Bukan Salahku Menjadi Istri Kalian

Bukan Salahku Menjadi Istri Kalian
Chapter 5


__ADS_3

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini.


°


°


Chapter 5. Diizinin?


____________________________


Previous Chapter


"Berdoa saja, semoga daddy memberi izin. Jangan lemes gitu dong, ayo semangat." Anne mengusap surai putrinya itu.


Lisa mengangguk kepalanya sambil tersenyum. Walaupun begitu perasaan gelisah tak bisa ditepis begitu saja dari benak Lisa.


.....Our Mate Lily.....


"Menurut Mom, daddy bakalan ngasih izin tidak?" Anne berhenti mengelus kepala putrinya itu. Kemudian berbalik menghadap sang putri.


"Mom tidak tahu, tapi kemungkinannya sangat tipis, mengingat daddy paling tidak ingin kamu terluka. Kamu tau sendirikan bagaimana sikap daddymu terhadap kamu?" Lisa mengangguk, ada raut sedih tergambar di wajah Lisa begitu mendengar perkataan Mommynya itu.


"Tapi kamu jangan sedih, apapun jawaban daddy mu nanti, mom yakin itu juga untuk kebaikan kamu sendiri." Anne kembali menyemangati sang putri yang nampak sedih itu.


Ia sebenarnya juga agak tidak setuju membiarkan Lisa berlibur sendiri. Tapi melihat raut wajah sedih sang putri sangat membuatnya tak bisa menolak keinginan putrinya itu.


"Mom tahu? Sahabat Lisa di kampus baik sekali dengan Lisa. Lisa tidak enak jika harus membatalkan rencana liburan kali ini sama seperti tahun lalu. Lisa tidak tega, mom." Ujarnya sambil memeluk tubuh Mommynya itu.


"Mom tahu, tapi mom dan dad khawatir kalau kamu pergi sendirian. Mom dan dad khawatir kejadian buruk waktu itu menimpa kamu. Makanya dad dan Mom berusaha menjaga kamu."


Lisa menangis di pelukan mommynya setelah mendengar penuturan itu.


"Mom, terimakasih sudah merawat Lisa selama ini. Lisa bahagia sekali punya Mom dan dad seperti kalian. Kalian berdua selalu menjaga dan menyayangi Lisa dengan sepenuh hati mom dan dad".


"Jangan berterimakasih, itu semua sudah menjadi kewajiban mom dan dad untuk menjaga dan melindungi kamu dari apapun itu."


Pelukan itu belum juga terlepas. Keduanya masih di posisi seperti ini hingga suara deru mobil menghentikan pelukan mereka. Lisa menoleh kearah sumber suara, berharap itu adalah sang dad dan ternyata bener itu memang daddynya.


Lisa berjalan bersama sang Mommy untuk menyambut daddynya itu. Kini keduanya tengah berada di depan pintu utama.


"Daddy." Panggil Lisa sambil memeluk sang daddy membuat sang daddy agak terkejut mendapati putrinya itu memeluk dirinya.


"Ada apa dengan putri kecil daddy ini?" Tanyanya sambil mengelus surai lembut putrinya itu.


Lisa mendongak menatap sang daddy yang memang tengah menatap dirinya itu.


"Ada yang ingin Lisa bicarakan dengan daddy." ucapnya yang kini mulai menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Melihat tingkah putrinya yang agak berbeda dari biasanya tentu saja membuat Marco mengernyitkan dahinya.


"Ada apa?"


"Tapi janji ya daddy jangan marah."


"Marah kenapa?"


"Janji dulu, dad tidak akan marah." Lisa menyodorkan jari kelingking kearah Marco.


Marco menghela nafas penasaran, kemudian menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking putrinya itu.


"Sudah, jadi kamu mau tanya apa?" Belum sempat Lisa bicara, Anne sudah lebih dulu.


"Lice, biarkan daddy masuk dulu. Masa mau ngobrol diluar." Lisa menganggukkan kepalanya kemudian mengajak mom dan daddynya masuk kedalam.


Marco menatap kearah istrinya seolah meminta penjelasan yang kemudian di balas gelengan pelan. Namun sayangnya Marco masih belum paham isyarat tersebut.


••Our Mate Lily••


Kini ketiganya sudah sampai di ruang santai. Dimana tadi Anne dan Lisa tengah menonton Tv bersama. Jadi dari posisinya saat ini, Lisa tengah duduk di sofa single, sedangkan kedua orangtuanya tengah berada di sofa panjang.


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan Lis?"


Lisa masih bingung menyusun kalimatnya yang nantinya akan diucapkan pada ayahnya itu. Melihatnya membuat Anne menghembuskan nafas pendek.


Lisa mengangguk pelan, kemudian dengan takut-takut mencoba meminta izin pada daddynya, walaupun ia tahu kemungkinan berhasil akan sangat tipis.


Tapi bagaimanapun juga, ia tidak ingin mengecewakan sahabatnya namun di sisi lain ia juga tidak ingin membuat orang tuanya khawatir saat tahu dirinya ingin pergi traveling dengan teman temannya.


"Ada apa? Jangan buat daddy penasaran begini." Desak Marco karena penasaran. Lisa tak berani menatap kearah Daddynya itu, namun ia memberanikan diri untuk bicara.


"Dad, Lisa minta izin untuk pergi berlibur dengan sahabat Lisa." Marco agak terkejut mendengar perkataan putri tunggalnya itu.


Tak mendapat sahutan malah semakin membuat Lisa tak berani mengangkat kepalanya.


Baru saja Lisa ingin membatalkan niatnya, karena mungkin apa yang barusan diucapkan olehnya itu akan mendapatkan tentangan dari sang daddy.


"Memangnya kau dan teman -temanmu mau kemana?"


Lisa mendongak begitu mendengarnya. Bahkan ia mengerjapkan matanya beberapa kali begitu mendengar ucapan itu.


"D..dad...dy" Lisa terbata begitu mengucapkannya, ia masih terkejut kala daddy menanyakan ia akan pergi berlibur kemana.


"Daddy tanya sama kamu, kenapa tidak dijawab?" Marco menatap putrinya itu lembut.


"Rencananya ingin berlibur ke hutan deket gunung, hanya saja itu masih rencana dad."

__ADS_1


"Kehutan?" Ada nada tak biasa dari suara Marco saat ini. Lisa mengangguk.


Marco menghela nafas panjang. Kepalanya mendadak pusing mendengar ucapan sang putri.


"Beneran kamu mau liburan? Kalau pengen mau, kenapa tidak liburan sama dad dan mommy saja." Lisa tersentak, ia kira daddynya menanyakan kemana karena mau mengijinkan, tapi apa?.


"Sebenarnya Lisa hanya ingin berlibur bersama teman-teman sebentar, dad. Dan mereka mengajak Lisa untuk pergi berlibur bersama karena tahun lalu kan Lisa tidak jadi ikut."


"Tapi Lis. Daddy khawatir kalau kau berlibur tanpa kami. Kami hanya tidak ingin kejadian beberapa tahun yang lalu itu kembali terulang."


Lisa menunduk, ia tahu bahkan sangat tahu bagaimana kedua orangtuanya menjaganya selama ini. Apalagi setelah peristiwa pembullyan yang terjadi padanya itu.


Hanya saja, ia tidak ingin kembali melihat raut wajah kecewa dari ketiga sahabatnya itu begitu tahu kalau dirinya tidak bisa ikut liburan bersama mereka.


"Maaf daddy, kalau Lisa memaksa untuk liburan sendiri." Gurat kekecewaan tergambar jelas diwajah Lisa.


Dan hal itu ditangkap baik oleh Marco dan Anne.


Sejenak Marco memijat dahinya pelan. Bagaimana ia tega melihat putri satu satunya itu kecewa seperti ini.


Tapi mengijinkan Lisa pergi berlibur sendirian tanpa dampingan dirinya atau bahkan Anne, membuat Marco tidak tenang.


Dia tidak ingin menjadi sosok daddy yang kejam, tapi ia hanya takut kalau terjadi apa apa pada Lisa.


"Baiklah, daddy izikan."


Lisa terkejut mendengarnya. Ia langsung mendongak menatap kearah Marco. Ia masih meragukan pendengarnya yang mungkin saja salah dengar.


"Ta..di..dad...bilang..apa?"


"Baiklah, daddy mengijinkan kamu untuk liburan bersama sahabatmu itu."


Lisa langsung menerjang daddynya membuat Marco terdorong kebelakang. Untung saja, mereka berada di sofa jadi Marco ataupun Lisa tidak sampai jatuh ke lantai.


"Hati hati, Lis." Tegur Anne begitu melihat terjangan sang putri kecilnya itu. Lisa hanya mengulas senyum manis sambil tetap memeluk daddynya itu.


"Terimakasih daddy, Lisa senang sekali daddy mau mengijinkan Lisa liburan bersama sahabat Lisa."


Marco mengelus puncak kepala Lisa sambil tersenyum menatap Anne disampingnya.


"Oke, tapi dengan syarat." Ucapan itu membuat Lisa yang tadinya memeluk daddynya itu kini mulai melonggarkan pelukannya.


🌻O.M.L🌻


💞Terimakasih💞


Salam, sapa hangat dari

__ADS_1


Vii


__ADS_2