi kapan kita berangkat?"


Semua menatap kearah Haeun, kemudian mereka berdiam diri sebentar sambil memikirkan tanggal berapa mereka berangkat.


"Bagaimana kalau sehari setelah ujian tengah semester usai?" Chaerin memberi usulan.


"Ide bagus, sepertinya juga para Prince liburan di hari itu juga." Jadi ketiganya menyetujui hari dan tanggal yang diusulkan oleh Chaerin tadi.


"Berarti fix ya, sehari setelah ujian selesai." Keempatnya mengangguk setuju. Dan terlihat raut kebahagiaan di wajah keempat gadis itu.


🍁O.M.L🍁


Lisa kini tengah berada tak jauh dari restoran tempat berkumpul dengan para sahabatnya tadi. Saat tengah mengobrol Haeun ditelpon oleh papanya karena katanya ada urusan keluarga. Dan menyuruh Haeun untuk ikut serta.

__ADS_1


Tadi juga Jiyoon sempat menawarkan tumpangan, tapi Lisa menolak halus karena ia ingin membeli sesuatu untuk kedua orangtuanya dirumah. Makanya sekarang tinggal ia sendiri disini karena Chaerin tadi ikut bersama Jiyoon karena rumah mereka searah.


Lisa memang tidak tahu mengenai jam pemberhentian bus. Tapi seingatnya jam segini masih ada bus yang lewat. Tapi kenapa sejak tadi tak ada satupun bus yang lewat.


Atau jangan jangan bus terakhir sudah lewat dari tadi. Makanya sudah sekian puluh menit Lisa menunggu tak kunjung ada satupun bus yang lewat.


Apalagi langit mulai berubah warna menjadi kuning kemerahan. Menandakan langit sore mulai tergantikan oleh pekatnya malam.


Karena tak kunjung tiba, Lisa memutuskan untuk berjalan kaki menuju ke rumahnya. Lagipula ia rasa jarak ke rumahnya tidak begitu jauh dari posisinya saat ini, mungkin?.


Ada sedikit keraguan didalam hati Lisa. Bagaimanapun ia belum pernah lewat jalan lain selain jalan menuju kampus ataupun rumahnya.


Itupun ia selalu diantar. Ia sedikit merutuki kenapa saat ia diantar dirinya tidak memperhatikan jalanan. Ia merasa buta arah karenanya.


Beberapa kali ia menatap kearah ponsel dalam genggamannya, takutnya ia salah jalan. Apalagi jika di google maps, jarak terdekat menuju rumahnya adalah lewat gang gang kecil disekitar gedung gedung tinggi.


Jadi sebisa mungkin ia mempercepat langkahnya tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya. Apalagi rute yang dilewatinya sangat jarang dilewati oleh orang orang.


Tapi tak lama,


Brukk


Lisa menabrak sesuatu atau lebih tepatnya seseorang karena tak begitu memperhatikan jalanan di depannya itu.


"Hei lihat. Ada gadis manis rupanya." Ucapan itu membuat Lisa sedikit mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang baru saja bersuara.


Lisa menemukan ada 3 orang pria yang dari penampilannya terlihat seperti seorang preman. Mereka nampak menyeringai kearahnya. Apalagi pria yang ada di hadapannya itu.


Lisa yakin orang yang tadi bersuara adalah orang yang ada di depannya sekaligus orang yang tak sengaja ia tabrak.


"Ma..afkan saya. Sa..ya ti..dak sen..gaja, sung..guh." Lisa begitu gugup sampai sampai suaranya terdengar terbata bata.


Bukannya menanggapi, pria tadi malah tertawa diikuti oleh 2 temannya itu.


Lisa mundur selangkah begitu menyadari kalau pria didapannya itu hampir menggenggam tangannya.


Melihat reaksi tersebut membuat pria tadi tersenyum miring. "Bagaimana kalau kamu ikut main sama kita. Di jamin kau akan puas nantinya." Mereka bertiga tertawa, entah menertawakan apa?


Lisa menggeleng tidak mau. Ia semakin mundur dan bersiap untuk lari, tapi belum juga selangkah menjauh tangannya sudah lebih dulu dicekal oleh pria tadi.


Lisa berontak minta dilepaskan. Tapi sepertinya pria tadi tak mengindahkan permintaan itu. Bahkan genggaman tangan itu semakin menguat membuat Lisa meringis kesakitan.

__ADS_1


"Lepaskan saya." Lisa masih mencoba berontak. Jangan tanya bagaimana perasaannya saat ini. Yang pasti ia sangat ketakutan setengah mati.


Ia baru saja berniat berteriak meminta tolong tapi 2 pria Di samping pria yang tadi menggenggam tangan erat itu lebih dulu membungkam mulutnya dengan telapak tangan mereka.


Hal itu tentu saja membuat Cahya berontak semakin kuat, karena kesal pria yang tadi mencekal tangannya langsung saja melayangkan tamparan keras pada pipi kiri Lisa.


Plak


Suara tamparan itu menggema di jalanan gang sempit yang jarang sekali dilewati oleh orang orang.


"Jangan melawan dan ikuti perintah kami!!" Pria tadi langsung memberi aba aba pada kedua temannya untuk membawa Lisa kesudut gelap yang tidak terjangkau oleh orang orang.


Lisa yang diseret tentu saja berontak, tapi semakin lama berontakkan Lisa semakin lemas. Apalagi dirinya kalau tenaga oleh 2 orang pria yang masih saja menarik kasar tanggannya itu.


"Le..paskan saya." Lisa masih mencoba untuk berontak walaupun ia tahu kalau dirinya sudah terlalu lemas untuk kembali berontak.


Tapi dia tidak ingin menyerah begitu saja dan membiarkan mereka melakukan apa yang Lisa takutkan.


Kini keempatnya sudah berada di jalan buntu. Ditambah penerangan yang sangat minim karena hanya mengandalkan sinar matahari sore.


Pria yang terlihat sebagai ketua itupun mulai mendorong tubuh Lisa menabrak tembok di belakangnya, membuat Lisa meringis kesakitan akibat benturan di punggung itu.


"Lepaskan saya!!" Lisa mengeram marah kearah pria di depannya yang sama sekali tidak berniat melepaskan dirinya.


"Melepaskanmu? Mimpi saja. Sudah untung kita mendapatkan dirimu dan kau minta dilepaskan. Tidak akan pernah, benar kan teman teman?"


Pria di samping kanan dan kiri Lisa mengangguk sambil tertawa keras. Apalagi tawa itu terdengar begitu mengerikan di telinga Lisa.


Pria pertama itupun mendekat kearah Lisa. Ia berniat untuk mencium bibir pink milik Lisa yang sejak tadi seolah mengundangnya untuk dicicipi.


Lisa yang melihatnya tentu saja kembali berontak dengan cara mengelengkan kepalanya agar pria itu tidak jadi menciumnya.


Tapi 2 pria disamping Lisa sudah menahan kepalanya agar si bos mereka bisa mencium bibir milik Lisa sepuasnya.


Jarakpun semakin dekat membuat Lisa memejamkan kedua matanya sambil berdoa agar setidaknya ada satu orang yang mau menolongnya saat ini.


OoOoOoOoOo


Gimana nih, Si Lisa ada yang nolongin nggak, ya?


Untuk hari ini. Tolong tinggalkan jejak👣 supaya aku tahu siapa kalian yang sudah membaca sampai sini😊.

__ADS_1


See You Later😍


__ADS_2