Butterfly Trap

Butterfly Trap
Side Story 8


__ADS_3

Zurich benar-benar geram saat dia melangkahkan kakinya ke markas zodiak Taurus, dia sangka gadis itu sudah menerimanya dan tidak memikirkan untuk melarikan diri lagi, Zurich sudah meletakkan kepercayaannya seratus persen kepada gadis itu namun wanita pujaan hatinya itu seperti tidak menghargai perasaannya.


" Apa kau sudah menemukan jejaknya?" tanyanya kepada Wulfram


" Saya minta maaf Sir" jawabnya sambil menggeleng.


" Sepertinya Miss Sisi memiliki alat yang dapat mengganggu pelacakan"


" Sial!!" teriak Zurich sambil memukul meja kerjanya.


Baginya Sisilia adalah segalanya, jika dia tidak bisa membuat gadis itu tetap bersama nya secara sukarela maka dia akan melakukannya secara paksa, kejadian ini membuatnya tidak bisa berpikir jernih, dia mengerahkan semua pasukannya untuk mencari ke seluruh pelosok kota.


" Kapan terakhir kali kau melihatnya?" tanyanya kepada kepala pelayannya dengan nada marah.


Pria paruh baya itu tidak mampu melihat wajah atasannya itu, seluruh tubuhnya teras mendingin dan keringat dingin berjatuhan di pelipisnya.


" Kemarin sore Yang Mulia, dia meminta kami untuk tidak mengganggunya dan karena kondisi Nona yang tidak stabil akhir-akhir ini makanya saya mengikuti permintaannya, tapi siapa yang menyangka dia akan menggunakan kesempatan itu untuk keluar dari sini Sir"


" Cih!" dengus Zurich kemudian dia bergegas menuju kamar Sisilia, kamar itu masih terlihat sama seperti biasanya, jejak bahwa dia pernah tinggal disana juga terlihat karena ada beberapa kertas yang berserakan di atas meja riasnya.


Zurich duduk di atas tempat tidur gadis itu dan menghirup aroma yang masih tertinggal di atas kasur itu, dia kembali dirasuki oleh kemarahan, di pukul nya kasur itu dengan keras sambil mengumpat, tidak lama kemudian seseorang mengetuk pintu dari luar.


" Masuk!"


Claude masuk dan melangkah dengan hati-hati, diperhatikannya wajah komandannya yang terlihat masam tersebut, dia melangkah mendekat.

__ADS_1


" Ada informasi yang mengatakan bahwa Miss Sisilia sedang berada di kediaman Marques Rafael sekarang, haruskah saya menjemputnya kesana Sir?"


Dia melihat ke arah Claude, tidak ada perubahan pada wajahnya setelah mendengar kabar dari pujaan hatinya, alih-alih dia menatap Claude dengan tatapan mematikan, Claude menelan ludah, dia sadar kalau saat ini mood atasannya itu sangat buruk, jika dia salah bicara dia yakin atasannya itu akan menyiksanya nanti.


" Tidak! mari kita lihat sampai mana dia mampu kabur dariku!" jawabnya dengan nada dingin.


Senyuman sinis tersungging di wajahnya, dia menatap tajam kearah tempat tidur Sisilia, kemudian bangkit menuju ke ruang kerjanya, Claude hanya mengikutinya dalam diam, tidak berani melontarkan satu kalimat pun yang akan menjadi bumerang baginya nanti.


Beberapa jam kemudian Gawin datang bersama seorang pria yang mirip dengannya, mereka menyapa Zurich dengan hormat lalu menyerahkan secarik kertas.


" Saya berjumpa dengan Miss Sisilia di penginapan dekat pelabuhan Sir, katanya dia hendak menuju pelabuhan Owen dan ini tiket dengan cabin yang sama dengannya!"


" Kerja bagus Hawin!" ujar Zurich sambil tersenyum.


Sekilas memang dia terlihat senang namun siapapun di ruangan itu pasti menyadari bahwa senyuman itu bukanlah berarti kebahagiaan, Hawin yang tidak terlalu sering bertemu dengan Zurich menundukkan kepala, sekujur tubuhnya terasa mati rasa.


Pintu kabin itu terbuka dan seorang gadi melangkahkan kakinya dengan santai kemudian dia duduk bersandar sambil menggumamkan perasaan lega, mendengar suara gadis itu darah Zurich bergemuruh, ingin rasanya dia merenggut gadis itu ke pelukannya dan menciumnya sampai tidak ada lagi tenaga baginya untuk kabur.


Dia menyapa gadis itu dengan suara dingin, gadis itu terkejut dan berusaha melarikan diri namun dengan cepat dia menghentikannya, tentu saja gadis itu meronta dan memintanya untuk melepaskannya namun bagi Zurich itu terdengar seperti isakan yang sangat menggemaskan.


Di bawanya gadis itu dengan paksa menuju kastil perbatasan antara wilayah mermaid dengan wilayah manusia, kastil dengan perlindungan yang paling kuat, tidak sembarangan orang bisa keluar masuk kesana, kastil yang berada ditengah laut itu akan menjadi penjara yang cocok untuk menghukum gadis itu.


" Kenapa kau terus-terusan kabur dari ku? apa kau tidak terpikirkan untuk mempercayaiku sedikit pun?"


Kali Zurich sudah sangat putus asa, dia tidak tau lagi bagaimana cara meyakinkan gadis itu betapa besarnya cintanya kepada gadis tersebut, dia memohon dengan mata yang basah kepadanya dan berharap perasaannya dapat tersampaikan, dia terlihat ragu-ragu menjawab pertanyaan Zurich, kemudian dia menatap dengan sedih kearah Zurich.

__ADS_1


" Ka...karena aku adalah pewaris terakhir keluarga Mcgnagal!" jawab gadis itu akhirnya.


Zurich terkejut, dia tidak menyangka bahwa orang yang selama ini dia cari adalah cinta pertamanya dan juga pujaan hatinya saat ini, tentu saja dia senang dengan fakta itu namun ke khawatiran kembali muncul di kepalanya.


' Sial, jika ada yang tau kalau dia adalah pewaris terakhir keluarga mcgnagal maka nyawanya akan terancam, sebaiknya aku kembali ke kapital dan mempersiapkan pernikahan kami, aku yakin dia akan bersedia mengingat dia sudah mempercayakan rahasianya kepada ku seperti ini'


" Siapa saja yang mengetahui fakta ini?"


" Selain dua sahabat ku dan Miranda, Fengyin juga mengetahuinya!"


Saat nama pria lain muncul dari mulutnya, kemarahan Zurich kembali tersulut namun dia berusaha untuk menahan diri karena jika tidak, gadis itu pasti akan menemukan berbagai cara untuk pergi darinya lagi.


Sisilia juga menjelaskan siapa Fengyin yang selama ini dekat dengannya, tentu saja Zurich sudah curiga padanya sebelumnya namun setelah mendengar ucapan Sisilia, dia pun memuji insting tajamnya di dalam hati.


Setelah pembicaraan dari hati ke hati tersebut, hubungan mereka menjadi lebih dekat bahkan Sisilia sudah mulai terang-terangan menunjukan perasaan nya kepada Zurich dan tentu saja hal itu sangat membahagiakan namun kecemasan akan bahaya yang menghampiri Sisilia membuat dia harus memutar otak.


" Sir, ada panggilan darurat dari Kapital!" ujar seorang bawahannya saat dia tengah menghabiskan waktunya dengan gadis pujaan hatinya.


Zurich berdecak kesal namun tetap memenuhi panggilan itu, dia kesal karena dia belum puas menghabiskan waktu bersama Sisi dan dia tidak sanggup meninggalkannya di kastil itu karena dia takut seseorang akan mencoba mencelakakan dia.


" Anda tenang saja Sir, akan saya pastikan bahwa tidak ada yang bisa menyentuh Miss Sisi walau sehelai rambut pun" ucap Peter kepala pelayan kastil itu.


Pria paruh baya itu berusaha meyakinkan Zurich bahwa kastil itu adalah tempat yang sangat aman, dan kekhawatiran Zurich tidak akan terjadi, walaupun dia percaya dengan ucapan Peter namun disisi lain hatinya merasa cemas.


Dia menoleh beberapa saat kearah kastil sebelum memacu kudanya, berat rasa hatinya untuk pergi, sepersekian detik terlintas di kepalanya untuk mengabaikan panggilan itu dan menghabiskan waktunya bersama Sisi, namun karena dia adalah pria yang bertanggung jawab dia pun meninggalkan kastil itu dengan cepat tanpa menoleh lagi.

__ADS_1


Karena dia yakin, hatinya akan goyah jika dia melihat wajah Sisilia sekali lagi, dan dia meyakinkan dirinya bahwa dia akan menjemput gadis pujaannya itu secepatnya.


__ADS_2