Butterfly Trap

Butterfly Trap
Part 46


__ADS_3

Saat aku membuka mata, aku mendapati Zurich masih menggendongku melewati sebuah jembatan gantung, aku melirik ke sekitar, hanya pemandangan laut yang terlihat namun di tengah-tengah terdapat bangunan megah yang arsitekturnya cukup berbeda dengan kastil atau pun kediaman Zurich.


" Kita ada dimana?" tanyaku padanya saat kami sudah berada di dalam bangunan yang dikelilingi oleh lautan itu.


Dia tertawa kecil kemudian menurunkan ku dengan perlahan, dia melangkah ke dekat jendela dan berbalik menatapku dengan dingin.


" Ini adalah sangkar emas yang sudah aku siapkan untuk kupu-kupu kecil ku yang suka seenaknya pergi meninggalkan ku, bagaimana? apa kau menyukai pemandangannya?"


" Apa maksud mu sangkar emas? apa kau bermaksud mengurungku disini?"


" Menurut mu?" tanyanya sambil tersenyum namun ekspresinya masih dingin dan datar, kemudian dia duduk di sebuah kursi dengan handle kayu di dekat jendela, kursi sebenarnya di maksudkan untuk menikmati pemandangan di luar jendela namun Zurich memutarnya dan menghadap ke arah ku.


" Zurich, kau tidak serius bukan? kita sekarang ada dimana?"


Dia masih menatapku, tidak ada satu kalimat ataupun ekspresi yang muncul dari wajahnya, tangannya mengetuk-ngetuk handel kursi tersebut, hanya suara itu yang terdengar di ruangan yang cukup luas itu, walaupun terlihat sepi namun bangunan megah itu terlihat terawat dengan baik.


" Undersea Castil, itu nama untuk tempat ini, sekarang gantian kau menjawab pertanyaan ku, kenapa kau terus-terusan melarikan diri dariku?" tanya pada akhirnya.


Aku masih berdiri menghadap ke arahnya, namun aku tidak berani melihat ke arah mata elang yang menatapku dengan ganas itu.


' Kau bahkan membiarkan ku berdiri begini? mencintai ku apanya?' pikirku.


Kemudian dengan menghela nafas panjang aku melangkah menuju pintu, saat aku hendak membuka pintunya aku berhenti sejenak.


' Kenapa dia diam saja? setelah sejauh ini apa dia tidak akan menghentikan ku?'


Aku memutar badan ke arahnya, melihat ke matanya yang masih menatapku namun tidak ada satu kalimat pun yang keluar dari mulutnya, dia menopang kepalanya dengan tangannya seolah menunggu ku untuk mengatakan sesuatu yang sudah di duganya.


" Aku akan pergi, kau tidak bisa menahan ku disini tanpa izin ku, aku adalah milikku diriku sendiri dan kau tidak berhak mengatur ku!" ujarku kemudian berbalik hendak membuka pintu.


" Silahkan! kau pikir kenapa aku mengatakan ini adalah sangkar untuk mu?" ucapnya terkikik.

__ADS_1


Aku mengernyitkan dahi namun berusaha untuk tidak terlalu memikirkan apa yang diucapkannya, aku langkahkan kakiku keluar dari bangunan itu, di depan ku ada taman yang cukup luas dengan berbagai macam tanaman yang menghiasi tempat itu, disamping taman itu terdapat tebing karang dimana suara hempasan ombak terdengar dengan jelas.


Gerbang masuk ke kastil itu tidak jauh dari bangunan tersebut, dan gerbang itu adalah satu-satu akses yang bisa aku gunakan untuk keluar dari tempat itu mengingat tempat itu di kelilingi oleh lautan, aku berhenti sejenak dan berbalik untuk melihat kastil megah yang akan segera aku tinggalkan itu.


" Dia benar-benar membiarkan ku pergi, lalu apa gunanya dia membawaku kesini?" gumam ku sambil tertawa kecil lalu melangkah melewati gerbang tersebut namun aku terpental ke belakang.


" Apa yang terjadi?"


Aku berdiri kemudian mencoba kembali untuk melewati gerbang tersebut namun aku kembali terpental, aku berdiri kembali dan mendekati ke gerbang tersebut, kali ini aku mencoba mengulurkan tangan ku.


" Apa ini penghalang?" gumam ku kemudian memukul-mukul dinding tidak terlihat itu dengan tangan ku.


" Sial!" maki ku dengan keras.


" Jadi inilah kenapa dia membiarkan ku pergi begitu saja? kau benar-benar licik Zurich!" dengus ku dan dengan geram masuk kembali ke dalam bangunan itu.


Zurich masih duduk di tempat yang sama dan dengan posisi yang sama namun wajahnya sudah tidak datar lagi, ada senyum mengejek yang tersungging dari ujung bibirnya.


" Bagaimana?"


Aku berusaha menahan emosi ku dan bicara dengan nada setenang mungkin walaupun gemuruh di dadaku hampir tidak bisa aku bendung.


" Aku minta maaf karena aku berusaha pergi dari mu, tapi bisakah kita bicarakan ini baik-baik? kau tidak perlu mengambil tindakan seekstrim ini, bukan?"


Dia tersenyum miring kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah ke dekatku, dia memasukan kedua tangannya ke saku dan berjalan dengan lambat dan elegan tetapi aku dapat merasakan tekanan besar yang membuatku tanpa sadar melangkah mundur.


" Apology Accepted but trust is gone!" ucapnya masih dengan senyuman miring.


Aku kembali melangkah mundur, aku dapat merasakan tekanan yang tidak biasa setiap kali kaki panjangnya itu melangkah ke dekat ku, nafas ku seperti tersengal di tenggorokan, aku seperti berusaha menenangkan hewan buas yang siap menerkam ku.


" Coba pikirkan lagi Zurich, dengan kau melakukan ini, hubungan kita tidak akan pernah berkembang, kau tidak boleh memaksakan kehendak mu kepada orang lain!"

__ADS_1


" Kenapa tidak? aku terlahir dengan keadaan seperti itu, aku selalu mendapatkan apapun yang aku inginkan!"


Sekarang dia sudah ada di depan ku, jarak kami tidak lebih dari tiga puluh senti meter, jarak yang sangat dekat sehingga aku bisa mendengar detak jantungnya dengan jelas, atau lebih tepatnya detak jantung ku, aku tidak tau lagi apakah itu detak jantung ku yang ku dengar atau miliknya.


" Kenapa?" Ujarnya dengan suara lirih.


" Aku... jika kau terus seperti ini, sepertinya aku tidak mungkin melanjut...."


Aku belum menyelesaikan ucapanku ketika tubuhku ditarik ke dekatnya dan aku merasakan bibirnya menekan bibirku dengan kuat, tangannya satu menahan kepalaku dan satu lagi menahan pinggangku, dia mencium ku dengan kasar, aku berusaha mendorongnya namun semakin dia merapatkan tubuh ku ke tubuhnya.


Aku mengigit bibirnya sekeras mungkin dengan harapan dia melepaskannya namun ciumannya semakin menjadi, bahkan sekarang aku merasakan bibirnya mengeksplor dalam mulutku, ada rasa darah yang aku rasakan di dalam mulutku.


" Na..... fas..." ujarku terengah-engah saat bibir itu lepas dari mulutku kemudian bibir kami kembali bersatu.


" Bernafas lah lewat hidung!" bisiknya sebelum kembali memasukkan lidahnya ke dalam mulutku.


Aku merasakan tubuhku mulia melemas, kakiku terasa gemetar dan nafasku terengah-engah namun dia masih tidak melepaskan ku, aku merasakan air panas berjatuhan dari kelopak mata saat bibirnya sekarang sampai di telingaku dan menggigit telingaku dengan lembut.


Dia kembali ke bibirku dan kali ini mengecupnya dengan lembut lalu beralih ke mataku yang sudah basah oleh air mata, tidak hanya itu dia juga menjilat air yang mengalir di pipiku dan dengan lembut menggigit ujung hidungku.


" Ini baru permulaan sayang, kau mau bermain bukan? mari kita nikmati permainan ini!" bisiknya di telingaku kemudian dia kembali menggigit lembut telingaku.


Tangannya yang berada di belakang leherku bergerak lambat membelai kulit yang ada disana yang membuatku bergidik, dia melepaskan ku beberapa saat kemudian menjilat leherku dan memberikan ciuman yang sangat dalam disana yang membuatku mengeluarkan suara aneh.


" Ah..., hentikan .... Zurich.. sa...kit" ucapku berusaha mendorong tubuh tegap itu dari badan ku.


" Apa yang hendak kau katakan? kau tidak ingin melanjutkan hubungan kita begitu? tapi tenang saja sayang, sangkar emas ini akan membuat kita akan selalu bersama!" bisiknya sambil terkekeh.


" Zurich, hentikan omong kosong ini, dengan kau melakukan ini, kau hanya mendorong ku semakin menjauh".


" Sttttt... diam lah" ucapnya menutup mulutku dengan ibu jarinya.

__ADS_1


" Bukan ini yang aku inginkan, kenapa semuanya jadi begini" ucapku sambil terisak.


Aku sudah tidak mampu lagi menahan kakiku, aku terduduk ke lantai dengan air mata yang membasahi pipiku, aku tidak tau lagi berbuat apa, jangankan menghindari bendera kematian, aku bahkan tidak bisa melepaskan diri darinya, bahkan sekarang dia juga merenggut kebebasan ku dengan cara mengurungku di kastil yang indah ini.


__ADS_2