
...Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini....
...°...
...°...
...Chapter 25. Membujuk atau Memaksa?...
...____________________________...
...°Our Mate Lily°...
Tiga hari sudah berlalu dari pembicaraan itu. Dan Lisa masih tinggal di kediaman Devil, namun selama itu juga dia tidak keluar dari kamar. Didalam kamar yang sudah disiapkan untuknya itu.
Setiap harinya ada yang mengantarkan makanan kepadanya, namun Lisa enggan untuk memakannya. Bukan karena ingin bersikap tidak sopan. Namun pikiran Lisa saat ini sudah benar-benar kacau dan dia sendiri pun tidak memiliki semangat untuk melanjutkan hidupnya.
Tapi bukan berarti dia ingin mengakhiri hidupnya. Pikirannya tidak sesempit itu. Beberapa kali juga Gwenelia menghampiri dirinya. Dia beberapa kali berbicara dengan ibu dari Rym dan Jake itu.
Bahkan Lisa sadar kalau Gwenelia sangat baik padanya. Dia juga tidak pernah memaksanya untuk menerima tawaran dari para tetua klan. Lisa juga tidak menampik bahwa kasih sayang yang diberikan oleh Gwenelia membuatnya merasakan kasih sayang seorang ibu.
Walaupun tidak pernah memaksanya, tapi Lisa tahu kalau ibu dari Rym dan Jaks itu ingin agar dirinya bisa menerima keputusan dari tetua klan. Namun Lisa merasa itu bukanlah hal yang mudah, sebab dia tidak hanya menikah dengan 1 Pemuda, namun 7.
Belum lagi faktanya ketujuh pemuda itu bukanlah dari golongan yang sama dengannya. Mereka itu makhluk immortal.
Akal sehatnya mencoba menolak fakta yang ada, walaupun hatinya mengakui kalau semuanya ini adalah nyata. Namun tetap saja Lisa lebih memilih mengikuti pikirannya dibandingkan hatinya.
Waktu yang diberikan kepadanya untuk memikirkan hanya tinggal sehari, karena besok ia harus mengatakan keputusannya. Entah apakah ia akan menerima atau menolak, Lisa benar - benar buntu memikirkannya.
Seandainya Lisa menerima, maka dia akan tinggal di dunia ini. Mungkin untuk selamanya. Namun apabila dia menolak, kemungkinan dia untuk kembali ke dunia asalnya itu sangat kecil.
Belum lagi kalau para penguasa di dunia ini marah atas keputusan yang diambilnya itu. Bisa dipastikan hidupnya akan berakhir detik itu juga. Jadi kedua pilihan itu bagai buah simalakama baginya.
...Tok tok tok...
Suara pintu kamarnya diketuk dari luar membuat Lisa yang sedang memandangi pemandangan dari balik jendelanya pun menoleh.
"Siapa, ya?" pikir Lisa sambil menatap kearah pintu kamarnya itu. Pada akhirnya Lisa mengizinkan sosok sang pengetuk itu untuk memasak.
"Silakan masuk," ucap Lisa dan tak lama pintu pun terbuka menampilkan dua sosok yang tidak Lisa sangka akan datang ke kamarnya.
__ADS_1
"Kalian ingin apa kesini?" Alisnya terangkat begitu melihat keberadaan kakak beradik itu.
Lisa tidak mengira kalau yang akan datang kesini adalah si Rym dan Jake. Dia kira itu hanya pelayan atau sosok Gwenelia yang memamg beberapa kali menemuinya.
Rym yang sudah masuk lebih dulu langsung menatap kearah sosok 'calon istrinya' itu. "Kami kesini hanya ingin mengantarkan makananmu."
"Ku dengar sejak pagi kau belum makan. Makanya kami datang kesini." Ucapan itu tampak ramah di telinga Lisa. Tapi Lisa tidak ingin terbuai dengan sikap ramah dari sosok di depannya itu.
Lisa malah menatap curiga kearah kedua makhluk immortal itu. Lisa tidak ingin berburuk sangka, namun kedatangan keduanya membuatnya harus waspada. Takutnya ada niat dibalik kedatangan keduanya kemari.
"Terimakasih untuk makanannya. Kalian bisa pergi." Lisa bukannya mengusir tapi dia tidak nyaman dengan keberadaan dua sosok ini.
Mungkin mereka tidak berbuat jahat padanya, tapi entah kenapa terungkapnya kematian kedua orang tuanya itu malah membuatnya sulit untuk membangun kepercayaan pada orang lain.
"Dasar tidak tahu diri. Pantas saja kaum mu di sebut kaum rendahan." Ucapan itu diucapkan oleh Jakd. Bahkan terang - terangan Jake menatap sinis kearah Lisa.
Lisa tentu saja melihatnya, namun dia tidak peduli akan tatapan sinis yang dilayangkan oleh Jake padanya itu. Memamg apa untungnya bila dia memperdulikan tatapan itu.
"Lalu kenapa? Apa itu masalah bagimu?" balasnya sambil menatap kearah Jake. Namun itu hanya beberapa detik sebelum Lisa kembali mengalihkan pandangannya darinya.
Baru saja Jake hendak membalasnya, namun segera di hentikan oleh Rym. "Kami kesini bukan untuk mencari perkara denganmu, namun ada yang ingin kita bahas denganmu."
Lisa duduk di depan keduanya. Jake yang sejak tadi sudah menahan kesal dengan tingkah Lisa, mengeram pelan. Ingin sekali dia mengumpati gadis yang duduk di depannya itu. Tapi nanti yang ada dia malah dimarahi oleh kakaknya.
Bukan berarti dia takut akan kemarahan sang kakak, tapi dia itu menghormati Rym sebagai kakaknya.
"Jadi apa yang ingin kau katakan padaku?" Lisa mulai membuka suaranya.
Rym tersenyum tipis. "Tidak banyak. Aku ingin memintamu untuk mau nerima perintah dari tetua kami."
Sebelumnya Lisa sudah menebak kalau kedatangan keduanya tidak akan jauh - jauh dari masalah tetua itu. "Maksudmu aku harus menikah dengan kalian bertujuh?"
"Kau pikir itu adalah hal wajar?" lanjutnya dengan nada datar.
Rym tak menjawab, namun sebuah anggukan dia berikan kepada Lisa. "Jadi kau menganggapnya itu bukan hal yang salah?"
Emosi mulai terkumpul dalam kepala Lisa. Dirinya sudah cukup sensitif dengan topik mengenai ketujuh pemuda ini. Ingin sekali Lisa keluar dari sini, namun dia tidak tahu caranya itu bagaimana.
Saat ini dia juga sedang memikirkan cara untuk keluar dari sini tanpa ketahuan. Walaupun dia tahu kemungkinannya untuk bisa kabur sangat kecil. Ditambah lagi saat ini dia sedang tidak berada di dunianya. Namun setidaknya untuk sekali saja, Lisa ingin lepas dari dunia immortal yang tengah menjeratnya itu.
__ADS_1
Katakanlah bahwa Lisa itu egois. Tapi cobalah kalian berada di posisi Lisa saat ini. Apa yang akan kalian lakukan untuk kelangsungan hidup kalian?
"Lebih Baik kau terima saja. Tapi jangan kau pikir, kami mau menikah denganmu. Kalau bukan karena permintaan tertua, kita bertujuh pasti dia tidak akan menerimamu. Lagipula apa bagusnya dirimu, golongan sepertimu itu sangat tidak pantas bagi kaum kami."
Nada cemooh itu terdengar jelas dari mulut Jake. Ucapan itu terdengar tajam di telinga Lisa. Tapi Lisa tidak menanggapinya, karena itu percuma dan hanya sia - sia saja.
Bahkan sampai mulutnya berbusa, belum tentu perspektif Jake tentang kaumnya akan berubah begitu saja. Jadi lebih baik diamkan saja dan hiraukan semua kata yang keluar dari mulut pedasnya itu.
"Aku hanya menyarankanmu untuk menerima pernikahan ini. Karena kalau pun kau menolak, kau tidak akan hidup lebih lama dari yang kau bayangkan. Bahkan kau tidak bisa keluar dari dunia ini sekalipun kau ingin."
Kali ini yang berbicara adalah Rym. Bahkan senyum tipisnya tadi sudah berubah menjadi senyum miring. Lisa semakin mendatarkan ekspresinya. Apa lagi setelah mendengar kalimat terakhir yang barusan diucapkan oleh Rym itu.
Rym kembali bersuara. "Mungkin bagimu ini kejam. Kurasa kau tidak bodoh, kalaupun kau menolak. Jangan berpikir setelahnya kau bisa kembali ke dunia mu itu. Jelas karena itu sangat mustahil."
Lisa tetap diam tanpa membalas ucapan dingin itu. "Semua keputusan ada di tanganmu baik itu kau menerima atau menolak. Tapi pikirkan baik - baik. Jika kau ingin hidup lebih lama, kau hanya harus terima. Tapi jika kau ingin menyia-nyiakan hidupmu, kau boleh menolaknya."
Kembali kata - kata pedas itu meluncur bebas dari mulut Rym. Walaupun begitu, Lisa membenarkan apa yang diucap oleh Rym itu. Tidak ada jalan keluar yang baik, bila dia menolak. Tapi opsi menerima sangat jauh dari bayangan Lisa saat ini.
Rym bangkit berdiri dari posisinya. "Ingat kataku baik - baik, hidupmu tergantung dengan pilihanmu besok."
Setelah mengatakan hal tersebut, Rym pergi tanpa pamit meninggalkan kedua sosok yang masih ada di dalam kamar itu. Lisa menatap Jake yang masih betah di kamarnya. "Kenapa kau tidak juga pergi dari sini?" Jake mendengus begitu mendengar ucapan itu.
"Cih, kau pikir kau siapa, huh? Ini adalah mansionku, terserah aku mau ngapain disini. Dasar tidak tahu diri." Jake bangkit dari posisinya itu.
"Seharusnya kau itu tahu diri sedikit jadi orang, ini adalah kerajaanku. Jadi kau tidak berhak untuk mengusirku dari sini."
Dengan senyum sinis, Jake mengeluarkan suaranya. "Lebih baik kau pikirkan baik - baik perkataan kakakku itu. Dan gunakan otak kecilmu itu untuk berpikir ---"
Dengan sengaja, Jake menjeda ucapannya membuat Lisa mendongak ke arahnya. "Ups, aku lupa. Kau kan tidak punya otak." Setelahnya terdengar suara tawa remeh yang dilayangkan untuk Lisa.
Lisa berusaha sabar dan tidak terpancing emosi. Walaupun dia sangat ingin meremukan tubuh dari sosok di depannya itu. Baru saja ingin membalas perkataan itu, tapi sosok Jake sudah lebih dulu melesat meninggalkannya sendirian.
"Awas saja kau!" geram Lisa sambil membuang napas kasar.
"Jika aku menerimanya, bagaimana untuk kedepannya? Mereka bertujuh itu hanya sosok asing bagiku. Bagaimana aku melewati semua ini?" Lisa mengusap wajahnya kasar. Bahkan makanan yang tadi dibawa oleh Rym, tak dilirik olehnya. Sebab pikirannya sekarang sedang pusing tujuh keliling.
...~Terimakasih~...
...💖...
__ADS_1