
" Aku berasumsi bahwa racun garaga Q adalah rencana pertama mereka, sekarang kita sudah tau siapa pelaku yang meracuni para purifier dan jika itu para monster sialan itu, bukankah semua masuk akal? seperti yang sudah kita lihat sekarang, ada monster dengan wujud manusia, coba bayangkan jika mereka menyusup ke markas zodiak dua belas? bukankah sangat mudah bagi mereka untuk mencuri informasi, mengingat selama ini yang kita waspadai hanyalah monster yang berbentuk seperti hewan ganas yang menyeramkan?"
" Kau benar juga, kita akan membahas ini lagi setelah komandan di murnikan, dan jika kau bertanya kenapa hanya aku yang datang menjemputmu, itu karena temporary marking antara kau dan komandan masih rahasia, jadi aku dan Sir Wulfram tidak mau membuat mu berada dalam bahaya jika mengekspos mu ke anggota yang lain"
" Terima kasih Miss Penelope" ucapku dengan tersenyum penuh makna.
Kami sampai di markas fraksi Taurus yang dikelilingi oleh tembok besar yang panjang dan tinggi, keadaan Kota terlihat porak-poranda oleh serangan monster yang masih berlangsung namun tampaknya portal yang muncul disana sudah berhasil disegel oleh ksatria fraksi tersebut, hanya menyisakan beberapa monster yang masih bertarung dengan para ksatria.
" Pemandangan yang begitu mengerikan" gumamku.
" Kau benar, tidak hanya Chimera, ada goblin, Orc juga dan yang berbahaya itu tidak hanya monster humanoid tetapi juga Kraken dan juga Serpent dengan lima kepala, dan itu yang di lawan oleh komandan, aku tidak bisa membayangkan jika dia tidak ada disini saat mereka menyerang", jawab Penelope bergidik ngeri.
" Ah kita sudah sampai", ujarnya kemudian dia membatu ku untuk keluar dari kereta.
Di depan ku terlihat sebuah kastil yang tidak kalah megah dari kediaman Zurich yang ada di Kapital, bedanya hanya banyak ksatria yang berlalu lalang disana dan juga kastil itu dijaga dengan ketat, di tambah dengan banyaknya bangunan di samping kastil megah tersebut yang membuat vibe nya berbeda dengan kediaman di Kapital yang terasa lebih tenang.
" Apa kau masuk istirahat dulu, Miss?" tanya Penelope saat kami sudah berada di dalam kastil tersebut.
" Aku ingin segera melihat keadaanya", jawabku.
Penelope mengangguk tanda mengerti kemudian segera mengarahkan ku ke lantai dua, aku mengikutinya berjalan di lorong yang panjang, sepertinya Zurich tidak berada di bangunan yang pertama, kami terus berjalan melewati beberapa bangunan hingga akhirnya sampai di depan sebuah kamar.
Di sepanjang perjalanan beberapa ksatria melirikku dengan wajah penasaran, namun Penelope meminta mereka untuk merendahkan pandangannya dan tidak mengurusi urusan kami.
Aku memasuki kamar yang cukup luas itu, ada kaca-kaca besar yang mengelilingi kamar tersebut, jelas sekali kamar yang aku masuki seperti sebuah fasilitas untuk menahan kondisi berserk awakener, aku mendekati tubuh yang terbujur diatas sebuah ranjang tersebut.
Urat hitam sudah menjalar di seluruh tubuhnya dan sudah menutupi wajahnya, wajahnya terlihat pucat dan dia tidak memakai atasan yang membuat urat itu terlihat sangat jelas, aku terkesiap melihat pemandangan itu, ada perasaan yang tidak jelas yang terasa naik dari dalam perut ke tenggorokanku.
" Bisakah kau meninggalkan ku dengannya?" tanyaku kepada Penelope.
" Tapi Miss, bagaimana jika kau dalam bahaya?" tanya dengan wajah cemas.
__ADS_1
" Tidak apa-apa, walaupun kekuatan ku tidak mempan pada orang lain tapi dialah satu-satunya orang yang bisa memanfaatkan kekuatanku dengan maksimal, tolong jangan biarkan siapa pun masuk ke sini dan juga bantu aku menjaganya, ya" ujarku menyerahkan kelinci putih itu kepada Penelope.
Dia membatu untuk beberapa saat kemudian melangkah keluar meninggalkan aku dan Zurich yang berada dalam keadaan mengenaskan itu.
" Bagaimana ini semua terjadi kepada mu? Kau bahkan terdengar seperti seorang pahlawan saat Penelope bercerita, tapi apa gunanya semua itu jika berakhir seperti ini!" ucapku kepada tubuh pucat itu.
Aku duduk di samping tempat tidur, kemudian menyentuh dada tempat dimana urat hitam itu bermunculan, aku memfokuskan kekuatanku disana dan memejamkan mata, kekuatan Zurich terasa seperti menghisap ku dan menguras habis tenagaku yang tersisa.
Setelah itu aku tidak tau lagi apa yang terjadi yang jelas ketika bangun aku sudah tidak berada di ruangan berkaca tadi malam, aku membuka mataku perlahan lalu melihat ke samping arah jendela kemudian aku menari nafas.
" Bagaimana aku sampai disini? apa aku berjalan sambil tidur? tapi perasaan aku ngak punya kebiasaan seperti itu, hmmm aneh" gumamku.
Kemudian memutar badanku kearah yang berlawanan dan mendapati dinding daging berwarna putih yang tidak tertutup dengan benar oleh kemeja putih di depanku, aku terbelalak.
' Tidak, ini tidak benar!, apa aku tidur dengan seorang pria?'
Aku perlahan melirik ke pemilik dada tersebut, dia menatapku sambil tersenyum, tangan kananya menopang kepala, aku terperanjat.
" Ap... Ke... kenapa kau di sini? jangan bilang tadi malam kita..."
Muka ku memerah, aku mencoba mengingat kejadian tadi malam, tapi yang aku ingat hanya kejadian aku memurnikan dia saat aku sudah kelelahan karena perjalanan jauh dan juga aku yakin aku tertidur di samping tempat tidur bukan di sebelahnya diatas ranjang.
" Perasaan kemaren kamarnya tidak seperti ini, apa aku salah liat? hmm mungkin karena sudah malam makanya tidak terlihat dengan jelas" gumam ku lagi.
" Aku yang memindahkan mu kesini, saat aku sadar kau sudah terbaring diatas dadaku"
" Itu karena aku memurnikan mu, tapi bagaimana mungkin aku tertidur di dada mu? bentar bentar"
Aku memperhatikan Zurich, urat hitam itu sudah tidak ada lagi di wajahnya kemudian aku mendekat dan membuka bajunya untuk memeriksa akar dari urat hitam tersebut.
" Wow..Wow santai Si, apa sebegitu inginnya kau untuk melihat tubuhku?" tanyanya masih dengan senyuman menggoda sambil memegang tanganku yang memaksa membuka bajunya.
__ADS_1
" Ya.. apa!? bukan gitu, aku cuma memastikan apakah pemurniannya sudah selesai tadi malam" jawabku memerah kemudian melepaskan tanganku darinya namun dia memegang tanganku dengan erat.
" Apa kau sedang mencoba menggoda ku Si?"
" Tidak!!" jawabku dengan cepat, aku mengalihkan pandanganku dari mata biru itu, wajahku yang sudah terasa panas semakin terlihat merah padam.
Dia mendorong ku sehingga aku terbaring kemudian dia langsung naik keatas ku dan membuka bajunya, aku segera menutup mataku dengan tangan.
" Apa yang hendak kau lakukan?" teriak ku dengan nada cemas.
" Bukankah kau mau melihat apakah aku sudah di murnikan atau belum? kau pikir aku akan melakukan sesuatu pada mu?" tanyanya masih dengan nada menggoda.
" Kau seharusnya melakukannya dengan cara normal!"
" Bukankah ini normal? dengan begini kau bisa melihatnya dengan jelas, sebenarnya hal mesum apa yang sedang kau pikirkan?"
" Apa!?" teriak ku mencoba untuk duduk dan mendorongnya namun tubuh kokoh itu tidak bergeming.
" Minggir jika kau tidak membutuhkan pemurnian lagi!", ucapku dengan senyuman kesal.
Dia tidak bergerak, dia masih menatapku dengan senyuman menggoda, kemudian pandangannya berhenti di bibirku.
" Minggir!"
" Tunggu, lihat ke sini!" ujarnya menunjuk ke dada kanannya yang menghitam dan sepertinya itu adalah inti dari urat hitam yang menjalar tadi malam.
" Aku masih membutuhkan pemurnian, tapi cara biasa tidak akan mempan untuk mengangkat ini!"
" Apa maksud mu!?"
Dia mendekatkan wajahnya ke arahku namun aku segera bergerak ke samping dan menutup mulutku dengan tangan.
__ADS_1
" Berhenti menggodaku, yang mulia!"
Dia tertawa.