Bukan Salahku Menjadi Istri Kalian

Bukan Salahku Menjadi Istri Kalian
Chapter 13


__ADS_3

...Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini....


...°...


...°...


...Chapter 13. Berdarah...


...____________________________...


Previous Chapter


Saat akan lebih dalam masuk ke kebun bunga itu, sebuah tepukan mendarat di bahunya membuat Lisa segera menoleh kebelakangnya.


Namun apa yang dilihatnya sempat membuatnya terkejut tapi tak lama, ia memberikan senyumannya kepada orang yang menepuknya.


..._____________________...


"Ada apa, nek? Ada yang bisa Lisa bantu?"


Ya, memang yang menepuk bahu Lisa adalah seorang nenek - nenek. Tapi nenek - nenek itu tidak secara langsung menatap kearah mata Lisa. Berbeda dengan tatapan yang dilayangkan oleh nenek tadi kepada Haeun.


"Tidak ada. Sebenarnya apa yang kau lakukan disini, nak?" Lisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sebenarnya saya hanya ingin melihat lihat, nek. Ehm, ini kebun nenek?" Pertanyaan itu mendapat gelengkan dari nenek - nenek tadi.


Lisa mengangguk setelah mendapat jawaban itu. "Lalu ini kebun siapa, nek? Apakah ada pemiliknya?"


"Ada pemiliknya." Jawaban singkat itu dengan mudah dipahami oleh Lisa.


"Kalau boleh tahu, siapa pemiliknya, nek? Orang sini juga?"


"Bukan," Dahi Lisa mengernyit begitu mendengar jawaban itu. Dalam hati Lisa membatin 'Mungkin milik orang desa lain atau daerah lain.'


Keadaan sedikit canggung. Lisa bingung harus bertanya apa, sedangkan nenek di depannya tidak kunjung mengeluarkan suaranya untuk bertanya lagi padanya.


"Nek, apa boleh saya berkeliling disekitar sini? Saya janji tidak ada merusak apapun yang ada disini, nek. Saya hanya akan melihat lihat sekalian kalau boleh saya ingin mengabadikannya lewat ponsel saya." Izinnya pada nenek - nenek itu. Ya walaupun kebun bunga itu bukan milik nenek ini, tapi mungkin saja nenek ini penjaga sekaligus pengurus kebun bunga.


Nenek tersebut diam membuat Lisa menatapnya was was. Takut kalau tidak di ijinkan untuk melihat lihat kebun yang ada di sana.


Tapi perkataan yang didengarnya membuat Lisa kembali menerbitkan senyumannya.


"Boleh, tapi ingat jangan rusak apapun yang ada disini." Peringatan itu diangguki oleh Lisa.


"Terimakasih atas izinnya, Nek. Saya janji tidak akan merusak bunga bunga yang ada disini."


Nenek itu mengulas senyum tipis tanpa sepengetahuan Lisa yang kini kembali menatap kearah bunga bunga yang bermekaran itu.


"Nek, apa nenek mau ikut kesana?" Tanya Lisa tapi fokusnya masih pada bunga yang ada didepannya.


"Nek," karena tak mendapat jawaban membuat Lisa menolehkan pandangannya kearah dimana nenek tadi berada. Tapi begitu menoleh kebelakang, dia tidak mendapati nenek itu tadi.

__ADS_1


Ia mulai melangkah kearah jalanan yang sempat ia lewati tadi, siapa tahu nenek tadi lewat sana.


Tapi sama sekali tak ada orang di sekelilingnya. "Apa mungkin nenek itu pergi lewat jalan lain." pikir Lisa yang berusaha membuang pikiran negatifnya.


Ia yakin betul melihat kaki nenek tadi menapak tanah, jadi tidak mungkin kalau nenek itu hantu atau sejenisnya. Apalagi hari masih sangat terang, jadi kemungkinan besar nenek tadi adalah manusia.


Mencoba berpikiran positif, Lisa kembali menjelajahi kebun bunga yang terasa luas di matanya itu. Sesekali ia memotret kelopak bunga yang menarik perhatiannya. Walaupun begitu, semua bunga yang ada disana sangat menarik dipandanganya.


Semakin ia melangkah lebih dalam, semakin jauh dirinya dari kawasan perkemahan yang ada di bawah sana. Mungkin karena ini adalah pengalaman pertama dirinya melihat langsung kebun bunga di kaki bukit, membuat Lisa tanpa sadar telah semakin jauh dari orang - orang.


Bahkan dia sama sekali tidak menyadari kalau awan diatasnya sudah berwarna cukup pekat dibandingkan yang tadi. Arah pandangan Lisa terhenti, saat dirinya melihat sekumpulan bunga mawar yang begitu banyak di tengah tengah kebun bunga tersebut.


Apalagi susunannya membentuk sebuah hati, sungguh indah sekaligus romantis menurut Lisa. Di hampirinya kumpulan bunga itu untuk melihatnya dengan jelas.


Sungguh definisi keindahan yang sesungguhnya. Lisa berjongkok untuk mengambil beberapa untai tangkai yang lepas dari pohonnya.


Lisa tidak mencabutnya, tapi mengambil yang sudah jatuh ke tanah. Dia juga tidak merusaknya, sebelum dia datang bunga itu sudah tergeletak di tanah. Jadi tidak apa kan kalau Lisa memungutnya.


Begitu dipegang, ternyata ada banyak duri yang melindungi sang bunga. Mungkin karena itulah mawar dijuluki keindahan yang mematikan. Dibalik keindahannya tersimpan duri yang begitu tajam.


Dengan hati hati, Lisa memegang 2 tangkai bunga itu. Dia tak ingin menyakiti kulit tangannya akibat duri yang ada di tangkai tersebut.


Dirinya sama sekali tidak menyadari kehadiran seseorang yang berada di belakangnya yang menatapnya marah.


Lisa yang masih dalam posisi berjongkok, tersentak kaget saat ada yang menarik tangan kanannya kasar mengakibatkan telapak tangannya terluka akibat terkena duri yang ada di tangkai bunga mawar tadi.


"APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?!" Teriakan itu membuat tubuh Lisa tersentak kaget. Dirinya tidak menyangka ada yang tiba - tiba menarik tangannya kasar ditambah lagi dengan meneriakinya, seolah dirinya telah melakukan kesalahan besar.


Lisa meringis merasakan telapak tangannya yang terluka, belum lagi beberapa tetes darah yang mengalir dari telapak tangannya.


"Aww, sakit. Tolong lepaskan tanganku." Ringis Lisa yang tak di perdulikan sama sekali orang tadi. Sungguh rasanya Lisa ingin menangis karena genggaman tangan orang itu di tangannya. Rasanya sangat sakit.


"Apa yang kau lakukan disini, huh?" Ucapnya dengan menarik tangan Lisa mendekat ke arahnya.


Lisa tak menjawab karena rasa sakit di telapak tangan dan juga lengannya yang tak bisa ia tahan. Jujur baru kali ini ia terluka separah ini. Padahal sebelumnya ia tidak pernah terluka apalagi sampai mengeluarkan darah seperti ini.


Lisa masih mencoba untuk melepaskan tangan orang itu tapi semakin ia mencoba, maka semakin kuat genggaman itu di kulit lengannya.


"To..long lepas..kan ta..nganku." Belum sempat orang tadi membuka suaranya, terlebih dahulu suara lain menginterupsi.


"Lepaskan dia, Ji miné."


Tanpa menolehkan kepalanya, si pemilik nama tadi sudah tahu siapa yang tengah berbicara padanya itu. Tapi beda lagi dengan Lisa yang menoleh kearah sumber suara.


Bisa ia lihat sosok seorang pemuda yang mengenakan pakaian yang menurutnya tidak biasa dipakai di era anak muda saat ini.


Dan dia baru sadar kalau ternyata pakaian yang dipakai orang tadi hampir mirip dengan style yang di pakai oleh si pengenggam tangannya itu.


"Lepaskan tanganmu darinya, Jim." Ulangnya tapi tak mendapat sahutan dari si pemilik nama.


Srett

__ADS_1


Genggaman tangan itu terlepas karena dilepas oleh orang tadi. Kini Lisa berada di belakang tubuh si penolong itu.


"Kenapa kau bisa ada disini?" Intonasi yang dikeluarkan oleh orang yang di panggilnya Ji Minè itu masih sama seperti sebelumnya.


"Itu tidak penting. Yang terpenting saat ini adalah kau harus kembali ke rumah."


Bukannya menanggapi ucapan itu, Ji Minè malah tertawa sinis.


"Rumah? Tidak ada kata rumah di hidupku mulai detik ini." Ucapnya dengan menampilkan seringaian miliknya.


"Apa yang kau bicarakan." Orang yang tadi menolong Lisa menatap lurus kearah Jimine. Ia juga masih melindungi Lisa dibalik punggungnya.


Sekarang orang tadi berbalik kearah Lisa, bisa ia lihat tangan gadis di depannya ini terluka dan berdarah. Seketika ia menatap tajam kearah saudaranya itu.


"Kau lihat, Jim. Apa yang telah kau perbuat hingga melukai tangannya."


Ji Minè yang memang sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya menaikkan alisnya. Tapi setelah sadar akan apa yang ada di genggaman tangan gadis itu kembali menyulut api kemarahan di diri Ji mine.


"Kau, apa yang kau lakukan pada bungaku?" Sepertinya kali ini Lisa benar benar dalam masalah besar.


"Berikan dia padaku, Jay!" Tekannya sambil menatap kearah Jay.


"Apa yang ingin kau lakukan padanya?" Sebenarnya tanpa bertanyapun Jay sudah tahu apa yang akan di lakukan oleh adiknya itu terhadap gadis di belakang ini.


"Memang apa lagi selain membunuhnya." Tubuh Lisa menegang mendengar perkataan orang yang tadi menarik tangannya itu.


Dirinya semakin beringsut berusaha menjauh dari pemuda yang ada di hadapannya itu. Lisa takut kalau perkataan itu benar - benar dilakukan pria itu padanya. Dirinya tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya kalau hal itu terjadi.


"Kau tidak bisa melakukan hal itu, Jim."


Ji Minè menatap kearah kakaknya yang masih berusaha menolong gadis itu. Ada sedikit rasa penasaran kenapa kakaknya itu terlihat ingin sekali melindungi gadis itu. Sebenarnya ada hubungan apa diantara mereka berdua.


"Kenapa aku tak bisa melakukannya?" Jay membuang napasnya, sejenak ia berpikir bagaimana cara menghentikan pertanyaan yng terlontar dari bibir adiknya itu.


Bagaimanapun juga gadis dibelakangnya ini belum saatnya untuk tahu.


"Apa kau tidak merasakannya?" Pertanyaan itu membuat Ji Minè menatap kearah sang kakak. Sejenak ia terdiam sampai akhirnya ia tahu apa yang dimaksud oleh kakaknya itu.


"Jangan bilang dia orangnya." Jay diam mengasumsikan diamnya Jay sebagai 'Iya'. Ji Minè juga bisa mencium aroma yang berbeda dari tubuh Lisa.


"Oh, jadi dia orangnya. Pantas saja kau terlihat begitu melindunginya. Ternyata dia matemu!" tekannya pada kata matemu itu.


Jay yang mendengarnya menatap tajam kearah adiknya itu. "Dia juga matemu, itupun kalau kau tidak lupa, Jim."


Ji Minè mendengus mendengar perkataan kakaknya itu. "Mateku hanya satu. Dan itu bukan dia." Perlahan bola mata Jimine berubah menjadi warna merah kekuningan. Pertanda bahwa dirinya sedang marah.


Melihat perubahan itu membuat Jay Hpe memutuskan untuk membawa Lisa menjauh dari sana. Menyadari kalau Jay semakin berlalu pergi membuat Jimine mengeram marah. Tak lama ia memutuskan untuk pergi entah kemana yang penting adalah menjauh dari kebun miliknya itu.


Lisa yang sejak tadi menatap kedua pemuda dengan raut wajah bingung itupun, segera merubah raut wajahnya ketika menyadari dirinya sudah dibawa pergi oleh Jay. Sejak tadi dirinya hanya menyimak apa yang tengah keduanya perdebatkan. Tapi ia sama sekali tidak mengerti dan apa maksud kata dia itu mengarah padanya?.


Tapi dari semuanya hanya satu yang ia bingung kan, apa itu mate? Kata kata mate itu memenuhi pikiran Lisa. Bahkan dirinya sampai melupakan kalau tangannya tengah terluka.

__ADS_1


...-----------------...


...Up💞 See You Later😍...


__ADS_2