Butterfly Trap

Butterfly Trap
Part 15


__ADS_3

" Jangan samakan kami dengan kalian, walaupun ras kami tidak sebanyak kalian, kami tidak akan pernah mengkhianati ras kami!" dengusnya tajam.


' Ngak usah gitu juga kali jawabnya Zeju, kayaknya dia dendam benci banget sama ras manusia'.


" Kenapa kedengarannya kau sangat membenci manusia Zeju?" tanyaku heran dengan sikap yang selalu ditunjukannya kepadaku.


Dia hanya mengabaikan ku dan melompat kembali ke sofa lalu menelantangkan badannya dan memperlihatkan perutnya yang penuh bulu, aku menahan diri untuk tidak menyentuh perut hewan menggemaskan itu namun sepertinya otak dan tanganku tidak sinkron, perlahan tanganku mulai meraba perutnya, dia kaget dan langsung menendang tanganku dengan kakinya kemudian dia berbalik dan menatapku dengan buas.


" Habisnya perutmu itu menggemaskan"


" Apa? kau mau mati, hah?" dengusnya kesal yang membuatku tertawa lepas.


" Ngomong-ngomong Sisi, kenapa kamu memanggilnya Zeju?" tanya Miranda.


" Zeju kependekan dari Z Junior, sikap arogannya sama dengan Zurich dan karena dia yang memberikannya kepadaku makanya aku kasih nama yang sama dengan pria menyebalkan itu".


" Menyebalkan? apa dia melakukan sesuatu padamu? bukankah kamu bilang dia melindungi mu?"


' Sial, aku salah ngomong lagi' pikirku.


Aku tertawa dengan canggung, " Itu...maksudnya wajah tampannya itu terlalu menggangguku, Madam tau kalau aku adalah gadis yang masih dalam masa pertumbuhan, melihat sikapnya yang dingin begitu tidak sesuai dengan wajahnya yang memikat".


" Benar begitu?"


" Tentu saja", jawabku cepat sambil membuang muka darinya.


" Kalau hanya mengaguminya saja itu tidak apa-apa, tapi jangan sampai jatuh cinta kepadanya Si, dia adalah orang pertama yang akan menghabisimu jika dia tau kalau kau adalah keturunan Mcgnagal, mengingat ayahnya dibunuh oleh racun yang sedang dikembangkan oleh keluargamu".


Aku mengangguk, aku tau dengan pasti apa akhir dari kisah hidupku jika seandainya aku jatuh cinta padanya, mungkin aku akan mati dalam kekecewaan, jika dia tau siapa aku sebenarnya, kehangatannya yang sekarang pasti akan hilang, berada didekatnya sangatlah beresiko, aku harus memikirkan cara untuk kabur dari pria itu.


Aku menghabiskan setengah hariku ditempat Miranda, kami melakukan penyelidikan di ruang bawah tanah tepat dibawah toko kue Miranda, membuka kembali dokumen-dokumen lama dan catatan peninggalan dari kakekku namun aku tidak menemukan apapun tentang Hommunculus kecuali fakta bahwa dia adalah mahluk mengerikan yang dapat mengancam keseimbangan dunia.


Kami menarik nafas, kemudian menyatukan semua informasi yang sudah dikumpulkan, masih banyak potongan-potongan puzzle yang belum terhubung, walaupun kami sudah tau bahwa kematian keluargaku dan Emperor Muller serta Grand duke Dagaras terdahulu berkaitan satu sama lain, namun siapa , bagaiman dan mengapa mereka melakukan itu kami masih belum bisa menarik kesimpulannya.


Saat hampir petang aku pamit kembali ke kediaman Zurich, tidak lupa aku membawa Zeju denganku, aku berharap agar dia mau memberiku beberapa informasi jika aku bisa membuatnya mempercayaiku, Marie dan Gawin sudah menungguku dengan sabar di luar toko.


Sepanjang perjalanan pulang aku hanya berbincang-bincang ringan dengan Marie, Zeju hanya diam di pangkuanku, walaupun dia bilang kalau hanya orang-orang yang memiliki darah siluman yang bisa mendengarnya namun aku tetap memintanya untuk tidak berbicara denganku jika aku bersama dengan orang lain.


Sesekali Marie berkelakar denganku, gadis itu tampak nyaman berbicara denganku namun dia tetap mempertahankan sopan santunnya walaupun statusku di rumah Zurich belum jelas, dia terlihat seperti orang yang tidak menilai seseorang dari luarnya saja, itulah yang membuatku menyukai gadis itu, masih asik tertawa tiba-tiba kereta kuda yang aku naiki berhenti.


" Sir Gawin, apa ada masalah?" tanya Marie melihat ke jendela, Gawin terlihat bersiaga di atas kudanya.


" Kita disergap, Nona Marie tetaplah di dalam dan lindungi Nona Butterfly" katanya sebelum meninggalkan kami.


Diluar terdengar pertarungan yang cukup sengit, Marie tampak gelisah, dia berkali-kali melihat keluar jendela.


" Nona, tetaplah disini, saya akan membantu Gawin, sepertinya dia kewalahan menghadapi mereka sendirian"

__ADS_1


Aku mengangguk, lalu Marie keluar dari kereta dan segera bergabung dengan Gawin, aku melihat kearah mereka yang masih bertarung, ada beberapa orang yang berjubah warna hitam, terlihat seperti pembunuh bayaran yang mencoba membunuhku semalam.


Aku bergidik ngeri.


' Apa mereka datang karena menargetkanku? sial sial, apa ini imbalan yang aku terima karena tidak mendengarkan kata-kata orang tua?'


Aku masih sibuk dengan pikiran-pikiran panaroid ketika kereta yang aku tepati dihantam oleh benda keras yang membuatku terpental keluar, Marie yang melihat kejadian itu berteriak memanggil namaku dan segera berlari ke arahku namun dia dihadang oleh beberapa orang.


Aku bangkit untuk berdiri, pinggangku terasa sakit, aku melirik kearah Zeju yang aku dekap dengan erat.


" Untunglah kau baik-baik saja", ujarku sambil tersenyum kemudian berusaha bangkit untuk bersembunyi di balik pepohonan namun salah seorang dari penyerang itu meraih pinggangku dan menghilang bersamaku meninggalkan Marie dan Gawin yang tengah bertarung.


Kami sampai disebuah kabin peninggalan pemburu, daerah itu tampak asing olehku, aku memutar pandangan ke sekitar yang hanya dipenuhi oleh pepohonan yang rimbun, sepertinya kami berada ditengah-tengah hutan antah berantah.


" Lepaskan aku, siapa kau", teriakku menggeliat dan meronta-ronta.


" Diam Lah ****** sialan", jawabnya masih memegang pinggangku dengan kasar, aku terus meronta untuk melepaskan diri dari pria itu namun semakin besar usahaku semakin kasar dia memperlakukan ku, aku mengigit bahunya dengan keras, dia terpekik dan melepaskan tangannya dari ku sehingga aku terjatuh ketanah.


Tanpa pikir panjang aku berusaha berlari memasuki hutan yang gelap itu, namun dia menarik rambut panjangku dari belakang.


" ****** sialan, berani-beraninya kau menggigitku", dengusnya kemudian dia melayangkan tamparan ke pipiku.


Aku terbanting, pipiku terasa panas dan perih, ada darah segar yang keluar dari sisi bibirku yang menandakan bagian dalam mulutku terluka oleh tamparannya, tidak menunggu lama dia menarik lenganku kasar menuju kabin.


" Lepaskan...lepaskan aku sialan" teriakku masih berusaha melepaskan diri darinya.


" Apa mau mu? " ujarku gemetaran.


" Jangan banyak bacot kau sialan!" jawabnya lalu memukul pundak dengan keras, aku merasakan sakit yang luar biasa dipundak ku dan kesadaranku perlahan-lahan menghilang.


*****


Aku membuka mataku namun aku tidak bisa melihat apapun, hanya ruangan gelap dengan cahaya matahari yang memasuki ruangan itu dari celah-celah dinding sehingga aku dapat melihat dengan samar-samar terlihat penutup mataku, aku sepertinya didudukan di sebuah kursi dengan keadaan tangan dan kakiku terikat, aku berusaha menarik tanganku tetapi sia-saia, ikatan tali itu sangat kuat sampai-sampai aku dapat merasakan kulitku yang terluka oleh ikatan itu.


" Dimana dia?" terdengar suara berat seorang pria namun karena mataku tertutup aku tidak bisa mengetahui siapa orang itu, tidak ada suara lain yang terdengar menjawab pertanyaan pria tersebut.


Aku bisa mendengar pintu dibuka dan ada beberapa pasang kaki melangkah memasuki ruangan tempatku berada, salah seorang dari mereka melangkah ke dekatku, aku bisa merasakan tangannya di daguku, lalu dengan kasar dia mendorong daguku keatas.


" Gadis ini?" tanyanya.


" Iya Sir, berdasarkan informasi yang kita terima memang dia orangnya", jawab yang lain.


" Cih, serangga pengganggu!", jawabnya sambil membanting daguku ke kiri.


" Siapa kau? apa yang kau inginkan dari ku?" tanyaku berusaha membuat suara terdengar setenang mungkin.


Terdengar tawa cekikikan.

__ADS_1


" Bagaimana kau mengetahui tentang garaga Q?" tanyanya tanpa basa-basi.


Aku diam.


" Apa kita perlu membiarkan dia hidup Sir? bukankah lebih baik kita menghabisinya disini?" tanya suara lain dengan kejam.


" Tidak usah terburu-buru", jawab orang yang dipanggil Sir yang ada di depanku itu, " Mari kita bersenang-senang dulu".


" Kau tidak mau menjawab ku, hah ******?" tanyanya kepadaku lagi, "Beritahu semua informasi tentang Zurich Dagaras atau kau akan mati disini?" ujarnya mengancam.


" Aku tidak tau"


"Heh, tidak tau ya?"


Aku merasakan benda tajam bersentuhan dengan kulit pergelangan tanganku, dia tertawa menyeringai.


" Apa ini? Temporary Marking?" dia menggores tanda yang ada dipergelangan tanganku, aku terpekik menahan sakit.


" Heh, berhenti berbohong ****** sialan!" teriaknya yang membuat sekujur tubuhku gemetaran.


" Aku tidak tau", jawabku terisak, aku sudah tidak bisa lagi menahan ketakutan dan kesakitan yang menjalar di sekujur tubuhku.


Dia tertawa dengan keras.


" Kau adalah kekasihnya dan kau bilang tidak tau? siapa yang sedang kau coba bodohi disini, huh?"


" Aku bukan kekasihnya, serius! aku tidak bohong"


" Bukan kekasihnya tapi kau punya tanda marking yang sama dengannya? apa kau sudah bosan hidup, huh?" teriaknya.


" Aku......Aku bukan....dia... bukan" jawabku terisak.


" Sepertinya dia tidak akan membuka mulutnya Sir" terdengar suara yang lain.


" Tidak apa-apa kalau kau tidak mau, mungkin kau lebih suka cambuk ini menghujani tubuh indah mu ini".


" Oh benar juga, jika tubuhmu menjadi buruk rupa, dia tidak akan mau lagi dengan mu, lalu apa? kau akan diperlakukan seperti sampah yang terbuang, sayang sekali" ujarnya membelai pipiku, aku menghindar.


" Apa yang sebenarnya kalian inginkan?"


Dia tertawa.


" Aku tidak sampai hati menyiksa seorang wanita, jiwa gentlemenku akan tercabik-cabik, huh sayang sekali padahal kau cantik begini"


Dia terdengar menjauh dariku.


" Apa kita akan membiarkan dia begitu saja Sir?"

__ADS_1


" Biarkan saja, ketakutan akan membuka mulutnya!" ujar pria yang dipanggil Sir itu menjauh dariku dan beberapa saat kemudian hanya kesunyian yang terdengar dari ruangan tersebut.


__ADS_2