Butterfly Trap

Butterfly Trap
Side Story 13


__ADS_3

Beribu pertanyaan berkecamuk di kepalanya, rasa cemas, takut dan putus asa bercampur menjadi satu, dia juga penasaran bagaimana cara gadis itu bisa keluar dari penghalang kastil Under the Sea tersebut.


Sisilia berkali-kali mengajukan pertanyaan kepadanya namun Zurich tidak bisa menjawab karena dia tengah di awasi oleh bawahan Duke Helwise, dadanya sakit saat melihat air yang mengalir di kelopak mata gadis pujaan hatinya itu.


Di kepalkan tinjunya sekuat mungkin, dia harus bersabar, dia tidak boleh terbawa emosi atau Sisilia tidak akan selamat, dia mungkin dapat menghabisi bawahan Duke Helwise itu semuanya namun itu tidak akan menjamin keselamatan Sisilia, tidak tidak pernah takut dengan Duke Helwise tetapi dia lebih takut jika harus kehilangan pujaan hatinya tersebut.


" Grand Duke......"


Untuk pertama kalinya gadis itu memanggil dengan gelarnya setelah dia terbiasa di panggil dengan nama depannya.


' Iya sayang, aku merindukan mu' jawab Zurich di kepalanya.


" Mengapa kau mengurungku di kastil itu? mengapa kau bertunangan dengan wanita lain setelah kau mengatakan bahwa aku adalah hidup mu? bisakah kau memberi jawaban?"


Kata-kata itu terdengar seperti jeritan putus asa di telinga Zurich, ingin rasanya dia merangkul gadis itu dan mengelap air matanya namun dia tidak bisa karena sekarang bukan saat yang tepat untuk itu.


' Sayang...aku melakukan ini untuk menyelamatkan mu, aku tau kau akan membenci ku nanti tapi aku sudah tidak punya pilihan lain'


" Aku akan menjelaskannya nanti tapi sekarang kau harus kembali ke Kapital bersama ku!"


' Kau akan aman Sisi, mereka sangat ingin menghabisi mu, aku tidak mau mimpi buruk ku menjadi kenyataan, jadi aku mohon....tolong ikutlah dengan ku'


Hati Zurich menjerit, dia mengepalkan tangannya sekuat mungkin dan berusaha setenang mungkin sehingga tidak ada seorang pun disana yang mengetahui apa yang saat ini dia rasakan, entah mengapa perasaan Zurich menjadi tidak enak, dia tidak berani menatap ke arah pujaan hatinya tersebut.


" Apakah kau yang memberitahu para bangsawan tentang identitas ku?"


Zurich terkesiap, dia tidak menyangka kalimat itu akan di ucapkan oleh gadis itu, dia bertanya-tanya dari mana gadis itu mendengar kabar tersebut, Zurich terdiam, tidak ada satu kalimat pun yang keluar dari mulutnya, dia terlalu takut dengan konsekuensi dari setiap kalimat yang dia ucapkan dan dia juga tau pasti bahwa Sisilia tidak akan mempercayainya lagi walaupun dia memutuskan untuk memberitahu gadis itu alasannya.


" Maafkan aku!" hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Dia bertekad bahwa setelah semua ini dia akan berlutut di hadapan gadis itu dan memohon maafnya namun saat ini hal yang paling penting adalah membawanya kembali ke Kapital dan menjauhkannya dari jangkauan Duke Helwise.


Dia tidak tau harus bagaimana untuk menenangkan pujaan hatinya itu, gadis itu benar-benar marah bahkan dia mencoba mengancam untuk membunuh dirinya tentu saja itu hampir membuat jantung Zurich berhenti berdetak walau pada akhirnya gadis itu membuang pisau yang menggantung dari lehernya.


Zurich benar-benar kalut, kalau dia tidak segera menjelaskan situasinya kepada gadis itu, dia takut kalau gadis itu tiba-tiba mengambil tindakan ekstrim


' Persetan dengan Duke Helwise, aku lebih baik berperang dengannya dari pada kehilangan kekasih hati ku, baiklah aku akan menjelaskannya dan semoga dia mau memahami niat ku'


" Aku mengurung mu di kastil Under the Sea supaya kau tidak ke Kapital karena di kapital sangat... SISI...."


Dia melihat anak panah tertancap tepat di dada gadis itu, Zurich merasa seperti jantungnya berhenti berdetak, dia segera berlari ke arah gadis itu yang perlahan-lahan jatuh ke belakang dan segera meraih tangan gadis itu dan untungnya tubuh gadis itu menggantung di bibir bukit tersebut.


" Sisi bertahanlah!!" teriaknya berusaha menarik tangan gadis tersebut.


Gadis itu melihat ke arahnya sambil tersenyum, mulutnya sudah di penuhi oleh darah dan mata gadis itu menunjukan kelegaan, Zurich sangat putus asa dan memohon kepada gadis itu untuk meraih tangannya namun gadis itu malah melepaskan tangan Zurich dari tangannya.


" SISI..............TIDAKKKKKKKK!!!" teriaknya saat dia sudah tidak merasakan lagi berat gadis itu ditangannya.


Air matanya berderai, di panggilnya nama gadis itu berkali-kali, dia tidak dapat melihat dasar dari bukit itu, dengan cepat dia kembali ke kudanya dan mencari sesuatu yang dapat dia gunakan untuk menuruni tebing yang terjal tersebut namun dia tidak menemukan apapun.


Zurich terduduk lemas di pinggir bukit, di pandanginya jurang terjal tersebut dengan putus asa, dia masih memanggil- manggil nama gadis tersebut.


Sementara itu Felix merasakan firasat yang buruk setelah kepergian Zurich, di panggilnya asistennya dan juga Claude lalu setelah memberikan beberapa perintah dia pergi menyusul Zurich.


Entah mengapa dia merasa membiarkan Zurich pergi bersama dengan para bawahan Duke Helwise bukanlah pilihan yang bagus, dia bersama dengan Claude, termasuk Penelope dan beberapa bawahan terpercayanya dengan cepat memacu kuda ke tempat Zurich berada.


Saat sampai di tempat kejadian, mereka kaget melihat kondisi Zurich dan banyaknya ksatria yang terbaring tidak bernyawa di tanah, Zurich seperti orang kerasukan, dia menggumamkan nama Sisilia tetapi pandangannya kosong menghadap ke arah jurang.


" Apa yang terjadi Brother?" tanya Felix yang cemas melihat keadaan Zurich.

__ADS_1


" Dimana Miss Sisilia?"


Dia tidak menjawab, mulutnya masih menggumankan nama Sisilia, wajah berantakan oleh air mata dan dia terlihat seperti rohnya sudah pergi dari tubuh itu, tentu saja Felix sedih melihat keadaan sepupunya itu namun dia bisa menerka apa yang sedang terjadi disana hanya saja dia masih belum tau dimana Sisilia berada.


" Sadarkan dirimu, kita harus segera menemukan Miss Sisilia!"


Dia masih diam.


" BROTHER!!!!" teriak Felix kepadanya.


Kali ini Claude juga ikut mendekat, dia kaget melihat keadaan Zurich, pertama kalinya dia melihat komandannya itu seperti orang yang kehilangan nyawa.


" Sir...." panggilnya dengan suara lirih.


" Kau tidak bisa begini terus, apa yang sebenarnya terjadi kepada mu?" Felix sudah hilang akal menghadapi nya.


" Sisilia ...... sudah...." dia tidak mampu melanjutkan kalimatnya.


Dia tidak peduli bagaimana orang-orang melihatnya, dunianya sudah hancur, dia sudah kehilangan satu-satunya orang paling berharga dalam hidupnya, Zurich menangis dengan suara pilu dan semua orang disana dapa merasakan kesedihan yang mendalam.


Penelope yang tidak tahan untuk bertanya mendekat ke arah Zurich, dia sebenarnya takut tetapi di dalam kepalanya dia hanya ingin tau dimana keberadaan gadis yang sudah menjadi temannya tersebut.


" Apa dia meninggal dan terjatuh ke sana?" ucapnya menunjuk jurang yang ada dihadapan Zurich.


Zurich membeku kemudian dia berdiri dan ditarik pedangnya dari pinggang dan dengan cepat berjalan menuju kudanya.


" Sir, Anda hendak kemana?" tanya Claude sambil menyusulnya.


" Aku akan membunuh si tua bangka itu, beraninya dia merebut jantung hatiku dan membunuhnya, aku pastikan dia dan keturunannya akan lenyap dari kerajaan ini!" geramnya dengan marah.

__ADS_1


" Brother, kau tidak mengambil keputusan terburu-buru begitu!" teriak Felix menghentikannya namun Zurich menghiraukannya.


" Kenapa anda tidak mencari tau dulu bagaimana keadaan Miss Sisi Sir, kita harus menyelamatkan dia dulu walaupun yang kita temukan hanya mayatnya!" teriak Penelope di bibir jurang.


__ADS_2