Butterfly Trap

Butterfly Trap
Part 58


__ADS_3

" Tapi sebelum itu bisakah kau menjawab pertanyaan ku?" tanyaku berusaha setenang mungkin.


Walaupun di dalam dadaku sakit semakin bergemuruh dan nafasku seperti tersengal di tenggorokan ku namun aku tidak ingin terlihat lemah di depan matanya, badan ku terasa terguncang dan hidung mataku terasa perih seperti habis terkena bubuk cabe.


" Apa lagi yang kita tunggu komandan, lebih baik kita segera menangkapnya dan kembali ke Kapital" ujar salah satu dari bawahannya tersebut.


" Berani sekali kau memerintah ku!" jawabnya dingin yang membuat yang lain diam membatu.


Aku kembali tergelak memikirkan semua yang terjadi padaku, keadaan ku sudah sangat buruk dan sekarang aku di hadapkan pada kenyataan pahit yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, aku yakin bahwa semua yang diucapkan oleh Castella hanyalah kebohongan belaka namun sekarang aku meragukan pikiran ku itu.


" Grand Duke......" akhirnya untuk pertama kali aku memanggilnya.


Suara ku terdengar tenang dan bersahabat walaupun aku mati-matian menahan air mata yang sudah menggenang tapi aku berdiri tegak dengan wajah percaya diri dan memandang lurus ke arahnya.


" Menapa kau mengurungku di kastil itu? Mengapa kau bertunangan dengan wanita lain setelah kau mengatakan kalau aku adalah hidup mu? bisakah kau memberiku jawaban?"


Aku mengepalkan tanganku berusaha meyakinkan diriku bahwa Zurich akan menjawab semua pertanyaan ku sehingga semua pikiran buruk yang aku bayangkan hanyalah imajinasiku belaka, aku percaya dia akan memberikan alasan dan aku akan tetap mempercayainya asalkan dia memberitahuku alasannya.


" Aku akan menjelaskannya nanti tapi sekarang kau harus kembali ke Kapital bersama ku!"


Aku kecewa mendengar jawabannya, aku berusaha tersenyum walaupun sebenarnya batinku sudah terkoyak-koyak.


" Lalu apa? apa kali ini kau menyiapkan kurungan yang hebat dari under sea kastil?"


" Sisi, ini bukannya untuk menanyakan pertanyaan yang tidak berarti seperti itu, pertama-tama kita harus kembali ke Kapital dan menyelesaikan segalanya"


Aku tidak menjawab, hanya berdiri mematung di posisi yang sama dan menatap wajah pria yang sangat aku rindukan tersebut.


" Pff...tidak berarti ya? jadi bagi mu aku tidak ada artinya, apa semua yang kau katakan padaku hanyalah kebohongan belaka?"


" Hentikan omong kosong ini dan ikutlah dengan ku atau..."


" Atau apa?" jawabku cepat, ada nada kekecewaan dan putus ada yang keluar dari suara ku.


Aku sudah tidak mampu membendung air mataku namun aku harus bisa kuat, hanya diriku sendiri yang dapat menolong ku saat ini, aku menarik nafas dalam-dalam lalu meyakinkan diriku, aku melirik sesaat wajah yang nampak tegang tersebut sebelum mengalihkan pandangan ku lembah di belakang ku.


' Ini yang terakhir, aku akan mengantungkan kepercayaan ku kepada tali yang hampir putus ini, jika kali ini jawaban mu masih mengecewakan ku, aku menyerah, aku menyerah percaya bahwa bukan niat mu untuk melakukan ini kepadaku' pikirku sebelum membuka mulutku.


" Baiklah aku akan ikut dengan mu" ucapku akhirnya.

__ADS_1


Raut wajahnya berubah menjadi lega, aku bisa melihat senyuman kecil yang hampir tidak terlihat dari bibirnya.


" Tapi ......................aku ada pertanyaan untuk mu, ini adalah pertanyaan yang terakhir setelah itu aku akan mengikuti mu, apa kau akan menjawab ku dengan jujur?"


Dia ragu-ragu sesaat kemudian menganggukkan kepalanya, kuku ku menekan kulit tangan ku yang aku kepal, aku dapat merasakan darah segar mulai keluar dari kulit yang ditekan oleh kuku ku tersebut, memang rasanya cukup menyakitkan namun belum sebanding dengan rasa sakit yang ada di dadaku.


' Ini adalah penentuan apakah aku akan lanjut mempercayai mu atau tidak, tapi aku harap kau mengatakan tidak walaupun itu hanya sebuah kebohongan'.


" Apakah kau yang memberitahu para bangsawan tentang identitas ku, mengingat hanya kau satu-satunya orang yang aku beritahu tentang identitas ku selain mereka yang sudah seperti keluarga ku sendiri?"


" Apa!?"


Dia agak kaget mendengar pertanyaan ku, namun sepertinya dia kembali mengendalikan raut wajahnya menjadi tenang kembali.


' Tolong jawablah tidak, bukan kau yang melakukan nya', teriak ku di dalam hati.


' Tidak, tolong jawab tidak!'


Dia tidak menjawab, alih-alih dia membelakangi ku dan mengalihkan pandangannya sepertinya dia tidak berani untuk menatap mataku, aku masih berharap dia mengatakan tidak di dalam hatiku.


' Asalkan kau mengatakan tidak, aku pasti akan melakukan apapun untuk ku walaupun harus mengorbankan nyawaku, tolong katakan tidak dan kita kembali pada hubungan kita yang sebelumnya'.


' Aku mempercayai mu Zurich, walaupun kau berbohong please......tolong katakan kalau bukan kau yang melakukannya'.


" Maafkan aku!"


Hanya itu kata-kata yang terucap dari mulutnya dan itu berhasil membuat air mataku yang sudah mati-matian aku tahan agar tidak jatuh tumpah ke pipiku, aku memejamkan mataku beberapa saat, aku mengerti arti dari jawabannya.


Aku tertawa dengan keras, walaupun air mataku ku juga mengalir dengan deras di pipiku, dan aku tidak punya niat untuk menghapusnya.


" HAHAHAHA wow......."


" Benar-benar luar biasa bukan Zurich? Pfff...... kau pasti senang sekarang, kau berhasil membodohi gadis seperti ku, wah..... jadi selama ini hanya aku yang salah paham, aku pikir aku dapat mempercayai mu tapi..... wah...luar biasa!"


Aku masih tertawa dengan keras tetapi Zurich tidak menjawab dan begitu pun dengan ksatria yang ada disana, mereka hanya mengawasi pergerakan ku, tidak ada suara yang terdengar dari sana selain suara tawa memilukan ku.


" Bagus sekali, sekarang kau meminta ku untuk mengikuti mu ke Kapital? bukan kah itu artinya sama saja seperti kau meminta ku untuk masuk ke sarang harimau? apa yang akan kau peroleh dari pengorbanan ku? apakah karena aku mencintai mu makanya kau bertindak semena-mena kepada ku?"


" Diam lah Sisi, aku melakukan semua ini karena ini adalah keputusan yang terbaik dan kau pasti akan paham nantinya".

__ADS_1


" Keputusan terbaik?" ujar ku dengan sarkas.


" Kejam sekali kau! kau bahkan mengatakan bahwa aku adalah cinta pertama mu? yang benar saja! aku tidak akan ikut ke Kapital dengan mu"


" Apa yang kau katakan Sisi?" teriaknya melangkah mendekat kepadaku.


" Berhenti, atau aku akan membunuh diriku di sini!" teriak ku sambil menodongkan pisau lempar yang di berikan oleh Nabi kepada ku.


Dia berhenti dan dengan cemas memintaku untuk menjauhkan pisau yang ada di tangan dari leherku.


" Kenapa kau terlihat cemas? bukankah ini yang kau inginkan?"


" Tidak Si, aku akan memberitahu mu kebenarannya jadi tolong buang dulu benda berbahaya itu, oke?"


Wajahnya terlihat khawatir dan cemas, dia terus meminta ku untuk menjatuhkan pisau yang menggantung di leherku dengan nada putus asa, barulah setelah aku menjatuhkan pisau tersebut dia mengalihkan pandangannya dari ku dan mulai berbicara dengan suara putus asa.


" Aku mengurung mu di Under sea kastil agar kau tidak ke Kapital karena..."


" Ugh.."


Aku merasakan benda tajam menusuk tepat di jantungku, darah mengalir di dadaku membasahi bajuku dan merubah warnanya, aku melihat ke benda tajam yeng merupakan sebuah panah tersebut.


" Sisi?" teriak Zurich sambil mendekat ke padaku.


Sebelum Zurich sampai ke tempatku aku lebih dulu merasakan tubuhku mengambang di udara, semua tenagaku seperti menghilang dari tubuhku, rasa sakit yang menusuk jantungku semakin terasa yang membuatku memejamkan mata namun tiba-tiba tanganku diraih oleh seseorang.


" Sisi, bertahanlah! aku pasti akan menyelamatkan mu, ayo pegang tanganku dan aku akan menarik mu keatas!" teriaknya dengan suara cemas.


Aku terbatuk beberapa kali dan mengeluarkan darah segar dari mulutku, aku tidak punya tenaga lagi untuk menggapai tangannya.


' Ah...akhirnya aku bebas dari penderitaan ini, mungkin beginilah akhir hidup ku yang selama ini sempat tertunda, aku belum sempat bertemu Miranda, lalu bagaimana dengan Zeju, dia memintaku untuk berhati-hati, sekarang aku malah jadi begini'


Aku mendongak melihat kearah pria yang masih berusaha menarik ku keatas itu, aku melihat matanya yang sudah basah dan suara putus asanya terus memanggil namaku, aku tergelak.


' Jika saat itu aku memilih untuk mendengarkan kata-kata Miranda, apakah akhirnya akan seperti ini? entahlah, anehnya aku malah merindukan Zeju saat nafas ku sudah hampir berhenti begini, menggelikan sekali'


"Ayolah Si.....pegang tanganku" teriak Zurich dengan putus asa yang membuatku mendongak.


" Aku senang pernah mengenal mu..... wa...walaupun....kau mengkhianati ku... tapi....selamat tinggal cinta dalam hidupku!" ucapku sambil melepaskan tangannya.

__ADS_1


Aku kembali merasakan tubuhku mengembang di udara dan jatuh menuju dasar jurang tersebut dengan cepat, samar-samar aku dapat mendengar teriakan putus asa Zurich dari atas tebing, aku memejamkan mataku.


' Zeju.....maafkan aku karena tidak bisa melindungi diriku sendiri pada akhirnya dan maafkan aku karena aku tidak bisa mengembalikan barang milik mu'.


__ADS_2