
Tampaknya ada kebahagiaan tersendiri baginya ketika melihatku tersipu malu saat dia menggodaku, dia terus-terusan menggodaku sampai wajah merahku sudah tidak tertolong lagi.
" Jujurlah Sisi, kau menyukai ku kan?" bisiknya di telingaku.
Aku bergidik, kemudian mendorong tubuhnya sekuat tenaga sehingga dia terpental ke belakang, kemudian aku langsung duduk dan menutupi tubuhku dengan selimut seraya bergerak menjauh darinya.
" Ka... kau psikopat gila? apa yang kau... kau katakan?!.
Dia masih tertawa.
" Kenapa kau menjauh? bukankah kau yang memulainya duluan?"
" Kapan aku..."
Aku berhenti, kejadian aku membuka bajunya dengan paksa untuk melihat kondisinya itu kembali terputar di kepala ku.
" Aku melakukan itu hanya untuk memeriksa kondisi mu, aku tidak memikirkan hal yang aneh- aneh, justru kau yang memikirkannya".
" Benarkah?"
Dia bergerak mendekatiku.
" Jangan mendekat!" teriak ku dengan cemas.
" Jika kau mendekat aku akan teriak, biar orang-orang tau kalau pahlawan yang dielu-elukannya hanya seorang cabul".
" Benarkah? teriak lah, pastikan kau berteriak dengan keras biar semua orang mendengarnya", jawabnya dengan senyuman lebar.
" Kau menantang ku? kau pikir aku takut?"
" Tentu saja tidak, tapi..." dia menatapku dengan senyuman licik.
Dia menatapku dari atas ke bawah, senyuman licik itu masih belum hilang dari wajahnya bahkan perlahan-lahan dia bergerak semakin dekat denganku.
" Jangan coba-coba menguji kesabaran ku Grand Duke, aku benar-benar akan berteriak!"
" Sudah aku bilang lakukan saja, sepertinya kau sangat ingin terikat dengan ku, yah bagiku itu tidak masalah, malah lebih bagus, jadi kau tidak terpikir untuk kabur lagi".
Aku menatapnya heran, kenapa responnya sangat berlawanan dengan apa yang aku harapkan, apa karena dia seorang Grand Duke maka dia akan dengan mudah untuk menghentikan rumor negatif tentangnya.
__ADS_1
' Cih, mentang-mentang memiliki jabatan, kau berlaku semena-mena begitu?'
" Teriak lah Si, jika kau ingin hubungan kita ketahuan dan kau tidak punya alasan lagi untuk menolak menjadi Duchessku, apa kau melupakan tanda imprint kita? jika ada yang melihat kita sekarang dan mereka tau tentang tanda imprint ini, menurut mu apa yang akan terjadi?"
Aku membeku mendengar ucapannya.
' Oh ya tuhan, aku hampir lupa tentang tanda imprint ini, jika aku berteriak, bukannya akan membantuku kabur darinya malah membuatku terikat dengannya selamanya, kenapa aku tidak kepikiran? aduh Sisi tolol'
Dia mendekati ku dengan hati-hati, kemudian menyentuh tanganku dan menciumnya, matanya menatap lurus ke mataku.
" Aku tidak menyangka kau akan setakut itu padaku, aku minta maaf karena sudah menggoda mu", ujarnya dengan lembut.
Aku hanya menundukkan kepala, tidak berani menatap mata biru yang dapat menghisap ku ke dalamnya, suaranya terdengar sangat lembut dan menenangkan di kepalaku.
" Percayalah Si, aku akan berusaha untuk tidak menyentuh mu sebelum kau memutuskan untuk menerimaku, aku tidak mau memaksakan diriku kepada mu, jika aku melakukan itu, aku yakin kau akan berusaha menjauh dariku dan aku tidak mau hal itu terjadi".
" Lalu kenapa kau terus-terusan menggodaku?"
" Karena ekspresimu sangat menggemaskan, aku bahkan tidak bisa berhenti untuk melakukannya, maafkan aku hmmm".
Aku tidak menjawab.
Dia dia menatapku dengan pandangan memohon, aku hanya menganggukkan kepala, di pikiran ku aku masih tidak mempercayai ucapannya.
' Tidak apa Sisi, ini bukan berarti kau kalah, kau hanya perlu berusaha lebih keras lagi saja, mari kita ikuti dulu permainannya'.
" Apa kau akan membiarkan ku dengan kondisi berserk begini?"
Aku masih tidak menjawab namun segera mengambil tangannya dan memulai pemurnian, aku memejamkan mata untuk menfokuskan kekuatanku padanya, tidak seperti tadi malam, kali aku dapat melihat kekuatannya yang diselimuti oleh sesuatu yang hitam pekat.
Perutku teras mual tapi aku masih melanjutkan pemurniannya, keringat berjatuhan keningku, kondisinya sangat parah, aku tidak tau bagaimana cara dia menahan kondisi seperti ini, jika itu orang lain aku yakin mereka sudah mengamuk karena tidak bisa mengendalikan kekuatan mereka dan jika itu terjadi maka akan banyak korban jiwa yang akan berjatuhan, dan yang paling menderita itu adalah rakyat kalangan bawah.
Butuh waktu dua jam bagiku untuk memurnikannya, namun karena kondisinya yang tidak biasa aku tidak bisa membuatnya kembali normal, aku harus melakukan pemurnian beberapa kali jika dia bisa kembali prima.
" Kita akan melakukannya lagi besok, tapi bagaimana cara kau bertahan dengan kondisi seperti ini?"
" Hmmm aku sudah terbiasa!" jawabnya bangkit dari tempat tidur kemudian memasang kembali kancing bajunya dengan benar.
" Apa kau tidak merasa kesakitan?"
__ADS_1
" Apa sekarang kau mengkhawatirkan ku?"
Aku menghela nafas sambil memutar bola mataku.
' Sudahlah Sisi, ngak guna bertanya pada pria ini'
Dia tertawa melihat responku, kemudian berjalan ke pintu keluar.
" Aku akan ke kamar sebelah, mari kita sarapan bersama-sama!" ujarnya kemudian menghilang di pintu penghubung antara kamarku dan kamar di sebelah yang dia maksud.
Beberapa menit kemudian pelayan masuk ke kamarku dan membantuku untuk beberes dan bersiap, mereka dengan penuh semangat mendandaniku seperti aku adalah seorang pemilik dari kastil itu.
" Anda sangat cantik Miss, saya yakin yang mulia juga memikirkan hal yang sama" ujar salah satu dari mereka.
" Kenapa Grand Duke berpikir seperti itu?" tanyaku dengan nada canggung.
" Bukankah anda adalah wanita Grand Duke yang banyak dibicarakan belakang ini?"
" Pembicaraan seperti apa!?"
" Hmm katanya anda sangat cantik dan mempesona sehingga dapat mencairkan pria musim dingin seperti yang mulia, ada juga rumor yang mengatakan bahwa anda akan merebut posisi Grand Duchess dari Miss Helwise"
Aku tertawa.
" Rumor macam apa yang mereka bicarakan? aku pikir itu hanya ada di Kapital, mengingat rumor yang sepert itu bahkan sampai ke sini, aku pikir si penyebar sangat bekerja keras".
" Bukan kah rumornya benar, Miss?"
Ketika hendak menjawab, kepala pelayan masuk dan menginformasikan bahwa Zurich sedang menungguku untuk sarapan bersamanya, aku mengikuti pelayan tersebut ke pintu, disana terlihat Zurich tengah menungguku dengan seragam lengkap berwarna hitam dan hiasan keemasan yang menambah kesan mahal yang ada padanya.
Kami berjalan di koridor menuju ruang makan, pemandangan di kastil itu sangat memanjakan mata dengan air laut nan biru dan pantai putih yang bersih, di pinggir pantai tampak begitu banyak kapal yang berlabuh dan hiruk pikuk keramaian kota pelabuhan tersebut.
" Salam kepada yang mulia Grand Duke Dagaras" ujar seorang gadis yang mengalihkan pandangan ku dari pemandangan indah tersebut.
Di hadapan kami terlihat gadis cantik berambut pirang dengan mata hijau zamrud menunduk memberi salam kepada Zurich, tubuhnya yang tinggi semampai dan kulit putih yang dibalut oleh gaun berwarna merah itu menambah keelokan rupa gadis tersebut.
' Siapa wanita yang bak malaikat turun ke bumi ini? cantiknya, hidungnya mancung dan matanya juga besar, auranya juga mewah, mereka terlihat seperti pasangan serasi' pikirku.
" Oh Siapa gadis yang di belakang anda?" ujarnya setelah Zurich menerima salamnya.
__ADS_1
Dia menatapku dari ujung rambut ke ujung kaki, menatapku dengan tatapan menilai tapi senyuman masih menghias wajahnya, walaupun aku tidak dapat merasakan keramahan dari senyuman itu, malah seperti hewan buas yang sedang mencoba mengintimidasi mangsanya.