
Sekitar 2 jam lebih akhirnya kami pun sampai di di rumah orang tua Fahri.
"Assalamualaikum mbak Soraya..."
ucap umi sambil mengetuk pintu.
"Eh ada Khanza..
ada angin apa yang membawa kalian sampai ke gubuk kami, Silahkan masuk Khanza,ayo silahkan duduk".
ucap wanita paruh baya, seperti nya wanita ini ibu nya Fahri.
"Ternyata benar kata Fahri, putri mu benar-benar sangat cantik". (aku pun langsung menyalami ibu nya Fahri, wajah ku langsung memerah,aku tak menyangka kalau Fahri ternyata memperhatikan kecantikan wajah ku).
"nama ku Salwa tante..."
"panggil ibu Soraya saja nak,
oh ya Khanza tumben kau kemari?"
"oh gini mba si Salwa tumben-tumbenan mau liburan ala ala pedesaan, kan aku bingung mau bawa kemana."
Ibu Soraya dan umi pun asyik berbincang sementara aku sedari tadi mencari-cari Fahri.
"Salwa permisi mau numpang ke kamar mandi ya bu.."
"iya silahkan nak, kamar mandi nya di belakang ya nak.
"iya Bu..
ketika aku hendak membuka pintu kamar mandi, seseorang tiba-tiba membuka pintu nya,dan ternyata itu Fahri.
Fahri seperti nya baru selesai mandi,dia hanya memakai handuk di pinggang nya.kami berdua saling pandang dan sama-sama terdiam.Aku melihat Fahri berulang kali mengucek matanya yang tidak gatal,
"Salwa...?"hanya itu yang terdengar dari mulutnya...
"Hemmm...,"
Suara deheman ibu Soraya pun menyadarkan ku, Entah kenapa sedari tadi aku terus memandangi otot dada dan juga perut kotak nya Fahri,kenapa otak ku jadi mesum seperti ini? .
"permisi aku mau ke kamar mandi...".
#POV FAHRI
Saat aku membuka pintu kamar mandi,aku melihat wanita yang beberapa hari ini selalu menggangguku,"Salwa...?"
tidak mungkin Salwa ada disini, tapi kenapa dia terlihat begitu nyata,oh Tuhan kenapa aku terus saja memikirkan nya, tatapan mata nya begitu nyata,
"permisi aku mau ke kamar mandi,"
Suara nya ?? itu benar-benar suara Salwa,
"WOOOY....kok malah bengong sih".
teriak ibu menyadarkan lamunanku.
"tadi itu Salwa ya Bu?".
__ADS_1
"bukan,itu calon mantu ibu,"ucap ibu sambil menggoda ku.
Aku langsung ke kamar bergegas memakai baju.
#
sementara di ruang tamu ibu Soraya sudah menyajikan makanan ringan dan juga minuman.
"Silahkan dinikmati ya Khanza".
"Aduh jadi ngerepotin mbak"
"Oh ya Khanza,tadi aku melihat Fahri dan Salwa pandang-pandangan di belakang, seperti nya mereka sudah saling menyukai". sambil berbisik-bisik
"Aku pikir juga seperti itu mbak, soalnya tadi Salwa juga ngotot kali mau kesini,dia pikir umi nya nggak tahu apa kalau dia kesini itu mau ngeliat Fahri".(berbisik-bisik)
"Assalamualaikum tante..''.sambil menyalami Khanza
"Waalaikumsalam nak Fahri,"
umi Khanza dan ibu Soraya malah mengabaikan kehadiran Fahri, mereka berdua saling melepas rindu, maklum lah sudah lama mereka tidak bertemu.
"Umi ayo kita keluar,Salwa mau keliling sekitar sini...".Salwa tiba-tiba muncul.
"Aduh nak, duduk dulu ya, nanti kita pergi keliling nya, nanggung ceritanya,
terus gimana jadinya mbak?(beralih ke ibu Soraya)". Umi Khanza masih asyik berbincang dengan ibu Soraya.
Salwa pun duduk di sebelah umi nya, tepat di hadapan Fahri, mereka saling bertemu pandang tapi kemudian Fahri menunduk kan pandangan nya,
"nggak enak kalau jalan berdua Bu, nanti timbul fitnah". jawab Fahri
"sudah sana biarkan saja, nanti kalau ada orang nanya Salwa itu siapa, bilang saja dia itu calon istri mu"
Mendengar ibu Soraya mengatakan aku ini calon istrinya Fahri sukses membuat wajah ku merona.
"Ayo Salwa.."
Fahri berjalan ke luar rumah dan aku pun mangekorinya di belakang.
sepanjang perjalanan Fahri malah meninggalkan aku jauh di belakang, langkah kaki nya yang panjang membuat ku jauh tertinggal.Sudah hampir setengah jam kami berjalan kaki di perkebunan kelapa sawit, tanpa ada pembicaraan, jangankan mau bicara, Fahri saja sudah jauh meninggalkan ku di depan sungguh sangat tidak romantis, benar-benar membuat ku kesal.Percuma saja jalan bersama kalau akhirnya jalan sendiri-sendiri.Kalalau tahu seperti ini mendingan aku istirahat di rumah Fahri saja tadi.
"Hai neng cantik...".
tiba-tiba saja 2 orang laki-laki menggoda ku, entah sejak kapan mereka berdua mengikuti ku.laki-laki itu kira-kira berumur 30an.
Aku terus mempercepat langkah ku, berusaha mengejar Fahri.Aku semakin ketakutan, kedua lelaki itu semakin mendekati ku.
"Sombong bener neng,,di ajak ngobrol kok malah diam-diam bae".ucap salah satu laki-laki itu.
Aku terus mengabaikan kedua lelaki itu,dan berusaha untuk berlari tapi salah satu dari lelaki itu sudah mencengkeram tangan ku.
"Fahri...". teriak ku
Fahri menoleh ke belakang,dia melihat kedua lelaki itu memegang tangan ku, Fahri langsung berlari ke arah ku.
"Lepaskan tangan nya.."
__ADS_1
Sepertinya kedua lelaki itu mengenali Fahri, mereka langsung melepaskan tangan ku, mereka berdua berlari ketakutan.
"kamu tidak apa-apa kan Salwa?" tanya Fahri.
Aku malah mengabaikan pertanyaan nya,aku mengelus pergelangan tangan ku yang memerah akibat ulah lelaki tadi.
"maaf kalau aku sudah merepotkan mu, harus nya aku tidak berjalan bersama mu, kalau akhirnya kau malah meninggalkan ku". Ucapku dengan nada sedih.Aku benar-benar merasa kesal pada Fahri.
"Bukan seperti itu Salwa,aku bukan ingin meninggalkan mu,aku hanya...".
Fahri belum menyelesaikan kalimatnya aku sudah melangkah kan kaki, mengabaikan penjelasan nya.
"Salwa dengarkan dulu,(meraih tangan ku)
Aku hanya tidak terbiasa jalan berdua bersama lawan jenis ku,aku hanya menjaga pandangan orang,aku tidak ingin timbul fitnah."
Fahri pun langsung melepaskan tangan ku.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan kita, apa mau pulang ke rumah?".tanya Fahri
Aku malah menggeleng kan kepala ku
"Terus kita mau pergi kemana?".
"Aku mau ke sawah". jawab ku malu-malu
"ya sudah,ayo...".
"tapi jangan tinggalkan Salwa". rengekku
Fahri pun tersenyum dan mengangguk setuju.Aku yang suka sendirian mendadak nggak rela berjauhan dari Fahri.
Sekitar 10 menit berjalan kaki,kami pun sampai di persawahan,para petani sedang sibuk menanam padi,sawah yang terbentang luas terlihat begitu indah, rasa nya aku ingin berjalan di kubangan lumpur itu tapi Fahri melarang ku katanya nggak enak sama petani itu, takut kalau aku mengganggu kerjaan petani ini.
Aku dan Fahri berjalan mengelilingi persawahan tapi kali ini dia berjalan di sebelah ku.
Aku melihat para petani itu sedang membicarakan kami.
"sejak kapan ustadz Fahri menikah?
"istrinya terlihat cantik ya". seperti itu lah bisik-bisik para petani itu.Aku melihat Fahri hanya mengabaikan pembicaraan mereka.
"Fahri pulang yuk, capek.."
"Ayo.". jawab Fahri singkat.
Sesampainya di rumah Fahri,aku melihat umi dan ibu Soraya masih berbincang-bincang, begitu lah emak-emak kalau sudah bertemu, Tidak pernah habis pokok pembicaraan nya.
Aku duduk di sebelah umi.
Dan Fahri,dia memilih masuk ke kamar nya.
Dia tidak tertarik mendengar kan pembicaraan emak-emak berdua ini.
Setelah selesai sholat ashar aku dan umi pun pamit pulang, Awalnya ibu Soraya meminta kami untuk menginap,tapi umi menolak,umi tidak enak membiarkan ayah sendirian di rumah.Ayah itu tidak suka makan masakan buatan orang lain.
hai readers, terimakasih banyak sudah mampir, mohon dukungan nya ya para readers,maaf masih tahap belajar.Ini novel pertama ku,harap maklum masih banyak typo.
__ADS_1