
Menghindari Castella lebih melelahkan dari pada yang ku bayangkan, setiap kali aku muncul di pusat pertokoan dia juga selalu muncul dengan para minionnya, walaupun dia tidak secara terang-terangan memperlakukan ku dengan buruk namun bukan berarti dia membuatku nyaman untuk berbelanja.
Aku memutuskan untuk tidak keluar dari kediaman karena tidak mau bertemu dengan Castella, bahkan walaupun tujuan ku hanya Guild Hummingbird kami akan selalu berpapasan di jalan, entah karena dia mengikuti ku ataupun entah karena tanpa sengaja.
Aku berjalan-jalan di taman untuk menghilangkan kebosanan ku, ini pertama kalinya aku merasa kesepian selama sembilan belas tahun hidup ku, biasanya aku selalu punya teman untuk berbicara entah itu Miranda, Nabi, Stella atau Zeju.
Aku memandang gerbang depan yang di jaga oleh beberapa ksatria, kemudian tampak sebuah kereta kuda masuk, dengan penasaran aku bergerak agak lebih dekat namun aku tidak melihat siapa pemilik kereta kuda yang mewah tersebut, aku yakin itu bukan Zurich karena dia selalu menunggang kuda jika keluar dari kediaman.
Aku mengendap di balik tanaman mawar yang membentang panjang seperti pagar tanaman, aku melirik ke arah kereta kuda yang berhenti tersebut kemudian aku dapat melihat sosok wanita yang anggun keluar dari kereta tersebut.
" Castella? dia bahkan mengikuti ku sampai kesini?" gumam ku.
Kepala pelayan tampak menyambutnya dengan ramah, mereka mengobrol beberapa saat kemudian Castella menoleh kearah taman, aku kembali bersembunyi dan bergerak agak jauh dari tempat tersebut, aku terus memperhatikan gerak-geriknya dari jauh.
" Gawat, gawat, gimana ini? berapa lama aku harus berada di sini untuk menghindarinya?" gumamku masih melihat ke arah Castella, aku menggigit kuku jempolku.
" Siapa yang kau hindari?"
" Castella lah, siapa lagi? haduh dia kenapa masih belum masuk sih?"
" Kenapa kau menghindari dia?"
" Tentu saja karena dia....."
Aku berhenti dan menoleh ke belakang, aku ternganga karena tanpa sadar aku sudah bicara dengan seseorang yang tidak aku kenal, aku menelan ludah dan memperhatikannya, dia seorang pria dengan mata biru dan rambut pirang keemasan tapi lebih gelap dari warna rambut Zurich.
Sekilas aku pikir dia mirip dengan Zurich namun karena pakaiannya yang biasa saja, aku pikir dia adalah salah satu pelayan di kediaman itu.
" Apa barusan kita benar-benar ngobrol? maksud ku itu semua tidak di kepala ku?" tanya ku padanya dengan wajah pucat.
' Bagaimana ini? bisa-bisanya aku menjawabnya tanpa sadar'
Dia tersenyum melihat ekspresiku yang tampak cemas, dia melirik ke arah Castella yang masih berdiri di depan kediaman.
__ADS_1
" Apa kau tidak mau bertemu dengannya? Aku rasa Miss itu mencari Grand Duke" ujarnya.
" Kau benar, tapi akan gawat kalau dia melihat ku disini, bisa-bisa dia menggorok leherku!" jawabku sambil memeragakan leher yang terpotong pakai jempol ku.
Dia tertawa dengan keras, aku segera menutup mulutnya dengan tanganku.
" Ssstt......kau gila? bagaimana jika dia dengar lalu datang kesini?"
" ummmmm mmmmm mmm"
" Apaan? ngomong yang jelas!"
Dia menunjuk ke arah tanganku yang menutup mulutnya, aku tersadar dan segera melepaskan tanganku.
" Ma..maafkan aku!"
" Suara ku tidak akan terdengar sampai ke sana, ngomong-ngomong apa hubungan mu dengan pemilik kediaman ini?"
Aku melihat ke arahnya lama, aku bertanya-tanya kenapa dia tidak mengenalku mengingat aku sudah lama berada disini, kalaupun dia adalah ksatria yang baru di tempatkan di kediaman Grand Duke tapi setidaknya dia pasti mendengar desas-desus tentang ku.
Dia tampak sedikit terkejut dengan tindakanku namun kemudian tersenyum melihat kearah ku, aku mengisyaratkan dia untuk mendekat dengan tanganku.
" Sebenarnya aku adalah kekasih pemilik bangunan ini" bisik ku kepadanya.
Dia menatapku tidak percaya, dia melirik ku dari atas sampai ke bawah, saat itu aku hanya memakai gaun biasa dan tidak memakai perhiasan apapun karena aku hanya akan berdiam diri di rumah dan tidak mengharapkan kedatangan siapa pun.
" Kamu?" tanyanya setengah tertawa.
" Kau ngak percaya? tapi ksatria di sini harusnya mengetahuinya karena itu adalah topik terhangat beberapa bulan terakhir di ibu kota!"
" Maksud mu topik tentang wanitanya Grand Duke? dan dia adalah kamu?"
" Benar! kenapa kau melihat ku begitu? kau tidak percaya?"
__ADS_1
Dia kembali tertawa, kemudian dengan sopan membungkuk untuk minta maaf kepada ku namun aku menghentikannya.
" Lupakan saja, aku hanya kekasih bukan Grand Duchess!"
" Aku yakin Grand Duke menjadikan mu kekasih dengan tujuan untuk menjadikan mu Grand Duchess"
" Bagaimana kau bisa tau?"
" Hmm semua orang tau kalau Grand Duke adalah seorang yang memiliki sikap yang dingin ke semua orang, bahkan dia menolak pernikahan dengan wanita yang paling diinginkan oleh pria sekerajaan, sekarang dia meminta mu jadi kekasihnya, tentu saja itu karena dia menganggap mu spesial!"
Aku terbatuk kecil mendengar ucapannya, " Tampaknya walaupun kau baru di sini, namun kau memiliki pengetahuan yang banyak, tidak buruk!"
Aku kembali menepuk pundak pria itu, kali ini di balas dengan tawa yang keras darinya, aku melihatnya dengan bingung.
" Apa ada sesuatu yang lucu?" tanyaku karena pria itu masih terus tertawa.
Dia menggeleng tapi tawanya masih belum berhenti, sepertinya dia sangat menikmati saat-sat berbicara denganku, beberapa saat kemudian kami di kagetkan oleh kedatangan kepala pelayan.
" Ternyata anda di sini, saya sudah mencari anda kemana-mana" ujarnya dengan membungkuk sangat dalam.
" Kau tidak usah terlalu sopan begitu, aku hanya jalan-jalan untuk menghidup angin!" jawabku kepada kepala pelayan tersebut.
" Ah, saya minta maaf Miss, maksud saya saya mencari Baginda Emperor!" jawabnya.
" Ya...? Em.... emperor? kenapa kau mencarinya di sini? Emperor tentu saja berada di kastilnya!" jawabku sambil tertawa kemudian tersadarkan oleh satu hal.
' Apa dia adalah Emperor yang di maksud?' pikirku sambil melirik ke pria berambut pirang yang kini tersenyum ke arah ku, aku terjatuh untuk berlutut.
" Oh my god, salam kepada baginda matahari harapan!" ucapku dengan nada bersalah, kepala ku tertunduk ke bawah.
Dia mengulurkan tangannya kepadaku, " Bangkitlah!"
" Saya mohon maaf atas kelancangan saya, bukan, saya mohon maaf karena tidak mengenali anda, ah tidak bukan begitu, maafkan saya Baginda!" ucapku tidak bisa berkata-kata.
__ADS_1
Aku tidak menjabat tangan itu, aku tidak tau apakah dia benar-benar tidak mempermasalahkan tindakan ku ataukah dia sedang mengujiku, aku masih menundukkan kepala saat lengan yang kuat mengangkat ku untuk berdiri kemudian aku merasakan bahuku ditutupi oleh sesuatu yang berwarna hitam.
Aku terkejut melihat pemilik dari lengan kuat itu, dia memberi salam dengan tegas kepada orang yang ada di hadapannya kemudian menarik ku ke dekatnya, aku menelan ludah karena situasi saat ini dapat menyebabkan kesalahan pahaman.