
Setelah kejadian itu aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak tersenyum, bahkan setelah sampai di kamar aku menghempaskan tubuhku ke tempat tidur dan berteriak sambil menutupi mulutku dengan bantal supaya tidak ada yang mendengar ku.
" Ya ampun, apa begini rasanya menyukai seseorang dan dia juga menyukai kita? Kyaaaaaaaa" gumamku kembali menutup wajahku dengan bantal dengan tanganku dan kakiku memukul-mukul kasur tempat ku berbaring.
" Setelah kita menikah, bagusnya punya anak berapa ya? mungkin dua pasang akan lebih baik, hmm atau sepasang aja?"
Aku tertawa cekikikan.
" Lupakan, lupakan Sisi, apa sih baru jadian udah mikirin anak" gumamku lagi sambil memukul kepala ku namun kepalaku kembali di penuhi oleh ucapan Zurich.
".........Aku takut Si, aku rasa aku sudah tidak bisa lagi mengontrol hatiku, melihat kau bersama yang lain membuat darah ku mendidih, sepertinya aku sudah tidak bisa kembali, aku sudah terlanjur cinta kepadamu dan dalam hatiku sudah penuh dengan nama mu, aku tidak tau lagi harus bagaimana, aku merasa tidak berdaya karena aku terlalu menginginkan mu......"
" Aku merasa tidak berdaya karena aku terlalu menginginkan mu, kyaaaaaaaa"
Aku berkali-kali mengulang kata-kata Zurich kepadaku, dan berulang kali juga aku berteriak sambil di tutupi bantal, aku tidak pernah membayangkan hari-hari dimana aku akan merasakan cinta seperti ini akan datang, tawa sumringah kembali terpancar di mukaku.
" Kau sesenang itu sampai-sampai kau tidak melihat ku di sini huh?" tanya Zeju melihatku dari sofa di pojok ruangan yang bersebelahan dengan pemanas ruangan.
Aku menoleh ke arahnya dan dengan geram berjalan menghampirinya, aku beberapa kali melayangkan pukulan ke bahunya yang tegap itu.
" Kenapa kau semarah itu? harusnya kau memberiku hadiah karena gara-gara ku hubungan kalian berkembang ke arah yang lebih baik bukan?"
" Berkembang kata mu? kau kenapa memprovokasinya seperti itu hah? darling? sejak kapan aku jadi darling mu? atau jangan-jangan kau juga menyukai ku?"
Dia tergelak.
" Aku menyukai mu? aku? yang benar saja!" ujarnya sarkas sambil memutar bola matanya.
Dia menatapku dengan pandangan tidak percaya, sesekali dia menarik nafasnya sambil memangku kepalanya dan mengetuk-getuk kecil keningnya.
" Aku hanya ingin tau seberapa penting kau baginya, jika dia baik-baik saja saat aku menggoda mu, mungkin dia hanya menganggap mu sebagai pilihan selain gadis ular itu, namun reaksinya benar-benar di luar perkiraan ku, melihat dia yang berusaha tersenyum sambil menahan emosinya membuatku semakin ingin untuk menjahilinya".
Dia kemudian tertawa sambil melihat ke jendela, satu hal yang aku sadari saat melihat Zeju adalah wajahnya yang bak malaikat saat tertawa, sangat menyilaukan di tambah dengan pantulan cahaya matahari kepadanya, itu terlihat seperti lukisan malaikat tanpa sayap dengan baju putih dan rambut perak yang berkilau, sesaat aku terpesona oleh pemandangan itu namun aku kembali di sadarkan oleh ucapan Zurich yang terngiang-ngiang di kepalaku.
" Pokoknya jangan pernah lakukan itu lagi, untung saja dia menahan emosi dan tidak membunuh mu!"
__ADS_1
" Kau pikir aku segampang itu untuk di bunuh?" ujarnya sambil tertawa menyeringai.
" Aku tau kalau tuan Chyou Fengyin kuat, tapi saat ini kau berada di negara lain, kau harus belajar untuk tidak menonjolkan diri, bagaimana jika dia mulai menyelidiki identitas mu?"
" Tidak masalah, dia bisa mencoba semampunya tapi dia tidak akan mungkin mengetahui latar belakang ku!"
" Terserah kau saja, ngomong-ngomong apa Chyou Fengyin adalah nama asli mu?"
" Tentu saja, apa kau pikir aku mengatakan nama samaran kepadanya?"
" Entahlah, kau tidak pernah mau memberitahu ku tentang dirimu, jadi bagaiman aku tau itu nama aslimu atau tidak".
" Apa kau ingin mengenalku lebih jauh? atau kau masih mau menjadi istriku?" tanya dengan nada menggoda.
" Cukup menggiurkan tapi aku tidak mau menjadi manusia yang serakah, Zurich aja sudah cukup bagiku!" jawabku sambil tertawa.
Dia juga tertawa mendengar jawabanku namun kemudian perhatiannya teralihkan ke permata di kalungku yang sudah retak.
" Sepertinya itu sudah tidak berguna lagi!" ujarnya menunjuk ke arah dadaku.
" Permata di kalung mu itu, apa kau mau aku ganti dengan sesuatu yang baru?"
" Tapi ini hadiah dari Zurich, kalau aku menggantinya nanti dia akan sedih".
" Memangnya lebih penting kesedihannya atau keselamatan mu? bukankah kau bilang musuh mu sudah bertambah lagi?"
" Benar juga sih, tapi aku akan memberi tahunya dulu soal ini, oh kita akan kembali ke Kapital besok karena pekerjaan ku disini sudah selesai".
" Hmm benar, kita masih belum tau kabar terbaru dari sahabat mu dan juga aku punya sesuatu yang hendak aku sampaikan kepada Miranda" jawabnya.
Zeju menatapku sebentar, sepertinya ada sesuatu yang hendak dia katakan namun kelihatannya dia ragu, dia kemudian mengambil sesuatu dari balik bajunya, sesuatu seperti kantong kain dengan benang emas yang tersulam diatas, dia memberikannya kepadaku.
" Jika kalung itu tidak bisa lagi melindungi mu saat kau dalam bahaya dan aku juga tidak berada di dekatmu, benda ini akan sangat berguna bagi mu".
" Apa ini?" tanyaku mengambil kantong itu dan membukanya, di dalamnya ada sesuatu seperti sisik yang berwarna keperakan, aku mengangkat benda itu ke udara, benda itu berkilau terpantul cahaya matahari.
__ADS_1
" Dari mana kau mendapatkan ini? sisik apa ini?"
" Simpanlah, kau akan membutuhkannya nanti, tapi selalu bawa kemana pun kau pergi, dengan begitu kau tidak perlu lagi cemas jika seseorang hendak mencelakakan mu" ujarnya sambil tersenyum manis.
Aku menganggukkan kepala dan membalas senyumannya kemudian memasukan kembali sisik itu ke dalam kantong kain tersebut.
Keesokan harinya Zurich mengantarku ke portal teleportasi, dia meminta Wulfarm untuk mengawal sampai ke Kapital.
" Sayang sekali aku tidak bisa ikut dengan mu karena masih banyak urusan yang harus aku selesaikan di sini", ujarnya sambil membelai rambutku dengan lembut.
" Tidak apa-apa, aku akan menunggu mu di Kapital", jawabku dengan senyuman manis.
" Baiklah komandan, kami berangkat dulu", ujar Wulfram sambil memberi hormat dan dijawab dengan anggukan tegas oleh Zurich.
Kami hendak melangkah ke pintu portal ketika Zurich menarik tangan ku dan mengecup lembut keningku kemudian memelukku dengan erat.
" Aku tidak ingin berpisah dengan mu!" bisiknya tapi terdengar seperti rengekan olehku.
Aku tertawa.
" Ayolah, Zeju akan mati jika kau memeluk ku sekuat itu" ujarku berusaha melepaskan diri darinya.
Dia melepaskan pelukannya dan menatap Zeju dengan pandangan kesal.
" Jangan bilang kau hendak mengajak seekor kelinci bertengkar?" tanyaku masih tertawa.
" Aku sedikit terganggu dengan kehadirannya tapi dia adalah teman mu jadi aku tidak akan merebutnya dari mu".
" Sir, kalau kita tidak segera berangkat, nanti kita akan terlambat sampai di Kapital" ujar Wulfram menghentikan percakapan kami.
" Baiklah, hati-hati di jalan ya? oh dan Wulfram jaga dia dengan baik!"
" Siap komandan!"
Aku mengikuti Wulfram memasuki portal teleportasi tersebut, sebelum hilang aku kembali menoleh ke belakang untuk melihat ekspresi Zurich yang terlihat sedih namun dia masih mencoba untuk tetap tersenyum sambil melambaikan tangan, dan aku membalas lambaian tangannya sampai akhirnya dia tidak terlihat lagi.
__ADS_1