
Deru napas mereka berkejaran di dalam kamar berpenerangan remang-remang. Dua sosok manusia berbeda jenis bergumul tanpa rasa malu, saling mencari kenikmatan sensual tanpa merasa harus bersembunyi di dalam kegelapan yang biasa lazim dilakukan para lain.
******* lembut membuai telinga pasangan dan membuat pria itu semakin bersemangart memompa.
“Kamu benar-benar seksi, sayang,” gerung suara Arvaz sambil mempererat cengkeramannya pada pinggang wanita itu, menahannya untuk tidak bergerak terlalu cepat lalu terdengar enyahkan di bawahnya.
Tarikan bibir itu semakin jelas. Arvaz mengangkat tubuhnya dan menunduk untuk menatap Erika. Tawa memenuhi wanita itu sejenak tapi ia segara memprotes pelan ketika memisahkan tubuh mereka. Namun lagi-lagi, Arvaz mengisinya dengan pelan, kuat dan dalam. Menariknya kembali dan mengisinya kembali hingga ia nyaris gila.
Pria itu berhenti sejenak memandang ke bawah, menatap tempat bersatunya mereka. Keningnya yang basah membentuk lipatan halus.
“Aku suka berada di dalam sini.”
Ia tidak bisa berkonsentrasi penuh pada kalimat Arvaz ketika satu dorongan penuh, Arvaz memenuhinya. Erika menjulurkan tangannya, berusaha menggapai untuk memeluk Arvaz, namun ia hanya menggapai udara kosong karena Aravz terlalu sibuk menghunjam, menahan tubuhnya sehingga dia bebas menjulang bebas di atas dan menguasainya.
Erika melemparkan kepalanya ke belakang, pandangannya melekat pada langit-langit kamarnya. Ia kemudian memejamkan matanya untuk merasakan keberadaan Arvaz dan menunggu pelepasan itu menjemputnya. Segera.
Ia bertumpu pada sebelah lengannya dan menatap Arvaz yang sedang terpendam miring sambil memeluk pinggang kecilnya. Ia menelusuri wajah Aravz yang tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung.
Ia tersenyum lalu memejamkan mata menyusul Arvaz ke alam mimpi.
...…...
Erika mengerang saat sinar matahari menyakiti retinanya. Ia mengerjapkan matanya berulang kali, membiasakan terang yang memenuhi kamar. Ia melihat Aravz yang masih berada di sampingnya. Pria itu sudah mengubah posisi tidurnya menjadi tengkurap.
Erika ingin membangunkan Arvaz namun suara notifikasi dari ponsel Arvaz menyita perhatiannya. Perlahan Erika duduk, melilitkan selimut di tubuhnyadan mengulurkan tangan untuk mengambil ponsel Arvaz di atas nakas.
Erika menyandarkan punggungnya ke headboard lalu membuka pesan teks. Itu adalah pesan dari ibunya Arvaz. Erika merasakan dinginnya kata-katanya dalam pesan teks tersebut.
‘Aku tidak akan pernah setuju bahkan sampai aku mati’
Erika menyadari bahwa dia merujuk pada pernikahan mereka. Erika menghela napas. Erika menyentuh dadanya yang tiba-tiba sesak. Erika meletakkan ponsel Arvaz kembali ke nakas. Lalu secara mengecutkan Arvaz terbangun.
“Jangan bilang kamu tidak tidur semalam?” Suara Aravaz yang serak dan seksi terdengar di gendang telinganya Erika.
Pria itu memeluk pinggangnya dan menenggelamkan kepalanya di sana dengan malas.
“Aku baru saja bangun dan melihat pesan yang dikirim ibumu.”
Arvaz langsung mendonggakkan kepalanya. “Ibuku pasti menerimamu.”
“Dia tidak menyetujuinya.”
“Itu hanya sementara.”
__ADS_1
“Bagaimana jika dia benar-benar tidak pernah menyetujuinya?”
“Apakah kamu tahu mengapa ibuku sangat menyukai Mina?” Tanya Arvaz.
“Haruskah aku tahu mengapa?” Erika memberengut.
“Mina telah melakukan banyak hal untukku saat aku terpuruk di dalam dasar. Dia juga pernah menyelamatkan ibuku,” ujar Aravz.
“Kamu mencoba mengatakan bahwa ibumu memujinya hanya karena dia melakukan banyak hal untukmu dan bahkan menyelamatkan ibumu, bukan? Bukankah aku juga banyak menyerah untukmu?” Erika mendengus kesal. Ia merasa dibanding-bandingkan dengan Mina dan ia tidak menyukainya.
“Bukan itu yang aku maksud, bisakah kamu bersabar menghadapi ibuku. Terus berbuat baik di depannya meskipun sekalipun dia menyakitimu.”
“Sama sekali tidak bisa. Aku mempunyai batas kesabaran. Apakah aku harus bersabar saat aku dijambak, ditampar,ditendang?”
“Ibuku tidak akan melakukan itu semua. Ibuku sangat baik.”
“Kalau begitu, kenapa kamu tidak mendengarkan saja dan melepaskanku? Itu bagus, bukan? Aku akan menjalani hidupku sendiri dengan kebebasan.”
“Tapi aku tidak bisa melepaskan dirimu karena aku menginginkanmu.”
Aravz mendaratkan kecupan singkat di atas bibir Erika kemudian pria itu bangun dari tempat tidur untuk mengenakan pakaian. Erika memperhatikan setiap gerakan Arvaz ketika memakai baju.
“Kamu ingin pergi ke kantor?”
“Lalu ke mana?” Tanyanya lagi dan memperbaiki sikap tubuhnya.
Arvaz berbalik, bergeming sejenak dan menatapnya lurus-lurus lalu senyum tipis yang lembut bermain di bibirnya. Arvaz menegakkan tubuhnya dan memberinya balasan yang berhasil membungkam mulut Erika.
“Bertemu ibuku untuk meminta restu. Jika dia tidak setuju, aku sudah tidak peduli lagi. Kita sudah menjadi pasangan suami istri tanpa atau dengan restu orang tuaku.”
Erika merebahkan tubuhnya ke kasur dan menatap kosong ke langit-langit lama setelah Arvaz pergi.
Arvaz sudah tiba di kediama Bennedict ketika ibunya sedang sibuk menyiram bunga-bunga di halaman rumah. Setelah melihatnya Nyonya Bennedict tetap diam karena ia sudah tahu tujuan kedatangan putranya.
“Ibu,” ucap Aravz.
“Jika kamu akan berbicara tentang wanita itu maka lebih baik diamlah.”
“Ibu, mengapa kamu begitu keras kepala?”
“Bukankah kamu juga sangat keras kepala? Aku tidak percaya seorang wanita yang sudah meninggalkanmu lebih penting bagimu daripada ibu yang sudah membesarkanku.”
Arvaz tersenyum miring. “Membesarkanku?”
__ADS_1
Arvaz lantas meninggalkan kediaman Bennedict. Nyonya Bennedict meneriakinya dan memanggil namanya namun Arvaz benar-benar tidak berbalik.
Setelah malam menjelang, Arvaz bersandar di sofa dan menatap Erika.
“Sayang…aku tidak bisa menyakinkan ibuku untuk menerimamu tapi kita akan bersama meskipun tanpa restu orang tua. Dengan restu Tuhan, aku sudah merasa cukup.”
“Aku mengerti,” ucap Erika dengan dingin sambil menatap televisi lalu bersiap untuk pergi dari sana. Arvaz buru-buru menghentikannya.
“Duduk.”
“Aku ingin tidur.”
Arvaz mulai merasakan bahwa ada sesuatu yang salah dan tidak biasa pada diri Erika. Arvaz langsung mengikuti langkah Erika menuju kamar mereka. Pria itu berbaring di samping Erika.
“Haruskah kita memberikan cucu pada orang tuaku dengan begitu mereka akan luluh.”
Erika menggeleng, “Ibumu pernah berkata bahwa dia tidak akan menerima keturunanku. Arvaz, apakah kamu mencintaiku?”
“Haruskah kamu bertanya hal konyol seperti itu. Tentu saja aku sangat mencintaimu.”
“Lalu menyerahlah. Ibumu tidak setuju denganku.”
“Aku tidak ingin membicarakan ini lebih lanjut.”
Arvaz mengulurkan tangan untuk memegangnya di pelukannya. Erika masih terjaga meskipun setelah lampu dimatikan.
Berpikir bahwa Erika sudah tidur terlelap, Arvaz menarik selimut sebelum dia menuju ke ruang kerjanya.
Keesokan paginya, Nyonya Bennedict kembali berkunjung dengan marah, ia menyuruh pelayan membawa Erika yang masih di dalam kamarnya sementara Arvaz sudah pergi untuk bekerja.
Erika dengan cepat duduk dan mengenakan sandal bulunya dan menuju ke kamar tmandi untuk menyikat giginya dan membilas wajahnya. Tepat ketika ia keluar, ia disambut oleh Sandra.
“Nyonya Muda, Nyonya Bennedict menunggu di ruang tamu. Dia ingin melihatmu,” ucap Sandra dengan lembut.
“Ya,” ucap Erika kemudian ke bawah bersama Sandra.
Sambil duduk di sofa Ny Bennedict menatap Erika.
“Erika, aku datang ke sini untuk memintamu segera menceraikan Arvaz.”
“Jika aku bisa, aku pasti akan menceraikan putramu tapi putramu bersikeras bersamaku.” Erika bangkit untuk pergi.
“Aku belum selesai denganmu!”
__ADS_1