Butterfly Trap

Butterfly Trap
Part 22


__ADS_3

" Kenapa malah nanya sama aku? ngak tau lah, yang lebih dulu tinggal disini itu emangnya siapa?"


" Zeju, aku serius nanya nih, ngak bisa ya kalau ngomong itu ngak pakai cabe? pedes amat, ngak sebanding sama wajah nan rupawan mu itu"


" Bodo amat" jawabnya kemudian duduk menyilangkan kaki di kursi sambil memutar bola matanya, tangannya dipangku di dadanya, aku menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahnya.


" Jadi kapan eksekusinya?"


" Langsung besok aja gimana?"


" Kau yakin? gimana dengan luka di tubuhmu?"


" Udah kering kok"


Dia menatapku tidak percaya, matanya menyusuri tubuhku mulai dari kaki sampai kepala lalu dia mengangkat bahu dan tersenyum miring, walaupun cara bicaranya selalu ketus, Zeju cukup peduli kepadaku, dia selalu membantuku walaupun di depanku dia akan mengeluh dan menolak permintaanku, aku rasa dia adalah tidak yang tidak bisa jujur pada dirinya sendiri, selalu lain di mulut dan lain di hati.


Tibalah hari dimana kami melaksanakan rencana, rencana pertama adalah keluar dari kediaman melalui lobang anjing di pagar tembok kediaman itu, aku berjalan mengendap-endap di lorong dan berusaha menghindari setiap pelayan yang lewat, karena Zeju bertubuh kecil dan tidak menarik perhatian maka saat mudah baginya menemukan jalan yang tidak di lewati oleh para pelayan.


Aku mengikuti dia ke taman dekat danau yang disampingnya ada tembok tinggi, lima puluh meter dari tempat eksekusi Zeju berhenti dan bersembunyi di balik tiang besar penyangga kediaman itu.


" Ada...."


" Sttttttt" dia menghentikan ku sebelum aku sempat bertanya lalu dia menunjuk ke arah dua orang pelayan.


Kami menunggu mereka untuk pergi tapi mereka malah berhenti tepat di dekat lobang anjing yang akan kami pakai sebagai tempat untuk melarikan diri, mereka berjongkok sambil memetik beberapa bunga yang tumbuh disana.


" Menurutmu, Nona Sisi itu siapanya Grand Duke? apa dia calon Duchess?" tanya salah seorang dari mereka membuka pembicaraan.


" Entahlah, tapi sejauh yang aku lihat, Grand Duke tampaknya sangat peduli kepadanya".


" Hmmm benar juga, tapi kalau dia memang wanitanya Grand Duke, harusnya beliau memberi gelar kepadanya, aku dengar beberapa bangsawan mengatakan kalau dia adalah simpanan, bahkan beberapa mengatakan kalau dia hanya mainan Grand Duke"


" Stttt apa yang kau bicarakan? bagaimana jika ada yang mendengar?"


Mereka melihat ke sekitar memastikan tidak ada yang mendengarkan pembicaraan mereka, aku terdiam, ada rasa aneh yang menggerogoti dadaku, memang benar kalau Zurich pernah menawarkan posisi Grand Duchess tetapi aku menolaknya, aku tidak menyangka kalau penolakan ku akan memberikan bahan rumor buruk tentangku.


" Tidak ada orang disini ".


" Kalau di pikir-pikir aneh juga, kau ingat waktu Nona Sisi terluka? Grand Duke selalu mendampinginya bahkan beliau terlihat sangat cemas ketika Nona Sisi belum juga sadar walaupun sudah berhari-hari berlalu".

__ADS_1


" Iya benar sih".


" Aku rasa ada sesuatu yang membuat Grand Duke belum memberinya gelar".


" Hmm.. kalau diingat-ingat lagi, saat itu Nona Sisilia banyak mendapat surat kan? apa dia menerimanya?"


" Entahlah".


Aku masih berdiri ditempat yang sama, menunggu para pelayan itu menyelesaikan pekerjaan mereka, mereka masih bercakap-cakap bahkan terkadang terdengar gurauan salah satu dari mereka sampai akhirnya keranjang meraka penuh dan berlalu pergi.


" Tidak usah terlalu dipikirkan, dari matanya nampak kok kalau Zurich itu peduli kepadamu, jika tidak tidak mungkin dia memberikan kalung itu kepada mu, bukan?" ujar Zeju berusaha menenangkanku.


Mungkin dia berpikir kalau ucapan para pelayan itu menyakiti perasaanku.


' Tuh kan? dia peduli banget sama aku, padahal aku ngak peduli dengan apa yang mereka katakan'.


Aku tertawa kecil lalu mengajak Zeju untuk melanjutkan aksi kami.


" Zeju, kami perhatikan sekitar, jika ada orang segera pukul kaki ku dari belakang oke?" ucapku kepadanya sebelum aku merangkak ke lobang tersebut.


Dia menganggukkan kepala.


" Apa yang kau lakukan Sisi?" ujar suara itu yang sangat familiar.


Aku segera mendorong seluruh badanku, kemudian dengan cepat berdiri menghadap pria itu, dia tersenyum kepadaku namun itu bukan senyuman hangat ataupun senyum bahagia tetapi senyuman sarkas.


" Ya....yang mulia " jawabku dengan tawa canggung.


" Aku........"


" Kau apa? kau mau kabur?"


' Iya...aku memang mau kabur'


" Ngak kok yang Mulia, aku....aku sedang hm..." aku memutar otakku untuk menjawab pertanyaannya.


" Aku sedang bermain dengan Zeju, benar sedang bermain hehe" tambahku.


" Benarkah?" tanya melihat kebelakang ku.

__ADS_1


" Iya" jawabku masih dengan tawa canggung.


" Mana Zeju kalau begitu?"


" Di bela....."


Aku menoleh ke belakang, tetapi kelinci putih itu tidak ada, artinya dia tidak mengikuti melewati lobang tersebut, aku membungkuk untuk melihat ke seberang tembok itu tapi hewan itu sudah tidak ada lagi disana.


' Kelinci sialan itu, dasar pengkhianat, awas saja nanti, aku ngak bakal kasih kamu makan, bisa-bisanya kau lari di saat yang penting seperti ini?'


" Tadi ada disini kok, dia pergi kemana ya?" ucap pura-pura celingak-celinguk.


Zurich tampaknya tidak puas dengan jawabanku, dia melangkah maju di dekatku yang membuatku melangkah mundur sampai tersandar ke dinding tembok, aku menelan ludah dia mengurungku dengan tangannya di dinding itu.


" Ap... apa yang kau lakukan?"


Dia tidak menjawab malah membelai pipiku, aku menahan nafas dan memejamkan mataku, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dariku.


' Apa dia akan mencium ku? lagi? tidak.......hatiku belum siap untuk ini, tapi aku mau, kyaaaaaa bukan bukan, apa aku orang mesum hah? berhenti berpikir yang tidak-tidak'.


" Bernafas Lah, apa kau mau mati karena kehabisan nafas?" bisiknya di telingaku yang membuat bulu kuduk ku berdiri.


Suaranya lembut tapi dingin, dia terdengar khawatir tetapi juga marah, aku tidak berani bergerak apa lagi membuka mata. Kami masih diposisi yang sama sepersekian detik sampai akhirnya Zurich mencubit hidungku.


" Awww" sungutku sambil mengusap hidungku, aku melihat lurus ke mata biru dan kembali menelan ludah tapi kali bukan karena takut tapi karena gugup.


' Kenapa wajahnya dekat sekali sih? aduh ngak baik untuk jantungku'.


" Aku tidak akan pernah melepaskan mu, tidak lagi, jika kau kabur dariku, entah apa yang akan aku lakukan, aku akan selalu memperlakukanmu dengan baik tapi tolong jangan pergi secara diam-diam dariku".


Aku membuang muka, sesekali aku mencuri pandang ke sepasang mata biru tersebut.


" K..kau terlalu dekat yang mulia, bisakah kau melepaskan ku dulu? setelah itu kita bicara".


" Kenapa?"


' Kenapa? tentu saja karena aku tidak nyaman dengan posisi begini yang mulia'.


" Karena posisi seperti ini bukan posisi yang nyaman untuk berbicara dan lagi aku tidak berusaha kabur, beneran, tadi main sama Zeju didekat sini, karena penasaran kenapa ada lobang disini makanya aku coba masuk" jawabku berusaha meyakinkan dia.

__ADS_1


Dia masih menatapku lama lalu melepaskan tangannya yang tadi mengunciku, dan dia melangkah beberapa langkah ke belakang, tetapi matanya masih menatap tajam kedalam mataku.


__ADS_2