By Your Side

By Your Side
Dua puluh Tiga


__ADS_3

Semua barang-barang Erika sudah dipindahkan dan pelayan juga ikut ke rumah baru mereka. Seperti biasa, hanya ada Erika dan beberapa pelayan yang berada di dalam rumah. Sementara Aravz sibuk bekerja.


Erika memandangi kolam renang yang ada di sampingnya. Kolam renang itu sangat luas dan terlihat sejuk dengan air kebiruan yang jernih. Erika tak bisa sanggup untuk berenang di sana.


Meskipun tidak terlalu jago berenang, kalau hanya berenang-renang bebek Erika bisa. Sesaat sebelum mengambil napas, tiba-tiba ia merasa betisnya keram. Rasanya teramat sakit.


Erika panik dan melakukan tindakan fatal. Menahan air kolam sambil tangan dan kakinya memberontak ke segala arah. Kepala dan dadanya serasa sesak tapi mendadak ia merasakan sepasang tangan meraih pergelangan tangannya. Tangan kokoh itu mencengkeram erat-erat.


Erika merasa dirinya diangkat ke permukaan air. Tanpa menoleh pun ia tahu bahwa dada bidang dan kokoh yang dijadikan tempat bersandar itu adalah dada Arvaz. Tangan Arvaz masih melingkari pinggangnya, dan kepalanya bersandar sesaat pada kepala Erika.


Arvaz berenang menuju tepi kolam, ia menaikkan Erika terlebih dulu. Ia membaringkannya di tepi. Saat itulah Erika tersadar Arvaz telah terjun dengan pakaian lengkap, bahkan tak sempat melepas sepatunya.


Kemejanya melekat seperti kulit dan celanannya basah.


Matanya berapi-api. “Apakah kamu bodoh!” Arvaz berseru.


Diperiksanya sekujur tubuh Erika dengan cermat. Wajahnya tanpa ekspresi seperti dokter memeriksa kalau-kalau tulang pasiennya ada yang patah.


“Kamu tadi bisa tenggelam!”


“Ak…aku takut,” kata Erika gemetar begitu tubuhnya merasakan sentuhan Arvaz yang hangat dan pasti.


“Kamu terluka?”


Gigir Erika bergemelutuk. Ia tak mampu bicara.


“Kamu baik-baik saja? Kamu terluka?”


Erika tak mengatakan apa-apa namun ia langsung menangis. Diraihnya Erika dalam pelukannya dan dipegangnya bagian belakang kepala wanita itu dengan tangannya yang kokoh.


“Jangan menangis…”


Erika membayangkan apa yang mungkin terjadi jika saja Arvaz tadi tidak datang untuk menyelamatkannya. Memikirkan itu, tangis Erika semakin pecah. Sambil menenangkan istrinya, Arvaz menggendongnya memasuki rumah.


Erika hanya bisa menyandarkan kepalanya ke dada Arvaz dan lambat laun tangisannya reda. Dalam pelukan Arvaz ia merasa aman. Sejujur tubuhnya basah. Rasanya ia ingin terus ada dalam pelukan Arvaz.


“Sandra tolong buatkan minuman hangat,” ucap Arvaz saat melihat Sandra yang hendak menghampiri mereka dengan ekspresi terkejut dan khawatir.


Arvaz membawa Erika ke kamar tidur mereka lalu menurunkannya di atas ranjang. Pria itu langsung menuju ke kamar mandi dan mengambil jubah handuk.

__ADS_1


“Gunakan jubah handuk, aku akan memandikanmu.”


Kalau perintah itu datang dari Arvaz, Erika hanya mengangguk patuh. Namun tangan-tangannya masih gemetaran.


Dengan sigap, Arvaz melepas bikini Erika. Dengan cepat ia mengikat tali jubah di sekeliling pinggang Erika, tangannya menyelinap masuk ke dalam jubahnya dan berhenti di paha Erika. Ia menarik satu-satunya pakaian yang basah yang masih melekat di tubuh Erika.


“Sekarang mandilah atau aku yang memandikanm?”


Erika langsung menggeleng pelan.


Saat Erika berdiri tangannya dicekal oleh Arvaz. “Jangan lebuh dari dua puluh menit. Dilarang tidur, mengerti?”


“Ya,” jawab Erika patuh.


Erika melangkah maju ke kamar mandi dengan perasaan mengawang-awang. Ia memeluk dirinya sendiri lalu mengusap sebagian cermin yang berembun karena uap air panas. Ia lantas melepas jubahnya dan masuk berendam di air yang wangi dan hangat.


Ia merasa jauh lebih enak sehabis mandi. Rambutnya habis dikeramas dibiarkannya terurai sebahu. Ia menggunakan hoodie kebesaran dan celana pendek. Saat ia keluar dari kamar mandi. Ia melihat bahwa seprei sudah diganti dan ada secangkir teh di atas nakas.


Erika berdiri di tengah kamar dan melihat Arvaz sedang berada di balkon kamarnya sedang menelepon seseorang. Menyadari keberadaan Erika, Arvaz langsung menutup teleponnya dan berjalan menuju ke arahnya,


Erika melihat bahwa Arvaz sudah berganti pakaian.


Erika hanya mengangguk sebagai jawaban.


“Duduklah,” ajak Arvaz.


Erika duduk di sofa yang ada di kamarnya. Arvaz langsung memberikan secangkir teh untuk Erika. Wanita itu langsung menerimanya dan hanya menyeruput sedikit lalu meletakkannya ke meja.


“Bagaimana kamu bisa ke sini?”


“Apakah itu penting sekarang? Kamu hampir mati jika tidak ada aku yang datang tepat waktu. Dimana juga para pelayan? Kenapa tidak ada orang rumah yang tahu.”


Erika hanya menunduk sambil mencicit, “Jangan salahkan para pelayan. Itu salahku.”


“Syukur kalau kamu sadar.”


Erika langsung memberengut, melihat Erika yang sepertinya kesal dengan dirinya. Arvaz langsung meluluh.


“Aku datang karena ada berkasku yang ketinggalan. Perasaan ku juga tidak enak sejak tadi maka dari itu aku pulang dan melihatmu berjuang di kolam sana.”

__ADS_1


“Terima kasih.”


“Jika ingin berterima kasih lakukan dengan benar.”


Erik menatap lekat wajah Arvaz dan ia mengerti dengan ucapan Arvaz. Erika langsung mencondongkan tubuhnya dan mencium singkat pipi Arvaz.


“Lakukan dengan benar,” ucap Arvaz dan langsung mendaratkan bibirnya di atas bibir Erika.


Arvaz benar-benar mendambakan seorang anak dari Erika lagi. Dengan begitu, ia berharap ibunya akan luluh dengan kehadiran seorang cucu.


Suhu di dalam kamar mulai naik perlahan. Tubuh Erika sudah tidak dingin lagi. Tahu Arvaz akan semakin liar jika dibiarkan, Erika langsung mendorong tubuh kekar itu.


Arvaz sempat terkejut namun detika berikutnya, pria itu melayangkan senyum misterius di wajah tampannya.


“Ayo makan siang?” Ajak Arvaz.


“Kamu tidak kembali ke kantormu?”


“Nanti, saat ini kamu prioritasku.”


Arvaz mengajaknya makan siang ke sebuah restoran yang mewah. Makanannya sangat lezat dan benar-benar enak. Di restoran elegan itu, Arvaz bersikap seakan di rumahnya sendiri dan Erika berusaha mengimbangi kewajarannya.


Mereka kembali ke rumah pukul dua lewat. Erika amat senang dan puas sehingga ia melupakan kejadian mengerikan di kolam renang.


“Selamat menghabiskan waktumu di rumah. Tapi please jangan berenang lagi, tidak hari ini!” Kata Arvaz sambil memandangnya tajam.


“Kamu akan kembali ke kantor sekarang?”


Arvaz mengangguk. “Aku mungkin akan pulang telat dan melewatkan makan malam denganmu.”


Hati Erika terasa hampa namun ia berusaha untuk tersenyum.


Sepeninggal Arvaz, Erika kembali menyibukkan diri. Di rumah itu, seperti biasa Erika pergi ke tempat favoritnya yaitu perpustakaan. Perpustakaan di sana cukup lengkap, mungkin si kutu buku Erika tak akan bisa melahap habis.


Ia menghabiskan waktu dengan menghibur dirinya sendiri sebaik mungkin. Ia melakukan perawatan wajah, badan dan kuku di rumahnya. Sampai pada akhirnya ia menyantap makan malamnya.


Setelah makan malam, ia ke kamar tidurnya dan kembali membaca. Tiba-tiba halaman novelnya terbuka secara acak. Badai besar terjadi. Cuaca yang semula cerah bergantian langit malam yang lebih menakutkan.


Erika dengan segera menutup jendela kamarnya saat angin menerpa kencang dan air hujan menghantam kaca jendela dengan keras.

__ADS_1


Namun badai di luar tidak ada artinya dibandingkan badai yang menghantam hatinya. Bagaimana tidak, saat ia membuka ponselnya. Ia melihat berita bahwa Arvaz akan menikahi Mina.


__ADS_2