
" Syukurlah kau sudah baikan" ujar Zurich saat di datang ke kamarku keesokan harinya.
Dia menempelkan kening ke kening ku untuk memeriksa suhu tubuhku, kemudian dengan lembut membelai rambutku.
" Maukah kau ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?"
Aku duduk menatap mata indah di depanku itu, di kepalaku kembali terputar ucapannya yang membuatku sangat tertekan dan frustasi namun aku berusaha untuk tidak memperlihatkannya, dengan lemah aku tersenyum sambil menggelengkan kepala.
" Mungkin karena aku banyak pikiran akhir-akhir ini, dan juga seseorang selalu mengejar ku untuk membunuhku di dalam mimpi ku", jawabku.
Aku tidak berbohong soal mimpiku itu walaupun seseorang yang aku maksud adalah pria yang sedang berada di depanku.
" Apa kau punya masalah? kau bisa memberi tahuku jika kau mau, mungkin aku bisa membantu memecahkannya".
Aku tergelak, ucapan tulusnya terdengar sarkas di telingaku.
' Kau membantu memecahkannya? pakai apa? justru kau sumber masalah yang membuat ku begini!'
" Tidak apa-apa, ini bukan masalah yang serius, kau tidak perlu khawatir, sebentar lagi semuanya akan menghilang dan semua akan kembali normal, oh iya bagaimana persiapan festivalnya?" aku berusaha mengalihkan pembicaraan.
" Baiklah jika begitu, tapi aku harap kau memberitahu ku apapun itu masalahnya, jangan sampai hal itu membuat mu jadi sakit lagi, kau sangat pintar membuatku khawatir" jawabnya sambil mengacak rambutku.
" Festivalnya tidak di lakukan secara serentak, Kapital akan memulai pembukaannya terlebih dahulu lalu akan diikuti oleh beberapa wilayah dua hari kemudian, dan juga sepertinya aku harus pergi beberapa hari untuk menjemput utusan dari kerajaan Elf".
" Kau pergi ke kerajaan Elfwine?"
" Ah tidak, aku hanya menjemputnya di portal kedatangan luar negara dekat dengan negara Oleander dan juga utusan dari negara bagian selatan akan tiba disana, aku harus menyambutnya karena aku adalah bagian dari keluarga kerajaan".
' Kesempatan? jika Zurich tidak di kapital maka aku akan dengan mudah untuk pergi dari kediaman, aku bisa menipu para pelayan untuk tidak mengganggu ku di kamar, bagus sekali' pikirku.
" Aku harus kembali bekerja, istirahatlah yang cukup, kalau ada apa-apa panggil saja pelayan, mereka akan siap membantu mu".
Dia mencium keningku dengan lembut kemudian pergi meninggalkan ku, aku melambaikan tangan saat dia berhenti di depan pintu kemudian dengan tersenyum dia menghilang di belakang pintu.
__ADS_1
Aku segera bangkit dan menyiapkan rencana pelarianku, aku harus menghubungi Nabi terlebih dahulu, berangkat dari kediaman Nabi akan lebih aman dari pada berkeliaran di penginapan, aku tidak membawa barang-barang, hanya jubah kerudung dan alat yang diberikan Miranda yang dapat membantu ku untuk melarikan diri.
Sebelum kabur ke rumah Nabi, aku meminta kepala pelayan untuk tidak memasuki kamar ku sebelum aku memanggil, aku beralasan bahwa kepala ku sangat sakit dan aku tidak nyaman kalau ada yang mengganggu istirahatku, dia menawarkan untuk memanggilkan dokter namun aku menolaknya.
Tepat tengah malam aku sampai di kediaman Nabi, dia kaget melihat ku datang melalui jendela namun dia tidak menanyaiku, hanya membiarkan ku berbaring sebentar di atas tempat tidurnya.
" Jadi... pada akhirnya kau memutuskan untuk pergi?"
" Hooh!"
" Kemana kau berencana pergi?"
Aku menggelengkan kepala.
" Menurutku kota Mali adalah pilihan yang tepat, disana berbagai macam ras hidup berdampingan dan juga kau akan dapat memalsukan dokumen mu dengan mudah"
Aku meliriknya, " Apa kau tidak ingin menanyakan alasan ku?"
Dia hanya menggeleng.
Aku menganggukkan kepala sambil tersenyum kemudian memejamkan mataku, berharap malam segera berganti dengan pagi.
" Apa kau tidak mau tinggal untuk beberapa hari?" tanyanya kepadaku sebelum dia keluar dari ruangan namun aku menggelengkan kepada sambil tersenyum lirih.
Keesokkan harinya saat malam mulai menggantikan senja, aku keluar dari rumah Nabi, jantungku berdetak dengan kencangnya ketika aku menelusuri jalan setapak di belakangnya, sambil melihat ke kiri dan ke kanan, aku berjalan mengendap-endap, harap- harap cemas mereka akan menemukan ku.
'Pokoknya hari ini aku harus bisa sampai di kota Mali, pelarian ini akan sia-sia kalau aku tertangkap sekarang', pikirku .
Aku menyusuri jalanan dengan hati-hati, jantungku masih berdetak dengan nyaring, aku merasakan wajahku yang mulai memanas, kembali aku melirik ke sekitarku sebelum aku melanjutkan perjalanan.
Aku tidak mau menyeret Nabi ke dalam masalah ku dan membuatnya mendapatkan masalah, dia sudah bersedia mengizinkan ku menginap disana, tanpa ada satu orangpun yang tau, walaupun dia ingin aku tinggal lebih lama lagi tapi aku enggan membuatnya terlibat.
Nabi memberikan ku sedikit bekal dan beberapa keping emas sebagai modal perjalanan ku, walaupun begitu Nabi juga tidak menanyakan alasan atas tindakan ku, dia hanya menyarankan tempat-tempat yang bagus untuk bersembunyi, dia juga membuatkan peta rute perjalanan, beberapa alat untuk pertahanan diri dan juga obat-obatan.
__ADS_1
Jika seandainya dia menanyakan alasan ku, aku juga merasa enggan menceritakannya, bukan karena aku tidak mempercayainya, hanya saja kebaikannya sudah terlalu banyak kepada ku, aku ingin dia hidup normal dan damai tanpa harus khawatir akan masalahku.
Kesunyian malam mulai terasa saat aku sudah mulai menjauh dari rumahnya, dengan memakai jubah berkerudung, aku harap saat sampai di pusat kota, tidak ada seorangpun yang akan mengenaliku.
Untuk pergi ke ko kota Mali, aku harus naik kapal selama tiga jam kemudian butuh satu hari jika menaiki kereta kuda dan tiga hari kalau berjalan kaki.
" Apa kau sudah memeriksa yang disana? "
Aku kaget dan menghentikan langkah ku lalu melihat ke sumber suara, terlihat dua tiga orang ksatria disana, satu berbadan tegap dan besar, yang lainnya terlihat lebih kecil darinya, wajahnya tidak kelihatan karena mereka berdiri di dekat lampu jalan yang remang-remang.
" Kalau dia mau kabur, pasti dia memilih malam hari untuk menjalankan rencananya" ujar si pria berbadan tegap itu dan aku yakin orang mereka cari itu adalah aku. Aku harus bergegas meninggalkan mereka, pikirku.
" Kapten, saya melihat seorang yang mencurigakan di penginapan dekat pelabuhan " dua orang pria berlari menghampiri pria besar yang mereka panggil kapten itu.
" Apa kau melihat wajahnya?"
" Tidak, hanya saja, dia seperti menyadari kehadiran kami, jadi kami memutuskan untuk memberi tahu anda dan Hario sedang berjaga- jaga disana"
" Baik, ayo kita kesana".
Mereka berjalan menjauh dari tempat ku berada, aku bernafas lega, merasa satu masalah sudah selesai dan semoga saja orang mencurigakan itu dapat mengalihkan perhatian mereka terhadapku.
" Permisi, saya mau ke pelabuhan Lowen" ujarku kepada petugas saat aku sampai di loket pembelian tiket.
" Untuk keberangkatan kapan, nona?" Jawabnya.
" Malam ini, ada?"
" Kapal sudah berlayar nona, anda bisa memesan tiket untuk keberangkatan besok pagi"
" Besok? Keberangkatan jam berapa ya pak?"
" Untuk jam sepuluh"
__ADS_1
" Sepuluh? Ngak ada yang lebih cepat pak? Jam tujuh atau jam delapan?"
" Ada, cuma nona sudah telat, tiketnya sudah habis, sekarang orang banyak yang pergi ke kota Dagara, karena di sana sedang ada festival, naik kapal adalah cara paling cepat untuk sampai ke sana dan pelabuhan Lowen juga terkenal dengan wisata kuliner dan barang antiknya, jadi biasanya penumpang kapal akan memesan tiket seminggu sebelum keberangkatan" jelasnya panjang lebar.