
" Soal Madam Miranda apa?" tanyaku dengan penasaran sambil mengusap sisa-sisa air mata di pipiku.
" Aku tidak tau haruskah aku mengatakan ini atau tidak tapi menurutku kau harus tau Si"
Aku menunggunya untuk melanjutkan kalimatnya namun gadis itu hanya menunduk dalam-dalam, dia menelan ludahnya kemudian dia berjongkok di depanku sambil menggenggam kedua tanganku.
" Dengar Si, saat kau ditangkap oleh fraksi Virgo, aku pergi ke Guild Humingbird untuk memberitahu Madam tentang apa yang terjadi padamu, namun saat aku sampai disana.............................guild itu....di segel oleh ksatria istana dan berdasarkan keterangan salah satu anggota yang sempat aku temui, dia bilang....Madam tidak diketahui keberadaannya, dia bilang dia terakhir kali dia menemuinya dia dalam keadaan koma di negara Oleander, tapi saat kembali sana dia sudah tidak menemukan jejaknya".
Aku terkulai lemas mendengar ucapan Nabi, aku diam beberapa saat sebelum kemudian tertawa dengan miris.
" Pff... wah luar biasa, hidupku seperti badai ya, tidak pernah tenang, sekarang apa ada lagi yang lebih buruk dari ini? sebenarnya apa yang salah dengan ku?"
Aku melihat ke arah Nabi yang memandang jauh ke jendela, matanya berkaca-kaca namun dia berusaha setenang mungkin agar aku tidak melihat dirinya terguncang.
" Aku juga hilang kontak dengan ayahku sudah beberapa bulan ini, itulah mengapa aku mengambil cuti dari fraksi, karena aku harus jadi kepala keluarga untuk sementara waktu, aku juga bertanya-tanya Si, sebenarnya apa yang sedang terjadi?"
" Paman juga? apa mereka sudah tau identitas ku sebelumnya? apa mereka juga menangkap Miranda dan paman?"
Belum sempat Nabi menjawab ku pintu kamar diketuk dari luar dan kepala pelayan masuk dengan wajah pucat.
" Apa yang terjadi?" tanya Nabi.
" Ksatria kerajaan di sini Miss, mereka meminta kita untuk segera menyerahkan Miss Sisilia, saya meminta tuan Garfield untuk melayani mu mereka sementara saya kesini!" jawabnya dengan nafas terengah-engah.
" Sial!" ucap Nabi.
" Kau harus keluar lewat kamar rahasia Si, aku akan mencoba mengulur waktu, kau tau dimana bukan?"
__ADS_1
Aku mengangguk.
" Dan ini, serbuk bius dan beberapa pisau lempar, aku menyiapkan ini untuk berjaga-jaga jika kau membutuhkannya!"
Aku memeluk Nabi beberapa saat, kemudian berjalan menuju pintu di samping kamarnya yang menjadi penghubung ke kamar sebelah dimana pintu rahasia berada.
" Sisi, hubungi aku jika kau sudah berada di tempat yang aman!" ujarnya sebelum menghilang di pintu masuk kamarnya.
Aku melangkah dengan cepat menuju kamar rahasia dan mengambil sebuah obor untuk membantuku melewati terowongan yang gelap tersebut, aku tidak menyangka mereka akan menemukan ku secepat itu dan dalam hatiku aku berharap agar mereka tidak melibatkan Nabi.
Lorong itu gelap dan lembab namun cukup luas untuk dilewati dan langit-langitnya juga lumayan tinggi sehingga aku tidak terlalu kesulitan bernafas disana, aku pertama kali masuk lorong ini saat marquis membawaku ke kediamannya, dia menyembunyikan keberadaan ku dari semua orang kecuali Nabi dan kepala pelayan.
Miranda juga menggunakan lorong rahasia itu untuk berkunjung ke kediaman Marquis Rafael karena keberadaan Guild Humingbird sangat terkenal di kalangan bangsawan jadi dia tidak mau bangsawan curiga kalau dia punya hubungan khusus dengan kediaman Rafael.
lorong itu cukup panjang dan pintu keluarnya berada di dekat bukit yang tidak jauh dari kediaman keluarga yang terbakar dahulu, aku masih berjalan dengan hati-hati, takut kalau ada hewan yang hidup disana dan juga semakin dekat aku dengan pintu keluar dan semakin pula lantai yang aku pijak.
" Sebaiknya aku menuju portal yang ada di dekat teluk Oliga, aku tidak tau portal itu akan membawa ku kemana tapi yang jelas itu lebih baik dari pada berada disini"
Aku memandang pemandangan pelabuhan di ujung tempatku berdiri, untuk mencapai teluk Oliga aku harus naik kapal dulu, aku berpikir sejenak kemudian kembali melangkah menuruni bukit tersebut.
" Mungkin jika aku mengikuti pinggir laut ini bisa sampai di teluk Oliga beberapa hari tanpa harus naik kapal!" gumamku.
Aku melanjutkan perjalanan ku, di sepanjang jalan tidak ada tanda-tanda pengejar mengikuti dan aku dapat bernafas dengan lega, aku menghabiskan beberapa hari di jalan dan bekal yang aku bawa juga sudah mulai menipis, aku dapat merasakan tubuh ku semakin ringan seiring berjalannya waktu.
Aku memasuki perkampungan terakhir yang berbatasan dengan teluk Oliga, aku istirahat semalam di sana dan berencana untuk melanjutkan perjalanan ku di pagi hari namun saat aku keluar dari penginapan beberapa ksatria mengenali ku, aku langsung melarikan diri menjauh dari mereka.
" Berhenti!" teriak mereka mengejar dengan cepat.
__ADS_1
Aku terus berlari memasuki hutan yang kemarin aku lewati walaupun aku tidak tau arah dan tujuanku, aku berhenti sesaat untuk mengambil nafas sebelum kembali berlari menjauh, aku menoleh kebelakang dan melihat para ksatria itu semakin dekat.
' Kalau terus begini, aku pasti akan segera tertangkap' pikirku.
Aku memutar pandangan ku ke segala arah kemudian memilih masuk ke dalam hutan yang sangat lebat dengan harapan mereka tidak menemukan ku, setelah sepuluh menit berlari aku sampai di pinggir hutan namun disana yang ada hanyalah tebing yang sangat terjal, bahkan aku tidak bisa melihat bagian bawah dari tebing tersebut karena tertutup kabut.
" Kau sudah tersudut, sebaiknya kau menyerahkan diri!" ujar salah satu dari pengejar yang sudah berada di belakang ku.
Aku melangkah mundur, tumitku hampir menyentuh pinggiran tebing tersebut, aku pelan-pelan merogoh sakuku.
" Kau sudah tidak bisa kabur lagi, sebaiknya kau ikut dengan kami atau kami akan membunuhmu di sini!"
" Kenapa kalian ingin menangkap orang seperti ku? sedangkan aku tidak pernah melakukan kejahatan selama aku berada di negara ini, bukankah ini tidak adil?"
Aku berusaha mengalihkan perhatian mereka kemudian melangkah maju beberapa saat sebelum melemparkan bubuk bius kepada mereka, mereka semua pingsan di tempat, aku mengurut dada dan berusaha menggoyang-goyang badan dari salah satu mereka namun mereka masih tidak bergerak.
" Bagus, aku harus cepat meninggalkan tempat ini!" gumamku bangkit dan hendak melanjutkan perjalananku tetapi aku menghentikan langkahku.
Di depanku muncul lagi lima orang ksatria, aku menelan ludah dan melangkah mundur beberapa langkah, tidak lama kemudian muncul pemimpinnya dengan mengendari kuda putih yang gagah, dia menghentikan kudanya tepat di depanku, lalu dia turun dan berjalan mendekat ke arahku.
" BERHENTI!" teriak ku kepadanya.
Dia menghentikan langkahnya dan menatapku dengan pandangan yang tidak bisa aku artikan, aku menelan ludahku beberapa kali, aku mata menggenang di kelopak mataku namun aku menolak untuk menangis.
" Apa kau di sini untuk menangkap ku?"
Dia tidak menjawab, matanya masih memandang lurus ke dalam mataku, aku yang melihat respon pria itu tergelak.
__ADS_1
" Pffff... sepertinya memang seperti itu!" ujarku lagi.