Bukan Salahku Menjadi Istri Kalian

Bukan Salahku Menjadi Istri Kalian
Chapter 14


__ADS_3

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini.


°


°


Chapter 14. Diobati


____________________________


Previous Chapter


Tapi dari semuanya hanya satu yang ia bingung kan, apa itu mate? Kata kata mate itu memenuhi pikiran Lisa. Bahkan dirinya sampai melupakan kalau tangannya tengah terluka.


_______________


Jay membawa Lisa menuju ke kawasan perkemahan. Sebelumnya ia sudah membawa sebotol air untuk membersihkan luka yang ada ditangan Lisa.


Kini keduanya duduk di atas batu yang lumayan lebar yang tak begitu jauh dari tenda milik Lisa dan para sahabatnya itu.


"Tahan sebentar, ya. Ini akan sedikit sakit." Lisa mengangguk, dirinya mencoba untuk tidak berteriak kala dinginnya air mulai masuk kedalam celah lukanya.


Ia mengigit bibir bawahnya untuk mencegah ringisannya keluar. Jay jelas melihatnya makanya dirinya berusaha sepelan mungkin agar gadis di hadapannya itu tidak terlalu merasakan perih dilukanya yang tersiram air itu.


Setelah selesai membersihkan darah yang keluar dari lukanya itu, Jay mulai membalutnya dengan sapu tangan miliknya. Begitu selesai ia kembali menatap kearah Lisa.


"Sudah selesai." ucapnya sambil tersenyum manis. Tapi sayangnya Lisa tidak melihatnya, karena fokusnya masih terarah pada luka di tangannya yang saat ini sudah ditutup sapu tangan milik Jay.


"Terimakasih." Barulah Lisa menghadap kearah wajah Jay setelah mengucapkan terimakasih.


"Tidak perlu berterimakasih. Aku yang seharusnya minta maaf atas perlakukan adikku tadi sampai membuat tanganmu sampai terluka begini."

__ADS_1


Lisa menggeleng. "Ini semua juga salahku. Seandainya aku tidak masuk tanpa izin ke kebun bunga milik adik anda. Dia juga tidak mungkin melukaiku. Aku minta maaf untuk itu." Lisa membungkukkan badannya beberapa kali kearah Jay. Sedangkan Jay juga ikut membungkukkan badannya sedikit.


"Tidak juga. Memang adikku saat ini sedang dalam suasana tidak baik. Jadi ia tidak bisa mengontrol emosinya dengan baik." Ucapan dari Jay membuat Lisa mengerti.


"Tolong sampaikan permintaan maafku untuk adik anda."


"Sudah, kau tidak perlu memikirkannya. Dan aku tidak bisa lama lama disini. Aku pamit dulu." Jay mulai berpamitan pada Lisa saat dirinya mendengar suara dari ayahnya itu.


Tapi suara yang di dengarnya tadi hanya ia sendiri yang bisa mendengarnya. Makanya Lisa tidak mendengar apa apa, seperti yang didengar oleh Jay barusan.


Lisa mengangguk, kemudian Jay berpamitan dengan Lisa. Lisa masih memperhatikan Jay yang kini sudah mulai tidak terlihat lagi. Dan arah pandangnya saat ini terarah pada lukanya yang sudah terbalut sebuah sapu tangan.


Ada helaan napas panjang yang dikeluarkan Lisa begitu mengingat kejadian tadi. Dirinya jelas mengingat betapa marahnya laki - laki tadi padanya. Dan perkataan adik kakak itu membuat Lisa sedikit bingung.


Dirinya masih memikirkan apa kata dia dan mate yang di ucapkan oleh keduanya. Apa maksud dari kata mate itu soulmate?


Entah kenapa memikirkan hal itu malah membuat Lisa semakin pusing memikirkan. Karena dirinya tidak menemukan titik temu dari pemikirannya saat ini.


"Yak!! Kenapa kau duduk disini? Kami dari tadi mencarimu kemana - mana." Tanpa menoleh pun sebenarnya Lisa sudah siapa yang bicara itu. Tapi karena ia tak ingin membuat sahabatnya itu makin kesal dengannya, ia pun berbalik menghadap ketiga sahabatnya itu.


"Memang kalian dari mana?" Mendengar pertanyaan itu membuat ketiganya msngeram kesal.


"Dari mana? Kita bertiga dari tadi muter muter nyariin kamu. Kamu malah bilang darimana." Lisa mendengarnya hanya terkekeh pelan.


"Aku hanya dari kebun bunga." Mendengar kata kebun bunga membuat salah satu dari ketiganya langsung menegang. Ingatan tentang kejadian tadi membuat orang itu langsung menyerbu Lisa dengan pertanyaan.


"Kau tadi bilang kebun bunga. Maksudmu, kebun bunga yang ada di dekat kebun teh, kan?" Perkataan itu membuat Lisa mengangguk mengiyakan.


"Kau tadi tidak melihat ada nenek -nenek?" Lisa mengangguk membuat Haeun langsung menegang.


"Benar kan apa aku bilang. Lisa saja melihatnya, masa kalian tidak percaya dengan apa yang aku bilang." Jiyoon dan Chaerin hanya mengangguk sekilas membuat Haeun dengan kesal menepuk bahu keduanya.

__ADS_1


Yap, orang orang yang tadi bertanya dan mencari Lisa tidak lain adalah Chaerin, Jiyoon dan Haeun. Ketiganya kompak mencari Lisa begitu tidak kunjung melihat Lisa kembali ke tenda.


Makanya ketiganya khawatir, apalagi Lisa tidak bisa dihubungi sama sekali. Padahal seingat mereka bertiga, Lisa tadi membawa ponsel.


Makanya sudah hampir sejam mereka mencari dan disinilah mereka bertiga bisa menemukan Lisa, yang duduk dengan tenang diatas batu yang tak jauh dari tenda mereka.


"Sudahlah, ayo kita makan siang. Mendadak aku sangat lapar." Jiyoon memegangi perutnya yang sempat berbunyi itu membuat ketiga orang disana tertawa.


"Ya, sudah ayo kita makin siang, kasihan cacing di perut Jiyoon yang minta diisi." Chaerin tertawa begitu menyelesaikan kalimatnya. Hal itu makin membuat Haeun yang tadi sempat ketakutan kembali tertawa terbahak bahak.


"Ayo," Haeun menarik tangan Lisa yang memang sejak tadi memegangi tangan Lisa.


Sedangkan Chaerin dan Jiyoon mengikuti dari belakang. Tanpa mereka sadari sepercik sinar berwarna biru terpancar dari sela perpotongan baju dibagian leher salah satu dari keempatnya.


Saat ini keempatnya tengah memakan bekal yang memang sudah mereka bawa dari rumah. Tak jarang keempatnya saling melempar candaan guna menghangatkan suasana.


Bahkan mereka masih saja saling meledek salah satu dari keempatnya. Yang mana biasanya si Haeun yang menjadi bahan candaan mereka.


"Setelah makan kita akan kemana?" Pertanyaan itu disambut gelengan oleh Chaerin yang saat ini tengah lahap menyantap makanannya itu.


"Kalau kau, Haeun?" Haeun tampak berfikir sebelum akhirnya menyuarakan pikirannya.


"Aku mau memata - matai Prince." Perkataan itu mendapat anggukan antusias dari Chaerin dan tentunya si Jiyoon yang tadi bertanya pada Haeun.


"Baik, setelah makan kita akan mengintai para prince. Kalian setuju, kan?" Pertanyaan itu mendapat anggukan setuju dari Chaerin dan Haeun. Sedangkan Lisa hanya mengangguk pelan.


Entah kenapa dirinya merasa ada hal besar yang akan terjadi, selain itu juga perasaannya mulai tidak enak. Dirinya masih kepikiran dengan dua pemuda tadi yang sekarang entah pergi kemana.


...-----------------...


...Terimakasih sudah berkunjung💞😍...

__ADS_1


__ADS_2