
Aku merasa hubungan semakin tidak sehat, setiap kali aku hendak keluar Zurich selalu mengawasi ku seperti mata elang yang sedang mengawasi mangsanya, walaupun setelah kejadian kemaren dia belum pernah lagi memaksakan dirinya padaku tetapi dia sudah jarang memulai pembicaraan dengan ku, hanya terkadang dia muncul di belakang ku dan tiba-tiba memelukku.
Aku yang masih memiliki hati padanya juga tidak tega menolaknya, terkadang aku juga mencoba memikirkan perasaan Zurich namun ketakutan akan kematian ku lebih mengerikan bagiku dari pada rasa cinta ku kepadanya.
Malam itu aku berdiri di beranda memandangi laut malam yang diterangi oleh cahaya bulan, ribuan bintang-bintang menghiasi langit seperti permata yang berkilauan, ku teguk anggur merah yang ada di tanganku.
" Kenapa kau masih belum tidur?"
Tiba-tiba Zurich sudah muncul di sampingku, dia memakai kemeja putih longgar yang tidak dikancingkan nya sehingga otot perutnya yang berbentuk kotak-kota terpampang indah menghadap kearah ku.
" Aku tidak bisa tidur!" jawabku tidak sekali pun menoleh kepadanya.
" Apa kau masih marah karena aku mengurung mu di sini?"
Aku memutar badan menghadap kepadanya, menatap pupil biru yang menatap ku dengan pandang sedih, matanya berkaca-kaca seakan air matanya akan jatuh seketika itu juga, aku menghela nafas.
" Bagaimana bisa aku bisa marah kepada mu, kau sudah mencuri hatiku, bagaimana pun kau memperlakukan ku aku tidak akan pernah bisa membenci mu, mungkin aku sebodoh itu,tapi apalah dayaku, aku tidak bisa mengontrol hati, semakin aku ingin menjauh dari mu semakin aku terluka karenanya".
" Lalu kenapa kau terus-terusan kabur dari ku? kenapa kau tidka terpikirkan untuk mempercayaiku sekali saja?" tanyanya dengan nada lirih.
Dia melangkah mendekat kepadaku kemudian menjatuhkan kepalanya dipundak ku, aku sedikit terkesiap namun aku membiarkan dia seperti itu.
" Aku tidak pernah berniat menyakiti mu, Aku hanya.....dadaku sakit saat mendengar kau pergi, seperti hatiku tersayat-sayat, padahal aku percaya kau juga memiliki perasaan yang sama dengan ku namun kenapa kau pergi? mungkin bagiku kau adalah prioritas ku namun tidak bagimu".
Aku dapat mendengar suaranya yang bergetar dan air hangat membasahi bahuku tempat kepalanya berada, aku tertegun.
' Apa bocah ini sedang menangis? bocah gila ini menangis? pasti aku sedang berhalusinasi' pikirku berusaha melihat kearahnya dengan sisi mataku namun mata kami saling bertemu dan dengan cepat aku memalingkan wajahku.
" Apa yang harus aku lakukan supaya kau percaya kepadaku? kenapa sakit ini se pedih ini? rasanya aku sudah tidak mampu menahannya tapi aku juga tidak sanggup melepaskan mu, bagaimana aku harus hidup tanpa mu disini? aku sudah terbiasa dengan keberadaan mu, kenapa kau begitu kejam meninggalkan ku begitu saja? apa hanya aku yang berpikir bahwa kau dan aku adalah kita? apa hanya aku yang tidak bisa membayangkan masa depan ku tanpa mu?"
Aku menelan ludah, ucapan Zurich membuat rasa ngilu yang menjalar dari hulu hatiku, rasa itu seakan menggerogoti dadaku.
__ADS_1
" Aku........"
Aku kembali menelan ludah, kata-kata yang ingin aku sampaikan tersengal di tenggorokan ku, aku menahan genangan air mata di kelopak mataku agar tidak jatuh.
" Aku..... takut kau akan membunuh ku jika aku mengatakannya" ucapku ragu-ragu dengan suara yang sangat pelan.
Dia bangkit dan menatap lurus ke mataku, ada perasaan getir yang terpancar dari matanya, matanya masih basah tangisan yang tidak terdengar tadi,
" Apa maksud mu aku akan membunuh mu? omong kosong macam apa yang kau katakan? pria mana yang sekejam itu membunuh orang yang dicintainya?"
" Menurut mu aku harus bagaimana saat aku mendengar dengan mata kepalaku sendiri kau akan mengeliminasi ku?" teriakku kepadanya.
" Ap.. kapan aku mengatakan itu?"
Aku berbalik menghadap ke pemandangan malam yang semakin larut, kembali ku teguk angguk merah ku, nampaknya aku sudah mulai masuk sampai-sampai aku mengatakan hal yang selama ini sudah susah payah aku simpan.
" Bagaimana jika aku katakan bahwa aku adalah orang yang sedang kau cari?"
" Pewaris terakhir keluarga Mgcnagal!" teriak ku bersamaan dengan ucapannya tentang gadis cinta pertamanya.
Dia yang mendengar ucapan ku terperangah, dia tarik pundak ku untuk melihat ke arahnya, aku hanya menatap ke bawah, aku tidak berani melihat ke arahnya.
' Mampus! Sisi apa yang kau lakukan? kenapa kau memberi tahunya? sekarang nampaknya kau sudah siap kepala mu akan menggelinding ke lanta'.
" Coba ulangi lagi, kau pewaris..."
" Pewaris terakhir keluarga Mgcnagal yang sedang kau cari!" ucapku dengan cepat.
" Sekarang kau akan mengeliminasi ku bukan? lakukanlah dengan cepat sehingga aku tidak menahan sakit lebih lama, sepertinya aku sudah menjadi bodoh karena cintaku kepada mu!" ucapku sambil memejamkan mata, menunggu bagaimana kira-kira dia akan menghabisi ku.
Dia tertawa dengan keras yang membuatku membuka mataku, aku melihatnya yang menutup matanya dengan tangan.
__ADS_1
" Apa kau sedang main-main dengan ku Si? ini sudah tidak lucu lagi!"
" Menurut mu aku sedang bercanda sekarang? aku memberitahu mu dengan mempertaruhkan nyawaku, dan bilang aku sedang bermain-main?"
" Kau.... benar-benar pewaris terakhir keluarga Mgcnagal?" ulangnya lagi.
Aku menganggukkan kepala.
" Memangnya kau pikir kenapa aku terus-terusan kabur dari mu padahal aku sudah mengatakan kalau aku juga menyukai mu, kau pikir aku adalah tipe orang yang akan mempermainkan perasaan orang dengan seenaknya?"
Zurich melangkah ke pagar beranda dengan gontai, dia menatap jauh ke lautan yang gelap, tangannya menumpu tubuhnya dan jemari terjalin, dia menoleh ke arahku.
" Jadi itulah rahasia yang selama ini terus kau tutupi? sekarang aku mengerti kenapa kau tidak mau mendaftarkan pernikahan kita ke pusat, sudah pasti data mu terekam disana, itulah mengapa kau sangat paham tentang garaga Q dan tidak mau memberitahu ku siapa yang mengajari mu, semuanya masuk akal sekarang" ucapnya.
" Siapa lagi yang tau tentang identitas mu ini?"
" Selain kau, Marquis Rafael, Miranda, Nabi dan juga Stella".
" Hanya itu?"
" Um... aku... Fengyin juga mengetahuinya".
" Bagaimana kau bisa memberitahunya dengan mudah tapi kau harus membuat ku melakukan semua ini supaya kau memberi tahu ku, atau jangan-jangan dia lebih penting bagi mu dari pada kau? sebegitu tidak percayakah kau kepada ku?"
" Bukan begitu, Fengyin sudah mengetahui sebelum aku memberitahunya, dia bilang nenek ku adalah temannya, aku tidak boleh mengatakan ini tapi karena sudah terlanjur basah aku akan bilang semuanya, Fengyin bukan berasal dari negara Sui melainkan dari Wilayah siluman, dia mengenal nenek dan kakek ku dengan baik, itulah mengapa dia selalu membantu ku saat aku dalam masalah".
Dia terperangah, tidak percaya dengan informasi yang baru saja keluar dari mulutku, dia menghadap ke arah ku, berusaha menyakinkan dirinya bahwa yang barusan aku katakan bukanlah yang sebenarnya.
" Kalau begitu apa jabatannya di wilayah Siluman, tidak mungkin dia hanyalah penduduk biasa, lantas kenapa dia tidak muncul dalam festival kemarin? padahal banyak utusan dari wilayah sana yang datang?"
" Aku tidak tau, dia bilang dia sedang menyelidiki homuncullus dan para jenderalnya, karena keberadaan mereka membuat keseimbangan terganggu, dia juga membantu Miranda untuk mendapatkan informasi soal para monster".
__ADS_1
" Luar biasa, aku curiga kalau dia bukan lah orang biasa tapi dia teman dari kakek dan nenekmu? jadi berapa usianya sekarang? dia masih terlihat muda dan menawan".