
Bunyi bel sedari tadi membuat ku semakin panik, lagi dan lagi aku telat bangun lagi.Sudah jadi langganan.
Aku buru-buru ke kamar mandi mencuci muka,
aku belum selesai memakai baju sekolah ku, bunyi bel itu menggoyahkan konsentrasi ku.
Aku tahu itu pasti Revan,
Setelah selesai memakai baju kemeja berlengan pendek dan rok selutut,aku membiarkan rambut panjang ku tergerai,
Aku membuka pintu apartemen ku,aku melihat Revan memakai baju santai,baju kaos polos hitam dan juga celana jins pendek.
Revan menunggu ku di depan pintu.
"Kau telat bangun lagi ya". sambil mencubit pipiku.
"Ayo cepetan, nanti aku telat..". sambil menarik tangan Revan ke lift.
#
Di dalam mobil Revan.
"Apa hari ini kau tidak kerja?" Tanya ku
"Aku hanya ingin libur".
"Benarkah ?(wajah kegirangan ku) Asyik... pulang sekolah jemput aku ya, nanti kita nonton bioskop".
"boleh,tapi jangan drama Korea lagi ya".
"ehmmm... boleh deh, hari ini terserah kamu aja mau nonton apa"
Setelah sampai di sekolah, aku pun langsung turun dari mobil Revan,
"nanti jangan lupa jemput aku ya", teriak ku.
Kira-kira jam 2 siang bel pulang sekolah sudah berbunyi,siswa siswi berhamburan keluar sekolah,
Aku berlari ke luar gerbang sekolah mencari-cari sosok Revan,aku melihat dia sudah melambaikan tangan di seberang sana.
"sudah lama ya nunggu nya".tanya ku
"tidak juga,ayo kita langsung ke bioskop yang di mall dekat sini aja ya!". ucap Revan sambil membukakan pintu mobil nya.
"oke".
Sekitar 10 menit kami pun sampai,
Revan mengantri membeli tiket dan aku membeli beberapa cemilan dan juga minuman.
"sepertinya cuma aku yang memakai seragam sekolah"gumam ku dalam hati.
Hari ini kami menonton film the boss baby,film animasi,aku tidak menyangka seorang Revan sang pemilik perusahaan tekstil memilih menonton film animasi.
Selesai menonton bioskop Revan mengajak ku keliling-keliling mall,kami hanya berjalan dari satu toko ke toko lainnya,
__ADS_1
"Apa kau ingin membeli sesuatu?" tanya ku.
"Apa ya ?,Apa aku beli mall ini saja ya ?,apa kau menginginkan nya ?".
"Revan ini sudah malam (aku melihat jam sudah menunjukkan pukul 7 malam), kaki ku sudah terasa sakit,badan ku juga sudah gerah, pulang yuk...!". rengekku
"Ayo... lagian kamu sih, pulang sekolah bukan nya langsung pulang malah keluyuran di mall".ucap Revan menggoda ku.
"oh gitu ya...besok pulang sekolah aku langsung pulang, nggak mau keluyuran lagi". sambil melangkah kan kaki,
"ngambek nih ceritanya..."
#
Sesampainya di di lobby apartemen,aku dan Revan berjalan beriringan sambil berbincang, dari kejauhan aku melihat ayah dengan tatapan mata yang sulit diartikan.
Aku juga melihat Fahri di sebelah ayah,aku langsung terdiam mematung, sungguh aku tak tahu harus berbuat apa,
"hei.. kenapa kau berhenti,apa kaki mu terasa sakit".Tanya Revan
Ayah dan Revan menghampiri aku yang terdiam mematung,
Ayah membuka sorbannya dan mengikatnya di pinggang ku, menutupi paha ku yang terbuka.
"Dimana apartemen mu",tanya ayah dengan suara lirih.
"Apartemen ku ada di atas, ayah",Aku pun berjalan menuju lift,aku tidak berani menatap mata ayah,
Ayah dan Fahri mengekor di belakang ku, sedangkan Revan dia masih diam mematung, sepertinya Revan mengenal ayah.
Aku mempersilahkan ayah dan Fahri masuk ke apartemen ku, sedang kan aku langsung ke kamar mandi membersihkan diri,
Aku benar-benar tidak berani menatap mata ayah.
Aku duduk di sofa, tidak begitu jauh dari tempat duduk ayah.
Kami cukup lama terdiam,aku tidak berani untuk memulai pembicaraan.
"Sejak kapan kamu berani memperlihatkan aurat mu",aku melihat mata ayah sudah berkaca-kaca menahan tangisnya.
"Maaf ayah...-". Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut ku.
"Jadi ini alasan mu memilih berada jauh dari kami ?,
Aku hanya terdiam, tidak mampu untuk menjawab pertanyaan ayah.
"Ayah memberikan kamu nama Salwa Soleha,itu sebagai do'a agar kamu menjadi putri yang Soleha, umi mu selalu menyebut mu putri Soleha,apa kamu pernah berpikir bagaimana perasaan umi mu kalau dia tahu kenyataan nya kalau putri yang selalu di harapkan nya Soleha malah tega mengumbar aurat nya, bukan kah ayah dan umi sedari kecil sudah mendidik mu.
ya Allah... betapa lalai nya aku (ayah sudah tidak mampu membendung air matanya).
Betapa lalai nya aku, bahkan aku berusaha mengubah dunia ini,aku berusaha berdakwah sampai ke negara lain, tapi aku tidak bisa mendidik putri ku,aku tidak bisa memperbaiki akhlak putri ku,
do'a anak yang soleh yang ku harapkan kelak sebagai penghalang untuk ku dari api neraka, tapi justru anak itu lah yang akan mendorong ku ke api neraka itu",
Aku duduk bersimpuh di kaki Ayah
"Ayah maafkan Salwa,
__ADS_1
Salwa yang salah ayah",aku berusaha untuk menggenggam tangan ayah, tapi ayah melepaskan tangan ku.
"Minta ampun lah kepada Allah,kau sudah melampaui batas,kemas barang-barang mu,kita akan pulang besok".
"Tapi ayah, bagaimana dengan sekolah ku?,
Salwa minta maaf ayah,Salwa berjanji tidak akan mengecewakan ayah lagi".Aku menangis menyesali, tapi ayah sama sekali tidak menghiraukan ku,ayah sudah sangat kecewa.
''Ayah sudah memutuskan kau harus ikut pulang,ayah sudah tidak mempercayai mu lagi,2 tahun lebih kami memberikan kamu kepercayaan tapi kamu tega membohongi Ayah dan juga umi mu".
"Ayah aku mohon,aku harus menyelesaikan sekolah ku ...hanya 1 semester lagi,aku mohon ayah!".
Aku melihat Fahri,dia hanya terdiam, tidak ikut campur.
"Ayah tidak ingin berkompromi dengan mu lagi,kemas barang-barang mu, besok pagi kita pulang..."
nada suara ayah sudah tidak seperti biasanya,ayah membentak ku, untuk pertama kalinya ayah membentak ku,aku berlari ke kamar ku,aku menangis sejadi jadinya,
"ayah,aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi putri yang lain nya, aku hanya ingin mengikuti keinginan hati ku,kenapa ayah tidak mengerti?, kenapa harus menuntut ku seperti yang kalian inginkan?". Gumam ku dalam hati.
Aku tertidur setelah lelah menangis,
tepat pukul 03.30 aku terbangun,aku melihat diri ku di depan kaca lemari ku,aku benar-benar terlihat berantakan,mata ku terlihat sembab efek semalam aku menangis,
Aku sangat menyukai tempat ini, bagaimana mungkin aku meninggalkan sebelum aku menyelesaikan sekolah ku, tapi aku tidak punya pilihan,aku tidak ingin berdebat dengan ayah.
Aku mengambil koper ku, mulai menyusun baju dan juga beberapa barang bawaan ku, aku hanya mengambil beberapa baju saja, berharap ayah dan umi berubah pikiran, setidaknya aku harus menyelesaikan sekolah ku yang tinggal satu semester lagi.
Setelah selesai menyusun barang bawaan ku,aku keluar kamar,aku melihat ayah sedang sholat, di ruang tamu dan Fahri...dia tertidur pulas di sofa.
Kebetulan apartemen ku hanya mempunyai satu kamar,aku berjalan ke dapur mencari sesuatu yang bisa untuk di makan,
perut ku sedari tadi tidak bisa di ajak kompromi,
Di kulkas hanya ada bahan-bahan membuat spaghetti,cukup untuk porsi 3 orang.
Aku membuat olahan spaghetti sapi pedas,
Saus bolognese berpadu dengan daging sapi, paprika,dan jamur,aku juga menambahkan taburan bon cabe, menambah tingkat kepedasan nya,
Selesai menyajikan spaghetti,aku membawa tiga porsi ke ruang tamu,
aku melihat Fahri sudah terbangun dan sibuk bermain handphone, sedangkan ayah masih khusyuk berzikir.
"ini makan selagi masih panas". meletakkan piring di depan Fahri.
Fahri beranjak ke kamar mandi, sepertinya dia mencuci muka, tidak berapa lama Fahri pun datang dan duduk di tempat semula, tidak begitu jauh dari tempat duduk ku.
Aku dan Fahri menikmati makanan nya tanpa ada yang bersuara,
Tidak berapa lama ayah pun datang dan ikut makan bersama kami.
"Apa kau sudah selesai mengemas barang-barang mu?".tanya ayah
"Sudah ayah", jawab ku singkat,
Tepat jam 5.15, setelah selesai melaksanakan ibadah sholat subuh,kami pun berangkat ke bandara.Aku meninggalkan tempat ini dengan penuh harapan semoga aku kembali lagi ke tempat ini, semoga amarah ayah segera mereda.Aku harus mencari cara agar ayah mengizinkan aku melanjutkan sekolah ku.
__ADS_1
"ya ampun....aku sampai lupa mengabari Revan , sudah 3 bulan belakangan ini dia selalu menemani ku, hari-hari ku selalu bersama dengannya".gumam ku dalam hati,aku merasa bersalah tidak pamit terlebih dahulu pada Revan, sepertinya dia akan mencari ku,ah... nanti saja aku menghubungi nya.