Butterfly Trap

Butterfly Trap
Part 31


__ADS_3

" Apa anda benar-benar mau bertemu dengan komandan Miss?" tanya Claude saat kami sudah berada di depan pintu ruang kerja Zurich.


Aku dengan senyuman canggung menggelengkan kepala lalu mendekat ke Claude dan berbisik.


" Miss Castella memang terlihat ramah Sir hanya saja saya tidak nyaman bicara dengannya, di tambah lagi tentang rumor bahwa dia adalah kekasih masa kecil Grand Duke yang akan jadi calon Grand Duchess, takutnya dia salah paham dengan hubungan kami, makanya saya menghindar"


" Apa yang kalian lakukan?"


Tiba-tiba saja Zurich sudah berada di belakang ku yang tengah berbisik dengan Claude, aku terperanjat, dia menatap kami dengan tajam.


" Oh komandan, saya mau ke ruangan anda untuk melaporkan perkembangan pasca serangan dan kebetulan bertemu dengan Miss Sisilia di jalan menuju ke sini", jawab Claude setelah memberi hormat.


' Mungkinkah moodnya lagi ngak baik? kenapa dia terlihat marah begitu?'


" Karena saya tidak ada urusan di sini, saya pamit dulu Yang Mulia dan Sir Claude", ujarku membungkuk dan berbalik pergi namun tanganku di hentikan oleh Zurich.


" Kalau kau tidak punya urusan dengan ku, mengapa kau datang ke sini? apa kau hanya mengantar Claude ke sini?"


" Ya..? apa maksud anda?"


Dia menatap mataku dengan tajam, tangannya masih memegang tanganku dengan erat, aku ke kebingungan dan melirik ke arah Claude yang sama bingungnya dengan ku.


" Kenapa kau tidak mampir dulu ke ruang kerja ku?"


Dia menarik tangan ku ke dalam ruangan itu, aku berusaha untuk menepisnya tapi dia lebih kuat dari yang aku duga.


" Eh ngak usah Yang Mulia, aku mau jalan-jalan melihat pemandangan di kota Dagara!"


" Duduklah, dan ceritakan apa yang kau bisikan kepada Claude!" tegasnya sambil melepaskan tanganku.


Sementara Claude mengikuti kami dari belakang dan tidak mengatakan satu kalimat pun.


' Apa dia cemburu? yang benar saja Sisi, mana mungkin pria musim dingin seperti itu akan cemburu kepada ku'


" Aku cuma mengatakan hal yang tidak penting!"


" Lalu kenapa kau harus berdekatan dan berbicara sambil berbisik begitu!?"


Aku melirik ke arah Claude yang sedang berusaha menahan tawanya.


" Itu.... " aku berhenti kemudian mengernyitkan dahiku.


" Kenapa aku harus memberi tahu mu? kalau di pikir-pikir lagi semua itu bukan suatu hal yang cukup membuat orang marah, kenapa kau bersikap aneh begitu?"

__ADS_1


" Aneh!?"


Dia berdiri dan menarik nafas.


" Claude, keluar sebentar!"


Claude mengangguk dan menuruti perintah Zurich untuk pergi dari ruangan itu dan meninggalkan kami dengan keheningan yang mencekam.


" Kau bilang aku aneh!? siapa yang tidak marah jika melihat kekasihnya bermesraan dengan pria lain, huh?"


" Ke...kekasih!? apa maksud anda kekasih!?"


Dia menatap ku sambil mengernyitkan dahinya, wajahnya memerah, aku tidak tau apakah itu merah karena menahan malu ataukah merah karena menahan amarah, dia mengangkat tangannya dan menyingsingkan lengan baju, di sana tampak tanda berwarna merah terlukis dengan indah.


" Dengar Sisi, selama tanda ini masih ada pada kita, kau adalah milikku dan kau berada dalam genggaman ku, usaha apapun yang kau lakukan itu akan sia-sia, kabur atau pun mencoba merayu pria lain, aku tidak akan pernah melepaskan mu!"


Aku menelan ludah dan masih menatapnya dengan beribu tanda tanya.


' Sebenarnya apa yang terjadi disini? kenapa dia terdengar seekstrim itu? apa maksudnya aku miliknya? apa dia menyukai ku? bukannya ini hanya hal sepele? apa pantas semarah itu?'


" Aku tidak paham apa maksud anda yang mulia, kenapa anda semarah itu? tidak mungkin anda sedang cemburu, bukan?"


" Menurut mu?"


" Sudahlah Yang Mulia, aku tidak tau apa yang membuat mu begitu marah, aku tidak mencoba menggoda Sir Claude, yang ada dia membantu ku barusan" jawabku berusaha setenang mungkin.


" Dan aku juga tidak mengerti kenapa kau bisa salah paham, aku hanya membisikkan fakta bahwa aku tidak nyaman berbicara dengan Miss Castella karena mungkin dia berpikir aku akan merebut mu darinya, dan mengingat dia adalah calon Grand Duchess aku tidak mau masalah ini membuat terlihat seperti gadis penggoda, itu saja dan kau muncul dengan wajah dingin lalu mulai marah-marah tidak jelas".


" Lalu kenapa harus berbisik?" kali ini suaranya mulai tenang namun tatapannya masih dingin.


" Gimana kalau seseorang mendengar ku dan mengadukannya kepadanya, bisa-bisa aku kehilangan nyawa duluan sebelum aku sempat menikah" jawabku sambil menggerakkan jempol memotong leherku.


Dia menghela nafas kemudian duduk di sampingku dan membelai rambutku dengan lembut, dia diam sesaat lalu memandang lurus ke dalam mata ku.


" Memang benar kalau ada pembicaraan tentang pernikahan kami dulunya, tapi itu tidak terjadi karena aku menolak, hubunganku dan Castella hanya sebatas rekan kerja dan tidak lebih, jadi kau tidak perlu khawatir dia akan menyakiti mu, aku adalah milik mu dan akan selalu berada di pihak mu".


' Kenapa dia mengklarifikasinya? apa dia tidak mau aku salah paham dengan hubungan mereka?' pikirku sambil tersenyum kecil.


" Bukankah hubungan kita juga...." aku berhenti.


" Juga apa?"


" Hubungan kontrak!? jawabku setengah berbisik.

__ADS_1


" Terserah kau menganggap apa hubungan kita, tapi bagiku kau adalah calon pendamping hidup ku, aku tidak suka kau dekat dengan laki-laki selain ku, dan aku juga tidak suka saat kau mencoba kabur dari ku, apa kau tidak menyukai ku? aku tampan, kaya dan memiliki jabatan, lalu apa yang tidak kau sukai dari ku?!" tanyanya dengan wajah bingung.


' Idih narsis!, ck andai kau tau, aku memang menyukai mu tapi untuk bersama itu adalah hal yang tidak mungkin, bagaimana kalau kau akhirnya tau kalau aku adalah anak dari keluarga yang membunuh ayah mu? maukah kau mempercayai penjelasan ku? apakah kau akan percaya jika aku mengatakan kalau keluargaku juga korban?'


Aku hanya tersenyum hambar.


" Tidak ada yang kurang dari mu Yang Mulia" jawabku.


" Aku sudah memberi tahu mu semuanya, aku pamit dulu, juga aku tidak pernah ke sini sebelumnya, jadi aku mau merasakan keramaian pasar pelabuhan".


" Baiklah, aku akan meminta ksatria ku untuk mengawal mu"


" Tidak perlu Yang Mulia, kalung yang kau kasih sudah lebih dari cukup" jawabku cepat.


Aku bangkit dari tempat dudukku dan melangkah meninggalkan Zurich yang menatapku dengan wajah khawatir.


" Bersenang-senanglah!" ujarnya pada kahirnya.


Aku tersenyum kemudian menghilang di balik pintu, aku menyusuri koridor dan berjalan ke gerbang utama, aku meminta pelayan yang aku temui untuk mengantar buku yang aku bawa ke kamarku dan juga meminta dia untuk menyiapkan kereta kuda untuk ku.


Zeju berubah ke wujud manusianya saat kami sudah sampai di tengah-tengah kota pelabuhan, wajahnya yang menawan cukup untuk menarik perhatian penduduk sekitar terlebih lagi para kaum perempuan.


" Jadi apa kalian sudah memutuskan untuk bersama?" tanyanya sambil berjalan di sampingku.


Aku menggeleng.


" Itu tidak mungkin".


" Kenapa? dia sudah mengungkapkan perasaannya kepada mu, bukan?"


" Mengungkapkan apanya, cih dari pada cinta itu lebih terdengar seperti obsesi di telinga ku".


" Bukankah kau juga menyukainya, kenapa kau tidak mencoba saja dulu, siapa yang tau masa depan, mana tau apa hal kau khawatirkan tidak akan terjadi di masa depan".


Aku meliriknya kemudian menghela nafas.


" Memangnya kau mau hidup bersama orang yang keluarganya sudah membunuh orang tuanya?"


" Apa Mcgnagal melakukan perbuatan kejam seperti itu, Mcgnagal yang ku kenal adalah pria dengan hati yang baik dan ramah, dia tidak pernah menilai sesuatu berdasarkan tampilannya, selain pintar dia juga sangat bijaksana" ujarnya berhenti di stand penjual buah lalu membelinya beberapa buah.


" Tentu saja dia seperti yang kau tau, eh dari mana kau dapat duit untuk membeli buah itu?"


" Kau pikir aku miskin seperti mu!" jawab sambil tersenyum miring.

__ADS_1


__ADS_2