
Tentu saja ucapan Penelope itu membuat dia semakin geram, dia kembali turun dari kudanya dan dengan cepat berjalan ke dekat Penelope, auranya benar-benar seperti dia hendak membunuh Penelope dengan sekali tebasan, gadis itu menelan ludahnya namun dia masih berusaha untuk membuat komandannya itu kembali sadar.
" Aku punya peralatan yang bisa kita gunakan untuk menuruni bukit ini, dan apapun yang terjadi kita harus menemukan Miss Sisi dulu Sir!"
" Apa maksud mu menemukan mayatnya? kau juga mau bergabung dengan mereka semua?" geram Zurich sambil menodongkan pedangnya ke leher Penelope.
" Sir....." teriak Claude.
" Brother, sadarkan dirimu, bertindak impulsif seperti ini hanya akan memperburuk keadaan!" Felix juga berusaha menenangkannya.
Zurich tidak bergeming, pedangnya masih mengarah ke leher Penelope, tatapannya tajam dan dingin yang membuat kaki Penelope gemetar dan terasa lemas.
" Sir..." ucapnya dengan suara gemetar.
" Coba anda lihat tanda marking di tangan anda, jika tanda itu masih disana berarti kita masih punya kesempatan untuk menyelamatkan Miss Sisi"
Zurich melirik ke tangannya yang menggenggam pedang kemudian dengan kasar dia merobek seragamnya tersebut dan di kulit telanjangnya tersebut terlihat tanda seperti bunga teratai masih tergambar dengan jelas, melihat itu warna wajahnya kembali berubah.
" Terima kasih Tuhan!!" ucapnya dengan suara penuh pengharapan.
Penelope segera menuju kudanya dan mengeluarkan beberapa buah tali dan peralatan lainnya lalu memberikannya kepada Zurich.
" Apa maksudnya tanda marking? jadi Miss Sisi adalah istri mu, Brother?"
Felix benar-benar terkejut mendengar informasi yang baru itu, selama ini dia menyangka bahwa Zurich yang sedikit tertarik pada gadis itu namun melihat tanda di tangannya dan reaksinya saat kemungkinan gadis itu masih hidup membuat Felix bersimpati dan ikut serta turun ke jurang walaupun dia belum mendapat jawaban dari sepupunya itu.
Jurang itu cukup terjal, dan banyak bebatuan yang tertanam di dindingnya sehingga mereka dapat dengan mudah turun ke dasar dan di dasarnya terdapat sungai kecil yang mengalir ke laut, mereka menyusuri pinggiran sungai tersebut namun sosok Sisilia tidak mereka temukan.
" Apa ini alas kaki Miss Sisi Sir?" tanya salah saru dari bawahan yang ikut bersamanya.
Zurich dengan cepat mendekat kearahnya dan dia ambilnya alah kaki yang hanya sebelah tersebut, benar itu adalah alas kaki yang di pakai Sisilia.
__ADS_1
" Dimana kau menemukan ini?"
" Di sana Sir, dekat batu besar!"
Zurich bergerak menuju batu besar yang dia tunjuk namun tidak ada apa-apa di sana, dia kembali kecewa.
" Brother, aku menemukan ini!" ucap Felix sambil memberikan dua buah benda yang satu berbentuk jarum kompas.
" Ini adalah artifak yang dapat membuat penggunanya tidak dapat dilacak, benda ini sangat langka dan seingat ku hanya satu orang yang memilikinya yaitu master Guild Humingbird!"
Zurich menarik nafas, sekarang dia paham mengapa dia tidak bisa menemukan gadis itu dengan cepat dan mengapa gadis sangat percaya diri saat dia kabur dari kediamannya.
Mereka sudah mengitari daerah itu beberapa kali namun sosok Sisilia tidak kunjung ditemukan, Zurich mulai putus asa.
" Bagaimana jika kau kembali ke Kapital untuk mendapatkan pemurnian Brother? aku akan mengutus bawahan ku untuk mencari Miss Sisi ke segala penjuru!"
" Tidak, kita harus segera menemukannya atau Duke Helwise akan mengirimkan utusan selanjutnya?"
" Apa gunanya kau menemukan Miss Sisi nanti jika keadaan mu sudah diambang batas seperti ini? Brother, mari kita percaya bahwa Miss Sisilia akan baik-baik saja, selagi kita tidak menemukan mayatnya atau tidak mendengar kabarnya maka itu sudah menjadi kabar bagus, bukan?"
Akhirnya Zurich mengikuti ucapan Felix dan ikut ke Kapital bersamanya, setelah mendapat pemurnian Zurich segera membatalkan pertunangannya dengan Castella yang membuat semua orang di Kapital menanyakan alasan tindakannya tersebut.
Tentu saja hal itu mengundang kecaman amarah dari pihak Duke Helwise dan para pengikutnya, perang dingin antar fraksi yang mendukung Zurich dan fraksi yang mendukung Duke Helwise pun terjadi sehingga kekacauan tidak dapat di hindari.
Namun di tengah-tengah kekacauan itu seorang gadis dengan setengah berlari memasuki kediaman Dagaras, dia dengan marah menaiki anak tangga dan meminta pelayan untuk mengantarnya ke tempat Zurich, pelayan kehabisan akal karena desakan dari gadis itu, belum sempat dia menghubungi Zurich, gadis itu membabi buta memasuki ruangan Zurich.
Dia dengan geram mendekat dan memukul meja kerja Zurich, menatapnya dengan penuh amarah dan kebencian, wajahnya memerah dan genangan air mata membuat matanya berkaca-kaca.
" Kau bilang kau akan melindunginya! kau pembohong! kau penghianat!" teriaknya dengan geram ke wajah Zurich.
Zurich hanya diam, matanya menatap kosong ke arah gadis tersebut, wajahnya terlihat cekung dan kurus, wajah gagahnya itu terlihat menua beberapa tahun, mungkin karena semua malapetaka yang dia hadapi.
__ADS_1
" Kenapa kau diam saja? kau seharusnya memberi penjelasan!" gadis itu masih berteriak dan kali dia menggenggam kerah baju Zurich.
" Miss Nabi, hentikan!!" teriak Claude sambil mengatur nafasnya.
Dia baru saja kembali dari markas Taurus ketika dia mendengar suara gaduh para pelayan dan saat dia mendengar bahwa gadis dari keluarga Marquis menerobos masuk dan meneriaki Grand Duke, Claude dapat mengerti apa yang terjadi dan segera menuju tempat dimana mereka berada.
" Kau tidak hanya menipunya, kau bahkan mengkhianati saudara ku!" lolongnya dalam isakan tangis yang memilukan.
Gadis itu melonggarkan genggamannya dan terduduk di depan meja kerja tersebut, wajahnya dipenuhi air mata dan isak nya semakin memilukan, hati Nabi semakin hancur saat dia mendengar bahwa adik angkatnya itu jatuh ke jurang dan tidak di temukan sampai sekarang.
" Kami sedang berusaha menemukan Miss Sisi, jadi tenangkan dirimu!" ucap Claude kepadanya.
Claude mengerti mengapa Nabi atau pun Komandan nya menjadi seperti itu, Sisilia sudah menjadi bagian yang tidak tergantikan dalam hidup mereka dan dengan tidak adanya kabar berita tentang gadis itu membuat suasana kediaman Dagaras terasa sangat mencekam.
Nabi tanpa sengaja melirik ke arah lengan Zurich dan dengan wajah panik dia kembali mendekat ke arah Zurich dan meraih tangannya.
" Tandanya....." jeritnya histeris.
" Kenapa tanda markingnya sudah tidak ada di tangan anda?" ucapnya dengan nada lirih.
Zurich reflek melihat ke tangannya, matanya yang tadi kosong sekarang terbelalak sebelum kemudian dia terjatuh kelantai dan air hangat mengalir menjatuhi pipinya.
" Tidak mungkin....!" bisiknya dengan lirih.
" Ini tidak benar! aku tidak akan pernah mengakuinya!"
" Sir!!!"
Claude mendekat ke arah Zurich yang menatap tangannya dengan pasrah dan putus asa, tetesan air membasahi tangan yang yang sudah terkulai lemas tersebut.
" Sir, Sisi tidak mungkin meninggal bukan?" isak Nabi kepada Zurich.
__ADS_1
Dia mengguncang tangan Zurich dengan keras sambil masih meminta jawaban dari pria yang hanya diam terpaku di lantai tersebut.
" Sisilia....!" desis pria tersebut dengan suara serak dan lirih.