Butterfly Trap

Butterfly Trap
Part 16


__ADS_3

Aku dibangunkan oleh suara keras yang yang menghantam dinding kabin tersebut, terdengar suara pria yang mengumpat dan memaki dan juga terdengar bunyi pertarungan dan ******* kesakitan.


' Apa yang terjadi? apa seseorang datang menyelamatkanku?' pikirku sambil membuka mataku, samar-samar aku dapat melihat seorang pria berambut panjang dan berjubah putih tengah bertarung dengan beberapa orang pria berbaju hitam.


Pertarungan itu tampaknya didominasi oleh si pria berjubah putih karena beberapa pria berjubah hitam itu berjatuhan kelantai.


" Bedebah sialan!" terdengar makian salah satu dari mereka.


Beberapa waktu kemudian semua pria berbaju hitam itu tumbang ke lantai, pria berjubah putih itu menghampiriku dan dengan hati-hati membuka ikatan ditangan dan di kakiku, lalu menghilang meninggalkan kabin yang sudah berantakan tersebut.


Saat dia membuka penutup mataku, kami berada di bawah pohon rindang dekat sebuah sungai, aku melihat ke pria yang sudah menyelamatkanku itu, dia terlihat kehabisan nafas, keringat bercucuran di pelipisnya. Pria itu memakai pakaian yang sangat asing, aku bahkan belum pernah melihat pakaian seperti itu selama hidupku.


Rambut panjang yang berwarna perak berkilau disanggul separo di kepalanya, ditambah dengan warna kulit putih menambah keanggunan sempurna sehingga membuatku meragukan apakah pria di sampingku ini benar-benar seorang pria.


" Terima kasih karena sudah menyelamatkanku, Sir atau Lady?" ujarku dengan ragu-ragu.


Dia menoleh ke arahku, tangannya masih di dadanya menahan nafasnya yang naik turun, walaupun dia menatapku dengan tajam tapi keanggunan itu tidak lepas dari wajahnya.


" Apa kau bilang, hah?" jawabnya setengah marah.


' Suara ini...'


" Ze.....ju?" tanyaku dengan ragu-ragu.


" Sial sial" gumamnya masih menahan dadanya dengan tangan, kemudian dia duduk dibawah pohon itu, menyandarkan badannya ke batang pohon.


" Sial" umpatnya lagi.


Aku masih memandangi wajahnya, tidak pernah terpikirkan olehku wujud sebenarnya dari kelinci putih yang arogan itu adalah pria berparas cantik nan menawan seperti ini, bibirnya merah sensual yang dapat memikat setiap gadis yang melihatnya bahkan para pria pun akan mengakui keelokan rupanya.


" Kita tidak ada waktu, mereka pasti akan mengejar kesini" ujarnya disela-sela tarikan nafasnya yang masih berat.


" Sialllll" teriaknya lagi.


Belum sempat aku menjawabnya terdengar suara langkah kaki yang menuju kearah kami dengan cepat, Zeju menarik tanganku hendak menjauh namun dia kembali ke wujudku kelincinya yang membuatnya memaki dengan geram.


" Disini kau rupanya",


Tiga orang pria menghadang kami, aku mengenali suara salah satu dari mereka, dia yang di panggil Sir oleh yang lain.


" Aku sudah berbaik hati membiarkan kau hidup tapi kau malah melangkah menuju kematian mu", ujarnya menyeringai, pedang besar panjang menggantung ditangannya, tubuhnya yang kekar dan wajahnya yang sengaja ditutup dengan sapu tangan menjelaskan dia tidak ingin aku mengetahui rupanya.


" Bagaimana cara kau kabur, huh manis?"

__ADS_1


Aku segera mengambil kayu yang ada di dekatku, dengan mundur perlahan-lahan aku menodongkan kayu itu ke mereka.


" Jangan mendekat, rekan ku ada disekitar sini dan mereka pasti akan menemukan ku", ujarku dengan nada mengancam.


Dia dan yang lain tertawa dengan keras.


" Bagaimana kalau aku membunuhmu sebelum rekanmu menemukan mu, huh?" ujarnya masih tertawa lalu mengayunkan pedangnya ke arahku, aku dengan gesit menghindar.


"Tidak buruk tidak buruk"


Aku mengambil Zeju dari tanah dan menggendongnya kemudian berbalik berlari meninggalkan mereka namun dengan cepat dia menarik tanganku lalu mendorongku jatuh.


" hahahaha kau bahkan lebih lucu dari pada kelinci yang kau pegang itu" ujarnya dan hendak mengayunkan lagi pedangnya kepadaku, aku masih diposisi terjatuh dan aku yakin aku tidak akan bisa menghindari pedangnya lagi.


Zeju dengan gesit melompat ke tubuh pria tersebut dan menendang matanya dengan kakinya, merasa kesakitan dia melempar Zeju kesamping, melihat ketuanya yang terduduk karena serangan Zeju, dua orang yang lain langsung menyerbunya dan mengayunkan pedangnya, mereka tidak menggunakan kekuatan awakenernya entah itu karena mereka berhati-hati ataupun memang tidak ada seorangpun yang memiliki kemampuan diantara mereka.


Aku berlari kearah Zeju dan berusaha melindunginya dari pedang yang hendak menebas tubuh kecil itu sehingga punggungku menjadi sasaran empuk.


" Bodohnya kau melindungi kelinci sialan itu" teriak salah satu dari mereka.


" Sekarang nikmatilah waktumu di neraka, haha"


Dia mengayunkan pedangnya kembali kearah ku, kali ini dia menargetkan leherku, pandanganku mulai kabur, tidak mungkin aku bisa menghindari dua orang itu, aku hanya bisa memejamkan mataku.


".....i....."


Aku samar-samar mendengar suara memanggilku dengan putus asa, aku ingin membuka mataku namun terasa berat, seluruh tubuhku terasa lemas tidak bertulang.


' Apakah Zeju kembali menyelamatkanku? ah mahkluk kecil itu, padahal dia membenciku tapi kenapa dia repot-repot menyelamatkanku, bukannya lari dia masih saja disini, kelinci bodoh' pikirku sambil tersenyum lirih.


***


Saat kesadaranku kembali aku sudah berada dikediaman Zurich, aku terbaring dikamar yang biasa aku tepati dan bau obat-obatan menusuk hidungku.


" Syukurlah anda sudah sadar Miss"


Aku menoleh ke sumber suara, Red berdiri di samping ku dengan segelas cairan ditangannya, wajahnya terlihat cemas dan bersalah.


" Saya minta maaf" ujarnya menundukkan kepala kepadaku.


" Kenapa anda minta maaf Sir?"


" Semua ini terjadi karena anda menyelamatkan saya, andai saja..........."

__ADS_1


" Tidak" potongku sambil berusaha bangkit namun karena luka di punggungku aku belum bisa menggerakkan badanku.


" Jangan bergerak dulu Miss"


Aku melihat ke sekitarku, angin yang sepoi-sepoi memasuki kamarku dari jendela yang terbuka, cuaca siang itu terlihat cerah dan langit biru yang tak berawan terlihat jelas dari jendela kamarku.


" Jam berapa sekarang Sir?"


" Sekitar jam setengah dua, anda tidak sadarkan diri selama selama seminggu"


" Seminggu?"


Pintu kamarku terbuka, Zurich berlari ke arahku diiringi oleh Claude dibelakangnya, dia melihatku dengan wajah penuh penyesalan namun tidak satu kalimat pun yang keluar dari mulutnya, dia hanya menatapku dan memegang tanganku dengan lembut.


" Syukurlah...syukurlah" gumamnya sambil mengangkat tanganku ke wajahnya lalu dia mencium punggung tanganku dan membelai lembut rambutku.


" Maafkan aku, aku tidak menepati janjiku untuk melindungi mu, aku benar-benar minta maaf" ucapnya pelan yang hampir tidak terdengar olehku.


Entah mengapa sikap yang ditunjukan oleh Zurich tidak biasa, dia terlihat seperti seseorang yang hampir kehilangan separuh jiwanya, dia menggenggam tanganku dengan erat, aku ingin menyalahkannya atas apa yang terjadi padaku, namun aku sadar, jika aku di beri pilihan antara menyelamatkan Red atau meninggalkannya, sudah pasti aku akan memilih menyelamatkannya.


" Sudahlah Sir, yang penting sekarang aku sudah tidak apa-apa" jawabku lemah dan lirih


Dia menatapku lama kemudian menghela nafas dengan panjang lalu dia menanyakan keadaanku kepada Red, dia menjelaskan bahwa aku sudah melewati kondisi kritis dan luka di punggungku juga perlahan sudah mulai mengering, dengan istirahat yang cukup aku akan bisa beraktifitas dalam satu bulan ke depan.


Aku menjalani hari-hari yang membosankan berbaring di tempat tidur, Zurich selalu berada di sampingku setiap hari, saat dia senggang dia akan datang ke kamarku dan membawakan makanan kesukaanku dan beberapa buku bacaan untuk menemaniku.


Beberapa hari kemudian, Penelope datang berkunjung, dia membawa sekeranjang buah-buahan segar dan buket bunga lily yang besar.


" Semoga cepat sembuh Miss Butterfly" ujarnya sambil duduk di samping ranjangku.


" Terima kasih"


" Aku iri padamu, Miss" ujarnya tiba-tiba.


Aku memiringkan kepalaku heran.


" Kau bisa membuat komandan setengah gila saat mengetahui kau diculik"


' Komandan? Si Zurich yang dingin itu? setengah gila? Penelope bercanda nih'


" Kau terlihat tidak percaya" ujarnya melihat reaksiku yang hanya tersenyum kecil mendengar ucapannya.


" Gini deh, biar aku ceritain kronologinya".

__ADS_1


__ADS_2